Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Teo tidak bisa menahan dirinya lagi, saat ramainya suara orang-orang yang mengganggu pendengarannya dan mulai mengosongkan pikirannya. Keangkuhan Teo yang sudah di siapkan dan rencana dari jauh-jauh hari pupus seketika.
Dengan langkah panjangnya Teo berbalik dan mengejar Layla yang terus melangkah menjauh di antara kerumunan pasar desa.
Langkah tegap Teo yang panjang dengan cepat memangkas jarak di antara mereka berdua. Walaupun dalam kondisi yang canggung luar biasa dan rasa keterkejutan yang tidak bisa Teo sembunyikan, jujur saja ini benar-benar di luar dugaan.
Teo belum pernah merasakan rasa canggung yang aneh seperti ini semasa hidupnya, ego Teo menolak untuk membiarkan teka teki hidup ini berlalu begitu saja tanpa dia ketahui dari kapan dan bagaimana hal itu terjadi.
Tepat di sudut jalan desa yang agak sepi dari kerumunan dan ramai nya orang orang, Teo menarik tangan Layla membuat nya menoleh ke arahnya.
Namun saat Teo sudah meraih tangan Layla dan menggenggam nya, tiba-tiba Teo bingung harus berkata apa, tangan Layla masih terasa halus, kulitnya semakin putih dan mulai dingin.
Teo ingin mengucapkan apa yang ada di dalam pikiran nya, namun saat mata mereka saling bertatapan entah kenapa lidah nya mendadak kelu.
Jujur saja, Teo baru sadar bahwa Layla secantik ini, padahal di matanya dia hanyalah wanita biasa yang menjadi bayang bayang yang mengintai di setiap malamnya, saat Layla berada di pelukannya pun , jantungnya tidak se berdebar saat ini.
Teo yang mendadak kehilangan kata-kata ini, hanya bisa menatap Layla dengan tatapan yang campur aduk, antara syok, tidak percaya, dan obsesi aneh yang telah dia rencanakan jauh jauh hari kini telah lenyap terbakar di kepalanya.
Sentuhan kulit mereka yang dingin kini perlahan menjadi terasa lebih hangat dan sangat nyata membuktikan bahwa kelumpuhan Layla bukan lagi sebuah kenyataan belaka. Namun kehangatan yang sempat Teo rasakan itu hanya bertahan satu detik.
Sentuhan tangan Teo langsung di tepis kuat oleh Layla dengan sangat kasar dan penuh dengan rasa jijik, sampai dia mengibaskan tangannya dan mengelap nya ke baju yang Layla kenakan.
Layla mundur selangkah, menatap Teo dengan mata yang tidak lagi memancarkan kelemahan, melainkan kilatan amarah yang begitu dingin.
“Jangan pernah bernain menyentuh ku dengan tangan kotor mu itu!”ucap Layla.
Suara nya rendah namun terdengar sangat tajam dan dingin, sangat terdengar begitu asing di telinga Teo yang terbiasa mendengar suara lemah seperti bisikan.
“Lihat! Aku bukan lagi Layla yang bisa kau kendalikan!” Layla berucap dengan lantang “Kau tidak bisa lagi menggunakan kekuasaan mu disini! Dan kau…tidak bisa mempermainkan ku lagi!”
Teo masih berdiri mematung dengan tangan yang masih menggantung di udara, merasakan penolakan fisik yang begitu nyata dari orang yang dulu dia hancurkan, Teo memang menghancurkan fisiknya tapi di dalam ujung hatinya dia menyimpan rasa rindu yang tidak terbantahkan.
Walaupun dia memiliki rencana yang buruk terhadap Layla, tapi Teo tetap merindukannya, Layla yang menangis dan memohon kepadanya. Kini menatap angkuh kepadanya dengan tatapan yang siap membunuh.
Melihat Layla yang kini bisa berdiri dengan tegap dan kondisi tubuhnya yang begitu fit, bugar dan memancarkan kecantikan yang luar biasa membuat Teo terdiam dan terpaku.
Teo seperti di hantam langit yang luas, mencoba menolak keras arti dari detak jantungnya yang kini berdebar kencang, Teo juga baru menyadari satu hal, saat menatap manik mata Layla yang berwarna coklat cerah, Teo mendadak bingung kenapa banyak sekali hal yang begitu dari wanita di hadapannya ini.
Rasa ingin Teo sekarang bukan lagi obsesi sakit, bukan lagi hasrat nafsu aneh dan bukan lagi eksperimen aneh yang telah dia rencanakan selama ini. Melihat Layla yang saat ini berhasil bangkit dari kehancuran seolah merebut kembali jiwanya yang telah Teo rusak selama ini.
Detik itu juga, rencana yang telah dia siapkan terbuang sia-sia. Di dalam hati yang paling waras nya saat ini, Teo tidak ingin menjinakkan Layla seperti dulu lagi, kini dia ingin memiliki cinta dari wanita yang menatap sengit ke arahnya.
Namun dalam realitas yang saat ini terjadi, seolah menghantam Teo dengan sangat keras. Teo ingin mengubah rencananya menjadi jauh lebih baik lagi, dia ingin mendekati Layla sebagai pria yang tulus meminta maaf dan mencoba menebus dosanya selama ini, walau penolakan itu sudah sangat jelas di depan matanya sendiri.
Setelah tangannya di tepis kasar Oleh Layla, Teo hanya bisa menatap telapak tangannya sendiri yang kini mulai terasa dingin. Di hadapannya, tatapan jijik Layla yang tertoreh kepadanya tidak akan mudah untuk di taklukkan seperti sebelumnya.
Sorot mata Layla yang kini di penuhi dinding pertahanan yang tebal, dan rasa muak yang telah terbangun dari rasa sakit hatinya selama sepuluh tahun di permainan dan penghinaan serta pengkhianatan yang tidak bisa lagi dia toleransi.
“Layla…aku..” Teo mencoba bersuara, namun suaranya tiba-tiba tercekat di tenggorokan membuatnya semakin frustrasi, menatap manik mata yang kini siap menantang nya membuat Teo bingung harus berkata apa, amarah Layla yang dia tunjukkan begitu terasa membara. Keangkuhan Teo bak dewa yang selama ini seperti hidup di atas angin yang bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan kini tidak berdaya.
Harga dirinya seakan menghilang di telan lautan.
Layla sudah tidak sudi mendengar kan sekata dua kata ataupun apapun itu yang akan Teo ucapkan. Dia membalikkan badan dan melanjutkan langkah kakinya yang kini terlihat kuat dan bugar seperti orang pada umumnya.
Meninggalkan Teo yang kini masih berdiri lemas di sudut jalan desa. Teo mengepalkan kedua tangannya, menatap punggung tegap Layla dengan perasaan yang campur aduk saat langkah kakinya kian menjauh, menyisakan Teo yang berdiri tanpa arti.
Teo tau, tidak mungkin jika dia mengikuti perasaannya untuk mendapatkan cinta yang tulus dari Layla, sekarang Layla menjadi jauh lebih tangguh dan percaya diri dari sebelumnya. Terlebih lagi, Teo tidak bisa berbuat apapun di desa terpencil ini.
Teo mencoba menyusun kembali rencana nya, dia berjalan dengan lunglai ke arah mobilnya dengan kehampaan yang luar biasa.
Setelah sampai di mobilnya pun , Teo kembali merenung, entah apa yang dia pikirkan sehingga pikirannya benar-benar kosong dan melayang tak tentu arah.
Namun satu hal yang terlintas di pikiran nya saat Teo menggenggam ponselnya. Entah ini keputusan yang benar atau bukan, hanya satu hal ini yang bisa Teo lakukan untuk saat ini.
“Halo..” ucap Teo saat suara teleponnya tersambung, suaranya terdengar begitu putus asa.
“Grace… dia bisa berjalan..”