NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan yang Tak Diinginkan

“Ini putri semata wayang sahabat Papa. Namanya Alya. Beliau ingin mempercayakan Alya untuk kamu jaga.” Ayah Arga menyodorkan selembar foto seorang gadis dengan hijab.

Arga Pratama yang sedang duduk di sofa ruang keluarga menerima foto tersebut. Ia memperhatikan wajah perempuan di dalamnya selama beberapa detik, lalu mengangkat pandangan kepada ayahnya.

“Maksud Papa?”

“Papa ingin kamu menikah dengannya.”

Jawaban itu membuat Arga terdiam. Ia sempat mengira ayahnya hanya ingin memperkenalkan putri sahabat lamanya, bukan membicarakan pernikahan seolah keputusan tersebut sudah hampir selesai.

“Pa, Arga bahkan belum pernah bertemu dengannya.”

“Karena itu kalian perlu berkenalan lebih dahulu.” Pak Pratama menyandarkan punggungnya pada sofa. “Alya anak yang baik. Papanya sudah lama bersahabat dengan Papa. Kami tahu bagaimana keluarganya mendidik anak-anak mereka.”

Ibu Arga yang duduk tidak jauh dari mereka ikut tersenyum. “Mama juga sudah mendengar banyak hal tentang Alya. Gadisnya sopan, pendidikannya bagus, dan keluarganya sangat menjaga nilai-nilai agama. Mama rasa kalian bisa cocok.”

Arga meletakkan foto itu di atas meja. “Kenapa harus Arga? Apa tidak ada laki-laki lain yang bisa dijadikan suaminya?”

“Arga!” tegur ibunya, kurang senang mendengar jawaban putranya. “Kamu bicara seolah-olah Alya punya kekurangan.”

“Bukan begitu, Ma. Arga hanya tidak mengerti kenapa pernikahan harus direncanakan seperti ini.”

Pak Pratama menatap putranya dengan serius. “Karena pernikahan bukan hanya tentang perasaan. Ada tanggung jawab, keluarga, dan masa depan yang harus kamu pikirkan. Papa tidak akan menyarankan seseorang jika tidak yakin dengan latar belakang keluarganya.”

Arga mengembuskan napas panjang. Ia memahami alasan kedua orang tuanya. Sejak kecil, dirinya memang terbiasa hidup dalam keluarga yang menjunjung tinggi agama dan menjaga hubungan baik dengan kerabat. Keputusan besar, terutama mengenai pernikahan, selalu dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan dengan matang.

Namun, memahami alasan mereka bukan berarti ia harus menyetujui semuanya. “Arga belum ingin menikah, Pa.”

“Usiamu sudah dua puluh sembilan tahun,” jawab ayahnya. “Pekerjaanmu sudah stabil. Kamu juga sudah cukup dewasa untuk membangun rumah tangga. Lalu, apa lagi yang kamu tunggu?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia sendiri tahu bahwa usianya bukan lagi usia seorang pemuda yang baru mulai menata kehidupan. Pekerjaannya sebagai direktur di perusahaan keluarga berjalan baik. Ia juga tidak memiliki masalah keuangan yang bisa dijadikan alasan untuk menunda pernikahan. Akan tetapi, kesiapan seseorang untuk menikah tidak bisa hanya dinilai dari usia dan pekerjaannya.

“Setidaknya, biarkan Arga menentukan sendiri siapa yang akan menjadi istri Arga.”

Ibu Pratama menghela napas kecil sebelum mendekatkan duduknya. “Mama mengerti kamu ingin memilih sendiri. Tapi Mama dan Papa juga ingin melihatmu bahagia. Kami tidak sedang mencari keuntungan dari keluarga Alya. Papanya sudah seperti saudara sendiri bagi Papa. Beliau mempercayakan putrinya kepada keluarga kita karena percaya kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab.”

Perkataan itu membuat Arga sedikit melunak, tetapi belum cukup untuk mengubah pendiriannya. Ia menghormati persahabatan kedua keluarga. Ia juga tidak ingin membuat ayahnya merasa bahwa hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun tidak berarti apa-apa. Namun, pernikahan bukan sekadar cara membalas kepercayaan seseorang.

“Kalau Arga menolak, bagaimana?” tanyanya pelan.

Kali ini, senyum di wajah ibunya menghilang.

Pak Pratama terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Papa tidak akan memaksamu mengambil keputusan hari ini. Tapi Papa berharap kamu mau mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh. Jangan menolak hanya karena kamu belum mengenal Alya.”

Arga mengusap tengkuknya. Ia mulai merasa bahwa percakapan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.

“Papa sudah membicarakan ini dengan orang tuanya?”

“Sudah.”

“Dan mereka setuju?”

“Mereka menyambut baik rencana pernikahan ini.”

Arga menundukkan kepala sesaat. Jadi, kedua keluarga sudah membicarakan perjodohan tersebut sebelum dirinya mengetahui apa pun. Ia bahkan belum diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, tetapi pembicaraan itu sudah berkembang sampai pada persetujuan keluarga Alya. “Arga harap Papa tidak menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa Arga penuhi.”

“Papa tidak menjanjikan tanggal pernikahan. Papa hanya menyampaikan niat untuk mempertemukan kalian.” Ayahnya menatapnya lekat-lekat. “Selebihnya, kamu yang akan menjalani.”

Arga akhirnya berdiri. Ia mengambil foto Alya dari atas meja, lalu menyerahkannya kembali kepada sang ayah. “Arga perlu waktu untuk berpikir.”

“Baiklah,” jawab Pak Pratama. “Tapi jangan terlalu lama. Setidaknya, temui Alya sebelum mengambil keputusan.”

Arga tidak memberikan jawaban lagi. Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya, kemudian berjalan menuju kamarnya. Sepanjang langkah menuju kamar, pikirannya masih dipenuhi percakapan tadi. Ia tahu ayahnya bukan orang yang mudah mengubah keputusan ketika sudah menyangkut kehormatan keluarga dan hubungan dengan sahabat lamanya.

Di dalam kamar, Arga meletakkan ponselnya di atas meja kerja. Ia melonggarkan kancing lengan kemeja, lalu duduk sambil menatap layar laptop yang belum sempat dinyalakan. Pekerjaan yang biasanya mudah ia selesaikan, malam itu terasa sulit untuk dimulai.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nama yang sudah dikenalnya.

Ga, malam ini jadi datang? Aku sudah menyiapkan makan malam.

Arga membaca pesan itu, lalu mengetik balasan.

Jadi. Aku masih ada urusan keluarga. Nanti aku kabari kalau sudah selesai.

Balasan datang tidak lama kemudian.

Baik, Ga. Jangan terlalu capek, ya.

Arga tersenyum tipis membaca pesan tersebut. Ia kemudian menekan ikon panggilan dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Assalamu’alaikum, Ga,” terdengar suara perempuan di seberang sana.

“Wa’alaikumussalam. Kamu sedang apa?”

“Baru selesai menyiapkan makan malam. Apa kamu masih di rumah Ayah dan Ibu?”

“Iya. Ada pembicaraan keluarga yang harus aku selesaikan, jadinya sedikit terlambat.”

“Kalau begitu, selesaikan saja dulu. Aku bisa menunggu.”

Arga terdiam sesaat. Ia ingin menceritakan apa yang baru saja disampaikan ayahnya, tetapi entah mengapa kata-kata itu terasa sulit keluar. Ia belum tahu bagaimana harus menjelaskan persoalan yang bahkan belum berhasil ia selesaikan sendiri.

“Kamu sudah makan?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

“Belum. Aku menunggumu. Enggak enak makan sendiri.”

“Jangan begitu. Kalau aku terlambat, kamu makan dulu.”

Perempuan itu tertawa kecil. “Iya, nanti aku makan.”

Mereka berbicara sebentar mengenai hal-hal sederhana sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Setelah layar ponselnya kembali gelap, Arga tetap duduk di tempatnya. Pikirannya kembali pada foto seorang gadis berhijab yang tadi diberikan ayahnya.

Ia tahu persoalan perjodohan itu tidak akan selesai hanya dengan menghindari pembicaraan. Besok atau lusa, kedua orang tuanya mungkin akan kembali menanyakan jawabannya. Mereka bahkan bisa saja mulai mengatur pertemuan dengan keluarga Alya.

Arga menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memejamkan mata. Ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, tanpa harus membuat keputusan yang menyakiti siapa pun. Sayangnya, untuk pertama kalinya, keinginan itu terasa jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Dan malam itu, Arga belum menemukan jawaban atas perjodohan yang tidak pernah ia minta.

1
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!