Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perjamuan Berdarah dan Umpan yang Terpasang
Lampu kristal gantung di aula utama kediaman Grand Duke Killian memantulkan cahaya keemasan yang megah, namun atmosfer di dalam ruangan itu terasa sedingin es. Malam ini adalah malam perjamuan musim gugur, sebuah acara formal pertama di mana Elena melangkah keluar sebagai mitra resmi dari tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di seluruh kekaisaran.
Elena berdiri di dekat balkon lantai dua, jemarinya yang terbalut sarung tangan brokat putih mencengkeram birai pagar pembatas. Gaun malamnya berwarna merah marun pekat, sewarna dengan darah segar, kontras dengan kulitnya yang seputih pualam. Matanya yang jernih menyapu kerumunan bangsawan di bawah sana. Dan di sana, tepat di tengah aula, berdiri Gavin.
Melihat wajah itu, dada Elena bergemuruh hebat. Rasa panas seperti api yang membakarnya hidup-hidup di sel penjara bawah tanah masa depan seolah kembali menjilati kulitnya. Di kehidupan pertamanya, ia memandang pria itu dengan binar penuh cinta dan kepatuhan yang naif. Namun malam ini, yang tersisa di mata Elena hanyalah kebencian murni yang siap menghanguskan. Gavin tampak sedang tertawa riang, memamerkan pesona palsunya kepada para menteri, sama sekali tidak tahu bahwa malaikat mautnya sedang mengawasi dari kegelapan.
"Jika tatapan bisa membunuh, suamimu yang berharga itu sudah tercabik menjadi ribuan keping sejak sepuluh menit yang lalu, Nona Elena."
Sebuah suara berat, dalam, dan berwibawa berbisik tepat di samping telinganya. Elena tidak terkejut. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau samar besi dan aroma pinus yang pekat memberi tahu dirinya siapa yang datang bahkan sebelum pria itu menampakkan diri.
Duke Killian melangkah maju, menyejajarkan posisinya dengan Elena. Jubah hitamnya bersulam benang emas perak, memancarkan aura dominasi yang mutlak. Sepasang mata merah pekat milik Killian menatap tajam ke arah kerumunan, lalu beralih pada profil samping wajah Elena yang tampak mengeras.
"Dia belum berstatus suamiku, Yang Mulia," sahut Elena datar, suaranya sedingin salju musim dingin. "Dan kematian yang cepat terlalu indah untuk bajingan seperti dia. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya merangkak di tanah, kehilangan segala hal yang dia dambakan, sebelum akhirnya memohon kematian padaku."
Killian terkekeh rendah. Suara tawa yang biasanya membuat para ksatria gemetar ketakutan itu justru terdengar seperti melodi yang menyenangkan di telinga Elena. "Aliansi kita memang keputusan terbaik yang pernah kuambil. Singa betina yang terluka jauh lebih mematikan daripada seluruh pasukan bayaranku."
Killian mengulurkan tangannya yang kokoh. "Apakah kau siap turun ke bawah dan memulai babak pertama dari pertunjukan kita?"
Elena menoleh, menatap tangan pria yang dijuluki tirani berdarah dingin itu. Di kehidupan lalu, ia selalu menghindari Killian karena rumor kekejamannya. Namun sekarang, ia sadar bahwa kekejaman Killian adalah pedang terbaik yang bisa ia sewa untuk mengeksekusi balas dendamnya. Elena meletakkan tangannya di atas telapak tangan Killian.
"Dengan senang hati, Yang Mulia."
Ketika pintu aula lantai dua terbuka dan pelayan mengumumkan kedatangan Grand Duke Killian beserta Nona Muda Elena dari kediaman marquis, seluruh aula mendadak hening. Musik berhenti sejenak. Ratusan pasang mata menatap ke arah tangga melingkar.
Gavin, yang sedang memegang cawan anggur, menoleh. Detik berikutnya, cawan di tangannya hampir saja terlepas. Matanya membelalak tak percaya. Elena, perempuan yang selama ini selalu mengekor di belakangnya bagai domba penurut, perempuan yang selalu mengenakan gaun pastel lembut demi menyenangkan seleranya, malam ini tampak begitu asing. Elena berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan keanggunan yang mengintimidasi, dan tangannya menggandeng lengan pria paling berbahaya di kekaisaran.
Di samping Gavin, seorang wanita muda dengan gaun merah muda berenda menggigit bibir bawahnya hingga memucat. Itu adalah Siena, adik tiri Elena. Tangan Siena bergetar menahan cemburu dan amarah. Bagaimana bisa jalang itu bersanding dengan Duke Killian? Bukankah seharusnya dia hancur setelah rencana kita? batin Siena menjerit.
Elena menyadari setiap perubahan ekspresi di wajah Gavin dan Siena. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan, namun menyimpan bisa mematikan.
Killian membawa Elena turun ke lantai dansa, melewati kerumunan bangsawan yang membungkuk hormat dengan tubuh gemetar. Ketika mereka berpapasan dengan Gavin, Killian sengaja menghentikan langkahnya. Atmosfer di sekitar mereka langsung membeku.
"Ah, Pangeran Gavin," sapa Killian dengan nada santai yang penuh penekanan. "Aku mendengar kau belakangan ini sangat sibuk mengurusi wilayah perbatasan barat. Sungguh dedikasi yang luar biasa untuk seseorang yang... belum memiliki takhta resmi."
Sindiran halus namun telak itu membuat wajah Gavin memerah sesaat, sebelum ia berhasil memasang topeng senyum ramahnya kembali. "Yang Mulia Grand Duke, sebuah kehormatan bisa menyapa Anda malam ini. Dan... Elena?" Gavin mengalihkan pandangannya pada Elena, matanya menyiratkan tuntutan dan kemarahan yang disembunyikan. "Apa yang kau lakukan di sini bersama Yang Mulia? Kau tidak mengabari aku sama sekali."
Elena melepaskan lengannya dari Killian dengan anggun, lalu melangkah satu tindak mendekati Gavin. Di kehidupan lalu, ia akan langsung panik dan meminta maaf jika Gavin menggunakan nada bicara seperti itu. Tapi sekarang, Elena hanya merasakan dorongan kuat untuk meludahi wajah pria itu.
"Mengapa aku harus melapor padamu, Pangeran Gavin?" tanya Elena dengan nada heran yang dibuat-buat, cukup keras untuk didengar oleh para bangsawan di sekitar mereka. "Seingatku, ayahku belum memberikan restu apa pun terkait hubungan kita. Dan sebagai Nona Muda dari keluarga Marquis, kurasa aku memiliki kebebasan penuh untuk menerima undangan dari siapa pun yang kuinginkan—terutama dari seseorang setingkat Yang Mulia Grand Duke."
Bisik-bisik langsung merebak di antara para penonton. Gavin mengepalkan tinjunya di balik jubahnya. Elena secara tidak langsung mempermalukannya di depan publik, mempertegas status Gavin yang sebenarnya belum memiliki ikatan resmi apa pun dengan kekayaan keluarga Marquis yang selama ini menyokong dana politiknya.
Siena, yang tidak tahan melihat Gavin dipojokkan, mencoba menyela dengan suara yang dilembutkan, berpura-pura menjadi adik yang penuh perhatian. "Kakak... tolong jangan bicara seperti itu pada Pangeran Gavin. Pangeran hanya mencemaskanmu. Belakangan ini Kakak jarang pulang ke kediaman dan malah... sering terlihat keluar masuk mansion Duke. Ayah sangat mengkhawatirkan reputasimu."
Elena menoleh ke arah Siena. Tatapan matanya seketika berubah menjadi setajam belati, membuat Siena tersentak mundur satu langkah karena ketakutan. Di kehidupan pertama, Elena memperlakukan Siena seperti adik kandung sendiri, membagi semua perhiasan dan rahasianya, hingga akhirnya Siena mengkhianatinya dengan tidur bersama Gavin dan membantai putranya.
"Reputasiku?" Elena terkekeh, melangkah mendekati Siena hingga jarak mereka hanya selangkah. Elena menunduk sedikit, berbisik di dekat telinga Siena dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua dan Gavin. "Adikku tersayang, daripada mencemaskan reputasiku yang terjamin di bawah perlindungan Duke Killian, bukankah sebaiknya kau cemaskan reputasimu sendiri? Mengenai dokumen pembelian racun pelumpuh saraf yang kau beli dari pasar gelap minggu lalu... apakah kau ingin aku menunjukkannya pada Ayah malam ini?"
Wajah Siena seketika kehilangan seluruh rona darahnya. Ia menatap Elena dengan mata terbelalak horor. Bagaimana bisa dia tahu? Rencana Siena untuk meracuni teh Elena agar Elena jatuh sakit dan tidak bisa menghadiri perjamuan ini telah gagal total, dan sekarang Elena memegang buktinya.
Gavin yang melihat Siena ketakutan mencoba menengahi, merasa posisinya terancam jika Elena mulai bertindak di luar kendali. "Elena, kita perlu bicara berdua. Ini bukan tempat yang tepat untuk menyelesaikan kesalahpahaman keluarga." Gavin mengulurkan tangannya untuk meraih pergelangan tangan Elena.
Namun, sebelum tangan Gavin sempat menyentuh seujung kuku Elena, sebuah tangan besar dengan sarung tangan kulit hitam mencengkeram pergelangan tangan Gavin dengan kekuatan yang mengerikan.
Krak.
Suara gesekan tulang terdengar samar. Gavin merintih menahan sakit, lututnya hampir lemas saat Killian mempererat cengkeramannya. Mata merah Killian menatap Gavin dengan pandangan haus darah yang pekat.
"Kupikir aku sudah pernah memperingatkanmu melalui ajudanku, Pangeran Gavin," kata Killian, suaranya rendah namun bergema dengan otoritas yang menakutkan di seluruh aula. "Siapa pun yang berani menyentuh milikku tanpa izin, harus bersiap kehilangan tangan mereka. Apakah kau ingin menguji apakah rumor tentang kekejamanku itu nyata atau sekadar bualan?"
"Y-Yang Mulia... maafkan kekasaran saya," bisik Gavin terbata-bata, peluh dingin mengucur di dahinya. Rasa sakit di pergelangan tangannya benar-benar nyata. Tirani ini tidak sedang menggertak; ia benar-benar bisa mematahkan tangannya di sini tanpa memedulikan status Gavin sebagai pangeran.
Killian menghempaskan tangan Gavin dengan jijik. Gavin terhuyung mundur, ditangkap oleh beberapa pengawalnya yang tampak pucat pasi.
Elena menyaksikan pemandangan itu dengan kepuasan yang membuncah di dadanya. Ini baru permulaan. Umpan telah terpasang dengan sempurna. Gavin yang serakah pasti akan mulai panik karena takut kehilangan dukungan finansial dari keluarga Elena, dan pria itu akan mulai melakukan tindakan-tindakan bodoh yang tergesa-gesa. Dan saat itulah, Elena akan menarik talinya untuk mencekik mereka semua.
Elena kembali merapat ke sisi Killian, menyunggingkan senyuman termanisnya kepada seluruh aula yang masih terpaku dalam kesunyian yang mencekam.
"Perjamuan malam ini sungguh menyenangkan, Yang Mulia," ucap Elena lembut, matanya menatap Gavin dan Siena yang berdiri gemetar di kejauhan. "Mari kita nikmati berdansa, sebelum pertunjukan yang sesungguhnya dimulai."
Killian tersenyum misterius, membawa Elena kembali ke tengah aula saat musik mulai mengalun lambat. Di bawah kilatan lampu kristal, Elena tahu, jalan menuju neraka yang paling dalam bagi musuh-musuhnya telah terbuka lebar, dan ia sendiri yang akan menyeret mereka masuk ke dalamnya.