Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Cahaya keemasan pagi hari menerobos masuk melalui celah tirai tipis presidential suite, membiaskan kehangatan di atas ranjang king-size.
Sinar lembut itu jatuh tepat di atas wajah Laila yang tertidur amat lelap, bersandar penuh kepasrahan di atas dada tegap Musa.
Musa terbangun lebih dulu. Napasnya teratur, dan matanya perlahan terbuka menatap langit-langit sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada wanita di dekapannya.
Tanpa selembar kain cadar yang menutupi, wajah Laila tampak begitu damai, polos, dan cantik jelita dalam lelapnya.
Sorot matanya membias kebahagiaan yang begitu utuh—rasa kepemilikan yang kini sempurna, tanpa ada lagi bayang-bayang ancaman, musuh, atau ketakutan masa lalu.
Dengan gerakan yang amat pelan dan hati-hati agar tidak mengusik tidurnya, jemari Musa yang kekar mengusap lembut helai demi helai rambut Laila yang terurai halus di atas bantal.
"Terima kasih sudah memilih bertahan bersamaku, Bidadariku." bisik Musa sangat pelan, mengulas senyum paling tulus di bibirnya.
Geliatan kecil terasa dari tubuh Laila. Bulu matanya yang lentik bergetar pelan sebelum matanya terbuka perlahan.
Hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah pendar mata Musa yang sedang menatapnya penuh kehangatan.
Muka Laila seketika merona merah menyadari betapa dekatnya wajah mereka dan bagaimana Musa memperhatikannya tanpa berkedip.
"Musa, kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Laila dengan suara khas bangun tidur yang agak parau namun terdengar amat manja.
Ia makin menyembunyikan wajahnya di dada Musa karena malu.
Musa terkekeh pelan, suaranya yang berat terasa menggetarkan dadanya.
Ia mengecup puncak kepala Laila dengan mesra. "Bagaimana aku bisa tidur lagi kalau ada bidadari paling cantik tidur di dadaku?"
Laila tertawa kecil, mencubit pelan pinggang Musa.
"Bisa saja gombalnya pagi-pagi begini."
Namun, kesadaran Laila sebagai seorang dokter sekaligus istri langsung mengambil alih.
Mengingat malam penuh keintiman yang baru saja mereka lewati setelah masa kritis Musa, raut wajah Laila berubah serius penuh perhatian.
Dengan sigap tapi perlahan, Laila menggeser posisinya.
Jemari lembutnya dengan telaten menyibak kain piyama kasual yang dikenakan Musa, memeriksa perban putih yang melingkari dada kiri suaminya.
Matanya meneliti dengan cermat setiap incinya, memastikan tidak ada rembesan darah baru atau tanda-tanda peradangan pada bekas luka tembak itu.
"Bagaimana, Dokter Laila? Apakah pasienmu ini lulus uji?" goda Musa sembari mengelus pipi Laila yang sibuk memeriksa dadanya.
Laila menghela napas lega saat melihat perban itu masih bersih dan kering.
Ia menatap Musa dengan pandangan manja bercampur lega.
"Alhamdulillah, tidak ada pendarahan atau kemerahan. Jahitannya aman. Tapi ingat ya, Musa, hari ini tetap harus banyak istirahat dan tidak boleh melupakan obatnya."
Musa menarik pinggang Laila mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka, mengunci tatapan istrinya dengan binar cinta yang menyala.
"Siap, Dokter Pribadiku. Apapun perintahmu, aku patuh."
Musa merogoh telepon kamar dan langsung menghubungi pihak restoran hotel untuk memesan menu sarapan istimewa—perpaduan hidangan lokal favorit Laila dan sajian internasional yang hangat.
Tidak butuh waktu lama, pelayan hotel mengetuk pintu dan menata meja makan kecil di balkon privat suite mereka.
Pemandangan sudut kota dari ketinggian terasa begitu tenang di bawah sinar matahari pagi.
Tanpa bayang-bayang senjata, tanpa desing peluru, dan tanpa instruksi taktis yang menegangkan, Musa dan Laila duduk berdampingan.
Musa dengan telaten menyuapkan sepotong buah segar ke mulut Laila, sementara Laila menuangkan teh hangat untuk suaminya.
Momen sederhana ini terasa begitu mahal dan berharga setelah segala benturan maut yang mereka lewati.
Di sela-sasa menikmati sarapan, Musa mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam erat jemari Laila.
Tatapannya teduh, memancarkan keseriusan yang sarat akan kedamaian.
"Sayang, aku sudah mengambil keputusan," ujar Musa pelan, suaranya mantap.
"Mulai minggu depan, aku akan melimpahkan sebagian besar kontrol operasional bisnis dan urusan kelompok kepada Yusuf dan orang-orang kepercayaanku. Aku ingin menarik diri secara perlahan dari dunia hitam itu."
Laila menatap suaminya dengan mata berbinar tak percaya.
"Kamu serius?"
Musa mengangguk dengan senyum tulus. "Serius, Bidadariku. Semua musuh sudah selesai, dan aku tidak ingin sisa hidupku dihabiskan dalam ketakutan akan keselamatanmu. Aku hanya ingin menjadi pria biasa, menjadi suamimu yang utuh dan fokus membangun keluarga kecil kita dengan tenang."
Rasa haru membuncah di dada Laila. Ia mengusap punggung tangan Musa, lalu memberanikan diri mengutarakan impian kecilnya sendiri.
"Kalau begitu, aku juga punya satu impian, Mas. Aku ingin kembali membuka klinik praktik medis, tapi khusus klinik gratis untuk masyarakat miskin yang membutuhkan pengobatan."
Musa tersenyum lebar, pendar matanya penuh rasa bangga dan kekaguman pada kebaikan hati istrinya.
"Aku dukung seratus persen, Sayang. Apapun yang kamu butuhkan—gedung, fasilitas, alat medis paling canggih—aku yang akan sediakan semuanya untuk klinikmu."
Laila tertawa bahagia, matanya berkaca-kaca mendengar dukungan tanpa batas dari suaminya.
Musa berdiri dari kursinya, lalu menarik tubuh Laila lembut untuk berdiri bersamanya.
Tanpa memedulikan angin pagi yang berembus pelan di balkon itu, Musa merengkuh dan memeluk tubuh istrinya seerat mungkin—menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa syukur, dan perlindungan abadi yang kini sepenuhnya menjadi milik Laila seumur hidupnya.
Sementara itu, di sebuah kamar berinterior mewah namun kini kacau-balau, suara pecahan kaca dan barang-barang yang dihantamkan ke dinding bergema kencang.
PRANG!!
Musdalifah melempar vas bunga ke cermin rias hingga retak berantakan.
Napasnya memburu hebat, matanya sembap dan memerah penuh kebencian yang membakar.
Barang-barang di meja rias, pakaian, hingga hiasan kamar ia sebar dan buang ke lantai tanpa sisa.
Meskipun ia telah diselamatkan dari cengkeraman maut dan dibawa pulang dengan selamat oleh Laila dan Yusuf, tidak ada sedikit pun rasa syukur atau terima kasih di hatinya.
Yang ada hanyalah rasa jijik pada dirinya sendiri dan dendam mendalam yang kian pekat.
"Laila, ini semua gara-gara kamu." bisik Musdalifah dengan suara bergetar dan parau, menyiramkan rasa benci pada bayangan adik angkatnya itu.
Ia meluruh di lantai, memeluk kedua lututnya rapat-rapat sembari gemetar hebat.
Bayangan malam kelam itu kembali berputar kejam di kepalanya.
FLASHBACK
Malam itu, di dalam markas tersembunyi kelompok Scorpion yang dingin dan beraroma lembap.
Suara letusan tembakan yang menembus dada Musa beberapa jam sebelumnya masih terngiang-ngiang di telinga Musdalifah.
Tubuhnya yang terikat di kursi kayu gemetar tanpa henti.
Di depannya, Zafar berdiri dengan napas terengah-engah, memegang pistol yang masih hangat sembari mengecek kabar lewat ponselnya.
"Persetan!! Kenapa dia belum mati juga?!" umpat Zafar penuh amarah, memukul meja besi di dekatnya hingga membentak keras.
Dendam membara karena rencananya dihancurkan oleh Musa dan Laila membuat kewarasan Zafar runtuh sepenuhnya.
Matanya yang liar dan penuh kebencian tiba-tiba beralih menatap Musdalifah yang tersudut ketakutan.
"J-jangan. Tolong, jangan mendekat!" jerit Musdalifah histeris, mencoba menggeser kursinya ke belakang.
Sambil tersenyum miring bagaikan iblis, Zafar melangkah mendekat.
Ia mencengkeram rahang Musdalifah dengan amat keras hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Musa mengambil segalanya dariku. Istrinya yang sok suci itu juga merusak semua rencanaku!" bisik Zafar beracun tepat di depan wajah Musdalifah.
"Kalau aku tidak bisa menghancurkan mereka secara langsung malam ini, maka keluarganya yang harus membayar harganya!"
"Lepaskan aku! Laila, tolong aku!! Laila!!" teriak Musdalifah menangis histeris.
Tanpa memedulikan jeritan dan tangisan pilu Musdalifah, Zafar merobek paksa pakaian gadis itu.
Malam yang dingin itu berubah menjadi mimpi buruk paling kelam dalam hidup Musdalifah.
Dalam cengkeraman tak berdaya, kehormatannya direnggut secara paksa oleh Zafar sebagai bentuk pembalasan dendam yang keji atas kebenciannya pada Musa.
FLASHBACK OFF
"Dia memperkosaku," gumam Musdalifah lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Air matanya menetes keras membasahi pipinya yang pucat.
Rasa trauma dan kehancuran jiwa yang ia alami malam itu membuatnya menutup mata dari kenyataan.
Ia tidak mau menyalahkan Zafar saja, melainkan melimpahkan seluruh rasa sakit, kehancuran, dan penderitaannya kepada Laila dan Musa.
Di mata Musdalifah yang kini tertutup dendam, jika saja Laila tidak hadir dalam kehidupan Musa dan jika saja mereka tidak terlibat dalam pusaran konflik itu, ia tidak akan pernah mengalami nasib sekelam ini.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii