NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: CERMIN AIR

Malam makin larut ketika Ranti menjejakkan kakinya di dalam kamar utama apartemennya. Suasana sunyi menyambutnya, hanya diselingi deru halus pendingin udara. Usai pertemuan hangat di restoran bersama Farhan, langkah Ranti terasa lebih ringan, namun kepalanya riuh oleh tumpukan memori lama yang mendadak bangkit kembali.

Ranti berjalan mendekati meja rias tua berukir elegan di sudut kamar. Ia berdiri di depan cermin besar berbingkai emas, menatap pantulan dirinya sendiri di bawah pendar lampu dinding yang temaram.

Satu per satu kancing blazer abu-abunya ia lepas. Baju sutra, celana panjang, hingga pakaian dalamnya runtuh ke atas lantai marmer. Ranti membiarkan dirinya berdiri polos tanpa sehelai benang pun di depan cermin, menatap jujur pada tubuh yang telah melewati begitu banyak badai kehidupan.

Rambut bob barunya membingkai bahu dan lehernya yang bersih. Namun, pandangan mata Ranti perlahan turun, tertuju pada sebuah garis melintang sepanjang sepuluh sentimeter di bagian perut bawahnya. Bekas luka operasi caesar saat melahirkan Bima lima tahun lalu.

Luka itu memudar menjadi garis halus berwarna keperakan. Dulu, Sony pernah berseloroh dingin bahwa bekas luka itu merusak keindahan perut Ranti. Namun malam ini, saat Ranti menyusuri garis itu dengan ujung jemarinya, Ranti tersenyum tipis.

Luka ini bukan cacat, batin Ranti dengan napas teratur. Ini adalah bukti keberanian. Bukti bahwa aku pernah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan Bima ke dunia.

Garis perak itu terasa teramat indah—sebuah jembatan kehidupan yang membawanya menjadi seorang ibu.

Namun, saat matanya kembali menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin, tumpukan keraguan yang rapuh mulai menyelinap di sela-sela relung hatinya.

"Apakah aku masih pantas mendapatkan cinta kembali?" bisik Ranti pada pantulan dirinya. Suaranya terdengar begitu lirih, memantul di dinding kamar yang hening.

"Setelah semua pengkhianatan ini... setelah hatiku dihancurkan oleh pria yang kusebut suami... apakah aku masih sanggup mempercayai seseorang?" Ranti meraba dadanya yang bergetar. "Apakah aku bisa bertemu dengan orang yang benar-benar kucintai dan mencintaiku tanpa ada kepura-puraan?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, menuntut jawaban dari jiwa yang tengah berjuang untuk pulih sepenuhnya.

Ranti memejamkan mata sejenak. Pikiran dan ingatan masa lalunya mendadak ditarik jauh melintasi lorong waktu—kembali ke masa dua puluh tahun silam, saat ia baru berusia sepuluh tahun.

Masa di mana ia pertama kali mengenal sosok Farhan.

Saat itu, usai perceraian orang tuanya yang pertama, Ibu Kirana memboyong Ranti kecil pindah ke sebuah rumah asri berpagar tanaman hijau di kawasan Menteng. Tepat di seberang rumah baru mereka, berdiri rumah keluarga Pak Arisya.

Hari pertama Ranti menginjakkan kaki di halaman rumah itu, seorang anak laki-laki seumuran dengannya sedang berdiri di atas bangku kayu, mencoba mengambil layangan yang tersangkut di dahan pohon mangga. Anak laki-laki itu memakai seragam SD dengan kacamata bulat tebal yang melorot di ujung hidungnya.

“Hei! Kacamata! Awas jatuh, nanti kacamatamu pecah!” teriak Ranti kecil kala itu seraya bersedekah tangan di pinggang.

Anak laki-laki itu kaget, menoleh hingga kakinya terpeleset dan jatuh terduduk di atas rumput. Itulah pertemuan pertama mereka dengan Farhan.

Ternyata takdir membawa mereka lebih dekat dari sekadar tetangga seberang rumah. Mereka berada di sekolah dasar yang sama, bahkan duduk di kelas yang berdampingan. Hari-hari Ranti kecil dihiasi oleh keberadaan Farhan. Mereka berangkat sekolah bersama menaiki sepeda, mengerjakan tugas di teras rumah, hingga berburu es lilin di depan gerbang sekolah.

Namun, hubungan mereka tak pernah sepi dari pertengkaran-pertengkaran kecil yang menggemaskan.

“Farhan! Kenapa kamu gambari buku gambarku pakai coretan kapal terbang?! Ini kan gambaran pemandanganku!” amuk Ranti kecil usia sebelas tahun di taman kompleks, memukul bahu Farhan dengan gulungan kertas.

Farhan yang berwajah polos hanya menyeringai, membetulkan posisi kacamatanya. “Biar pemandanganmu tidak sepi, Ranti! Lagipula gambar kapal terbangku kan bagus, nanti kalau aku besar aku mau beli kapal beneran buat ajak kamu jalan-jalan!”

“Tidakkah kamu tahu gambarmu jelek sekali?! Aku tidak mau naik kapal gambaranmu!” jerit Ranti seraya mengejar Farhan yang berlari melintasi lapangan rumput sambil tertawa lepas.

Di balik pertengkaran-pertengkaran konyol itu, tumbuh sebuah perasaan asing yang amat manis di dada Ranti kecil. Farhan adalah cinta pertamanya. Rasa suka yang tumbuh polos tanpa syarat. Ranti selalu menyukai cara Farhan membagikan separuh bekal rotinya saat Ranti lupa membawa uang jajan, atau bagaimana Farhan selalu pasang badan berdiri di depan Ranti saat anak-anak nakal kompleks mencoba menggoda Ranti.

Namun, Ranti terlalu gengsi untuk mengucapkannya. Ia menyimpan rahasia kecil itu rapat-rapat di dalam buku harian berkuci mungilnya.

Dan Farhan pun begitu. Pria kecil berkacamata itu tak pernah secara gamblang mengungkapkan perasaannya, meski matanya selalu memancarkan pendar perlindungan yang teramat tulus tiap kali menatap Ranti.

Kebersamaan indah itu bertahan hingga mereka menginjak masa remaja di Sekolah Menengah Atas. Perasaan itu makin mendalam, mewujud dalam kecanggungan manis tiap kali mata mereka tak sengaja beradu di koridor sekolah atau saat Farhan mengantarkan Ranti pulang dengan sepeda motor tuanya.

Hingga suatu sore di kelas satu SMA, takdir memutuskan benih cinta yang baru hendak tumbuh itu.

Bisnis tekstil Ibu Kirana mengalami ekspansi besar-besaran dan mengharuskan mereka pindah kembali ke Jakarta Pusat dan berlanjut ke luar negeri. Hari kepindahan itu datang begitu cepat.

Di depan pagar rumah seberang, Farhan remaja berdiri menahan tangis. Kacamatanya berembun. Ia menggenggam erat sebuah kotak kayu kecil berisi mainan kapal kayu kesayangannya.

“Ranti... kamu benar-benar harus pergi hari ini?” tanya Farhan dengan suara gemetar.

Ranti remaja menunduk dalam-dalam, meremas ujung rok seragamnya, berusaha keras menahan lelehan air mata di pipinya. “Iya, Farhan. Ibu sudah mengemas semua barang.”

Farhan menyodorkan kotak kayu itu. “Simpan ini ya... Ini kapal kayu terbaik buatan aku. Jangan lupakan aku ya, Ran.”

Ranti menerima kotak itu, mendongak menatap mata Farhan. Kata-kata “Aku menyukaimu, Farhan” sudah berada di ujung lidahnya. Namun rasa takut, gengsi, dan kesedihan perpisahan membungkam mulutnya rapat-rapat.

“Terima kasih, Farhan. Kamu... kamu juga jangan lupakan aku,” hanya kalimat itu yang sanggup diucapkan Ranti sebelum ibunya memanggil dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju meninggalkan kompleks Menteng. Dari kaca jendela belakang, Ranti melihat sosok Farhan remaja yang berdiri mematung di pinggir jalan, makin lama makin mengecil hingga akhirnya lenyap ditelan jarak dan waktu.

Mereka tidak pernah bertemu lagi sejak hari itu. Perasaan cinta pertama yang terpendam itu membeku, terkubur oleh hiruk-pikuk kedewasaan, kegagalan pernikahan dengan Sony, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali di atas mimbar persidangan dua puluh tahun kemudian.

Ranti membuka matanya kembali. Menghembuskan napas panjang yang memecahkan lamunan masa lalunya.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama yang luas. Bathtub porselen berukuran besar di sudut ruangan telah terisi penuh oleh air hangat yang memancarkan aroma terapi lavender dan rosehip. Busa-busa putih lembut mengapung tebal di permukaannya.

Ranti melangkahkan kakinya masuk ke dalam bathtub.

Sensasi air hangat yang membalut kulitnya seketika menjalar lembut, mengikis sisa-sisa ketegangan otot dan kelelahan mental yang menumpuk di tubuhnya sepanjang hari. Ranti menyandarkan kepala dan bahunya di tepi porselen yang melengkung nyaman, membiarkan tubuh polosnya tenggelam perlahan di balik lapisan busa harum.

Ia memejamkan mata, mendengarkan gemercik air yang menenangkan jiwa.

Di dalam keheningan air hangat itu, Ranti kembali merenungkan pertanyaan-pertanyaan di depan cermin tadi.

Pertemuannya dengan Farhan malam ini bukan sekadar kebetulan. Pria yang dulu menjadi cinta pertamanya, pria yang pernah berjanji akan menjaganya dari orang-orang jahat, ternyata hadir kembali di saat Ranti berada di titik terendah dalam hidupnya. Farhan hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sosok yang mengembalikan kepercayaan Ranti bahwa masih ada pria baik, tulus, dan berwibawa di dunia ini.

"Mungkin..." bisik Ranti pelan, matanya terbuka perlahan menatap langit-langit kamar mandi yang diterangi lampu temaram. "...aku memang pernah terluka parah oleh pria yang salah."

Jemari Ranti bermain dengan busa air di atas dada dan perutnya.

"Tapi luka itu bukan akhir dari segalanya. Jika Farhan bisa memegang janjinya selama dua puluh tahun... maka aku pun harus memiliki keberanian untuk membuka hatiku kembali."

Ranti mengambil segenggam air hangat, membasuh wajahnya yang anggun. Sensasi segar meresap hingga ke dalam pori-pori kulitnya.

Ia tidak lagi merasa takut pada masa depan. Rasa trauma atas tuduhan "arogan" dari Sony, pengkhianatan sekretarisnya, maupun kepedihan masa lalu kini telah larut di dalam air hangat bersama busa lavender.

Ranti Anindita telah bangkit sepenuhnya. Ia adalah seorang ibu yang tangguh, pimpinan perusahaan yang bijaksana, dan seorang wanita merdeka yang siap menyambut takdir cinta yang baru—cinta sejati yang mungkin telah menunggunya sejak dua puluh tahun yang lalu.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!