"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Malam Konfrontasi
Palang kayu jatuh ke penyangganya dengan bunyi berdebam, dan Srigading terkunci dari dalam.
Prabu Hayam Vira berdiri membelakangi pintu. Bau tuak siwalan memenuhi bilik itu dalam satu tarikan napas, asam dan menyengat, menindih bau melati dari kendi bunga di sudut ruangan. Keris berluk tiga belas di pinggangnya berkilat kekuningan di bawah cahaya pelita.
Dyah Ayu duduk di tepi ranjang. Rambutnya tergerai, kemben putih tipis untuk tidur, selendang perak terlipat di pangkuannya. Ia tidak berdiri. Ia tidak menyembah.
Ia hanya menatapnya.
Hayam Vira melangkah masuk. Kakinya membentur meja rendah di samping pintu, dan guci tanah liat berisi minyak cendana di atasnya terguling. Guci itu menghantam papan jati dan pecah menjadi lima keping. Minyak kental keemasan mengalir di lantai, merambat di sela-sela papan, menyebarkan wangi kayu yang begitu pekat sampai terasa di pangkal lidah.
Lidah api pelita di atas meja bergoyang oleh embusan udara. Lalu mengecil, tinggal sebesar biji jagung.
Ia tidak melihat ke bawah. Ia tidak melihat pecahan guci itu. Ia hanya melihat perempuan di tepi ranjang.
***
"Berdiri."
Dyah Ayu berdiri. Selendang perak itu meluncur dari pangkuannya, jatuh ke lantai, ke dalam genangan minyak cendana.
Hayam Vira melangkah melewati genangan itu. Telapak kakinya meninggalkan jejak berminyak di papan. Tiga langkah, dan ia sudah di depan Dyah Ayu. Satu langkah lagi, dan punggung Dyah Ayu menempel ke dinding bata berlapis kapur yang dingin.
Tangannya naik dan mencengkeram rahang Dyah Ayu.
Jemarinya kasar dan panas oleh tuak. Ibu jarinya menekan di bawah tulang pipi kiri, jari-jari lainnya di bawah pipi kanan. Cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa memalingkan wajah. Cukup terkendali untuk tidak meninggalkan memar. Dyah Ayu bisa merasakan getaran halus di ujung-ujung jemari itu, seperti tali busur yang ditarik terlalu lama.
"Raden Mahisa Rangga," ucap Hayam Vira. Suaranya rendah, serak, dan setiap suku kata keluar seperti batu yang diseret. "Putra Ki Patih Rangga Wesi. Tewas terbawa arus di Kali Gending."
Dyah Ayu tidak berkedip.
"Ia yang berdiri di belakang beringin di Taman Larangan."
"Ya."
"Ia yang mencengkeram lenganmu di pelataran candi."
"Ya."
"Ia calon suamimu."
"Ya, Gusti."
Jemari di rahangnya mengencang. Sedikit. Napas Hayam Vira menyapu wajahnya, panas dan berbau tuak. Dyah Ayu melihat urat di pelipis Raja itu bergerak di bawah kulit, berdenyut cepat.
"Kau berbaring di dadaku di dalam gua itu," desisnya. "Kau bersumpah demi nama ibuku. Dan kau tidak mengatakan apa-apa."
"Gusti tidak bertanya."
***
Diam.
Hanya bunyi minyak yang menetes dari tepi meja ke lantai. Tes. Tes.
"Aku bertanya," ucap Hayam Vira, sangat pelan. "Di bilik pribadiku. Malam setelah Taman Larangan. Aku bertanya siapa lelaki itu."
"Dan saat itu, Gusti adalah lelaki yang membakar rumah hamba tiga hari sebelumnya." Dyah Ayu tidak menaikkan suaranya. "Gusti mengancam memenggal satu kepala untuk setiap senjata yang hamba angkat. Apakah Gusti mengira hamba akan menyerahkan satu-satunya orang Watugaluh yang masih bisa memegang tombak, ke tangan lelaki seperti itu?"
Hayam Vira tidak menjawab.
"Ia memohon hamba lari malam itu. Melalui saluran air di bawah kolam. Ada perahu di Kali Gending dan kuda di seberang sungai." Ia menatap lurus ke mata hitam yang hanya sejengkal di depannya. "Sebelum fajar, hamba bisa berada di hutan Wengker. Gusti tidak akan pernah menemukan hamba."
Rahang di bawah jemari Hayam Vira bergerak saat ia bicara. Raja itu merasakannya. Ia tidak melepaskan cengkeramannya.
"Hamba menolak."
"Karena adikmu."
"Karena adik hamba. Karena tiga ratus orang di alun-alun selatan." Dyah Ayu menelan ludah. Tenggorokannya bergerak di bawah tangan Raja itu. "Dan karena hamba ingin melihat Kagendra runtuh dari dalam, dengan mata hamba sendiri. Bukan dari balik pohon di hutan Wengker."
"Dan sekarang?"
"Sekarang hamba berdiri di kamar yang Gusti kunci, dengan keris Gusti yang terhunus di pinggang Gusti." Ia mengangkat dagunya sedikit, melawan tekanan jemari itu. "Dan bukan dia yang ada di sini."
***
Hayam Vira melepaskan rahangnya.
Bukan karena lunak. Ia mencabut Kyai Naga Sasra dari sabuknya. Bilah berluk tiga belas itu mendesis keluar, dan pamor bergelombangnya menangkap cahaya pelita yang sekecil biji jagung, memantulkannya dalam garis-garis keemasan di dinding kapur.
Dyah Ayu menatap bilah itu. Lalu, sebelum Raja itu sempat mengangkatnya, ia meraih pergelangan tangan yang memegang keris.
Hayam Vira membeku.
Dyah Ayu menuntun tangan itu perlahan. Ke atas. Sampai ujung keris berluk itu menyentuh kulit di bawah dagunya, tepat di atas nadi yang berdetak di lehernya. Dingin. Tajam. Satu tarikan napas yang terlalu dalam, dan kulitnya akan terbelah.
"Di dalam gua, Gusti bersumpah," ucapnya pelan. "Kalau hamba berkhianat, Gusti sendiri yang akan menagihnya."
Ia melepaskan pergelangan tangan Raja itu. Membiarkan keris itu tetap di lehernya, dipegang hanya oleh tangan Hayam Vira.
"Kalau Gusti yakin hamba berkhianat, tagihlah sekarang."
Bilah itu tidak bergerak.
Dyah Ayu bisa melihat tangan yang memegangnya. Buku-buku jari yang memutih. Bekas cetakan rantai emas yang merah keunguan di telapak tangan, mengintip dari sela-sela gagang. Getaran halus yang merambat dari pergelangan ke ujung bilah, sampai ia bisa merasakannya di kulit lehernya, seperti sayap serangga.
"Hamba bersumpah untuk tidak mengkhianati Gusti," lanjutnya, dan suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Hamba tidak pernah bersumpah untuk lupa siapa hamba sebelum Gusti datang. Tidak ada perempuan yang bisa bersumpah seperti itu. Bahkan Permaisuri Gusti."
Hening yang panjang.
"Dan satu hal lagi, Gusti." Dyah Ayu mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat ujung keris menekan kulitnya lebih dalam. Ia merasakan perih tipis, lalu setetes hangat merayap turun ke tulang selangkanya. "Hamba juga melihat sabuknya di Hutan Kancana. Hamba melihatnya sebelum Gusti. Dan hamba sudah menyuruh Ki Bongkok mengawasinya sejak kita kembali."
Mata Hayam Vira berpindah dari wajahnya ke setetes darah di lehernya.
Lalu keris itu terlepas dari tangannya.
Kyai Naga Sasra jatuh ke lantai. Ujungnya menancap di papan jati, dan bilah berluk itu berdiri tegak, bergetar, di tengah genangan minyak cendana.
***
Ia tidak tahu siapa yang lebih dulu bergerak.
Tangan Hayam Vira naik ke tengkuknya, jari-jari kasar itu menyusup ke rambutnya yang tergerai, menariknya mendekat. Tangan Dyah Ayu sendiri sudah mencengkeram kain di dada Raja itu, meremasnya, menariknya turun.
Ciuman itu tidak seperti di dalam gua. Tidak ada kelembutan yang hati-hati. Bibir Raja itu berbau tuak siwalan, panas dan menuntut, menekan begitu keras sampai kepala Dyah Ayu terdorong ke dinding kapur yang dingin. Ia tidak mundur. Ia membalasnya dengan kekerasan yang sama, menggigit bibir bawah lelaki itu sampai ia merasakan asinnya darah.
Hayam Vira mengerang di mulutnya. Rendah, dari dada.
Punggungnya menempel di dinding. Dada bidang yang panas oleh tuak menekannya dari depan. Jemari Raja itu turun dari rambutnya ke tengkuk, ke bahu, menyentuh garis tipis darah yang mengalir di lehernya, mengusapnya dengan ibu jari seperti ingin menghapusnya.
Ketika mereka berhenti untuk bernapas, dahi Hayam Vira bersandar di dahinya. Napas mereka berdua keras, tersengal-sengal, saling bertabrakan di udara yang pekat oleh bau cendana dan tuak.
"Kau milikku," desis Raja itu. Suaranya pecah di tengah. "Kau dengar? Bukan miliknya. Bukan milik Watugaluh. Milikku."
Dyah Ayu mengangkat tangannya ke rahang lelaki itu. Persis seperti lelaki itu mencengkeram rahangnya tadi. Tetapi jemarinya tidak menekan. Hanya menahan, memaksa Raja itu menatapnya.
"Hamba bukan guci minyak, Gusti, yang bisa Gusti miliki lalu pecahkan saat Gusti mabuk." Bibirnya hampir menyentuh bibir Raja itu dengan setiap kata. "Kalau Gusti ingin hamba, Gusti harus memilih hamba. Setiap hari. Sama seperti hamba memilih untuk tidak lari malam itu."
Hayam Vira menatapnya. Napasnya masih keras. Matanya yang merah oleh tuak bergerak di wajahnya, mencari sesuatu.
Ia menunduk lagi. Kali ini lebih pelan.
***
Desingan itu sangat halus.
Seperti bunyi nyamuk yang melintas di dekat telinga, hanya lebih tajam dan lebih cepat. Datang dari arah jendela kayu di dinding timur, yang daunnya hanya ditutup setengah karena udara malam terlalu pengap.
Lalu bunyi tumpul. Kayu menembus kayu.
Hayam Vira bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia memutar tubuh, mendorong Dyah Ayu ke balik punggungnya, dan menyambar Kyai Naga Sasra dari papan lantai dalam satu gerakan. Bilah berluk itu terangkat, menghadap jendela.
Tidak ada apa-apa di sana. Hanya kegelapan di balik celah jendela. Hanya alang-alang yang berdesir di bawah sinar bulan.
Para Bhayangkara sudah ia usir ke gerbang Keputren.
Dyah Ayu mengikuti arah pandangan Raja itu. Ke tiang kayu jati di sudut ranjang, tiang tempat kelambu digantungkan. Setinggi bahunya. Sejengkal dari tempat kepalanya biasa berbaring setiap malam.
Sebatang anak panah kecil menancap di sana. Tidak lebih panjang dari lengan bawah. Batangnya masih bergetar pelan.
Di pangkalnya, tepat di bawah bulu-bulunya, terikat segulung lontar kecil dengan tali ijuk.
Tetapi bukan gulungan itu yang membuat Dyah Ayu berhenti bernapas.
Ia melangkah mendekat, keluar dari balik punggung Raja, meskipun lengan Hayam Vira berusaha menahannya. Ia menatap ujung anak panah yang tertanam setengah di dalam kayu jati.
Hitam. Mengilap basah di bawah cahaya pelita yang sekecil biji jagung.
Dan dari bagian yang masih mencuat di luar kayu, ia bisa melihat bentuknya dengan jelas. Tiga duri balik, melengkung seperti kail pancing.
Persis seperti mata panah yang ia cabut dari bahu Raja di dalam gua kapur Hutan Kancana. Mata panah yang terakhir kali ia lihat tersembunyi di balik sabuk seorang Senopati.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..