Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lily duduk di tepi ranjang besar dengan kedua tangan bertumpu di atas selimut. Sejak Gento meninggalkan kamar, ia belum berhenti memikirkan perkataan lelaki itu. Kabar bahwa ayahnya masih hidup seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Namun, kenyataan bahwa ayahnya berada dalam tahanan Gento membuat kabar tersebut terasa seperti hukuman.
Ia tidak tahu apakah dirinya akan diizinkan bertemu dengan sang ayah. Ia juga tidak mengetahui alasan sebenarnya di balik dendam Gento terhadap keluarga Yahiko.
Ketukan terdengar dari pintu.
Lily segera mengangkat kepala.
“Masuklah.”
Pintu terbuka. Seorang pelayan perempuan berusia sekitar lima puluh tahun masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk sup, nasi hangat, sayuran, dan segelas air putih. Perempuan itu mengenakan seragam hitam dengan celemek putih. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya sesekali bergerak ke arah sudut kamar.
“Silakan makan, Nona,” katanya sopan. “Tuan Gento meminta saya memastikan Anda menghabiskan makanan ini.”
Lily memandang nampan tersebut tanpa menyentuhnya.
“Saya tidak lapar.”
“Namun, Anda belum makan sejak dibawa kemari.”
“Saya ingin bertemu dengan ayah saya terlebih dahulu.”
Pelayan itu terdiam sejenak sebelum meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang.
“Maaf, Nona. Saya tidak memiliki wewenang untuk mengabulkan permintaan itu.”
“Kalau begitu, panggilkan Gento.”
“Saya akan menyampaikan pesan Anda.”
Pelayan itu menundukkan kepala, lalu berjalan menuju pintu.
“Tunggu.”
Perempuan tersebut berhenti dan menoleh.
Lily menunjuk ke arah meja kecil.
“Apakah makanan ini aman?”
Wajah pelayan itu berubah sedikit. Ia segera menjawab, “Tentu saja, Nona. Saya sendiri yang menyiapkannya.”
Lily menatapnya beberapa detik. Ia tidak memiliki bukti bahwa makanan itu berbahaya, tetapi pengalaman diculik dan dikurung membuatnya sulit memercayai orang asing.
“Baiklah. Terima kasih.”
Pelayan itu kembali menundukkan kepala sebelum keluar. Begitu pintu tertutup, terdengar bunyi klik kecil dari atas lemari.
Lily menoleh.
Sebuah kamera pengawas terpasang di sudut langit-langit, nyaris tersembunyi di antara ukiran dekoratif berwarna emas. Lampu indikatornya berkedip merah.
Lily tertegun.
Ia berdiri perlahan dan mendekati lemari. Setelah memastikan benda itu memang kamera, ia menatap lensa hitam yang mengarah tepat ke ranjangnya.
Jadi, Gento tidak hanya mengurungnya.
Lelaki itu juga mengawasi setiap gerakannya.
Lily mundur dengan perasaan tidak nyaman. Ia tidak tahu apakah ada kamera lain di dalam kamar, tetapi keberadaan satu kamera saja sudah cukup membuatnya merasa kehilangan privasi.
Ia mengambil nampan makanan dan memindahkannya ke meja yang lebih jauh dari ranjang. Kemudian, ia duduk sambil menatap kamera tersebut.
“Kalau Anda sedang menonton, Gento,” ucapnya dengan suara tegas, “saya ingin berbicara dengan Anda. Saya tidak akan makan sebelum Anda menjelaskan kapan saya bisa bertemu dengan ayah saya.”
Tidak ada jawaban.
Lily menghela napas. Ia menyadari bahwa berbicara kepada kamera tidak akan langsung mengubah keadaan. Karena itu, ia memaksa dirinya berpikir lebih jernih.
Ia perlu mengetahui letak bangunan ini, jumlah penjaga, dan siapa saja yang dapat dipercaya. Ia juga harus memastikan apakah Gento benar-benar memiliki hubungan darah dengannya seperti yang dikatakannya.
Satu hal yang tidak boleh ia lakukan adalah menyerah pada ketakutan.
Lily mengambil sendok dan mulai makan sedikit demi sedikit. Bukan karena ia telah memercayai Gento, melainkan karena ia membutuhkan tenaga untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi berikutnya.
Di sudut ruangan, kamera pengawas itu terus merekam.
---
Di ruangan lain yang terletak di sisi timur bangunan, Gento duduk di sebuah kursi kulit hitam di hadapan deretan layar pemantau.
Beberapa layar menampilkan halaman depan, lorong, ruang keluarga, dan pintu masuk bawah tanah. Satu layar terbesar memperlihatkan kamar tempat Lily dikurung.
Gento menyandarkan punggungnya, lalu memperhatikan Lily yang sedang makan dengan wajah muram.
Sudut bibirnya terangkat.
“Bahkan ketika ketakutan, dia masih berusaha mempertahankan harga dirinya.”
“Apakah itu alasan Anda memasang kamera di kamarnya?”
Suara seorang lelaki terdengar dari belakang.
Gento tidak menoleh. Ia sudah mengenali pemilik suara tersebut.
Mike.
Pria berkacamata itu berdiri di belakang kursinya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya tampan, rambutnya tertata rapi, dan kemeja abu-abu yang dikenakannya tampak jauh lebih sederhana dibandingkan pakaian para petinggi organisasi Gento lainnya.
Namun, kesederhanaan penampilan Mike tidak membuatnya terlihat lemah. Ia merupakan salah satu orang kepercayaan Gento sekaligus penasihat yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun.
Mike melirik layar, kemudian kembali memandang Gento.
“Aku masih tidak habis pikir.”
Gento mengambil gelas berisi air mineral dan menyesapnya.
“Tidak habis pikir tentang apa?”
Mike mengembuskan napas panjang.
“Anda menyukai saudara tiri Anda sendiri?”
Gento hampir tersedak air yang diminumnya. Ia meletakkan gelas di atas meja, lalu tertawa pendek.
“Siapa yang mengatakan aku menyukainya?”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti maksudku.” Mike menunjuk layar dengan dagunya. “Anda menculiknya, mengurungnya di rumah ini, memasang kamera di kamarnya, dan menggunakan alasan balas dendam untuk membenarkan semuanya. Menurut Anda, apa yang akan kupikirkan?”
Gento menyandarkan siku pada sandaran kursi.
“Pikirkan sesukamu.”
“Kalau begitu, aku akan mengatakan sesuatu yang mungkin tidak Anda sukai.”
“Silakan.”
Mike membetulkan kacamatanya.
“Anda telah kehilangan akal sehat.”
Gento menoleh perlahan. Tatapannya tajam, tetapi Mike sama sekali tidak terlihat gentar.
“Berhati-hatilah dengan ucapanmu, Mike.”
“Aku sudah berhati-hati. Justru karena itu aku berani mengatakannya sekarang, sebelum Anda melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.”
Gento terdiam.
Mike melanjutkan, “Anda selalu mengatakan bahwa tujuan utama Anda adalah membalas dendam kepada Suzuki Yahiko. Anda menghabiskan bertahun-tahun membangun organisasi, memperluas pengaruh, dan mencari keberadaan putrinya. Namun, begitu perempuan itu berada di tangan Anda, perhatian Anda justru tertuju kepadanya, bukan kepada ayahnya.”
Gento memutar kursinya kembali menghadap layar.
“Bukankah itu wajar?”
“Bagian mana yang Anda anggap wajar?”
Gento menunjuk layar yang menampilkan Lily sedang meletakkan sendoknya.
“Suaminya sendiri menyia-nyiakannya. Wanita secantik itu diperlakukan seolah-olah tidak memiliki harga diri. Aku melihat sendiri bagaimana suaminya mempermalukannya di hadapan orang lain.”
Mike mengerutkan kening.
“Jadi, Anda menganggap diri Anda lebih baik daripada Satoshi Katagiri?”
“Aku tidak perlu dibandingkan dengannya.”
“Namun, Anda melakukan hal yang sama. Anda mengambil kebebasan Yahiko, mengabaikan keinginannya, lalu memutuskan sendiri apa yang menurut Anda terbaik baginya.”
Senyum Gento perlahan menghilang.
Mike tahu ia sedang menguji batas kesabaran lelaki itu, tetapi ia juga tahu bahwa tidak ada orang lain yang akan berani berbicara terus terang seperti dirinya.
“Perempuan itu sudah cukup menderita,” lanjut Mike. “Kalau Anda benar-benar ingin membalas dendam kepada ayahnya, lakukanlah terhadap orang yang Anda anggap bersalah. Jangan jadikan Yahiko alat untuk memuaskan kemarahan Anda.”
Gento tertawa kecil, kali ini tanpa sedikit pun kegembiraan.
“Kau mulai terdengar seperti seorang pendeta.”
“Dan Anda mulai terdengar seperti orang yang sedang mencari alasan untuk membenarkan obsesinya.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Gento berdiri dan berjalan mendekati layar. Di sana, Lily telah selesai makan. Ia kini duduk di dekat jendela, memandang halaman luar dengan ekspresi kosong.
Gento menatapnya lama.
“Dua tahun lalu,” katanya akhirnya, “aku pertama kali melihatnya.”
Mike mengangkat wajah.
“Dua tahun lalu?”
Gento mengangguk perlahan.
“Saat itu aku sedang menghadiri pertemuan dengan beberapa mitra bisnis di Amerika. Urusanku selesai lebih cepat, jadi aku melewati sebuah gedung perkantoran sebelum kembali ke hotel.”
Ia berhenti sejenak, seolah sedang mengingat sebuah pemandangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.
“Aku melihat Yahiko berdiri di dekat tempat parkir. Dia menangis.”
Mike tidak menyela.
“Dia berdiri sendirian, beberapa meter dari sebuah mobil mewah. Di dalam mobil itu, suaminya sedang bersama seorang perempuan lain. Aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan, tetapi aku melihat Satoshi membuka pintu untuk perempuan tersebut dan membantunya masuk ke dalam mobil.”
Gento mengepalkan tangan.
“Yahiko tidak mengejar mereka. Dia hanya berdiri di sana, berusaha menghapus air matanya agar orang lain tidak melihatnya menangis.”
Mike menatap Gento dengan lebih serius.
“Anda menghampirinya?”
“Tidak.”
“Lalu, apa yang Anda lakukan?”
“Aku memperhatikannya dari kejauhan.”
Gento kembali duduk.
“Aku tidak tahu mengapa pemandangan itu membuatku marah. Pada awalnya, aku hanya merasa bahwa seorang perempuan seperti dirinya tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Namun, setelah aku mencari tahu siapa dia, aku menyadari bahwa perempuan yang kulihat menangis itu adalah Yahiko Nariku.”
Mike terdiam beberapa saat.
“Putri Suzuki Yahiko yang selama ini Anda cari.”
“Benar.”
“Dan sejak saat itu, Anda mulai mengikutinya?”
Gento mengangguk.
“Aku mulai mencari tahu kehidupannya. Aku mengetahui bahwa dia menggunakan nama Lily Valley, bahwa dia telah menikah dengan Satoshi Katagiri, dan bahwa pernikahan mereka jauh dari kata bahagia.”
Ia menatap layar sekali lagi.
“Semakin banyak yang kutahu, semakin sulit bagiku untuk mengabaikannya.”
Mike mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
“Lalu, kapan rasa kasihan itu berubah menjadi obsesi?”
Gento tidak segera menjawab.
Untuk beberapa saat, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. “Mungkin ketika aku mulai mencari alasan untuk melihatnya lagi. Mungkin ketika aku merasa marah setiap kali melihat Satoshi menyakitinya. Atau mungkin ketika aku menyadari bahwa aku tidak ingin orang lain memilikinya.”
Mike menatapnya tidak percaya.
“Jadi, selama dua tahun ini Anda membiarkan diri Anda terobsesi kepada seorang perempuan yang bahkan tidak mengenal Anda?”
“Jangan menyebutnya seolah-olah aku kehilangan kendali.”
“Lalu apa namanya?”
Gento menoleh tajam.
“Cukup.”
Mike mengangkat kedua tangannya, menandakan bahwa ia tidak berniat memperpanjang pertengkaran. Namun, sebelum Gento kembali memusatkan perhatian pada layar, ia menyampaikan satu pertanyaan lagi.
“Apakah Anda pernah berpikir untuk mendekatinya secara langsung?”
“Pernah.”
“Lalu?”
Gento tertawa getir.
“Aku tidak ingin dia mengenaliku sebelum waktunya. Aku juga tidak ingin keluarga Katagiri mengetahui bahwa aku telah menemukannya. Jika mereka mengetahui keberadaanku, mereka akan kembali menyembunyikannya.”
Mike mengangguk pelan.
“Jadi, Anda menunggu kesempatan.”
“Ya.”
Gento menatap Lily yang kini berdiri dan memeriksa pintu kamar.
“Dan sekarang kesempatan itu datang dengan sendirinya. Aku mendengar kabar bahwa Yahiko mengajukan surat perceraian. Aku juga mengetahui bahwa dia pergi ke Jepang dan berniat memulai kehidupan baru.”
Senyumnya kembali muncul, tipis dan dingin.
“Tentu saja aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Mike mengerutkan kening.
“Kesempatan untuk apa? Menjadikannya tahanan Anda?”
“Untuk memastikan dia tidak kembali kepada Satoshi.”
“Itu bukan hak Anda.”
“Dia tidak akan kembali kepadanya.”
“Anda tidak dapat menentukan pilihan hidupnya.”
Gento berdiri mendadak.
“Cukup, Mike!”
Suaranya menggema di ruangan.
Mike terdiam, tetapi ia tidak mundur.
Gento menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih rendah.
“Aku sudah kehilangan ibuku. Aku kehilangan ayahku. Aku kehilangan seluruh keluarga yang seharusnya menjadi tempatku pulang. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil sesuatu yang telah menjadi penting bagiku.”
Mike memandangnya dengan ekspresi prihatin.
“Lily bukan milik Anda, Gento.”
Gento tidak menjawab.
“Dia bukan pengganti ibu Anda. Dia juga bukan sesuatu yang dapat Anda simpan untuk menebus kehilangan masa lalu.”
Kali ini, Gento berbalik dengan cepat.
“Keluar.”
Mike menghela napas.
“Baik. Aku akan pergi. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang perlu Anda ketahui.”
Gento tetap membelakanginya.
“Apa?”
“Orang-orang kita telah memeriksa kembali laporan mengenai pembantaian keluarga Yahiko. Ada beberapa catatan lama yang tidak sesuai dengan cerita yang selama ini Anda percayai.”
Gento perlahan menoleh.
“Jelaskan.”
Mike mengeluarkan sebuah map tipis dari balik jasnya dan meletakkannya di meja.
“Aku belum bisa memastikan semuanya. Namun, ada bukti bahwa peristiwa 12 tahun lalu mungkin tidak sesederhana yang Anda kira. Seseorang sengaja menghapus beberapa nama dari catatan lama, termasuk nama orang yang terakhir terlihat bersama ibu Anda sebelum dia pergi.”
Wajah Gento berubah serius.
“Siapa orang itu?”
“Aku masih menyelidikinya.”
“Cari tahu secepat mungkin.”
Mike mengangguk, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Dan satu hal lagi, Gento. Jika Anda benar-benar peduli kepada Yahiko, berhentilah memperlakukannya seperti barang rampasan perang.”
Pintu tertutup setelah Mike pergi.
Gento berdiri sendirian di depan deretan layar. Ia memandangi map di atas meja, kemudian mengalihkan pandangannya ke layar yang menampilkan Lily.
Perempuan itu kini duduk kembali di tepi ranjang. Ia menundukkan kepala, lalu menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
Gento mengatupkan rahang.
Ia ingin mendekatinya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi. Ia bahkan ingin berjanji bahwa suatu hari nanti Lily akan memahami alasan di balik semua tindakannya.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia mengetahui satu hal yang tidak ingin diakuinya.
Lily tidak pernah meminta dirinya datang menyelamatkan.
Lily bahkan tidak pernah meminta dirinya berada di dalam kehidupannya.
Yang diinginkan perempuan itu hanyalah kebebasan.
Gento mengambil map yang diberikan Mike, membuka halaman pertama, lalu membaca laporan singkat yang tercetak di sana.
Satu nama tertulis dengan tinta merah di bagian bawah dokumen.
Nama yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga mereka.
Gento terdiam lama.
Jika laporan itu benar, maka seluruh kebencian yang ia pelihara selama bertahun-tahun mungkin dibangun di atas cerita yang tidak lengkap.
Namun, sebelum ia sempat membaca halaman berikutnya, sebuah peringatan muncul pada layar pengawas.
Lily berdiri di depan pintu kamar dan sedang berbicara kepada penjaga di luar. Ia meminta untuk bertemu dengan ayahnya sekali saja.
Penjaga itu menolak.
Lily tidak berteriak ataupun menangis. Ia hanya menatap penjaga tersebut dan berkata dengan suara yang cukup jelas untuk ditangkap kamera.
“Kalau Gento ingin membalas dendam kepada keluarga saya, katakan kepadanya bahwa saya akan menemuinya. Tetapi saya ingin melihat ayah saya terlebih dahulu.”
Gento menatap layar tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya sejak menculik Lily, ia menyadari bahwa perempuan itu tidak akan mudah tunduk pada keinginannya.
Dan semakin ia berusaha mengurung Lily, semakin besar kemungkinan perempuan itu akan membencinya.
Di balik pintu kamar, Lily masih menunggu jawaban.
Sementara itu, Gento berdiri di hadapan layar pengawas, terjebak di antara dendam yang telah membentuk hidupnya dan obsesi baru yang perlahan mengancam menghancurkan segala sesuatu yang telah ia bangun.
Ia belum mengetahui keputusan apa yang akan diambilnya.
Namun, satu hal mulai menjadi jelas: rahasia masa lalu keluarga Yahiko tidak hanya mengancam hubungan mereka, melainkan juga dapat menghancurkan kekuasaan Gento yang selama ini dianggapnya tidak terkalahkan.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁