Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Angin sore berhembus pelan menyapu halaman paviliun tempat Bima tinggal.
Bima duduk bersila di atas kasur busanya sambil menatap layar ponsel dengan saksama.
Bip...
Suara notifikasi pesan singkat berbunyi nyaring dari ponselnya.
Bima langsung membuka pesan tersebut tanpa menunggu waktu lama.
Pesan itu berasal dari layanan perbankan digital yang baru saja ia daftarkan pagi tadi.
Sebuah kalimat pemberitahuan transaksi masuk terpampang jelas di layar.
Saldo Anda telah bertambah sebesar Rp 5.000.000.000,00 dari rekening PT Lancar Jaya Properti.
Bima membaca angka nol yang berderet panjang itu dengan ekspresi wajah yang tetap tenang.
Tidak ada senyum lebar kemenangan yang berlebihan di wajahnya.
Ia hanya menghela napas panjang untuk meredakan ketegangan di dadanya.
Uang lima miliar rupiah sudah resmi berada di dalam genggamannya sekarang.
Bima meletakkan ponselnya di atas meja kecil di sebelah kasur.
"Ini baru permulaan kecil dari kehancuran mereka," gumam Bima pelan dalam hati.
Lima miliar bukanlah jumlah yang kecil untuk anak muda seusianya yang baru saja diusir dari rumah.
Namun bagi perusahaan keluarga Hendra, kehilangan uang tunai sebesar itu dalam waktu singkat adalah pukulan telak.
Arus kas keuangan mereka pasti langsung mengalami guncangan hebat mulai hari ini.
Bima meraih kembali ponselnya untuk merencanakan langkah selanjutnya.
Ia harus segera mendirikan perusahaan cangkang dan menyewa kantor profesional.
Identitas aslinya tidak boleh sampai terendus oleh Hendra terlalu cepat.
Bima mengetik sebuah nomor telepon kantor konsultan hukum di mesin pencari ponselnya.
Triliing...
suara dering panggilan tersambung setelah beberapa kali dering.
Halo, selamat sore dengan Kantor Konsultan Hukum Surya dan Rekan, sapa suara wanita di ujung telepon.
Sore, Mbak, saya ingin menggunakan jasa konsultasi untuk pendirian badan usaha baru, jawab Bima ramah.
Baik, Mas, silakan datang langsung ke kantor kami di kawasan bisnis pusat kota, balas wanita itu sopan.
Bima melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul empat sore.
Masih ada cukup waktu sebelum hari mulai gelap.
Baiklah, saya akan kesana sekarang, ujar Bima singkat sebelum menutup panggilan.
Pip...
Sambungan telepon terputus.
Bima berdiri dari kasur busanya dan merapikan jaket hitam yang ia kenakan.
Ia memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam saku dengan aman.
Bima melangkah keluar dari kamar paviliun dan mengunci pintu rapat-rapat.
Klotak...
Suara gembok besi berbunyi nyaring di sore hari yang mulai sepi.
Ia berjalan santai menuju jalan raya utama untuk mencari taksi online.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan abu-abu berhenti tepat di depannya.
Bima membuka pintu belakang mobil dan langsung masuk ke dalam kabin yang sejuk.
Sreett...
Pintu mobil tertutup rapat.
Sopir taksi melirik Bima dari spion tengah dengan ramah.
Mau ke mana, Mas? tanya sopir itu sambil memasukkan gigi mobil.
Ke kawasan perkantoran Sudirman Tower, Bang, jawab Bima tenang.
Siap, Mas, kita jalan sekarang, balas sopir itu menginjak pedal gas.
Mobil mulai melaju membelah kemacetan sore hari kota yang padat.
Suara klakson kendaraan bersahut-sahutan di sepanjang jalan raya utama.
Bima menyandarkan punggungnya di kursi mobil sambil melihat pemandangan gedung-gedung tinggi di luar jendela.
Pikiran Bima melayang mengingat ekspresi pucat Edi di kafe tadi siang.
Edi dan Hendra pasti sedang panik luar biasa memikirkan cara menutupi lubang keuangan perusahaan mereka.
Kehilangan lima miliar tunai membuat likuiditas perusahaan Hendra berada di ambang bahaya kebangkrutan.
"Kalian pikir uang itu bisa menyelamatkan kalian?" batin Bima tersenyum sinis.
Uang itu justru menjadi modal utama bagi Bima untuk membeli saham perusahaan mereka secara diam-diam nanti.
Setelah perjalanan selama hampir empat puluh setengah jam, mobil akhirnya tiba di depan gedung perkantoran mewah.
Tinj...
Sopir menepikan mobilnya di area drop-off gedung Sudirman Tower.
Terima kasih, Bang, ucap Bima sambil menyerahkan selembar uang kertas.
Sama-sama, Mas, silakan turun, jawab sopir itu ramah.
Bima turun dari taksi dan berdiri mendongak menatap gedung pencakar langit berlantai empat puluh itu.
Langkah kakinya membawanya masuk melalui pintu kaca otomatis yang terbuka lebar.
Wus...
Angin ber-AC langsung menyambut kedatangan Bima di lobi utama yang sangat megah.
Ia berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan letak kantor konsultan hukum tujuan nya.
Selamat sore, ada yang bisa saya bantu, Mas? tanya resepsionis berpenampilan rapi dengan senyum manis.
Saya ada janji temu dengan Kantor Konsultan Hukum Surya dan Rekan di lantai dua belas, jawab Bima sopan.
Resepsionis itu mengecek daftar tamu di komputer depannya sebentar.
Atas nama siapa, Mas? tanyanya ramah.
Bima, jawab Bima singkat.
Oh, silakan naik ke lantai dua belas, ruangannya ada di sebelah kiri lift utama, arahkan resepsionis itu tersenyum.
Terima kasih, kata Bima sambil mengangguk pelan.
Ia melangkah menuju deretan lift khusus yang membawa pengunjung naik ke atas.
Ting...
Pintu lift terbuka dan Bima langsung masuk ke dalam bersama beberapa orang pegawai kantoran berjas.
Suasana di dalam lift sangat sunyi tanpa ada yang saling berbicara.
Angka digital di atas pintu lift bergerak naik dengan cepat.
Delapan... sepuluh... dua belas!
Ding...
Pintu lift terbuka kembali di lantai dua belas.
Bima melangkah keluar dan mendapati koridor lantai yang bersih berlapis karpet tebal.
Ia berjalan membaca setiap plang nama ruangan sampai menemukan tulisan Kantor Konsultan Hukum Surya dan Rekan.
Tok, tok, tok.
Bima mengetik pintu kayu bercat hitam itu dengan sopan.
Silakan masuk, terdengar suara pria paruh baya dari dalam ruangan.
Bima mendorong pintu tersebut dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang sangat elegan.
Seorang pria paruh baya berjas rapi dengan kacamata minus duduk di balik meja kerja kayu mahoni besar.
Pria itu adalah Pengacara Surya, pemilik kantor hukum terkenal di kota ini.
Selamat sore, silakan duduk, anak muda, sambut Pengacara Surya ramah sambil menunjuk kursi di depannya.
Terima kasih, Pak Surya, jawab Bima tenang sambil mendudukkan diri di kursi empuk.
Saya dengar dari staf saya tadi, Anda ingin mendirikan badan usaha baru dengan skala cepat? tanya Pengacara Surya langsung pada intinya.
Benar, Pak, saya ingin mendirikan sebuah perusahaan investasi dan konsultan berbadan hukum PT, jawab Bima tegas.
Pengacara Surya sedikit mengangkat alisnya karena terkejut melihat usia Bima yang masih sangat muda.
Mendirikan PT butuh modal dasar dan persyaratan administratif yang tidak sedikit, apa Anda sudah siap semuanya? tanya Pengacara Surya menguji keseriusan Bima.
Bima tidak menjawab dengan banyak kata, ia hanya merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel.
Ia menunjukkan bukti saldo rekening baru yang berisi lima miliar rupiah tepat di atas meja pengacara itu.
Pengacara Surya melirik layar ponsel yang disodorkan Bima dengan mata sedikit membelalak kaget.
Angka lima miliar dengan deretan nol yang banyak terpampang nyata di sana.
Ah, saya sepertinya salah menilai Anda sejak awal, kata Pengacara Surya tersenyum lebar mengubah sikapnya menjadi sangat hormat.
Uang bukan masalah bagi saya, yang saya butuhkan adalah kecepatan, kerahasiaan total, dan legalitas yang bersih, ucap Bima dingin.
Baik, kami akan urus semuanya mulai dari akta pendirian, izin usaha, hingga penunjukan direktur bayangan jika Anda ingin identitas Anda disembunyikan, jelas Pengacara Surya profesional.
Bagus, saya ingin identitas saya sebagai pemilik utama dirahasiakan sepenuhnya dari publik, pinta Bima mutlak.
Dipahami, Tuan Bima, kami punya layanan khusus untuk pengusaha anonim seperti Anda, balas Pengacara Surya meyakinkan.
Bima mengeluarkan kartu debit dari dompetnya untuk membayar biaya jasa profesional di muka.
Silakan gesek kartunya, saya ingin semua proses selesai dalam waktu tiga hari ke depan, perintah Bima tegas.
Pengacara Surya mengangguk cepat dan mengambil mesin EDC di atas mejanya.
Bip...
Transaksi pembayaran jasa konsultan hukum berhasil dilakukan seketika. Kerja sama yang luar biasa, dokumen awal akan saya kirimkan ke email Anda besok pagi, kata Pengacara Surya puas.
Bima bangkit berdiri dari kursinya dan menjabat tangan Pengacara Surya dengan mantap.
Saya percayakan semuanya pada kantor hukum Anda, jangan kecewakan saya, pesan Bima tajam.
Tentu saja, Tuan Bima, kami profesional dalam bidang ini, jawab Pengacara Surya tersenyum ramah.
Bima memutar badan dan melangkah keluar meninggalkan ruangan kantor hukum tersebut dengan kepala tegak.
Langkah demi langkah yang ia ambil terasa semakin pasti menuju puncak balas dendamnya.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Hendra, situasinya jauh dari kata tenang.
Hendra sedang duduk di ruang kerjanya dengan wajah pucat pasi dan napas memburu.
Ia baru saja mendapat laporan dari bagian keuangan bahwa saldo perusahaan berkurang lima miliar rupiah secara tunai.
Sialan! Lima miliar tunai lenyap begitu saja dalam hitungan jam! bentak Hendra marah besar sambil melempar berkas ke lantai.
Rina yang masuk membawa secangkir teh hangat terkejut melihat suaminya mengamuk separuh frustrasi.
Ada apa lagi, Ayah? Jangan bikin aku ikut stres di rumah ini, kata Rina dengan suara cemas.
Kita baru saja kehilangan lima miliar untuk membungkam anak sialan itu, Bima! jawab Hendra dengan gigi bergemeretak.
Rina meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan tangan yang sedikit bergetar.
Maksud Ayah, uang sebanyak itu jatuh ke tangan Bima si anak buangan? tanya Rina tidak percaya.
Iya! Dan kalau ini terus berlanjut, perusahaan kita bisa bangkrut total dalam waktu sebulan ke depan! teriak Hendra frustrasi menjambak rambutnya sendiri.
Kevin yang baru pulang nongkrong masuk ke ruang kerja tanpa tahu situasi serius yang sedang terjadi.
Paan sih, Pa? Ribet banget kayak orang mau bangkrut aja, cibir Kevin santai sambil mengambil sebatang cokelat di kulkas mini.
Diam kamu, Kevin! Kamu tidak tahu apa-apa soal kesulitan kita sekarang! bentak Hendra meluapkan emosinya pada anak tirinya.
Kevin mendengus kesal dan memutar bola matanya malas mendengar bentakan ayahnya.
Paling juga nanti beres sendiri, gitu aja repot, kata Kevin acuh tak acuh lalu melenggang pergi keluar ruangan.
Hendra menatap punggung anak tirinya dengan perasaan menyesal yang sangat mendalam di dalam dada.
Ia merasa telah salah mendidik anak dan justru membuang anak kandungnya sendiri yang jauh lebih cerdas.
"Bima... sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan di luar sana?" batin Hendra mulai merasakan ketakutan yang nyata.
Malam semakin larut menyelimuti kota, membawa ketegangan baru di antara kedua belah pihak yang berseteru.