Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Suka?
"Tunggu disini" Ucapan Kyle diangguki Marsya, suaminya itu turun dari mobil dan pergi memasuki minimarket disisi jalan. Mendengar Marsya tidak memiliki persediaan pembalut, Kyle berinisiatif membelinya. Lagi-lagi sikap Kyle membuat Marsya tersenyum, dia senang Kyle memperhatikannya dengan baik. Tidak lama, laki-laki itu datang sambil menjinjing tote bag ditangannya. Bukan hanya pembalut, Kyle juga membeli ice cream dan beberapa camilan. Kyle serahkan tas itu kepada Marsya, dia juga senang bisa melakukan ini untuknya.
Perjalanan sore itu terasa cukup lama, lalu lintas yang padat membuat kemacetan terjadi dimana-mana. Sambil memakan ice cream, Marsya menggerutu kesal, ingin rasanya dia cepat-cepat tiba dirumah untuk membersihkan diri, bagian bawahnya sudah terasa tidak nyaman. Celotehan Marsya terdengar lucu, sambil tertawa, Kyle meminta Marsya sedikit lebih sabar dan memberi usapan lembut dikepalanya.
"Nggak berhenti ngoceh, nggak sadar makannya belepotan" Ucap Kyle sambil mengusap ujung bibir Marsya untuk membersihkan sisa ice cream yang tertinggal. Dan sedetik kemudian, Kyle berikan satu kecupan dibibir Marsya, sangat manis rasanya. Kecupan yang terjadi tiba-tiba yang tidak sempat dihindari oleh Marsya. Kyle, laki-laki ini selalu tahu momen tepat untuk mencuri kesempatan. Marsya alihkan wajahnya, menyembunyikan semburat yang membuat pipinya memerah.
Mobil baru saja berhenti dan Marsya sudah terburu-buru turun dari sana. Setelah melepas sabuk pengaman, Marsya berlari kecil memasuki rumah, meninggalkan tote bag yang berisi keperluannya. Melihat itu, Kyle menggelengkan-gelengkan kepalanya, apa perlu sampai berlarian seperti itu? Batin Kyle. Dia bawa tas itu bersamanya dan membuang tempat ice cream yang isinya sudah habis tak tersisa.
Dibawah, Kyle sempatkan untuk mencuci tangan dan memakan beberapa potong buah yang tersaji diatas meja makan. Bersamaaan dengan itu, sang mama, Hilda, keluar dari kamar. Sang mama terdengar mengeluh tentang kabar yang dia dengar dari Vina bahwa Erik datang berkunjung untuk menemui Marsya. Disitu lah Hilda baru tahu kalau Erik adalah kekasih Marsya, dan Kyle pun membenarkannya. Padahal, Hilda mengenal betul kalau Erik bersahabat baik dengan sang anak. Bagaimana kedua anak itu bisa memiliki perempuan yang sama?
"Kyle, kamu nggak bisa diam aja, sekarang Marsya itu istri kamu, kamu harus pisahin Marsya dari Erik"
"Hm, Mama tenang aja" Kyle tersenyum dengan rasa percaya diri karena cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Dan sekarang, Kyle baru mengerti ucapan Erik, sahabatnya itu terburu-buru karena berencana menemui Marsya dirumahnya. Namun sayangnya, Vina tidak membiarkannya masuk, Erik pun pergi dengan harapan yang pupus. Cukup puas rasanya mendengar hal itu, Kyle melempar satu buah anggur keatas dan masuk tepat kedalam mulutnya. Dia senandungkan sebait lagu sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Hampir dua puluh menit berlalu, Marsya baru selesai dengan sesi mandinya. Lega dan menyegarkan sekali rasanya setelah lelah menghadapi kemacetan panjang dan rasa tidak nyaman karena tubuhnya yang sangat kotor. Sedang memakai handuk, Marsya teringat sesuatu, buru-buru masuk ke kamar mandi membuatnya lupa tidak membawa pakaian dalam. Dan juga, pembalutnya itu masih ada ditangan Kyle.
Dengan hati-hati, Marsya membuka pintu kamar mandi, kepalanya sedikit mengintip Kyle yang terlihat sibuk dengan sesuatu ditangannya.
"Dia ngapain?" Marsya membungkam mulutnya seketika, dia terkejut melihat kegiatan Kyle diatas tempat tidur. Suaminya itu terlihat memegang pembalut dan celana dalam miliknya. Ya, dengan tekun dan serius Kyle memasangkan pembalut itu mengikuti petunjuk yang tertera dibelakang bungkusnya. Kyle pasangkan dengan benar agar Marsya merasa nyaman. Marsya menunduk malu, untuk apa Kyle melakukan itu?
"Kyle?" Marsya memanggil dengan suara pelan.
"Udah selesai?" Kyle bertanya sambil berjalan menghampiri, tidak lupa memberikan hasil dari kegiatannya itu, "Udah gue pasang, benar kan kayak gini?"
"I-iya. Kamu, kamu keluar dulu" Marsya mendorong-dorong Kyle keluar dari kamar, gugup sekaligus malu rasanya berhadapan dengan laki-laki itu. Biar lah Kyle menunggu diluar sementara dia akan berpakaian, jika Kyle tetap berada didalam, bisa dipastikan Kyle akan terus menggodanya.
***
"Ya udah, gue tunggu"
Balasan pesan dari Kyle membuat Marsya tersenyum. Akhirnya, dia diperbolehkan berkunjung kebengkel mobilnya setelah sebelumnya gagal merayu Kyle agar bersedia membawanya pergi bersama. Mendengar sang anak menyetujui kedatangan Marsya, Hilda dan David ikut senang, sebab mereka berdua pun tidak tega melihat Marsya sendirian dan merasa bosan dirumah. Dan mereka pikir, bersama Kyle akan membuat Marsya merasa senang.
David bersedia mengantar Marsya malam itu, padahal Marsya sudah menolak secara halus dan berniat memesan taksi online. Namun David, dia hanya ingin memastikan keselamatan menantunya. David merasa Marsya akan jauh lebih aman jika bersamanya. Baik lah, tidak bisa menolak lagi, Marsya pun menyetujuinya. Dia duduk dengan tenang disamping kursi kemudi David, mendengarkan cerita persahabatan David dengan sang papa yang sudah terjalin lama sampai sekarang. Dari masa sekolah, merintis usaha bersama sampai tumbuh perusahaan-perusahaan besar milik mereka. Dan kini, hubungannya dengan Hendry semakin dekat karena adanya pernikahan anak-anak mereka.
Kisah masa muda yang seru, David ceritakan dengan haru dan bahagia. Disini, Marsya mengetahui sisi lain ayah mertuanya yang ternyata cukup terbuka, periang, murah senyum dan tawa. Berbanding terbalik dengan Kyle, yang lebih banyak menunjukkan sisi pendiam serta raut wajah dingin dan datar. Memang, terkadang buah bisa jatuh cukup jauh dari pohonnya.
"Nah, udah sampai" Ucap David saat mobilnya berhenti tepat didepan bengkel. David tersenyum, senang rasanya bisa bercerita banyak pada Marsya. Respon Marsya yang antusias dan menghargai obrolan mereka membuat David semakin menyukai dan menyanyangi menantunya ini. David merasa beruntung karena sekarang memiliki seorang puteri yang akan menjadi pendengar setianya. Tidak seperti Kyle, putera kandungnya yang selalu menghindar dan tidak tertarik dengan obrolan mereka.
"Padahal Papa masih mau cerita-cerita sama kamu"
"Hehe, nanti lanjut dirumah ya, Pa"
"Ya sudah. Kamu hati-hati ya, jangan asal pegang peralatan bengkel, tangan kamu bisa luka"
"Siap, Pa"
Turun dari mobil, Marsya membalas lambaian tangan David sebelum David pergi meninggalkan lokasi. Kyle yang sedang berdiri bersama salah satu montirnya, sedikit bingung melihat istri dan papanya yang terlihat akrab hanya dalam satu momen kebersamaan. Padahal, Kyle sempat mengira Marsya akan datang menggunakan taksi, tetapi siapa sangka justru sang Papa yang mengantarnya.
"Kyle?!" Marsya menjerit senang, dia berlari diantara barisan mobil yang sedang diperbaiki sebelum menghantam Kyle dengan pelukan, "Aku bosen dirumah"
"Hm, maaf ya" Ucap Kyle sambil membalas pelukannya, dia hadiahkan satu kecupan dikepala Marsya karena sudah mau datang menemuinya
"Aku haus, kamu punya minum, nggak?" Pertanyaan Marsya membuat Kyle tersenyum dan mengangguk. Dia bawa Marsya kedalam ruang kerjanya dan memberikannya sebotol air mineral yang sudah dia siapkan. Marsya teguk minuman dingin itu sampai habis tanpa sisa.
"Haus banget? Habis konser?"
"Hahaha, ngeledek kamu"
Marsya celingukan mencari sesuatu, ya, tempat duduk. Dan untungnya, ada sebuah sofa yang cukup besar disudut ruangan itu. Marsya jatuhkan dirinya disana sebelum memejamkan matanya. Melihat itu, Kyle mengernyit, ada apa dengan istrinya ini? Apakah dia datang hanya untuk berpindah tempat tidur? Kyle merasa gemas, dia hampiri Marsya dan duduk ditepian sofa. Tangannya mengusap perut bagian bawah Marsya yang sejak tadi dia eluh-eluhkan nyeri dibagian sana.
"Masih sakit?"
"Iya, tapi nggak sesakit tadi siang sih, nggak apa-apa"
"Ya udah, tunggu sebentar, gue masih ada kerjaan"
"Okay"
Sepeninggal Kyle, Marsya mengubah posisinya. Dari dalam pintu kaca itu, Marsya memperhatikan Kyle yang sedang membantu pekerjaan salah satu montirnya. Cukup memakai celana dan kaos polos berwarna hitam, Kyle terlihat sangat mempesona. Tangannya yang mulai kotor dan keringat yang mengucur di pelipis serta lengan kekarnya membuat Kyle terlihat sangat tampan. Ini adalah pemandangan yang sangat menyegarkan dan cocok untuk mencuci mata, batin Marsya. Tidak sia-sia dia merajuk datang kesini.
Perlahan Marsya menggeser pintu, dia beranikan diri untuk menghampiri dan menatap Kyle dalam jarak yang lebih dekat. Bersembunyi dibelakang salah satu mobil, dia perhatikan Kyle dengan senyum yang tidak luntur sejak tadi. Ada apa dengan Marsya? Mengapa pesona Kyle tidak bisa dia hindari? Semakin hari rasanya Marsya semakin mengagumi ketampanannya. Dan memandangi Kyle seperti ini membuat detak jantungnya mendadak cepat, pipinya terasa hangat. Mungkinkah Marsya mulai menyukai suaminya itu?
...••••...
To be continued
Seperti biasaa jangan lupaaa dukungannya biar cerita ini makin berkembang, saranghaeyoooo🥰🥰✨💕💕💕💕