Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
"Lia, umur kamu sekarang berapa, sih? Tiga puluh satu, ya?"
Tante Ratna bertanya sambil mengunyah lumpia dan menatap Lia dengan senyum yang terlalu manis untuk disebut tulus. Ruang tamu rumah Nenek malam itu sesak oleh belasan anggota keluarga. Piring-piring berpindah tangan, anak-anak berlarian, dan aroma opor ayam memenuhi udara. Lia sudah tahu ke mana arah percakapan ini. Ia bisa menebaknya sejak turun dari mobil tadi.
"Iya, Tante. Tiga puluh satu," jawabnya tenang sambil menyendok nasi.
"Wah. Teman-teman Tante, anaknya umur segitu sudah punya dua." Tante Ratna berdecak. "Kamu itu cantik, kerjanya bagus, tapi kok belum ada calon? Jangan terlalu pilih-pilih, Lia. Nanti kalau sudah kepala tiga lewat, susah lho."
Beberapa sepupu saling pandang. Ada yang menunduk menahan tawa, ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel. Mereka semua tahu apa yang biasanya terjadi berikutnya.
Lia meletakkan sendoknya perlahan. Ia tersenyum, dan senyum itu jauh lebih berbahaya daripada wajah marah.
"Tante, boleh tanya balik?"
"Tanya apa?"
"Tante menikah umur berapa?"
"Dua puluh dua."
"Dan sekarang, Tante bahagia?"
Ruangan mendadak sunyi. Tante Ratna berhenti mengunyah. Semua orang tahu Om Hendra sudah dua tahun tinggal di luar kota dengan alasan pekerjaan, dan semua orang tahu itu bukan sepenuhnya soal pekerjaan.
"Ya... itu kan lain cerita," gumam Tante Ratna.
"Nah." Lia mengambil segelas air. "Menikah itu cepat atau lambat bukan soal, Tante. Yang penting itu kalau sudah menikah, saya tidak perlu jadi bahan pertanyaan orang tentang kapan bahagianya. Jadi Tante tenang saja. Kalau saya sudah ketemu yang tepat, Tante orang ke sekian yang saya kabari."
Satu sepupunya tersedak. Nenek berdeham pelan, menyembunyikan senyum di balik gelas tehnya. Tante Ratna membuka mulut, menutupnya lagi, lalu sibuk mengambil lumpia yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
Di seberang meja, Ayah menatap Lia. Tidak ada teguran di matanya. Hanya sesuatu yang lembut dan sedikit letih, tatapan seseorang yang tahu bahwa putrinya sedang memakai baju zirah. Ibu menggenggam tangan Lia di bawah meja, hangat dan tanpa kata.
Itulah yang membuat dada Lia terasa sesak, bukan pertanyaan Tante Ratna. Orang tuanya tidak pernah memaksa. Tidak sekali pun mereka berkata cepatlah menikah. Justru lingkungan di sekelilinglah yang tak pernah berhenti bercerita.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Lia menyandarkan kepala ke jendela mobil.
Lampu-lampu jalan melintas seperti garis-garis panjang yang tak berujung.
Sebenarnya, ia merasa sudah layak. Usia cukup, karier stabil, tabungan ada. Bahkan ada satu-dua pria yang pernah datang dengan niat serius. Tapi selalu ada saja yang membuatnya berhenti.
Bukan soal wajah, bukan soal harta. Ada cara seseorang memandang pelayan restoran, cara ia memotong pembicaraan, cara ia menganggap ibunya hanya ibu rumah tangga. Hal-hal kecil, tetapi bagi Lia hal kecil itulah yang menunjukkan seperti apa seseorang di rumah nanti.
Lalu ada cerita-cerita itu. Sepupunya yang menangis di telepon pukul dua pagi. Temannya yang menemukan pesan mesra di ponsel suaminya. Koleganya yang berkata sambil tertawa getir, "Lia, jangan buru-buru. Pernikahan itu nggak seindah di film." Sudah terlalu banyak orang yang menitipkan luka mereka padanya, sampai Lia merasa ia membawa terlalu banyak peringatan.
Kalau begitu banyak yang terluka, pikirnya, kenapa aku harus melompat ke sana?
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Basti, sahabat sejak kecilnya.
Basti: Gimana? Diserang Tante Ratna lagi?
Lia tersenyum kecil dan mengetik cepat.
Lia: Dia kalah telak. Sudah kubungkam pakai satu kalimat.
Basti: Kasihan Tante Ratna. Kamu itu kejam kalau lagi mode begitu.
Lia: Bukan kejam. Efisien.
Ia meletakkan ponsel di pangkuan. Untuk sesaat, dunianya terasa aman: rutinitas yang rapi, sahabat yang setia, keluarga yang menyayanginya. Ia tidak butuh siapa-siapa untuk membuat hidupnya lengkap. Itu yang ia yakini.
Ia tidak tahu bahwa di sebuah gedung pencakar langit di Jakarta, dua ratus kilometer dari mobil yang ia tumpangi, seorang pria sedang menandatangani dokumen inspeksi cabang.
Namanya sudah ada di jadwal dua hari lagi, di antara puluhan nama yang tak berarti apa-apa baginya.
Pria itu tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu, satu kalimat kejam yang keluar dari mulutnya akan membuat seorang wanita membencinya. Ia juga tidak tahu bahwa kebencian itu akan menjadi awal dari sesuatu yang akan menghancurkan sekaligus menyelamatkannya.
Pria itu terbiasa memerintah, dan terbiasa tidak peduli. Ia tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah merasa kehilangan, tidak pernah tahu bagaimana rasanya tak bisa bernapas hanya karena satu nama.
Namun semesta punya cara yang lucu untuk mengajari orang-orang keras kepala.
Di dalam mobil yang melaju pelan, Lia memejamkan mata. Ia tidak menyadari bahwa hidupnya yang tertata rapi itu tinggal beberapa hari lagi sebelum berantakan. Dan bahwa yang akan merobohkannya bukan seorang penjahat, melainkan seorang pria yang jatuh lebih dulu, dan jatuh jauh lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan.