Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 "APAKAH KAU BISA MENCINTAIKU?"
Kini...
Suasana di dalam kamar sempit yang sudah belasan tahun Zaki tinggalkan itu mendadak berubah drastis.
Hawa dingin perlahan merayap, membawa serta nuansa sakral yang pekat dan mengintimidasi. Suasana yang selalu sama, yang menandakan bahwa sosok perewangan pelindungnya itu telah hadir secara fisik di dekatnya.
Zaki menoleh perlahan. Tatapannya berserobok dengan wajah cantik dan anggun memikat milik Sekar Mayang.
Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Zaki. "Iya... Aku sangat rindu. Aku sangat kangen dengan rumahku ini, Sekar Mayang," jawabnya pelan.
Mendengar itu, Sekar Mayang justru mencondongkan tubuhnya dengan gaya centil.
Ia mendekat, nyaris menempel, hingga belahan dadanya tanpa sungkan menyentuh lengan pemuda itu.
"Hihihihi... Apakah kau juga mulai merindukan wanita itu, Zakiku sayang?" goda Sekar Mayang, suaranya mengalun merdu namun penuh siratan makna.
Sontak, Zaki langsung mengerti siapa gerangan wanita yang dimaksud oleh pendamping gaibnya itu.
"Mbak Nisa maksudmu, ya?" tebak Zaki. Kini, jarak wajahnya terpaut sangat dekat dengan wajah rupawan Sekar Mayang.
"Tentuuu... Aku bisa melihat jauh ke dalam relung hatimu yang paling sepi. Sepertinya, wanita itu akan selalu memiliki tempat di sana," sahut Sekar Mayang, tangannya kini terulur, mencubit manja ujung hidung tuannya.
Zaki menepis pelan cubitan tangan Sekar Mayang.
Ia bangkit berdiri, mengambil jarak, lalu melangkah ke dekat jendela kamarnya.
Kedua matanya menerawang jauh, menatap lurus barisan pepohonan dan tanaman liar tak terurus di luar jendela yang perlahan temaram termakan sinar matahari yang bergeser ke arah barat.
"Zaki..." panggil Sekar Mayang. Sosok gaib itu masih duduk dengan posisi anggun di tepi ranjang.
"Apa?" respons Zaki terlampau singkat. Wajahnya tak bergeming, tetap menatap ke arah luar jendela.
"Hihihihi... Aku akan memberitahu suatu rahasia padamu tentang wanita itu," pancing Sekar Mayang.
Kali ini, Zaki sedikit menoleh dari bahunya, meski tak sampai membalikkan badan seutuhnya.
"Apalagi yang mau kamu beritahukan padaku, Sekar Mayang? Memangnya tak cukup bagimu menguji batinnya sejak di kereta itu?" balas Zaki tenang, namun terselip ketegasan di nada suaranya.
"Hihihihi... Aaahhh... Tuanku ini memang selalu bisa membuatku gemas!"
Sekar Mayang bangkit dari kasur.
Tubuh indahnya yang hanya dibalut kemben merah sedada dengan selendang kuning keemasan yang melingkari lengan, mulai melangkah gemulai mendekati Zaki.
Kain jarik motif batik cokelat yang membalut tubuh bagian bawahnya menjuntai panjang, menyapu debu-debu lantai yang berterbangan akibat pusaran aura gaibnya.
Kini, Sekar Mayang telah berdiri tepat di sebelah Zaki, ikut melempar pandangan ke arah luar jendela.
"Zaki..."
"Apa lagi, Sekar Mayang?"
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
Sekar Mayang memutar lehernya, menatap lekat ke pipi di samping wajah tuannya.
Sepasang pupil merah cerah menyala di dalam matanya, memancarkan pesona magis yang bisa membuat manusia mana pun bertekuk lutut.
Menyadari tatapan itu, Zaki pun membalasnya. Ia memutar tubuh, sepenuhnya berhadapan dengan sang perewangan.
"Boleh. Tanyakan saja," tantang Zaki.
"Sebelum aku beritahu sesuatu tentang wanita itu, aku ingin bertanya satu hal padamu...."
Zaki menatap wajah Sekar Mayang lebih serius, menanti kalimat apa yang akan meluncur dari bibir manis tipisnya itu.
Dan...
Sebuah pertanyaan yang sama sekali tak terduga, meluncur begitu saja.
"APAKAH KAU BISA MENCINTAIKU, ZAKI?"
Sontak, batin Zaki terguncang mendengarnya. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap indera pendengarannya.
"Hah?! Apa?! Kamu tanya apa barusan?!"
"APAKAH KAU BISA MENCINTAIKU?"
"Haaah?! Aku nggak salah dengar, Sekar Mayang?!"
"Tidak...."
Kini, Sekar Mayang menatapnya dengan intensitas yang mematikan.
Energi gaib yang memancar dari sosoknya terasa berlipat ganda, menekan udara di sekitar mereka.
Akan tetapi, sebagai tuan dari perewangan tersebut, insting Zaki langsung bekerja. Ia tahu betul permainan ini. Sekar Mayang sedang memancing, mencoba menguji seberapa goyah batin tuannya.
"Huuufff... Sekar Mayang..."
"Iya?"
Alih-alih mundur, Zaki justru mengambil satu langkah maju.
Jarak di antara mereka terkikis habis.
Pemuda itu menatap tajam, menelusuri kedalaman sepasang pupil merah cerah di mata Sekar Mayang tanpa rasa takut sedikit pun.
Lalu... Tiba-tiba saja...
Dengan pusaran energi gaib dari dalam dirinya yang mendadak meledak—jauh lebih besar dan mendominasi—Zaki mengulurkan tangan.
Ia merengkuh pelan pinggang Sekar Mayang.
Merangkul pinggang sosok gaib itu dengan keluwesan dan keintiman layaknya memeluk seorang istri dari bangsa manusia.
Sekar Mayang tersentak.
Rona keterkejutan dan kegugupan seketika melukis wajah cantiknya.
Suatu reaksi yang amat mustahil bagi sesosok lelembut.
"Jika aku menjawab... aku bisa mencintaimu, lalu bagaimana?" bisik Zaki, suaranya berat dan menekan.
Pertanyaan balasan itu telak membuat Sekar Mayang semakin kelabakan.
Dan... Entah bagaimana...
Aura gaib pekat yang sedari tadi dipancarkan oleh Sekar Mayang, perlahan-lahan surut, seolah terhisap habis oleh pusaran aura superior milik Zaki.
Sepasang mata merah cerah Sekar Mayang justru semakin berpendar terang, menyala-nyala oleh gelojak emosi.
Zaki sangat paham arti kilatan mata itu.
Jika wujud Sekar Mayang sudah bereaksi sejauh ini di hadapannya, itu artinya sang perewangan sudah berada di ambang batas, nyaris dikuasai sepenuhnya oleh hawa nafsunya sebagai entitas gaib.
"Zaki... Ulangi ucapanmu!" desis Sekar Mayang dengan napas memburu, tak peduli pinggangnya masih terkurung dalam rengkuhan erat tuannya.
"JIKA AKU BISA MENCINTAIMU, BAGAIMANA?"
"Ulangi!" tuntut Sekar Mayang lebih keras.
"Perlukah aku mengulangnya sekali lagi, Sekar Mayang?"
"Iya! Ulangi!"
"Baiklah...."
Sungguh... Suasana di dalam kamar masa kecil Zaki itu kini telah berubah menjadi medan magnet yang gila. Ruangan itu disesaki oleh benturan energi gaib dan percikan hawa nafsu yang sangat berbahaya.
Niat awal Sekar Mayang yang ingin mempermainkan batin tuannya, kini berbalik menjadi bumerang yang menghantam dirinya sendiri secara telak.
Zaki perlahan menundukkan kepalanya....
Mendekatkan wajahnya...
Mengikis jarak hingga hembusan napas mereka nyaris bercampur...
Sementara rengkuhan tangannya di pinggang Sekar Mayang kian mengerat, mengunci pergerakan wanita gaib itu....
SEMAKIN MENYALA TERANG KEDUA MATA MERAH CERAH SEKAR MAYANG...
Menunggu kalimat itu meluncur...
Namun... Tiba-tiba saja...
Zaki menghentikan gerakannya, menatap tepat di mata Sekar Mayang, lalu berbisik dengan nada yang luar biasa dingin.
"AKU BISA MENCINTAI MANUSIA, TAPI TIDAK AKAN PERNAH BISA MENCINTAIMU, SEKAR MAYANG... MAAFKAN AKU, YA."
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya