"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris Keluarga Velmore
Denting gelas kristal dan dentuman musik klasik yang lembut menggema di dalam grand ballroom Hotel Ritz-Carlton Jakarta. Malam itu, jajaran elite ibu kota mulai dari politisi senior, konglomerat media, hingga para pejabat tinggi negara berkumpul untuk merayakan ulang tahun perusahaan Velmore. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kemewahan yang menyilaukan, namun di balik tawa renyah dan senyum sopan para tamu, tersimpan intrik bisnis serta rahasia kelam yang saling bertautan.
Di sudut ruangan yang tidak terlalu mencolok, Levara berdiri anggun dalam balutan gaun malam berwarna biru navy polos tanpa banyak ornamen. Rambut hitamnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah tirusnya. Sebagai seorang jurnalis investigasi independen, Levara tidak hadir di pesta ini untuk menikmati sampanye atau berbaur dengan mereka. Matanya yang tajam bagai elang menyapu seisi ruangan, memperhatikan setiap gestur, bisikan, dan interaksi para pejabat dan keluarga kaya yang hadir.
Misi Levara malam ini sangat spesifik, mencari jejak awal atas misteri hilangnya sang ayah, Edlan, 21 tahun silam. Edlan adalah seorang pengacara idealis yang lenyap tanpa jejak saat mengusut kasus pelecehan seksual besar yang melibatkan putra pengusaha berpengaruh. Petunjuk terakhir yang didapatkan Levara mengarah pada nama Velmore, keluarga konglomerat pendiri jaringan bisnis utama di negara ini.
"Kamu terlalu tegang, Levara. Kendurkan bahumu sedikit, orang-orang bisa curiga kalau kamu memata-matai mereka," bisik Arelio, kakak angkatnya yang malam itu tampil gagah dengan setelan jas hitam. Arelio berjalan mendekat sambil menyerahkan segelas jus buah kepada Levara.
Levara menerima gelas itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kerumunan. "Aku tidak bisa santai, Bang. Orang yang bertanggung jawab atas hilangnya Papa Edlan kemungkinan besar ada di dalam ruangan ini. Lihat pria paruh baya di dekat meja VIP itu? Itu Julian Velmore. Dia orang yang paling gencar menguasai saham aset keluarga pasca kecelakaan yang menimpa keponakannya."
"Arelio, Levara, jangan membuat gerakan mencolok," potong Evran, ayah sambung Arelio yang kini menjadi ayah angkat bagi Levara, yang baru saja bergabung dengan mereka. Evran menatap anak angkatnya dengan tatapan penuh kehangatan sekaligus kecemasan.
"Ingat, kita di sini hanya untuk mengamati. Jangan sampai kamu melakukan tindakan nekat yang bisa membahayakan keselamatanmu sendiri."
"Aku tahu, Pa. Aku hanya butuh akses ke dokumen lama keluarga Velmore," gumam Levara pelan.
Tiba-tiba, riak hening menyebar cepat di seluruh ballroom. Percakapan-percakapan kecil yang semula memenuhi ruangan mendadak terhenti. Perhatian ratusan pasang mata tertuju pada pintu masuk utama ballroom yang baru saja terbuka lebar.
Seorang pria menembus kerumunan dengan menggunakan kursi roda otomatis berwarna hitam legam. Pria itu adalah Dante Castillo Velmore.
Dante mengenakan setelan tuxedo kustom berwarna hitam pekat yang menjahit sempurna tubuh bagian atasnya yang tegap dan berotot. Bahunya lebar, rahangnya tegas dengan bayangan brewok tipis yang tertata rapi, serta rambut hitamnya disisir ke belakang dengan gaya slicked-back yang maskulin. Meskipun kedua kakinya tidak lagi berfungsi akibat kecelakaan tragis dua tahun lalu, aura dominasi, wibawa, dan ketegasan yang memancar dari dirinya sama sekali tidak berkurang. Tatapan matanya yang berwarna cokelat gelap menyapu ruangan dengan dingin, seolah mampu mengintimidasi siapa saja yang berani memandangnya dengan rasa kasihan.
Di belakang kursi rodanya, dua pengawal pribadi bertubuh tinggi besar berjalan dengan sigap, menjaga jarak aman dari kerumunan tamu.
"Itu Dante Castillo Velmore," bisik Arelio pelan di samping Levara. "Pemegang saham kendali Velmore Group yang baru kembali dari Swiss. Dialah pria yang memegang seluruh kunci kearsipan rahasia almarhum ayahnya, Darian Velmore."
Jantung Levara berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia menatap sosok Dante tanpa berkedip. Dalam riset investigasinya selama bertahun-tahun, nama Dante Castillo Velmore selalu muncul sebagai figur penyendiri, cerdas, dan sangat tertutup. Kecelakaan mobil yang menimpanya dua tahun lalu tidak hanya melumpuhkan kakinya, tetapi juga menewaskan ayahnya, Darian.
Saat kursi roda Dante bergerak perlahan melewati jalur utama ballroom, Julian Velmore segera melangkah maju dengan senyuman palsu yang terulas di wajahnya.
"Dante! Akhirnya kamu memutuskan untuk hadir di acara keluarga ini," ujar Julian dengan nada suara yang ditinggikan agar terdengar oleh para wartawan dan tamu VIP di sekitar mereka. "Kami semua sangat mengkhawatirkan kesehatanmu. Bagaimana terapi fisikmu di Swiss? Apakah ada kemajuan pada kakimu?"
Pertanyaan Julian terdengar seperti perhatian seorang paman, namun Levara yang mengamati dari kejauhan bisa menangkap nada penghinaan yang terselubung di dalamnya. Julian sengaja menyoroti kelumpuhan Dante di depan umum untuk menegaskan bahwa Dante tidak lagi fit untuk memimpin bisnis Velmore.
Dante menghentikan kursi rodanya. Ia menengadah sedikit, menatap pamannya dengan raut wajah yang sepenuhnya datar tanpa ekspresi. Keheningan yang mencengkeram ruangan itu terasa sangat pekat selama beberapa detik.
"Terima kasih atas perhatianmu yang berlebihan, Paman Julian," jawab Dante. Suaranya bergema halus, bernada bass yang dalam, berat, dan tenang. "Kaki saya mungkin tidak bisa lagi berjalan, tetapi pikiran dan ingatan saya masih sangat tajam untuk mengingat setiap perbuatan dan transaksi yang terjadi di perusahaan ini."
Jawaban sinis namun elegan dari Dante sukses membuat senyum di wajah Julian membeku seketika. Beberapa pengusaha di sekitar mereka berusaha menahan senyum melihat Julian yang tertembak oleh kata-katanya sendiri.
Dante tidak membuang waktu lagi. Ia menggerakkan kursi rodanya menjauhi Julian dan mengarah ke area yang lebih tenang di dekat balkon terbuka. Namun, saat melewati kerumunan, roda kursi rodanya tidak sengaja tersangkut pada selendang tipis seorang tamu, membuat pria di sampingnya secara tidak sengaja tersenggol dan menjatuhkan nampan berisi gelas-gelas minuman.
PRANG!!
"AAAA!"
Pecahan kaca dan cairan merah berhamburan tepat di lintasan kursi roda Dante. Para tamu berseru kaget, dan suasana menjadi sedikit kacau. Pengawal Dante dengan cepat mencoba mensterilkan area tersebut, namun Dante sendiri tampak menggeram pelan, mengusap lengannya yang terkena cipratan minuman.
Tanpa berpikir panjang, Levara melangkah maju melewati barisan tamu. Ia mengabaikan panggilan pelan dari Arelio dan Evran yang mencoba menghentikannya.
"Levara! Levara!" pekik Evrab, tetapi gadis itu mengabaikannya.
Levara berlutut anggun di dekat kursi roda Dante, mengambil saputangan kain bersih dari dalam tas kecilnya, lalu dengan tenang menyapu cairan yang mengenai lengan baju dan roda kursi roda pria itu.
"Permisi, Tuan Velmore," ucap Levara lembut namun mantap. Ia mendongak, membuat matanya beradu pandang secara langsung dengan manik mata gelap milik Dante dari jarak yang sangat dekat.
Dante sempat tertegun sejenak. Biasanya, orang-orang yang mendekatinya dalam situasi seperti ini akan menunjukkan raut cemas yang dibuat-buat, rasa takut, atau tatapan kasihan yang teramat sangat membencikan baginya. Namun, pada mata wanita di depannya ini, Dante tidak menemukan satu pun dari hal-hal tersebut. Yang ada di mata Levara hanyalah keberanian, ketenangan, dan sebuah dorongan tersembunyi yang sangat kuat.
"Kamu ...," suara Dante tertahan di tenggorokan. Matanya memicing, menilai wanita asing yang berani menyentuh lingkup personalnya tanpa izin. "Siapa kamu?"
Levara menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti, tetap mempertahankan posisi berlututnya sembari merapikan saputangan di tangannya.
"Nama saya Levara, Tuan Dante," jawab Levara pelan, cukup hanya untuk didengar oleh mereka berdua di tengah kebisingan ballroom. "Saya adalah putri dari Edlan ... pria yang berkas rahasianya disimpan dengan sangat rapat oleh mendiang ayah Anda."
Mendengar nama 'Edlan' diucapkan dari bibir Levara, pupil mata Dante seketika membesar. Kilatan terkejut memancar jelas di balik tatapan dinginnya. Pria itu mencengkeram pegangan tangan kursi rodanya dengan erat, menyadari bahwa wanita yang berdiri di hadapannya ini bukanlah sekadar tamu biasa, melainkan kunci dari takdir gelap yang selama ini mengikat keluarga mereka berdua.
"Edlan?"
___________________________
Maaaap, mau pagi tapi ada urusan jenguk temen yang sakit, baru kesampean ngedit bab huhu🤧
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YAH KAWAN😍
malemgara2 mikirin leva😭😭