Selama 18 tahun, Bai Chen hidup sebagai anak selir yang tidak dianggap di faksi kecil Benua Barat. Ia disiksa, dihina, dan jalur Dao-nya dihancurkan oleh klannya sendiri tanpa ampun, membuatnya dianggap sebagai sampah abadi.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia terbaring sekarat di ruang bawah tanah yang dingin, sebuah suara mekanik dingin berdering di kepalanya:
[Sistem Penguasa Dao Diaktifkan. Memperbaiki jalur Dao yang hancur. Sinkronisasi dimulai...]
Dalam sekejap, hambatan tubuhnya musnah. Dari titik terendah sebagai manusia fana, ia melompat langsung ke Ranah Void Dao!
Menggabungkan logika sains modern dan kekuatan sistem absolut, Bai Chen menembus batasan dunia kultivasi yang kolot. Ia membumihanguskan para musuh yang merendahkannya, mengguncang 5 Klan Kuno di Benua Tengah, hingga berdiri di puncak pertempuran kosmik yang membelah dunia demi menjadi Kaisar Surgawi mutlak yang tak tertandingi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OhMyZy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kota Pusat Benua Tengah dan Tatapan Angkuh Penjaga Klan
Langit di atas daratan utama Benua Tengah membentang luas dengan pendaran cahaya spiritual berwarna keemasan lembut yang memancarkan kemegahan abadi. Di bawah langit yang dipenuhi formasi awan berenergi tinggi itu, berdiri megah Kota Pusat Benua Tengah—sebuah metropolis kuno seluas ribuan kilometer persegi yang dikelilingi oleh tembok pertahanan raksasa berukir prasasti dewa purba. Kota ini adalah pusat dari seluruh peradaban, kekuatan, dan hukum tertinggi di dunia kultivasi, tempat di mana 5 Klan Kuno (Zhang, Lei, Yan, Gu, dan Shi) memegang kendali mutlak atas nasib miliaran manusia.
Whoosh!
Sesosok bayangan putih melesat tanpa suara menembus lapisan awan, mendarat dengan ringan tepat di depan gerbang utama timur Kota Pusat. Sosok itu adalah Bai Chen. Mengenakan jubah putih bersih dengan rambut hitam tergerai tenang, ia berdiri mengamati kemegahan arsitektur kota yang menjulang tinggi, di mana puluhan menara kristal melayang pelan di udara berkat topangan formasi gravitasi kuno.
Di sekeliling gerbang utama, arus lalu lintas kultivator tampak sangat padat. Ribuan jenius muda dari berbagai faksi besar, tetua sekte luar, dan pedagang lintas benua berbondong-bondong antre untuk melewati gerbang pemeriksaan yang dijaga ketat oleh pasukan elit berlapis baja perak.
Pasukan penjaga gerbang tersebut bukanlah kultivator sembarangan; mereka adalah prajurit pilihan dari faksi gabungan 5 Klan Kuno, yang masing-masingnya berada di tahap Nascent Dao hingga Transformasi Dao, dipimpin oleh seorang kapten pasukan di tingkat Void Dao.
Bai Chen berjalan tenang mengikuti antrean, berniat masuk ke dalam kota untuk mencari informasi mengenai lokasi kediaman utama Klan Zhang. Namun, baru saja ia melangkah mendekati ambang pintu gerbang utama, seorang kapten penjaga berwajah angkuh yang mengenakan lencana petir di dadanya—seorang ahli dari faksi bawahan Klan Lei—tiba-tiba melangkah maju merentangkan tombak panjangnya, menghalangi jalan Bai Chen dengan kasar.
"Berhenti!" bentak sang kapten dengan suara menggelegar. Ia menatap Bai Chen dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Pengemis darimana kau? Kenapa mengenakan pakaian putih polos tanpa lambang faksi atau sekte resmi? Apakah kau tidak tahu aturan masuk ke Kota Pusat Benua Tengah?!"
Suara benturan tombak dan hardikan itu seketika menarik perhatian ratusan kultivator yang sedang mengantre di sekitar gerbang. Mereka menoleh, berbisik-bisik sambil menatap Bai Chen dengan tatapan mengejek.
"Heh, lihat pemuda itu. Pakaiannya sangat sederhana, jelas dia adalah kultivator rendahan yang datang dari benua luar," cibir seorang pemuda sombong dari faksi cabang klan lain di barisan belakang. "Berani sekali dia mencoba masuk ke Kota Pusat tanpa token izin resmi. Cari mati!"
Bai Chen menghentikan langkahnya. Ia menatap kapten penjaga di hadapannya dengan ekspresi yang sangat datar, tanpa secercah pun rasa gentar atau emosi di wajahnya.
"Aku tidak butuh token faksi untuk masuk ke tempat ini," jawab Bai Chen tenang, suaranya bergemerincing jelas di antara kerumunan. "Minggir dari jalanku."
Mendengar jawaban yang dianggap arogan tersebut, kapten penjaga itu tertawa terbahak-bahak mengejek. Ia mendengus dingin, memutar tombak di tangannya.
"Sombong sekali mulutmu, anak muda!" geram sang kapten. "Kau pikir karena kau bisa menembus batasan kota ini, kau bisa bersikap semaunya di hadapan pasukan Klan Kuno?! Di sini, bahkan anjing peliharaan Klan Lei memiliki martabat yang lebih tinggi daripada sampah dari benua luar sepertimu! Berlututlah dan minta maaf, atau aku akan meremukkan meridianmu sekarang juga!"
Tekanan energi dari tingkat Void Dao tahap akhir dilepaskan secara paksa oleh sang kapten, mencoba menindas Bai Chen agar berlutut di atas batu pualam gerbang. Para penonton di sekitar mundur beberapa langkah, menunggu saat-saat pemuda sombong itu dihancurkan oleh sang kapten.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat seluruh orang di tempat itu terperanjat kaku bagaikan disambar petir.
Bai Chen sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya. Ia hanya melayangkan satu tatapan sekilas ke arah sang kapten—sebuah tatapan yang memancarkan sedikit saja fluktuasi mutlak dari Ranah Dao Surgawi yang baru saja ia capai.
BUM!
Tekanan spasial tak kasat mata meluncur bagaikan palu godam raksasa. Kapten penjaga yang tadinya berdiri angkuh mendadak merasakan seluruh tulang di tubuhnya remuk seketika. Matanya membelalak lebar, memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, sebelum tubuhnya terhempas keras menghantam tanah pualam gerbang hingga retak berkeping-keping.
Kring...
Tombak perak di tangan sang kapten patah menjadi dua bagian dengan suara nyaring. Sang kapten terkapar tak berdaya di atas tanah, kehilangan kesadaran seketika akibat hantaman tekanan spiritual yang melampaui batas nalar.
Suasana di sekitar gerbang utama mendadak menjadi sangat sunyi senyap hingga suara desiran angin pun terdengar jelas. Ratusan kultivator yang tadinya mencibir seketika menutup mulut mereka rapat-rapat, wajah mereka berubah pucat pasi, menatap Bai Chen seolah-olah melihat monster mengerikan dari neraka.
"Apa... apa yang baru saja terjadi?!" bisik seorang kultivator dengan suara bergetar ketakutan. "Hanya... hanya dengan tatapan mata?! Tanpa mengeluarkan jurus apa pun, kapten penjaga yang berada di ranah Void Dao langsung tumbang tak sadarkan diri?!"
Para prajurit penjaga gerbang lainnya panik bukan kepalang. Mereka menghunuskan pedang dan tombak mereka secara serempak, mengepung Bai Chen dalam formasi pertempuran, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani melangkah maju karena teror mutlak yang terpancar dari tubuh pemuda tersebut.
Bai Chen mengabaikan para prajurit yang gemetar ketakutan di sekelilingnya. Ia melangkah melewati tubuh sang kapten yang terkapar, berjalan tenang melewati gerbang utama, dan resmi menjejakkan kaki di dalam Kota Pusat Benua Tengah.
Langkahnya mantap, menandakan bahwa kedatangannya kali ini bukan lagi sebagai seorang pemuda lemah yang bisa diremehkan, melainkan sebagai badai besar yang siap mengguncang fondasi 5 Klan Kuno.