NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Tapi tiba tiba

Bagaimana denganmu sayang?" tanya Mommy tiba-tiba beralih menatapku lembut. "Kamu ada seseorang yang kamu suka di kampus?"

Seketika atmosfer dapur berganti arah. Kehebohan yang tadinya menargetkan Shirin kini sepenuhnya berputar ke arahku. Mama, Mommy, bahkan Shirin yang baru saja lega, langsung menatapku dengan mata berbinar jahil. Semua melihat ke arah kami dan menunggu jawabanku dengan tidak sabar. Aku mendadak gugup, meremas ujung celemekku bingung harus menjawab apa.

Tapi tiba-tiba, Bang Edward dan Kak Anita masuk membawa kantong belanjaan yang penuh. Langkah mereka terhenti, dan Bang Edward yang sempat mendengar ujung pertanyaan Mommy langsung memasang wajah protektif khas seorang kakak laki-laki.

Dengan nada tegas yang dibuat-buat namun terdengar serius, Bang Edward berkata, "Aurel gak boleh pacar-pacaran! Dia masih kecil dan harus fokus pada kuliahnya!"

Aku yang mendengar hal itu langsung membelalakkan mata dan mengerucutkan bibir kesal. "Ih, Bang Edward! Aurel udah kuliah, udah gede tahu! Lagian siapa juga yang mau pacaran," protesku manja sembari melemparkan potongan selada bersih ke arahnya walau aku begitu sakit mendengar hal itu dimana aku hanya di anggap sebagai adeknya saja.

Aku yang mendengar kalo bang Edward mati-matian mengejar Kak Anita di masa lalu seperti hantaman Kak Anita yang berdiri di samping Bang Edward langsung menyenggol lengan kekasihnya itu dengan gemas. "Heh, biarin aja sih, Yang. Kamu juga dulu gitu gencar deketin aku ya, jangan sok posesif deh sama adek sendiri," ledek Kak Anita tanpa ampun, membuat seisi dapur seketika pecah oleh tawa terbahak-bahak melihat Bang Edward yang langsung mati kutu.

Karna saking malu dan kesal Bang Edward langsung pergi ke belakang membantu para lelaki lain untuk membuat tempat BBQ-an.

Senyum yang tadinya mengembang di bibirku seketika surut. Tawa riuh yang memenuhi penjuru dapur mendadak terasa begitu memekakkan telinga. Dada ini rasanya sesak bukan main. Aku yang mendengar hal itu merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hati, terpaku menatap kedekatan Bang Edward dan Kak Anita.

Fakta bahwa ternyata Bang Edward masih keras padaku. Ditambah lagi, kenyataan pahit bahwa di matanya aku selalu saja dianggap sebagai anak kecil yang tidak boleh mengenal cinta, membuat perasaanku yang terpendam selama ini kepadanya terasa begitu menyedihkan dan tidak berharga.

Aku memaksakan sebuah senyuman tipis agar tidak ada yang menaruh curiga, meski mataku mulai terasa panas. Demi menyembunyikan perubahan ekspresiku, aku buru-buru menunduk dan berpura-pura sangat sibuk menata sosis di atas piring, berharap tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang bisa membaca luka yang sedang bergejolak hebat di dalam dadaku.

Sebagai sahabat yang sudah bersama sejak SMA, Shirin tentu sangat hafal dengan setiap perubahan gerak-gerikku. Tawa renyah yang sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar saat sepasang matanya menangkap keheninganku yang tidak biasa. Dia melihatku yang hanya menunduk dalam, menata sosis dengan gerakan kaku seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

Shirin berjalan mendekat, mengambil alih piring sosis di tanganku dengan perlahan, lalu menyenggol bahuku lembut. "Rel, kamu kenapa? Kok mendadak diam?" bisiknya sangat pelan, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Mommy, Mama, atau Kak Anita yang masih asyik mengobrol.

Aku hanya menggeleng lemah, memaksakan senyum tipis yang langsung disadari Shirin sebagai kebohongan. "Gak apa-apa, Rin. Cuma agak capek aja," alibiku, menolak menatap matanya karena takut pertahananku runtuh.

Shirin mengembuskan napas panjang. Dia tidak percaya begitu saja, tapi dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mendesakku bercerita di tengah keramaian dapur. Dengan sigap, dia langsung berinisiatif mengambil mangkuk besar berisi daging yang sudah dimarinasi.

"Tante, Kak Anita, ini dagingnya biar Shirin sama Aurel aja yang bawa ke halaman belakang ya? Biar para cowok di luar bisa langsung bakar-bakar," seru Shirin dengan nada ceria yang sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian semua orang.

"Oh iya, boleh, Rin. Tolong ya sayang," jawab Mommy hangat.

Begitu mendapat lampu hijau, Shirin langsung menarik pergelangan tanganku lembut, membimbingku menjauh dari area dapur menuju sudut halaman belakang yang agak sepi dan teduh, jauh dari jangkauan asap panggangan dan obrolan orang-orang.

Sambil meletakkan mangkuk daging di meja taman, Shirin berbalik menatapku lekat-lekat. Dia menggenggam kedua tanganku, memberikan usapan menenangkan di punggung tanganku. "Hey, jangan bohong sama aku. Gara-gara ucapan Bang Edward tadi, ya? Kamu sakit hati karena dia selalu anggap kamu anak kecil?" tanya Shirin lembut, matanya memancarkan rasa peduli yang begitu tulus sebagai seorang sahabat.

Bukan cuma sekadar karena dianggap anak kecil, Rin," bisikku lirih, suaraku bergetar menahan tangis yang siap pecah.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku sebelum melanjutkan. "Kamu tau kan Rin,  aku suka sama Bang Edward. Udah lama banget. Makanya setiap kali dia ngomong kayak tadi, rasanya sakit banget. Ucapan dia seolah terus-terusan nampar aku dan mempertegas kenyataan kalau sampai kapan pun, di mata dia aku cuma adek kecil yang enggak akan pernah bisa jadi seorang wanita di hidupnya."

"Yang sabar ya Rel". "kamu harus mengikhlaskan hubungan mereka berdua,  bukannya dulu kamu uda berjanji  untuk melupakan bg Edward dan mengikhlaskan mereka bersama"? Kata shirin sambil memegang tanganku dan menguatkan hatiku yang sangat sakit ini.

Aku memejamkan mata erat-erat, merasakan cubitan pilu yang amat sangat di dalam dada. Ketika kubuka mata kembali, aku menatap Shirin dengan senyum paling getir yang pernah kuukir.

"Kamu bener, Rin... aku pernah janji soal itu," bisikku, suaraku terdengar begitu kosong dan rapuh. "Aku yang bilang mau ikhlas, aku yang janji mau melupakan. Tapi jujur, malam ini pertahananku runtuh cuma karena satu candaan kecil dari dia. Ternyata sekadar mengikhlaskan mereka bersama itu butuh waktu yang jauh lebih lama dari yang kukira."

Yuk, hapus air matamu sekarang," ucap Shirin setengah berbisik, matanya menatapku lurus dengan tatapan protektif. "Kita harus balik ke sana sebelum yang lain curiga karna kita kelamaan disini.

Begitu langkah kaki kami kembali melewati pintu kaca dan menginjak lantai dapur, suara mama terdengar mengintrupsi tengah kesibukan menyiapkan bumbu-bumbu tambahan.

Mama berbalik, memandang kami bergantian dengan dahi yang sedikit berkerut, namun senyum ramahnya tetap terkembang.

"Lho, kalian ini habis dari mana saja? Kok kelamaan baru masuk ke dapur?" tanya Mama, meletakkan spatula yang sedang dipegangnya. "Mama pikir mangkuk dagingnya hilang, atau kalian malah keasyikan mengobrol di luar."

Mendengar pertanyaan spontan Mama , jantungku sempat berdegup lebih kencang.

Aku melirik Shirin di sampingku, berusaha tetap tenang dan menjaga ekspresi wajahku agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja habis menangis.

Dengan sigap, Shirin langsung tersenyum manis dan merapatkan posisi berdiri di dekatku untuk mengalihkan perhatian Mommy. "Eh, maaf ya, Tante. Tadi Shirin agak lelet mindahin dagingnya, terus kami sekalian cuci tangan dan merapikan rambut sebentar di dalam karena di luar agak berangin," dusta Shirin dengan sangat mulus.

Mama hanya menggeleng-geleng kepala sambil terkekeh melihat keakraban kami. "Ya sudah, ayo cepat antar dagingnya ke belakang mereka sudah menunggu dagingnya dari tadi, katanya apinya sudah siap."

"Baik ma, baik Tante"!

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!