NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Bella menatap telapak tangan kirinya yang terbuka. Di bawah temaram cahaya senja yang kian meremang, matanya tertuju pada sebuah gurat halus yang melintang—sebuah garis yang dalam keyakinannya terasa seperti batas akhir.

"Waktuku sudah tidak banyak lagi," bisik Bella teramat lirih. Suaranya bergetar, bersahutan dengan kesunyian taman yang kini terasa begitu mencekam.

Di tengah kepungan duka dan rasa asing yang menyelimuti sisa hidupnya, bayangan satu-satunya orang yang tersisa mendadak muncul di benak Bella. Kak Ethan. Di antara seluruh anggota keluarga yang pernah ada, hanya Kak Ethan yang tidak pernah membentaknya, tidak pernah memarahinya, apalagi melayangkan pukulan ke tubuhnya. Kak Ethan adalah satu-satunya tempat bernaung yang menyisakan rasa aman.

     Bagaimanapun juga, sebelum aku benar-benar pergi, aku harus berpamitan padanya, batin Bella tegas.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Tempat ini sudah sepenuhnya sepi, menyisakan deru angin sore yang mulai menusuk tulang. Bella tahu ia tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi di sini. Dengan tekad yang bulat namun diselimuti rasa getir, ia mendekap kembali barang-barangnya.

Ia tidak akan langsung pulang ke rumah. Tujuan berikutnya telah terkunci di dalam kepala: Bella berencana menemui Kak Ethan di kantornya malam ini juga, sebelum terlambat.

Langkah kaki Bella beradu cepat dengan trotoar yang basah oleh sisa gerimis. Di atas kepala, papan penunjuk jalan digital berkedip buram, menunjukkan bahwa jarak kantor Kak Ethan masih sekitar dua kilometer lagi. Namun, kota sore  ini seolah sedang bersekongkol melawannya. Jalanan protokol macet total; deretan mobil mengular panjang dengan lampu rem merah yang menyala statis, sementara klakson bersahutan memecah menjelang malam.

Tidak ada ojek atau taksi yang bisa menembus labirin besi itu dengan cepat. Bella tidak punya pilihan selain berjalan kaki—atau lebih tepatnya, berlari sebisanya.

Satu menit terbuang sia-sia, batinnya panik seraya melirik jam di pergelangan tangan.

Namun, hambatan terbesar Bella sore ini bukan sekadar kemacetan kota, melainkan tubuhnya sendiri.

Baru saja ia melewati separuh jalan, rasa sedingin es mendadak menyengat telapak tangan kirinya. Rasa dingin itu begitu ekstrem, hingga berubah menjadi sensasi terbakar yang luar biasa menyakitkan. Bella terpekik lirih, terpaksa menghentikan langkah dan bersandar pada tiang lampu jalan yang dingin.

Ketika ia membuka kepalan tangannya, jantung Bella mencelos. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, gurat halus itu kini berubah warna menjadi hitam pekat, dan garisnya telah merambat naik beberapa milimeter mendekati pangkal jemarinya.

Bersamaan dengan menghitamnya garis itu, dada Bella mendadak dihantam rasa sesak yang hebat. Pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap. Setiap kali ia mencoba menarik napas, paru-parunya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Pandangannya mulai buram, bergoyang, dan menubruk trotoar yang tampak berputar di matanya.

"Belum... jangan sekarang," bisik Bella parau, meremas dadanya sendiri yang berdenyut menyakitkan.

Beberapa orang yang berjalan terburu-buru melewatinya, namun tak seorang pun peduli. Di kota yang egois ini, Bella hanyalah seorang gadis asing yang tampak kelelahan. Keterasingan itu merayap memicu trauma masa lalunya—rasa takut dicampakkan, rasa takut mati sendirian di trotoar yang kotor ini tanpa sempat melihat wajah Kak Ethan untuk terakhir kali.

Ketakutan itu justru memantik sisa-sisa tekad di dalam dirinya. Bella menggelengkan kepala kuat-kuat, mengusir rasa pening yang menggelayuti kesadarannya. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia kembali mendekap tasnya, memaksakan kakinya yang mulai mati rasa untuk kembali melangkah.

Ia mulai berlari lagi, terpincang-pincang menembus kerumunan pejalan kaki dan rintik hujan yang kembali turun. Napasnya memburu, air matanya menetes bercampur dengan air hujan, tetapi pandangannya kini terkunci lurus ke depan. Di ujung jalan sana, gedung bertingkat tempat Kak Ethan bekerja sudah mulai terlihat. Bella tahu, ia sedang mempertaruhkan sisa detak jantung terakhirnya demi sebuah perpisahan.

Bella memaksakan kakinya yang gemetar untuk melangkah mendekati meja resepsionis yang megah di tengah lobi. Ia bertumpu pada pinggiran meja marmer itu, mencoba menyembunyikan tangan kirinya yang mulai menghitam ke balik saku jaket, sementara napasnya memburu pendek-pendek.

Perempuan di balik meja itu mendongak, lalu menyunggingkan senyum profesional yang ramah. "Halo Mbak, ada yang bisa saya bantu?"

"Halo Mbak... saya mencari Kak—maksud saya, Pak Ethan," ucap Bella. Suaranya terdengar serak dan terputus-putus, membuat resepsionis itu sempat mengernyitkan alis heran melihat penampilan Bella yang basah dan pucat.

"Apakah sebelumnya sudah membuat janji temu?" tanya sang resepsionis lagi, jemarinya siap di atas papan ketik komputer.

"Belum... tapi saya adiknya," jawab Bella lirih, menatap resepsionis itu dengan pandangan memohon. Waktu di kepalanya terus berdentang, mengingatkan bahwa setiap detik sangat berharga.

Raut wajah resepsionis itu berubah menjadi sungkan, namun ia tetap menggeleng pelan. "Mohon maaf, Mbak. Saat ini Pak Ethan sedang ada rapat penting dengan klien. Tanpa janji temu, Mbak tidak diperbolehkan naik ke lantai atas. Bagaimana kalau Mbak hubungi asistennya saja lebih dulu?"

Mendengar penolakan itu, dada Bella rasanya kian menyempit. Rasa sakit dari garis kematian di tangannya kembali menyengat, membuat pandangannya sempat menggelap sesaat.

"Sudah... sudah kuhubungi tapi tidak diangkat sama sekali," bisik Bella. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Keputusasaan mulai merayapinya. Jika ia tidak bisa naik sekarang, ia takut tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kalau begitu tunggu sebentar, biar saya tanyakan dulu," ucap resepsionis tersebut pada Bella.

"Terima kasih banyak," jawab Bella.

Resepsionis itu hanya mengangguk, lalu segera menelepon sang manajer untuk memberitahukan kedatangan Bella.

"Pak Manajer, adiknya Pak Ethan ada di kantor mencari Pak Ethan," ujar resepsionis itu ke gagang telepon. Ia mendengarkan jawaban dari seberang sana. "Ya ... baik, Pak."

Setelah menutup telepon, resepsionis itu kembali menatap Bella dengan wajah tidak enak hati. "Mohon maaf sekali lagi, rapat Pak Ethan baru selesai sekitar tiga jam lagi. Asisten beliau juga bilang kalau Pak Ethan sedang tidak bisa menerima tamu saat ini."

Kenyataannya, Ethan memang sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun hari ini.

"Aku bisa menunggunya," sahut Bella tenang.

"Kalau begitu, silakan tunggu di sini sebentar," kata resepsionis itu sambil menunjuk ke arah sofa. "Tapi, belum tentu bisa bertemu, ya. Soalnya Pak Ethan lagi banyak janji temu dengan klien."

"Tidak apa-apa," jawab Bella.

Suasana lobi kantor yang megah dan sibuk terasa begitu asing bagi Bella. Ia duduk menyendiri di salah satu sofa sudut, mencoba menenggelamkan diri agar tidak menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang dengan pakaian formal. Kedatangannya ke sini hanya untuk satu hal: menemui Kak Ethan, kakak tertuanya yang baru saja pulang. Namun, sudah hampir satu jam ia menunggu tanpa ada kepastian.

Di tengah rasa cemas dan perutnya yang masih terasa perih, bayangan seorang pria tiba-tiba menghalangi cahaya lampu lobi.

"Permisi, kursi di sebelah sini kosong? Boleh saya duduk?" tanya sebuah suara bariton yang terdengar ramah dan hangat.

Bella tersentak dan langsung mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria asing bertubuh jangkung dengan setelan jas rapi tanpa dasi. Senyumnya tampak tulus, sangat kontras dengan tatapan-tatapan dingin yang biasa Bella terima dari saudara-saudaranya atau para pelayan di rumah.

Bella mengangguk pelan, menarik sedikit tubuhnya. "B-boleh, silakan."

Pria itu duduk, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya sebelum beralih menatap Bella. "Menunggu seseorang juga? Saya perhatikan Anda sudah di sini sejak sejam yang lalu. Wajah Anda terlihat sangat pucat, apa Anda baik-baik saja?"

Pertanyaan yang begitu sederhana, namun sanggup mengetuk dinding pertahanan Bella. Sudah belasan tahun tidak ada satu orang pun yang menanyakan kabarnya atau peduli apakah dia baik-baik saja. Sentuhan kemanusiaan dari orang asing ini justru membuat dadanya mendadak sesak.

Tanpa sengaja, saat Bella meremas jemarinya sendiri karena gugup, telapak tangannya sedikit terbuka—menampilkan samar-samar guratan angka misterius yang menandakan sisa hari kematiannya.

Pria itu sempat melirik ke arah telapak tangan Bella, lalu menatap mata Bella dengan pandangan yang sulit diartikan. "Nama saya Julian," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya hangat. "Siapa nama Anda, Nona?"

Bella ragu-sejenak, namun ia akhirnya mengulurkan tangannya perlahan. "Bella," jawabnya lirih.

Namun, yang membuat Bella terkejut adalah reaksi Julian. Pria itu tidak langsung melepaskan jabatannya. Sepasang mata tajam Julian justru terpaku pada guratan angka misterius di telapak tangan Bella—angka yang menunjukkan tanggal kematian Bella yang sudah sangat dekat di tahun ini.

Mata Julian sedikit membelalak. Ia menatap lekat-lekat angka itu, lalu mendongak menatap mata Bella dengan tatapan yang dipenuhi rasa terkejut dan... pengertian yang mendalam.

"Angka ini..." bisik Julian dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan agar tidak terdengar orang lain di lobi. "Kau... bisa melihatnya juga?"

Bella terkesiap. Ia buru-buru menarik tangannya kembali dengan wajah yang kian memucat. Jantungnya berdegup kencang. Selama belasan tahun, saudara-saudaranya—Ethan, Aaron, dan Charles—menganggapnya monster pembawa sial yang mengutuk orang lewat kata-kata. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa tanda itu benar-benar terukir secara fisik di tangannya, apalagi mengenali maknanya. Bagaimana pria asing, yang ternyata rekan bisnis penting kakaknya ini, bisa tahu?

Dan tiba-tiba

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!