NovelToon NovelToon
The Yakuza’S Cold Princess

The Yakuza’S Cold Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: KimiHaruka

Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kutukan Darah....

​Di balik sejarah kelam dan pertumpahan darah yang membangun takhta klan Yakuza Uchiha, ada sebuah rahasia gelap yang tersimpan rapat di dalam silsilah keluarga mereka. Sebuah rahasia yang tidak pernah ditulis di dalam dokumen klan atau dibicarakan di meja makan rumah utama: Kutukan Pewaris Perempuan (Onna-heir no Malediction).

​Klan Uchiha telah berdiri selama ratusan tahun dengan mendominasi energi spiritual yang ganas dan pekat. Namun, alam semesta selalu menuntut keseimbangan yang setara. Setiap beberapa generasi sekali, ketika seorang anak perempuan terlahir membawa inti garis darah murni klan, kelahiran itu tidak pernah datang dengan cuma-cuma. Ada harga jiwa yang harus dibayar tunai.

​Dan harga itu adalah nyawa sang Ibu.

​Energi dingin dan hawa sakral yang dibawa oleh pewaris perempuan terlalu besar untuk ditampung oleh rahim biasa. Begitu anak perempuan itu lahir ke dunia, energi dalam tubuhnya secara perlahan akan menyedot habis daya hidup sang ibu dari dalam.

​Rintangan pahit itulah yang menimpa Mikoto Uchiha—mendiang matriark agung keluarga Uchiha.

​Mikoto tahu betul risiko mematikan itu saat mengandung anak bungsu sekaligus putri tunggalnya, Yoona. Namun, demi cintanya yang begitu dalam pada sang suami dan takdir benang merah yang melingkupi keluarganya, Mikoto menolak untuk meng#g*rkan kandungannya. Beliau memilih melahirkan Yoona ke dunia, meski tahu keputusan itu adalah vonis mati bagi dirinya sendiri.

​Benar saja. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun setelah Yoona lahir, kesehatan Mikoto merosot tajam. Tubuh anggun sang matriark meluruh perlahan, terbaring lemah di paviliun terisolasi yang dingin, diselimuti aroma obat-obatan pahit dan uap dupa yang membumbung saban hari.

​Akibatnya, masa kecil Yoona dan Sasuke berlalu dalam kehampaan yang sunyi.

​Saat Sasuke dan Yoona masih seoarang anak kecil yang tidak tahu apa pun, mereka tidak pernah benar-benar merasakan kehangatan pelukan atau timang kasih sayang seorang ibu. Mereka tumbuh di bawah asuhan kaku para inang pengasuh klan dan pengawalan ketat prajurit berjas.

​Bagi Yoona dan Sasuke, sosok "Ibu" adalah sebuah ruang kosong tanpa bentuk, tanpa suara, dan tanpa kenangan sama sekali.

​Yang paling mengerikan terjadi di hari kematian Mikoto.

​Malam itu, hujan badai mengguyur kota Kyoto dengan lebat. Seluruh pilar klan berduka, para pelayan menunduk menangis tersedu-sedu di sepanjang lorong kayu. Di tengah ruangan duka yang dingin, Yoona kecil yang baru berusia balita berdiri di depan peti kayu hitam tempat jenazah ibunya disemayamkan.

​Di saat semua orang menumpahkan air mata dan meratap, Yoona kecil hanya berdiri mematung. Mata bulatnya yang hitam jernih menatap kosong ke arah wajah pucat ibunya. Hatinya sudah sedemikian beku sejak lahir—seolah energi kutukan di dalam dirinya telah mengunci seluruh emosinya rapat-rapat—hingga tidak ada satu tetes pun air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Yoona tidak menangis, tidak menjerit, dan tidak menunjukkan duka sedikit pun. Sebuah reaksi dingin yang sempat membuat para petinggi klan berbisik ngeri, mengira sang putri kecil adalah monster tanpa jiwa.

​Namun, jika ada satu orang yang paling hancur akibat kematian Mikoto, orang itu adalah sang Patriark.

​Di balik penampilannya kini yang begitu dingin, kejam, dan ditakuti oleh seluruh klan musuh di Jepang, masa muda sang Patriark menyimpan sebuah kisah cinta yang luar biasa indah bersama Mikoto. Dulu, sang Patriark adalah pria berdarah dingin yang rela melepaskan semua gengsi kekuasaannya hanya demi memetik sekuntum bunga untuk Mikoto. Pria yang rela berlutut di bawah guyuran hujan hanya untuk mendapatkan restu menikahi wanita yang dicintainya.

​Ketika Mikoto akhirnya wafat akibat menanggung beban lahirnya Yoona, separuh jiwa sang Patriark ikut mati dan terkubur di dalam tanah.

​Rasa penyesalan yang membakar dan duka mendalam membuat sang Patriark berubah menjadi pemimpin yang sepenuhnya kaku dan tak tersentuh. Sang Patriark bahkan tidak pernah sanggup mendatangi bukit pemakaman pribadi keluarga di belakang kediaman utama—bukan karena tidak peduli, melainkan karena rasa bersalah dan kerinduan yang terlalu menyakitkan untuk ditanggung oleh hatinya yang tua.

​Uniknya, di antara keempat anaknya, sosok yang paling sering mengunjungi makam Mikoto bukanlah sang Patriark, bukan Sasuke yang sibuk dengan dunianya, dan bukan Yoona yang merasa asing... melainkan si anak kedua: Itachi Uchiha.

​Sang CEO berusia 27 tahun yang dijuluki Sang Arktik itu adalah satu-satunya anak yang sudah cukup dewasa untuk mengingat senyuman dan kehangatan Mikoto secara utuh.

​Setiap beberapa minggu sekali, di tengah kesibukannya mengendalikan imperium bisnis Uchiha Group bernilai triliunan yen, Itachi selalu meluangkan waktu sendirian. Tanpa pengawal dan tanpa pengawasan media, Itachi akan meluncurkan mobilnya ke kediaman utama, lalu melangkah tenang menaiki bukit bambu yang sepi di belakang rumah.

​Berdiri di depan batu nisan marmer putih milik ibunya dalam balutan setelan jas tailor-made mewahnya, Itachi akan meletakkan sebuket bunga lily putih segar. Di sana, pria es yang tidak pernah tersenyum di hadapan dunia itu akan menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan angin bukit mengibaskan rambut panjangnya.

​In silence, Itachi selalu berbisik pelan pada batu nisan ibunya— melaporkan keadaan adik-adiknya, berjanji untuk terus menjaga keutuhan keluarga Uchiha, dan bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaan serta kekayaannya untuk melindungi Yoona agar takdir kelam sang ibu tidak pernah menyentuh adiknya lagi.

​Sore itu, suasana di taman dalam kediaman utama Uchiha terasa begitu tenang dan teduh.

​Matahari Tokyo mulai meredup di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menembus celah-celah daun pohon maple tua. Suara gemercik air mancur bambu dan kecipak ikan koi di kolam tradisional menjadi satu-satunya nada yang memecah kesunyian sore.

​Di atas teras kayu (engawa) yang menghadap langsung ke taman berumput hijau, Yoona sedang duduk bersimpuh santai.

​Penampilan Yoona sore ini sangat kasual, santai, namun tetap memancarkan aura cantik, mahal, dan seksi khasnya.

​Yoona mengenakan Modern Cotton Bralette warna abu-abu terang dari Calvin Klein yang membungkus rapi dada dan perut ratanya. Atasan itu dipadukan dengan Monogram Logo Overall Dress dari Calvin Klein Jeans—sebuah baju kodok berbahan denim biru terang berpotongan mini yang sengaja dibiarkan terbuka di bagian samping pinggangnya, memperlihatkan garis pinggang ramping serta paha mulusnya yang jenjang. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai bebas, dan wajah cantiknya tampak polos tanpa polesan make-up kaku.

REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK

​Di sebelahnya, Hatake Kakashi duduk menyandar santai pada pilar kayu teras.

​Pria berusia 30 tahun itu telah melepaskan jas resminya, menyisakan kemeja hitam santai yang dua kancing atasnya dibuka dan lengannya digulung rapi hingga siku. Tatanan tato Yakuza (Irezumi) hitam-merah di lengan kekarnya terpampang jelas di bawah pendar sinar sore. Tangan kirinya memegang segelas Oolong tea hangat, sementara tangan kanannya melingkar protektif dan hangat di pinggang denim Yoona.

​Yoona menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kakashi, menyusupkan jemari lentiknya di antara jemari besar pria itu.

​"Kakashi..." panggil Yoona pelan, suaranya terdengar begitu serak dan lembut memecah keheningan taman.

​"Ya, Nuna?" sahut Kakashi halus. Kakashi menundukkan kepalanya sedikit, mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Yoona, sebelum membiarkan ibu jarinya mengelus lembut pinggang denim gadis itu.

​Yoona menatap pantulan bayangan langit sore di permukaan kolam koi.

​"Tadi siang... aku tidak sengaja melihat Kak Itachi berjalan ke arah bukit belakang," gumam Yoona pelan, matanya menerawang jauh. "Dia membawa sebuket bunga lily putih lagi. Aku tahu dia pasti mau ke makam Ibu."

​Kakashi diam mendengarkan, hembusan napas hangatnya menerpa leher Yoona.

​Yoona menghela napas panjang, meremas jemari Kakashi yang berada di genggamannya. "Aneh ya, Kakashi... Kak Itachi tahu segalanya tentang Ibu. Kak Shisui masih ingat masakan dan senyuman beliau."

​Yoona jeda sejenak, suara manjanya mendadak terdengar bergetar tipis oleh rasa hampa yang dalam.

​"Tapi aku dan Sasuke? Aku ini anak kandungnya... tapi aku sama sekali tidak ingat bagaimana rupa wajah Ibu jika dilihat langsung. Aku tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk Ibu, aku tidak tahu bagaimana suara beliau saat memanggil namaku... Tidak ada satu pun kenangan tentang Ibu di dalam kepalaku, Kakashi."

​Kakashi menatap mata Yoona dari dekat. Hatinya teriris mendengar nada kebingungan dan kesedihan yang tersirat dari ucapan sang putri.

​Yoona mendongak, menatap mata kelam Kakashi dengan pandangan yang begitu jujur dan rapuh.

​Yoona merapatkan tubuhnya, menyusupkan wajahnya di dada bidang Kakashi, menyembunyikan kerapuhannya di dalam dekapan hangat pria berusia 30 tahun itu.

​"Apakah sejak kecil... aku ini memang sudah ditakdirkan jadi monster yang tidak punya perasaan?" gumam Yoona serak di dada Kakashi.

​Mendengar ucapan jujur dari gadis yang sangat dicintainya itu, cengkeraman tangan Kakashi di pinggang Yoona makin erat. Pria matang itu menarik tubuh Yoona sepenuhnya ke atas pangkuannya di teras kayu tersebut.

​Kakashi menurunkan masker hitamnya hingga ke bawah dagu. Dengan tatapan mata yang begitu dalam, lembut, dan dipenuhi gelombang kasih sayang yang membakar, Kakashi menangkup kedua pipi halus Yoona dengan telapak tangannya yang hangat.

​"Jangan pernah berani menyebut dirimu monster, Nuna," ucap Kakashi dengan suara beratnya yang begitu tegas, dalam, dan menenangkan.

​Kakashi mendekatkan wajahnya, mengusap bulir air mata tipis di sudut mata Yoona menggunakan ibu jarinya dengan sangat perlahan.

​"Hatimu tidak beku karena kamu jahat, Nuna," bisik Kakashi, menempelkan dahinya di dahi Yoona hingga napas mereka menyatu. "Hatimu membeku saat itu... karena jiwa kecilmu sedang berusaha melindungi dirimu sendiri dari trauma dan hawa dingin kutukan yang terlalu berat untuk ditanggung oleh seorang anak kecil."

​Yoona menahan napasnya, menatap lurus ke dalam iris mata Kakashi yang penuh obsesi protektif.

​"Ibumu melahirkanmu bukan untuk membuatmu merasa bersalah," lanjut Kakashi pelan namun sarat akan pengabdian mutlak. "Beliau menyerahkan hidupnya karena beliau tahu... kamu adalah permata paling berharga yang pernah dimiliki klan ini. Dan mengenai air matamu saat itu..."

​Kakashi mengukir senyum tipis yang amat sangat tampan dan hangat di depan wajah Yoona.

​"Kamu tidak perlu menangisi masa lalu yang tidak bisa kamu ingat, Nuna," bisik Kakashi lembut, mendaratkan ciuman dalam dan hangat di dahi Yoona, lalu turun menyapu kedua mata gadis itu dengan kecupan lembut. "Tugasmu di dunia ini hanyalah hidup dengan bahagia, menjadi ratu yang paling bersinar, dan membiarkan saya menanggung seluruh sisa kegelapan dan kutukan itu untukmu."

​Yoona merasakan dadanya berdesir hangat luar biasa. Seluruh rasa hampa, bersalah, dan dingin yang sempat menyiksa pikirannya menguap tanpa sisa di dalam dekapan tegap sang pengawal jiwa.

​Yoona menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat manis—sebuah senyuman tulus yang memancarkan kehangatan sejati. Yoona melingkarkan kedua tangan lentiknya di leher Kakashi, memajukan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang manis, dalam, dan penuh kepemilikan di bawah pendar sinar sore taman rumah utama.

​Di atas teras kayu yang tenang itu, di antara gemercik air kolam dan rimbunan daun maple yang berguguran, Yoona sadar bahwa meski dia kehilangan kenangan akan ibunya, alam semesta telah memberikannya Kakashi—sebuah perisai abadi yang akan selalu memeluk jiwanya dan mencintainya tanpa batas hingga akhir waktu.

...----------------...

FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.

Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!