NovelToon NovelToon
Tubuhku Milik Sang Mafia

Tubuhku Milik Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / One Night Stand / Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Dokter / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:995
Nilai: 5
Nama Author: Karina Garcia

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.

Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.

Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.

Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.

Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.

Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. SUARA ITU KUKENAL

Setelah beberapa saat, kepala sekolah meminta Bu Ester masuk ke kantor untuk bicara dengannya, dan meminta sekretaris merawat lukanya. Ia menatap Saras dan memintanya menunggu bersama putranya. Sementara menunggu, masuk panggilan dari Marisa dan Saras menjawabnya.

Marisa berkata dengan agak gelisah, "Saras, sayang, kau di mana? Aku di depan apartemenmu, mengetuk pintu, tapi kau tak membukanya."

Saras sedang kesal, murka atas apa yang terjadi, dan sambil berusaha meredakan suasana hatinya yang buruk ia berkata, "Marisa, aku di TK. Lian kita berkelahi, dan aku sedang menunggu untuk bicara dengan kepala sekolah. Dia mau mengeluarkan Lian. Tapi sudah kubilang, kalau dia melakukannya, aku akan membeberkan alasannya ke publik dan menunjukkan bahwa di sini ada perlakuan istimewa untuk orang berduit."

Mendengar apa yang terjadi, Marisa marah dan berkata dengan nada geram, "Saras, aku ke sana sekarang. Tak seorang pun boleh menyentuh keponakanku, apalagi di TK itu."

Setelah berkata begitu ia memutus telepon. Saras mengelus kepala si kecil dan berkata dengan lembut.

"Lian, katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi? Mama janji tak akan marah, kau hanya perlu jujur pada Mama."

Lian berkata dengan sedih, "Mama, aku tak berbuat salah, aku hanya membela adikku. Anak yang lebih besar itu terus mengganggunya, menarik-narik rambutnya dan mendorongnya. Aku tak bisa membiarkannya berbuat begitu."

Saras memeluk putranya dan berkata dengan tenang, "Lian, seharusnya kau menemui ibu gurumu dan memberitahukan apa yang terjadi. Ingat, tidak baik main hakim sendiri, sudah Mama katakan itu berkali-kali, berkelahi itu tidak baik."

Lian menjawab dengan suara lesu, "Mama, aku sudah melakukan semua yang Mama bilang, tapi para guru tak berbuat apa-apa dan anak itu terus mengganggu adikku. Maafkan aku, Mama, aku tak bermaksud membuatmu marah dan aku tak ingin berkelahi, tapi aku tak tahu harus berbuat apa lagi."

Saras mengelus wajah putranya dan berkata dengan lembut, "Anakku, kau tak perlu minta maaf. Kau melakukan hal yang benar. Kau dan adikmu memang harus selalu saling membela, selalu bersama."

Saras memeluk si kecil, memberinya sedikit ketenangan dengan penuh sikap melindungi. Ketika keluar dari kantor kepala sekolah, sekretaris itu menatap mereka dari atas ke bawah dengan raut jijik. Saras mengabaikannya—ia tak mau termakan provokasi, tak mau menurunkan dirinya ke tingkat mereka. Bagaimanapun keadaannya, ia menganggap dirinya seorang perempuan terhormat yang berpendidikan. Hampir satu jam berlalu ketika ia mendengar suara sekretaris berbicara dengan seorang perempuan lain yang baru datang.

"Selamat pagi, Bu Martinah. Kalau Anda mencari Pak Kepala, mohon tunggu sebentar, akan saya beri tahu bahwa Anda di sini."

Bu Martinah berkata dengan nada angkuh dan memerintah, "Katakan aku sedang terburu-buru. Aku hanya akan menunggu tiga menit, dan kalau dia tak bisa menemuiku, aku pergi."

Sekretaris itu langsung bangkit dan berkata dengan suara gelisah namun manis, "Bu Martinah, tolong jangan tak sabar. Saya beri tahu beliau sekarang juga bahwa Anda di sini, supaya Anda bisa langsung ditemui."

Saras memperhatikan sekretaris itu bangkit dan masuk ke kantor kepala sekolah. Belum sampai dua menit, sekretaris itu keluar bersama sang kepala sekolah, dan saat itu sang sekretaris mempersilakan Bu Martinah masuk. Saras sangat kesal. Ia tak akan membiarkan dirinya dipandang rendah. Dengan suara berang ia berkata.

"Apa-apaan ini? Saya yang lebih dulu datang daripada ibu ini. Saya perlu mengurus masalah anak saya. Saya tak bisa membuang waktu seharian di sini, dan saya berhak atas perhatian yang sama seperti orang tua murid lainnya."

Sekretaris itu mengabaikannya dan berkata dengan nada sopan.

"Bu Martinah, silakan masuk, Pak Kepala sudah menunggu Anda."

Saras bangkit dan mencoba masuk ke kantor. Ia kesal, murka, dan tak akan membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Sekretaris itu menghalangi jalannya dan dengan nada merendahkan berkata.

"Anda harus menunggu. Pak Kepala punya urusan yang lebih penting untuk diurus. Sebaiknya Anda tahu diri, jangan bikin keributan, atau saya suruh usir Anda."

Marisa baru saja tiba ketika ia mendengar ucapan sekretaris itu, dan dengan nada mengancam ia berseru, "Kau, sekretaris kacangan, katakan—siapa yang mau kau usir? Kau tak tahu berbicara dengan siapa. Nyonya Saras ada di TK ini atas rekomendasi Bos, sama seperti semua orang di sini. Sebaiknya kalian jangan merasa lebih tinggi dari orang lain, atau sekarang juga aku telepon Bos, kita lihat apa pendapatnya."

Saras melihat Marisa mendekat sambil menggandeng putri kecilnya. Ketika sudah berhadapan dengan semuanya, sekretaris itu berkata.

"Di sini juga ada tingkatan, dan Bu Martinah termasuk yang paling dekat dengan Bos, kalau kalian belum tahu. Karena itu beliau diprioritaskan, memang begitu petunjuk yang diberikan."

Marisa berkata dengan nada mengejek, "Benarkah begitu? Aku harus bertanya dulu. Mari kita lihat seberapa benar ucapanmu—dan hati-hati kalau berbohong. Kalian tahu betul Bos tak suka namanya dicatut sembarangan."

Marisa mengambil ponselnya dan mulai menekan sebuah nomor, lalu menyetelnya ke pengeras suara. Pada deringan kedua terdengar suara seorang pria.

"Marisa, dasar perempuan jahat," kata Karlo dengan nada kesal. "Kau janji mengirimiku foto keponakan-keponakanku, tapi sampai sekarang belum kaukirim apa pun. Bos saja sampai terpesona pada anak-anak itu."

Marisa berkata dengan nada tinggi, "Karlo, diam dulu, kau kupasang di pengeras suara. Keponakan-keponakanmu sepertinya sedang dalam masalah. Lian berkelahi dengan anak yang lebih besar darinya demi membela adiknya, Lia. Tapi celakanya, kepala sekolah di sini mau mengeluarkan mereka, semua gara-gara ibu anak itu mengaku orang penting. Parahnya lagi, datang seorang perempuan lain bermarga Martinah yang mengaku sebagai orang yang dilindungi Bos, sampai-sampai kami dibiarkan menunggu paling belakang—padahal kau tahu bukan begitu aturannya."

Karlo berkata dengan geram, "Marisa, sambungkan aku ke kepala sekolah. Tak seorang pun boleh memperlakukan keponakan-keponakanku dengan buruk."

Saat itu terdengar suara pria lain yang berkata padanya.

"Karlo, jangan buang-buang waktu, aku membutuhkanmu di sini," kata Nael dengan suara berat dan dingin.

Karlo menjawab dengan gelisah, "Bos, beri saya beberapa menit. Izinkan saya menyelesaikan masalah keponakan-keponakan saya. Mereka mau dikeluarkan dari TK, semua gara-gara Lian memukul anak yang mengganggu adiknya, Lia."

Nael berkata dengan nada bersemangat, "Anak itu ternyata pemberani. Aku makin menyukainya. Semoga suatu hari aku bisa mengenal mereka. Tapi kau punya urusan lain, serahkan masalah ini padaku. Sekarang juga akan kutelepon kepala sekolahnya supaya mereka dibiarkan tenang."

Karlo kembali ke sambungan telepon dan berkata.

"Marisa, kau sudah dengar sendiri kata Bos. Beliau yang akan mengurusnya, kau tak perlu khawatir. Tak seorang pun akan mengganggu keponakan-keponakanku."

Saras termenung memikirkan suara pria itu. Suara itu mengingatkannya pada seseorang, dan pada saat yang sama membuatnya gugup, seperti takut. Ia tenggelam dalam pikirannya sampai mendengar suara Marisa yang berkata padanya.

"Saras, semuanya akan baik-baik saja. Tak seorang pun akan mengganggu anak-anak kita lagi."

Saras berkata dengan nada ragu, "Marisa, suara pria itu terasa akrab di telingaku. Katakan, siapa dia tadi?"

Marisa tersenyum dan berkata dengan acuh, "Kurasa kau tak mengenalnya, apalagi pernah mendengar suaranya. Dia atasan Karlo, bisa dibilang pemilik TK ini, rumah sakit, dan tempat-tempat lain. Tapi dia tak pernah berlama-lama di sini, urusan bisnisnya ada di luar negeri."

Saras merasakan sesuatu yang aneh, tetapi ia mengira semua itu hanya khayalannya, bahwa tak mungkin ia mengenal pria semacam itu. Namun saat itu lamunannya terputus ketika ia mendengar suara-suara panik dari semua orang.

Bu Martinah berkata dengan suara gugup penuh ketakutan, "Nyonya-nyonya, tolong jangan libatkan saya dalam masalah ini, apalagi dengan Bos. Tolong maafkan saya. Kalau saya tahu Anda punya kontak langsung dengan Bos, tentu saya akan lebih tahu diri dan…"

Marisa memotong dengan nada tinggi, "Tak ada tapi-tapi, Bu Martinah. Apa yang Anda lakukan itu buruk. Hanya karena keluarga Anda ada dalam daftar gaji beliau, bukan berarti Anda berhak merendahkan orang-orang di sekitar Anda."

Saras bisa melihat sekretaris, Bu Martinah, dan perempuan yang satu lagi saling memandang dengan gugup, sampai-sampai mereka meminta maaf. Namun ia tak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Ia semakin bingung ketika kepala sekolah keluar dengan wajah pucat dan berkata dengan suara gugup.

"Nyonya Saras, saya ingin meminta maaf kepada Anda. Saya paham anak-anak Anda tak berbuat salah, dan saya akan lebih memperhatikan mereka agar tak ada lagi yang mengganggu. Maaf sudah merepotkan dan membuang waktu Anda. Saya berjanji ini tak akan terulang."

Saras hendak menjawab, tetapi saat itu ia mendengar suara Marisa.

"Semoga saja begitu. Saya tak ingin harus kembali ke sini dan mengganggu Bos—itu bisa buruk akibatnya bagi Anda."

Kepala sekolah berseru dengan gugup, "Nyonya, saya paham. Silakan, kalian boleh pergi. Saya berjanji ini tak akan terjadi lagi."

Marisa berkata dengan nada tegas, "Pak Kepala, sekadar supaya Anda tahu: keponakan-keponakan saya harus diperlakukan sama seperti semua anak lain. Kami tak mau hak istimewa, dan kalau mereka berbuat salah, silakan tegur. Semoga Anda memahaminya dengan baik."

Kepala sekolah mulai gemetar ketakutan dan berkata dengan suara ragu, "Nyonya, Anda tak perlu khawatir. Saya akan melakukannya dengan benar. Anda tak perlu datang lagi ke sini, takkan ada lagi keluhan."

Marisa menggandeng lengan Saras dan menyuruh anak-anak berjalan di depan mereka. Mereka keluar dari TK dan naik taksi. Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Ketika tiba di apartemen, Saras menyuruh anak-anaknya masuk dan mengerjakan tugas mereka. Ia sendiri tinggal di luar bersama Marisa—ia merasa perlu bicara dengannya.

Melihat anak-anaknya sudah masuk ke rumah, Saras berkata dengan suara gelisah.

"Marisa, katakan yang sebenarnya, siapa pria itu tadi? Bagaimana bisa hanya dengan satu telepon dia menyelesaikan masalah anak-anak, dan bagaimana kau mengenalnya? Tolong beri tahu aku, aku merasa agak gelisah dan gugup, aku tak tahan dengan ini. Kau mungkin akan mengira aku gila, tapi kurasa aku mengenali suara itu, dan ada sesuatu yang membuatku takut. Aku merasa aku harus menjauh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!