Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Bayang-Bayang Masa Lalu
Pesta pertunangan resmi keluarga besar Aristha tinggal menghitung hari. Di balik kemewahan gaun rancangan desainer ternama internasional yang bergantung rapi di lemari dan kilau memikat cincin berlian warisan Nyonya Rosalinda yang melingkar cantik di jari manis Aira, pikiran gadis itu justru sama sekali tidak tenang.
Sebuah racun tak kasat mata telah menyusup ke dalam jiwanya sejak pesan singkat misterius itu masuk ke ponselnya.
“Jangan terlalu cepat merayakan kemenanganmu di Aristha Tower, Aira. Kamu pikir Devan adalah satu-satunya musuhmu? Tanya pada Reynand, apa yang sebenarnya terjadi pada rahasia masa lalu keluargamu sepuluh tahun yang lalu.”
Kalimat itu bagaikan gema tak berujung yang berputar-putar di dalam kepala Aira. Di setiap sudut koridor Aristha Tower, di tengah riuh ucapan selamat dari para pegawai, hingga saat ia sendirian di kamar malam hari—pesan itu terus menagih jawaban. Selama ini, Aira meyakini bahwa dirinya hanyalah gadis dari keluarga sederhana yang secara kebetulan berjuang keras hingga bisa menjadi asisten pribadi CEO Aristha Tower. Ia tidak pernah membayangkan bahwa nama keluarganya yang tak berpunya itu mungkin memiliki benang merah tersembunyi dengan dinasti bisnis Aristha yang megah.
Malam itu, hujan gerimis menyiram kaca jendela penthouse mewah milik Reynand yang terletak di lantai paling atas kawasan pusat kota. Lampu-lampu kota Jakarta memantulkan cahaya redup berpadu dengan pendar lampu interior bernuansa hangat di dalam ruangan. Suasana terasa sangat sunyi dan privat, hanya diselingi suara denting pendingin udara dan sapuan lembut air hujan di luar.
Reynand duduk di sofa kulit hitam, fokus memeriksa berkas kerja digital pada tablet di tangannya. Kemeja putihnya yang sedikit dilipat di bagian lengan serta dua kancing teratas yang terbuka memberikan kesan santai namun tetap memancarkan pesona dominan yang kuat. Di seberang meja kaca, Aira duduk berpura-pura membaca majalah bisnis, meski sepasang matanya berulang kali mencuri pandang ke arah pria yang kini berstatus sebagai calon suaminya.
Reynand, dengan intuisinya yang selalu tajam, merasakan tatapan gelisah itu. Ia meletakkan tabletnya di atas meja kaca, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya—sebuah senyuman yang kini semakin sering ia tunjukkan hanya kepada Aira.
"Ada apa, Aira?" tanya Reynand dengan suara baritonnya yang berat namun lembut. Ia mengulurkan sebelah tangannya, memberi isyarat agar Aira mendekat. "Dari tadi kamu terus menatapku seolah ada hal berat yang sedang kamu sembunyikan. Apa gaun pertunanganmu kurang cocok? Atau ada pekerjaan kantor yang membuatmu lelah?"
Aira tersentak pelan dari lamunannya. Menatap uluran tangan Reynand, ada pergolakan batin yang dahsyat di dalam dadanya. Rasa cinta dan kehangatan yang ditawarkan Reynand terasa sangat nyata, namun bayang-bayang keraguan yang ditanamkan pesan misterius itu menuntut kejujuran.
Aira meletakkan majalahnya, lalu bangkit berdiri. Ia melangkah perlahan menuju sofa Reynand dan membiarkan jemari kokoh pria itu menarik lembut pinggangnya. Aira terduduk di pangkuan Reynand. Lengan kekar Reynand melingkar posesif di pinggangnya, sementara jemarinya mengelus lembut rambut Aira, menyalurkan rasa aman yang biasa membuat Aira melupakan segala kecemasannya.
Aira menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Reynand, mendengarkan detak jantung pria itu yang beratur stabil. Jemari lentik Aira memainkan kancing kemeja Reynand, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
"Reynand..." panggil Aira lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan di tengah keheningan malam.
"Hmm? Katakan, Aira. Apapun itu, aku mendengarkan," bisik Reynand seraya mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Aira penuh kasih sayang.
Aira menelan ludahnya yang terasa kelat. Kehangatan ini terlalu berharga untuk dirusak, tetapi ketakutan akan rahasia yang tersembunyi jauh lebih menyiksa. Aira pelan-pelan mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Reynand yang pekat.
"Boleh aku bertanya sesuatu? Sesuatu yang mungkin terasa aneh untukmu..." ujar Aira, berusaha menahan getaran di suaranya.
"Bertanya tentang apa, Sayang?"
"Tentang... masa lalu. Sepuluh tahun yang lalu," ucap Aira perlahan, menatap setiap inci respons di wajah Reynand. "Apakah sebelum kita bertemu di Aristha Tower... apakah keluarga Aristha pernah memiliki hubungan atau urusan tertentu dengan keluarga saya?"
Seketika itu juga, atmosfer hangat di dalam penthouse itu runtuh tanpa sisa.
Gerakan tangan Reynand yang tadinya mengelus punggung Aira terhenti mendadak. Otot-otot di lengan dan bahunya menegang keras. Perubahan ekspresi yang sangat drastis itu terjadi hanya dalam hitungan detik—tatapan lembut penuh kasih sayang di mata Reynand menguap, berganti menjadi pancaran dingin, tajam, dan sarat akan keterkejutan yang berusaha ditutupi.
Rahang kokoh Reynand mengetat keras, memperlihatkan ketegangan yang membara di bawah kulitnya.
"Masa lalu yang mana yang kamu maksud, Aira?" suara Reynand berubah drastis—menjadi datar, dalam, dan dipenuhi hawa mengintimidasi yang sudah lama tidak ia tujukan pada Aira.
Aira merasakan perubahan aura itu dengan sangat jelas. Jantungnya berdegup kencang secara maraton. "Saya... saya hanya ingin tahu, Reynand. Apakah keluargaku di masa lalu pernah berurusan dengan perusahaan atau ayahmu? Apakah ada sesuatu yang terjadi sepuluh tahun lalu yang belum pernah kamu ceritakan padaku?"
Reynand melepaskan rengkuhan tangannya dari pinggang Aira secara perlahan. Pria itu berdiri, membiarkan Aira tergeser duduk di sofa sendirian. Reynand melangkah mendekati jendela kaca besar, memunggungi Aira sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sosok tegapnya kini terlihat begitu berjarak dan asing.
"Dari mana kamu mendengar cerita omong kosong itu, Aira?" tanya Reynand dingin tanpa berbalik. Suaranya terdengar menusuk. "Siapa yang sudah memasukkan racun ke dalam kepalamu tepat sebelum pesta pertunangan kita?"
Reaksi defensif dan perubahan sikap Reynand yang begitu mendadak justru menjadi jawaban pahit bagi Aira. Benih kecurigaan itu kini merekah menjadi kenyataan yang menakutkan: memang ada rahasia besar sepuluh tahun lalu yang sengaja disembunyikan Reynand rapat-rapat darinya.