Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas
Azka kembali ke meja makan dengan langkah santai. Namun, baru saja ia menarik kursinya, Vania langsung menatapnya dengan wajah penuh curiga.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
Azka mengangkat alis. “Tadi aku sudah bilang, dari toilet, kan?” Ia balik bertanya.
Vania menyipitkan mata. “Terus kenapa kamu senyum-senyum kalau dari toilet?”
Azka menahan tawa. “Daripada cemberut dan marah-marah kayak kamu.”
Seketika wajah Vania berubah. Ia meletakkan sendoknya dengan keras hingga menimbulkan bunyi nyaring.
“Maksud kamu apa?” tanya Vania.
Azka menghela napas. Sepertinya malam ini ia memang tidak akan bisa makan dengan tenang. “Nggak ada maksud apa-apa,” jawabnya. “Aku cuma bilang, daripada marah-marah, lebih baik senyum. Ada yang salah?”
“Kamu kenapa bilang aku marah-marah?” Vania bertanya lagi.
“Karena memang kamu marah.”
“Aku marah karena Raisa!” balas Vania. “Dan wajar aku marah! Kamu tadi menolong dia seperti itu.”
Azka mengerutkan kening. “Dia terluka.”
“Karena dia istrimu!” Vania membalas dengan suara bergetar. “Sedangkan aku cuma simpanan.”
Azka terdiam. Vania menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Salah aku apa? Aku jadi simpanan juga karena kamu," ujar Vania.
Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka. Vania tidak peduli.
“Kamu seharusnya menolak menikah dengannya,” lanjut Vania. “Kalau kamu nggak menikah dengan Raisa, aku bisa jadi istri sah kamu.”
Azka langsung menundukkan wajah. Bukan karena merasa bersalah. Lebih karena malu. Ia bahkan mulai merasa menyesal mengajak Vania makan malam.
“Turunkan volume suaramu,” ucapnya pelan.
“Aku nggak peduli!” seru Vania.
“Vania.”
“Aku mau jadi istri kamu!” ujar Vania.
“Vania!” Nada suara Azka akhirnya sedikit meninggi.
Vania terdiam sesaat. Matanya memerah. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berdiri, meraih tasnya, lalu pergi meninggalkan restoran.
Azka memejamkan mata sebentar. “Ya Tuhan …,” ucapnya. Ia kemudian bangkit dan mengejar Vania. “Vania, tunggu!”
Namun wanita itu terus berjalan menuju lift. Begitu sampai di lobi, Azka akhirnya berhasil menyusul.
“Sudahlah, Vania. Aku capek," ujar Azka.
Vania berhenti.
“Aku mau liburan, bukan ribut,” lanjut Azka. “Mau kamu apa lagi?”
Vania tetap diam.
“Kamu selalu aku jadikan yang pertama,” ujar Azka. “Walaupun menurut kamu statusmu cuma simpanan.”
Vania masih tidak menjawab. Ia justru membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Azka hanya menghela napas.
“Ya sudah.” Pria itu masuk ke kursi pengemudi.
Mobil kemudian melaju meninggalkan restoran. Namun, bukannya kembali ke hotel, Azka justru mengarahkan mobil menuju jalan yang berbeda. Vania yang masih memasang wajah masam akhirnya bertanya.
“Kita mau ke mana?” tanya Vania.
“Cari martabak.”
Vania langsung menoleh, dan bertanya, “Martabak?”
“Iya," jawab Azka.
“Buat siapa?” tanya Vania.
Azka menjawab tanpa berpikir panjang. “Buat Raisa.”
Vania langsung mendengus. “Antar aku ke hotel dulu. Baru kamu cari martabak buat istri kamu itu.”
Azka menatap jalan di depannya. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. “Ya sudah.”
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan hotel tempat Vania menginap. Vania turun tanpa berkata apa-apa.
Namun sebelum menutup pintu, ia sempat melirik Azka. “Kamu benar-benar mau pergi?” tanyanya.
“Iya," jawab Azka.
“Tidak mau membujukku?” tanya Vania.
Azka menatapnya sebentar. “Besok saja kita bicara.”
Vania mendengus lalu membanting pintu. Azka hanya menggeleng.
“Wanita itu kalau sedang marah memang lebih menakutkan daripada polisi lalu lintas," ucap Azka.
Setelah itu ia langsung pergi mencari martabak telur. Malam semakin larut ketika akhirnya Azka menemukan penjual martabak yang masih buka.
Ia membeli satu kotak besar. Setelah itu, ia kembali ke hotel. Sesampainya di depan kamar Reatha, Azka mengetuk pintu.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Reatha muncul dengan rambut sedikit berantakan. Kakinya masih dibalut perban.
Begitu melihat kotak di tangan Azka, matanya langsung berbinar. “Martabak?” tanyanya.
Azka tersenyum. “Katanya mau.”
Reatha langsung mengambil kotaknya dan membalas, “Aku pikir kamu bercanda.”
“Aku kelihatan seperti orang yang suka bercanda?” tanya Azka.
Reatha menatapnya dari atas sampai bawah. “Iya.”
Azka terkekeh. “Ya sudah, makan saja.”
Reatha membuka kotak martabak itu. Aroma gurih langsung memenuhi kamar.
“Wah ...," ucap Reatha senang.
Azka tertawa melihat ekspresinya. “Baru lihat martabak sudah seperti menemukan harta karun.”
“Ini harta karun,” jawab Reatha serius.
Azka menggeleng. “Kampungan.”
“Biar kampungan, yang penting enak," balas Reatha.
Mereka akhirnya duduk bersama. Reatha makan dengan lahap, sementara Azka hanya memperhatikannya.
“Pelan-pelan,” ujar Azka. “Nanti tersedak.”
“Aku lapar.”
“Bukannya tadi bilang sudah makan?” tanya Azka.
“Sudah. Tapi itu makanan hotel.”
“Terus?”
“Martabak punya tempat khusus di perutku.”
Azka tertawa. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar santai. Namun suasana tiba-tiba berubah ketika ponsel Azka berdering. Nama Mama tercantum di layar. Azka langsung mengangkat panggilan video tersebut. Wajah Mama dan Papa muncul di layar.
“Azka, kalian sedang apa?” tanya Mama.
Azka refleks melihat ke arah Reatha. Dalam hati, ia justru merasa bersyukur. Untung saja ia sedang berada di kamar istrinya.
“Kami sedang istirahat, Ma,” jawabnya.
Mama tersenyum. “Bagaimana liburannya?”
“Lumayan.”
Papa ikut bertanya, “Kalian sudah jalan-jalan ke mana saja?”
Azka mulai bercerita. Reatha hanya duduk sambil menikmati martabak.
Sesekali Mama bertanya kepada Reatha. “Raisa, kamu bagaimana?”
Reatha tersenyum. “Aku baik, Ma.”
Azka menahan senyum mendengar jawaban itu. Percakapan mereka terus berlangsung. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Azka mulai menguap.
Reatha memperhatikannya. “Kamu ngantuk?”
Azka mengangguk. “Sedikit,” jawabnya.
“Kalau begitu, kembalilah ke kamarmu," balas Reatha.
Azka tidak menjawab. Matanya sudah berat. Tanpa sadar, ia berdiri, berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan tubuhnya. Beberapa detik kemudian, matanya terpejam.
Reatha terdiam. Ia menatap pria itu. “Tidur beneran," ucapnya.
Tidak ada jawaban. Reatha tersenyum kecil. Ia mengambil selimut lalu menutup tubuh Azka. Namun, karena tidak ingin membangunkannya, Reatha memilih tidur di sofa. Malam itu berlalu begitu saja.
Pagi harinya, Vania sudah bangun dengan perasaan kesal. Semalaman Azka tidak menghubunginya. Tidak ada pesan apalagi telepon. Bahkan tidak ada usaha untuk membujuknya.
“Benar-benar laki-laki keras kepala,” gerutunya.
Vania kemudian memutuskan mencari Azka. Ia berjalan menuju kamar hotel pria itu. Mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi.
“Azka ...," panggil Vania.
Tetap hening. Vania mengerutkan kening.
“Jangan-jangan dia masih tidur," ucapnya.
Namun ketika ia membuka pintu dengan akses yang ia punya, , kamar itu kosong. Wajah Vania langsung berubah. Ia kemudian teringat sesuatu. Kamar Reatha.
“Ah, nggak mungkin.” Vania mencoba mengusir pikirannya sendiri. “Azka tidur dengan Raisa?”
Ia menggigit bibir. “Tapi … nggak apa-apa, aku cari saja. Aku cuma mau memastikan.”
Dengan langkah cepat, Vania menuju kamar Reatha. Mengetuknya perlahan. Beberapa detik kemudian terdengar langkah pelan dari dalam.
Reatha berjalan tertatih menuju pintu. Karena kakinya masih sakit, ia harus berpegangan pada dinding. Akhirnya pintu terbuka.
Vania langsung menatapnya. “Kamu tahu Azka di mana?” tanyanya.
Reatha tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya. Kemudian menunjuk ke arah tempat tidur.
Vania perlahan mengikuti arah telunjuk Reatha. Matanya membesar. Dan wajahnya seketika berubah. Di atas ranjang itu Azka masih tertidur pulas.
...nikahin tuh si Vania lepasin Raisa /Reatha