Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Bagi Rahma, daster Hello Kitty longgar yang ia kenakan hanyalah baju rumahan biasa yang paling nyaman dipakai setelah lelah seharian beraktivitas. Sama sekali tidak ada niat terselubung di kepalanya untuk memancing libid0 sang suami. Namun, entah mengapa di mata Sakti yang sedang dirayapi virus merah jambu, penampilan Rahma malam ini justru terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda.
"Sudah ah, Kak. Jangan bahas daster ini lagi. Sebaiknya Kakak makan dulu mumpung mie sehatnya masih hangat," ucap Rahma mengalihkan pembicaraan, berusaha meredakan kecanggungan yang membuat wajahnya terasa panas.
Sakti tidak bergeming. Alih-alih mundur, ia justru mengikis jarak hingga menyisakan beberapa sentimeter saja di antara hidung mereka.
"Aku mendadak tidak lapar karena mie, Rahma... tapi aku lapar karena kamu," bisik Sakti dengan suara berat yang serak.
Deg!
Bulu kuduk Rahma seketika meremang. Jantungnya berdetak liar tak karuan hingga tubuh mungilnya bergetar halus karena disergap rasa takut sekaligus gugup setengah mati.
"Kak, sudahlah jangan menggodaku terus. Kenapa Kak Sakti jadi seperti ini sih? Kakak tuh aneh banget tahu, gak?!" protes Rahma dengan nada yang mulai meninggi, berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Itu karena aku suka sama kamu, Rahma... Kamu ngerti gak sih?!" sahut Sakti dengan nada gemas yang mulai diselimuti rasa kesal karena cintanya terus-menerus diragukan.
Mendengar itu, Rahma justru tersenyum hambar, ada nada meremehkan dalam senyumannya. "Kakak bilang suka? Lantas bagaimana dengan Kak Dinda? Wanita yang sampai kapan pun akan selalu Kakak cintai? Bukankah dulu Kakak sendiri yang pernah bilang, 'Jangan pernah mengharapkan cinta dari Kakak'?"
Deg!
Langkah taktis Sakti langsung terkunci. Sorot matanya membelalak kaget mendengar nama yang sangat asing bagi kehidupan rumah tangga mereka tiba-tiba meluncur bebas dari bibir istrinya.
"Dari mana kau tahu kalau mantan kekasihku itu adalah Dinda?" tanya Sakti dingin, menatap tajam menuntut jawaban.
Deg!
Rahma seketika menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia baru menyadari bahwa dirinya baru saja keceplosan! Padahal, ia sudah berjanji setengah mati kepada Salma untuk merahasiakan bahwa ia telah mengetahui masa lalu Sakti dari adik suaminya itu.
'Ya ampun, Salma! Tolong maafkan aku... aku benar-benar keceplosan!' batin Rahma penuh sesal, merutuki kebodohan mulutnya sendiri.
Sakti terus mengunci pergerakan Rahma, menatapnya intens seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat. "Pasti kau tahu dari Salma, kan? Bocah itu benar-benar...!" Sakti menggeram tertahan, mengepalkan tangannya menahan dongkol pada adiknya yang sangat usil itu.
Menyadari rahasianya sudah terbongkar, Rahma akhirnya memilih untuk bersikap bertahan. Ia mulai menyusun spekulasinya sendiri tanpa mau tahu bagaimana isi hati Sakti yang sebenarnya.
"Sekarang Kakak tidak usah memaksakan diri mengatakan suka padaku. Paling rasa sukanya Kakak itu hanya beberapa persen karena aku sekarang berstatus sebagai istrimu dan karena kita sudah saling kenal sejak kecil. Tapi rasa sukanya Kakak pada Kak Dinda pasti jauh lebih besar dan mendalam, iya kan?!" cecar Rahma menantang.
Sakti menghembuskan napasnya kasar. Dadanya naik turun menahan gregetan yang teramat sangat pada jalan pikiran istrinya.
'Nih bocah, perasaan dari tadi siang di kampus sampai sekarang salah paham terus! Kenapa susah sekali dibilangin sih?' batin Sakti geram sendiri.
"Itu kan perkataanku yang dulu, Rahma! Masalah perasaan itu dinamis, bisa saja berubah sewaktu-waktu seiring berjalannya waktu, iya kan?" jawab Sakti membela diri, berusaha menegaskan bahwa bayang-bayang masa lalu itu perlahan mulai terkikis oleh kehadiran Rahma.
Rahma kembali terbungkam. Ia menatap lekat matanya Sakti, mencoba mencerna dan mencari kebohongan dari setiap untaian kalimat yang baru saja diucapkan suaminya.
Di saat Rahma tengah melamun dan terdiam tanpa suara, Sakti mengira ini adalah kesempatan emasnya. Perlahan tapi pasti, ia kembali memajukan wajahnya. Jarak mereka memangkas drastis hingga hembusan napas hangat Sakti yang beraroma mint menerpa lembut permukaan kulit wajahnya Rahma. Sakti memejamkan matanya perlahan, bersiap untuk mendaratkan kecupan di bibir manis istrinya.
Namun, alih-alih mendapatkan kecupan manis seperti yang ia bayangkan, tiba-tiba...
Sretttt!
Rahma dengan gerakan secepat kilat menyodorkan mangkuk keramik berisi mi instan yang baru saja matang tepat di depan wajahnya Sakti, ia pun memundurkan kepalanya kebelakang mencoba menghindar.
Cup!
Bibir Sakti seketika menempel sempurna pada pinggiran mangkuk keramik yang masih mengepulkan uap panas.
"Aduh! Sss hhhh..." Sakti langsung menarik kepalanya ke belakang sambil meringis perih. Ia mengusap bibirnya yang mendadak terasa panas dan memerah akibat bersentuhan langsung dengan keramik panas.
Melihat pemandangan itu, Rahma yang masih terduduk di atas meja konter dapur langsung tersenyum puas penuh kemenangan.
'Rasakan! Enak saja main nyosor terus. Sudah tiga kali loh Kak Sakti menciumku secara sepihak, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk yang keempat kalinya sebelum Kak Sakti benar-benar bisa membuktikan kalau dia sudah melupakan mantan kekasihnya itu secara total!' pekik Rahma riang di dalam hatinya, sembari menatap jenaka ke arah suaminya yang masih sibuk mengipasi bibirnya sendiri yang kepanasan.
Sakti akhirnya memilih untuk menyerah. Dengan helaan napas pasrah, ia merebut mangkuk keramik berisi mie sehat itu dari tangan Rahma. Kepulan asap tipis masih keluar dari mangkuk tersebut, sewarna dengan bibirnya yang kini memerah akibat terkena panasnya mangkok keramik. Andaikan cacing di dalam perutnya tidak berdemo dengan sangat anarki karena kelaparan dari pagi, ia pasti sudah malas untuk makan malam ini.
Sakti membalikkan tubuhnya dengan langkah gusar, berjalan cepat menuju meja makan tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, Rahma yang masih terduduk di atas meja konter keramik langsung merosot turun. Kedua kakinya terasa lemas bagaikan tak bertulang. Ia mengusap dadanya yang berdegup kencang sembari menghembuskan napas lega yang teramat panjang.
"Selamat... akhirnya aku tidak jadi dimangsa oleh suamiku sendiri!" gumam Rahma sangat lirih, bersyukur benteng pertahanannya berupa mangkuk mie tadi berhasil menyelamatkannya di detik-detik terakhir.
Selesai menghabiskan mie instan dalam keheningan yang mencekam, Sakti segera bersiap-siap kembali menuju markas. Suasana hatinya malam ini benar-benar kacau berantakan. Niatnya pulang untuk beristirahat dan berbaikan dengan sang istri malah berujung runyam. Rahma sama sekali tidak mempercayai pengakuannya, dan malah mengungkit-ungkit masa lalunya bersama Dinda yang ingin ia kubur dalam-dalam.
Saat Sakti sudah rapi dengan jaketnya dan hendak melangkah keluar rumah, Rahma berdiri di dekat pintu untuk mengantarnya. Namun, begitu pandangan Rahma jatuh pada wajah suaminya, matanya langsung melebar.
Bibir bagian bawah Sakti terlihat sangat merah merona akibat bekas gigitan kemarin siang ditambah efek bersentuhan dengan mangkuk mie panas barusan. Penampilannya benar-benar terlihat seperti pria yang baru saja mengenakan lipstik merah cerah.
Rahma mati-matian menggigit bibirnya sendiri. Bahunya bergetar hebat menahan tawa yang nyaris meledak.
'Ingin menertawakan suami sendiri tapi takut dosa, ya Tuhan... tapi ini lucu sekali!' jerit Rahma dalam hati, tangannya mengepal erat di sisi tubuh demi menahan diri agar tidak menyemburkan tawa di depan wajah sang perwira yang sedang sensitif.
Sakti yang menyadari gelagat aneh istrinya langsung melotot gemas. Ia tahu betul apa yang sedang ditertawakan oleh Rahma. Dengan wajah yang ditekuk masam dan penuh kekesalan, Sakti mendengus keras.
"Aku berangkat dulu!" ketus Sakti, suaranya terdengar sangat jengkel.
"H...hati-hati di jalan ya, Kak," jawab Rahma terbata-bata, setengah suaranya habis karena menahan tawa dengan bibir yang dikulum rapat-rapat.
Melihat reaksi Rahma yang seolah sangat puas di atas penderitaannya, sudut bibirnya Sakti yang merah itu mendadak tertarik, membentuk sebuah kurva asimetris. Alih-alih langsung melangkah pergi, Sakti justru sengaja memajukan tubuhnya. Ia menunduk dalam, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya berada tepat di samping daun telinganya Rahma yang mendadak menegang.
"Kau sepertinya sangat puas melihatku tersiksa malam ini, hem?" bisik Sakti dengan suara rendah yang serak, disusul sebuah seringai licik yang sangat intimidatif. "Tunggu saja pembalasanku besok pagi saat aku pulang, Rahma. Jangan harap kau bisa lolos lagi."
Glek!
Seketika senyum di wajah Rahma lenyap tak berbekas. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan bulu kuduknya meremang hebat mendengar ancaman yang terdengar sangat tidak main-main itu.
Sakti yang puas melihat perubahan drastis pada wajah istrinya langsung menegakkan tubuhnya. Ia memberikan satu kedipan mata jahil yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti Rahma, sebelum akhirnya berbalik arah dan melangkah mantap keluar halaman rumah dinas, meninggalkan Rahma yang kini didera rasa cemas dan penyesalan yang mendalam di ambang pintu.
Bersambung...
kira2 siapa kah ya orang nya..
lanjutkan donk Thor
is the best deh friend yg ini.. hihihihihi
terus gali terus biar terbongkar
yg kemaren ketemu sama s dinda s yuda apa bukan si?
aku lupa othorrr.. heheheh
ttp tenang dlm menjalankan misi ini ya sakti..
Untungnya Rahma sudah tidak salah paham kembali..
semangat n semoga rencana kalian berhasil n ttp hati-hati n waspada