Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Mendekati pelaksanaan event di kampusnya, Rin semakin sibuk. Begitu juga dengan Al yang setiap hari harus latihan untuk perform. Sudah seminggu lebih bukit yang biasa mereka datangi tak pernah disambangi lagi.
Roemah Roti masih tetap ramai peminatnya, baik roti maupun cookies renyah resep Rin. Cookies Rin masih jadi best seller saat ini.
Tiga hari sebelum acara, Al sudah tak bisa lagi menahan rasa kangennya. Setelah latihan, Al ke kampus Rin menggunakan jaket dan helm full face. Dia nggak mau bikin heboh di kampus Rin. Sebelum pergi dia sudah mengirim pesan menanyakan dimana Rin. Balasan Rin membuatnya tersenyum. Gadis itu masih di kampus.
Al memarkirkan motornya agak jauh, dia turun pura-pura memainkan ponselnya tanpa membuka helm. Dia melirik ke lapangan yang ramai oleh panitia, terlihat dari name tag yang di kalungkan di leher. Tak sulit menemukan dimana Rin. Dia sedang menulis sesuatu bersama temannya tepat di tengah lapangan.
Al menekan tombol memanggil. Ponsel Rin bergetar di sakunya. Rin melihat nama pemanggil dan dia tersenyum.
"Hai... ada apa?" tanya Rin.
"Aku sudah di parkiran ujung, sudut. Bisa kesini?" tanya Al. Rin mencari dengan matanya dan menemukan Al meneleponnya.
"Gue ke sana!" Rin mematikan ponsel, menyerahkan catatan ke temannya dan berlari kecil mendatangi Al.
"Lo ke sini! Ini udah malam, nggak latihan?" tanya Rin.
"Latihan nggak seru nggak ada kamu!" gumam Al.
"Apa?" tanya Rin. Al hanya mengangkat bahu. Dia menyerahkan bungkusan di tangannya untuk Rin.
"Apa ini?" tanya Rin.
"cuma minuman, buat temen-temen... Dan kamu!" ucap Al l, jemarinya sengaja menyentuh ujung jari Rin sekilas. Rin terdiam. Dia baru menyadari panggilan Al ke dirinya berbeda kali ini. Telinga Rin memerah.
"Makasih ya!" Rin kikuk mendengar nada lembut Al.
"Ya udah, semangat menuju hari H. Bye!" Al menstarter motornya dan pergi. Rin masih meredakan detak jantungnya. Rin sekarang yakin, Al memang ada hati untuknya. Rin tersenyum dan membawa minuman itu ke teman-temannya yang heboh. Karena setahu mereka, Rin belum ada gandengan.
Rin pulang sudah pukul sepuluh malam. Sampai di rumah, dia segera mandi dan melihat banyak pesan dari Al.
Al : udah kelar? 19.35
Al : jangan terlalu sibuk, istirahat! 20.05
Al : kalau udah di rumah, kabari! 20.30
Rin tersenyum melihat pesan Al.
Udah di rumah. Baru selesai mandi. Rin membalas pesan Al.
Al : capek banget pasti, istirahat. Besok persiapan matangnya!
Rin : iya, capek tapi happy. Mau dengar?
Al tidak langsung membalas pesan Rin. Tapi langsung meneleponnya.
"Ada cerita apa di kampus?" tanya Al.
"Sebentar lagi kelar, capek tapi happy ikut di dalam kepanitiaan, hanya itu. Lo sampe nelpon gini. Udah kelar latihan?" tanya Rin.
"Udah! Ini bentar lagi pulang. Nunggu Jonas ngabisin makanannya," Rin tertawa, mendengar suara di belakang Al. Jonas masih punya tenaga untuk rebutan ngabisin makanan bareng Arza.
"Besok bisa ke bukit?" tanya Al yang sudah berpindah ke ruangannya. Jonas dan Arza terlalu berisik.
"Maaf Al, kayaknya... Nggak bisa,"
"Ada kegiatan lain?" tanya Al.
"Nggak sih, lo tau temen gue yang ngasih gue gelang ungu? Yang lo simpenin? Yang mau gue kenalin ke elo? Besok dia bakal datang! Katanya nginep tiga harian di sini! Mau liat band lo katanya!" Rin tersenyum dan penuh semangat bercerita.
"Ooh... Yang itu!"
"Iya! Ntar gue bisa sombong dikit soal penjualan cookies itu. Berkat dia, gue bisa menuhin kebutuhan gue sendiri! Nggak ngerepotin orangtua!" Rin masih antusias cerita.
Tapi di ujung sana, Al menahan rahangnya. Meremas gelas kopinya sampai penyok dan kopinya meluber ke meja kerjanya.
"Gue besok mau jemput dia dulu," lanjut Rin.
"Ya udah, lo jemput aja dia!" suara dingin Al seharusnya tembus ke telinga Rin, bahkan panggilan Al juga berubah. Rin yang terlalu bersemangat tak lagi memperhatikan. Dia masih bercerita tentang "temannya".
Jonas dan Arza yang masuk ke ruangan Al terdiam. Keduanya memperhatikan wajah Al yang mengeras.
"Gue latihan!" ucap Al memotong cerita Rin. Rin menatap ponsel yang tiba-tiba sambungannya diputusin Al. Rin mengernyit. Baru sadar kalau panggilan Al kembali lo-gue.
Rin coba nelpon lagi, tapi di tolak. Berkali-kali coba tetap di tolak Al. Bahkan ponselnya dimatikan. Rin bertanya-tanya sendiri. Ada masalah apa ini? Apa dia ada salah ngomong? Tapi Rin nggak merasa ada yang salah.
Rin tak bisa tidur, kepikiran Al. Dan sampai pagi ponselnya masih belum aktif.
Semua kesedihannya hilang ketika pagi-pagi sekali Ara sudah mendorong kopernya ke halaman. Rin berlari dan memeluk sahabatnya yang sudah lama tak jumpa.
"Pagi banget! Padahal gue mau surprise jemput lo!" ucap Rin.
"Sengaja, gue yang mau ngasih surprise!" ucap Ara.
"Ayo masuk!" Rin mengajak Ara masuk.
Pukul 08.00 setelah sarapan. Rin mengajak Ara ke kampusnya melihat persiapan tenda dan panggung. Ara yang memang sedikit tomboi memakai hoodie yang topinya di pake. Dia juga memakai kacamata hitam agar tak silau.
Mereka pergi dengan meminjam motor salah satu karyawan nenek.
"Lo hebat Rin bisa deket dengan drummer T&T. Lo tau dia paling galak kan?" kata Ara.
"Nggak, menurut gue dia manis" ucap Rin sambil senyum. Teringat bagaimana manjanya Al.
"Hahahaha lo beneran suka?" tanya Ara.
"Hmmm... Nggak tau deh!" jawab Rin. "Ntar gue kenalin ama personil lainnya," lanjutnya. Ara mengangguk.
Mereka sampai. Keduanya turun dan bergabung dengan panitia lainnya. Ara duduk di bawah pohon menunggu Rin.
Panggung sudah jadi, beberapa alat musik dan sound system sedang dipasang dan dipajang. Lampu sorot juga sudah terpasang. Bazar makanan sudah buka sejak beberapa hari yang lalu. Tadinya T&T akan tampil indoor tapi karena tempatnya sempit mereka ubah jadi di halaman kampus.
Tak lama dua mobil masuk ke pelataran kampus. Beberapa orang berteriak dan berkerumun di sekitar panggung.
Anggota T & T keluar satu per satu dari mobil. Mereka mau sound check. Rin yang sedang membeli minuman berhenti sebentar. Pandangannya dan Al bertemu. Rin tersenyum tapi Al berbalik.
"Kak, kembaliannya..." penjual bazar menyodorkan uang kembalian. Setelah mengucapkan terimakasih, Rin berjalan ke tempat Ara di bawah pohon.
Rin menyodorkan minuman untuk Ara.
"Gila ya, kampus lo keren bisa ngundang mereka!" ucap Ara.
"Mereka kan emang asli di sini. Gue denger juga Leadernya lulusan kampus ini!" ucap Rin.
"Cobain! Ini adek tingkat gue yang bikin!" Rin menyodorkan setusuk corndog. Ara menggigit. Dan kejunya molor panjang. Keduanya tertawa.
Tapi suara gebukan drum membuat semua orang di halaman kampus melonjak kaget. Bima menatap Al tajam. Al menggebuk drum-nya lagi.
"Gue nggak mau drum ini! Ambil di kantor!" perintah Al. Dia berlalu dari atas panggung menuju backstage.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok