Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Kopi susu di tangan ku sudah dingin. Kopi hitam Bapak juga sudah dingin.
Bapak tidak minum. Bapak cuma pegang gelasnya. Lihat ke arah dua jalan becek itu juga. Jalan pertama ke pondok Al-Hidayah, jalan kedua ke terminal.
Bapak tahu aku lagi lihat dua jalan itu dari tadi.
"Laila," Bapak ngomong pelan, "Bapak dulu pernah punya dua jalan juga. Waktu ibu kamu masih hidup."
Aku lihat Bapak.
"Waktu ibu kamu sakit keras, 2 bulan sebelum meninggal. Bapak punya uang cuma buat dua pilihan. Pilihan pertama bawa ibu kamu berobat ke rumah sakit
Pilihan kedua pakai uang itu buat uang bulanan kamu di pondok Al-Hidayah.
Bapak minum kopi hitam dinginnya. Pahit.
"Ibu kamu tidak marah. Ibu kamu cuma bilang, 'Pak, kalau uang bulanan Laila belum dibayar ,bayar lah dulu kasian Laila dipondok pasti kena batasan dipondok .
Bapak kira itu ikhlas. Ternyata itu bukan ikhlas. Itu nahan sakit."
Bapak lihat flashdisk merah yang ada di tangan ku. Yang sudah dingin.
"Laila, kalau kamu pilih jalan pertama sekarang, balik ke pondok buat sebar video CCTV dan foto-foto aib itu, kamu bukan balas dendam. Kamu cuma nahan sakit kayak ibu kamu dulu. Kamu kelihatan menang di depan santri, tapi di dalam kamu masih pakai daster kos pink pudar, masih jadi Alia."
"Kalau kamu pilih jalan kedua, merantau ke Jauh , lupa semuanya, ikhlas katanya, kamu juga bukan ikhlas. Kamu cuma lari. Kayak kamu lari malam hujan dari pondok Al-Hidayah pakai koper. Sampai Sampit kamu tetap bawa koper itu. Tidak kamu buka."
Bapak taruh gelas kopi hitamnya di tanah. Ambil pisau kebun yang tadi ditaruh di atas meja kayu. Bukan buat nakut-nakutin. Bapak pakai buat potong ranting jambu air yang menghalangi sinar matahari pagi ke jemuran gamis putih ku.
Sinar matahari langsung kena gamis putih yang dijemuran. Yang bayangan merahnya masih ada dikit.
seminggu lagi, baru kamu merantau ke Jawa. Bawa mukena putih ibu
Bawa mukena lama kamu dari koper. Bawa gamis putih yang sudah benar-benar putih.
Flashdisk merah itu? Bapak simpan di rumah. Tidak usah dibawa ke Jawa. Biar dingin di sini, di dalam kotak kayu tempat jarum pentul ibu."
Jalan ketiga. Bukan balas dendam, bukan melupakan.
Aku pegang flashdisk merah yang dingin kayak air sumur itu. Tangan ku tidak gemetar lagi.
"Pak, kalau flashdisknya Bapak simpan, nanti kalau ada Laila-Laila lain yang diusir dari pondok itu gimana? Siapa yang ingat kalau di dinding kos pink pudar itu pernah ada 4 nama pakai lipstik merah?"
Bapak senyum. Pertama kali Bapak senyum lebar sejak ibu meninggal 10 hari lalu.
"Yang ingat bukan flashdisknya, Laila. Yang ingat kamu. Kamu yang sudah sholat Subuh kesiangan jam 6.30 tadi di kamar ibu. Kamu yang sudah wudhu pakai air sumur. Kalau kamu sudah ingat siapa Tuhanmu, kamu tidak perlu bawa bukti kemana-mana buat ingatin orang. Orang akan ingat sendiri lihat kamu pakai gamis putih yang sudah bersih itu."
Jam 7.30 pagi. Kopi susu ku habis. Susu putihnya nempel di bibir ku kayak dulu pas jadi santriwati kecil.
Di pondok Al-Hidayah Ustadz Mahmud Atau Kyai Rahman. Mereka masih tunggu dengan rasa cemas, pikir aku akan datang hari ini bawa flashdisk merah buat sebar.
Aku berdiri. Masukkan lagi flashdisk merah yang sudah dingin itu ke saku daster bunga-bunga ku.
Aku jalan ke jemuran. Ambil gamis putih yang masih ada bayangan merah dikit. Aku peras lagi. Airnya masih merah dikit. Tapi sudah lebih putih dari kemarin.
Dendam ku masih bergetar di dalam flashdisk merah itu. Tapi kopi Bapak lebih bergetar di perut ku yang lapar sejak tadi malam tidak makan nasi berkat dingin.
Pintu rumah terbuka lebar. Pisau kebun sudah di meja kayu lagi.
Dan untuk pertama kalinya setelah itu..