NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: Permintaan Maaf Hendra

Siang harinya, kami mengadakan rapat bersama Jeje dan yang lain karena Damar akan berangkat ke Singapore untuk keperluan bisnis, tentu saja ditemani Sully.

Seperti biasa, Jefry mengambil alih komando sebagai leader yang mendikte banyak hal. Jeje hanya bisa mengikutinya karena Damar dan Sully sudah terhipnotis dengan gagasan yang diucap oleh Jefry.

Waktu berlalu dengan cepat.

Kami juga memutuskan untuk tidak pulang larut hari ini. Selepas maghrib, kami sudah bersiap untuk kembali ke apartemen.

Setibanya di dalam apartemen, Hendra langsung duduk di sofa, tubuhnya condong ke depan, kedua tangan tergeletak di atas paha. Matanya kosong, seperti melihat sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri.

“Bang,” panggilku pelan. “Lo aman aja kan?”

Ia tidak langsung menjawab. Baru saja aku ingin melaporkannya ke Jefry, butuh beberapa detik sebelum bibirnya bergerak.

“Gas, lo yang paling sering mikirin, ngapain kita ke sini, kan?” tanyanya pelan, hampir berbisik.

Alisku mengernyit. “Maksud lo gimana, Bang?”

Kepalanya menggeleng pelan. “Sorry ya, Gas. Gua sebelumnya nggak belain lo soal tujuan kita kesini. Gua sekarang sadar, gua salah.”

Walaupun aku paham arah pembicaraan ini, tapi karena Jefry masih ada di dalam kamar, aku tidak mau ia mendengar percakapanku dengan Hendra yang mungkin akan menyinggungnya.

“Udahlah, nggak usah dipikirin dulu yang itu, Bang. Kita fokus aja, plan udah berubah, ya kita jalani sebisanya,” ucapku.

Tapi di sini aku masih merasa bingung karena tidak mengira kalau Hendra akan berubah secepat ini. Padahal sebelumnya, ia sangat mendukung Jefry untuk mengambil hati Damar dan Sully.

Aku menyalakan televisi, sedangkan Hendra berdiri, lalu masuk ke dalam kamar.

Hanya beberapa detik setelah Hendra masuk, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mandi.

Itu Hendra!

Terus yang tadi masuk ke dalam kamar siapa?

“Bang? Lo dari tadi di kamar mandi?” tanyaku heran.

“Iya, kebelet gua, boker,” jawab Hendra santai.

Aku langsung menceritakan apa yang barusan terjadi. Dari wajahnya, Hendra seperti tidak percaya.

Kami pun membuka pintu kamar. Benar saja, tidak ada siapapun disana.

“Yang tadi ngobrol sama gua, siapa dong, Bang?” tanyaku pelan.

Hendra hanya mengangkat bahunya, lalu menggelengkan kepala.

“Duh, gua juga jadi takut nih di kamar. Tadi dia masuk kesini?” ujar Hendra.

Aku menganggukkan kepala lalu berjalan ke arah sofa, menjatuhkan badanku terduduk.

“Apa jangan-jangan lo salah liat?” tanya Hendra, berusaha tetap rasional.

“Nggak mungkin bang, gua ngobrol panjang sama dia,” kataku.

Tak ingin berlarut, aku berdiri lagi, menengok kondisi dari Shinta.

Di kamar, Shinta terbaring. Wajahnya putih pucat,  bibir nyaris tak berwarna. Keringat dingin samar terlihat dari pelipisnya, membasahi akar rambut yang kini tak tertutupi oleh hijab.

“Belum mendingan dia, Bang?” ujarku pelan tidak ingin membangunkan Shinta yang sedang memejamkan mata.

Jefry hanya menggeleng.

Tangan Jefry bergetar saat menyeka keringat Shinta dengan tisu. Untuk pertama kali, aku melihat ketakutan yang nyata di matanya. Tidak seperti gaya sok tenang yang biasa ia tampilkan. Bukan pula sikap pura-pura berani yang selalu menjadi andalan.

Ketakutan sesungguhnya.

“Lo yakin, masih mau bertahan, Bang,” kataku. “Harusnya kita bawa dia ke rumah sakit, terus pindah dari sini.”

“Jangan dulu, Gas. Tanggung, udah terlanjur begini, sayang kalo kita nyerah. Nanti lo mulai siap-siap buat nulis ya. Kita udah punya beberapa bahan buat dijadiin premis awal.”

“Oke bang,” ujarku.

Shinta membuka mata sebentar, ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak sanggup. Seperti ada yang menahan bibirnya.

Tak ingin mengganggu Shinta beristirahat, aku kembali ke ruang tengah menghampiri Hendra.

Rupanya di sofa, Hendra sedang tertidur.

Jam tiga dini hari datang lagi. Selalu jam itu. Seperti ada alarm tak kasat mata yang sengaja membangunkanku, padahal tak seorang pun pernah menyetelnya.

Aku berusaha untuk tetap tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh hingga kepala. Tiba-tiba aku teringat Hendra yang tidur di sofa, apakah dia baik-baik saja di situ?

Kali ini aku merasa agak berbeda karena tidak ada suara langkah kaki atau suara aneh lainnya.

Tapi kemudian, aku mendengar seperti ada yang memegang gagang pintu kamarku lalu membuka perlahan. Posisi sekarang aku tidur membelakanginya.

“Kreeek”

Sontak saja aku membuka selimut, aku mempersiapkan mental lalu menoleh ke belakang.

Ternyata itu Hendra.

“Gas? Tega lo nggak bangunin gua,” keluhnya.

“Oh, iya bang, gua nggak berani bangunin tadi, lo tidurnya pules banget,” ujarku membela diri.

Aku bangkit, duduk karena Hendra masih berdiri di pintu. Rupanya ia minta ditemani untuk masak mie goreng karena lapar.

Tak mungkin menolak, aku pun berdiri menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil menyalakan televisi sedangkan Hendra menuju dapur, mengisi air di panci kecil lalu menyalakan kompor.

Selang beberapa menit, aku mendengar suara gemuruh air mendidih di panci tersebut. Kemudian merasa kalau Hendra terlalu lama hanya untuk masak mie goreng.

Ditambah dengan aroma gosong yang tercium.

Aku memanggil Hendra yang berdiri di belakangku. Posisi dapur hanya terpaut sekitar sepuluh meter dari tempat aku nonton televisi.

“Bang? Belum kelar?”

Hendra hanya berdiri diam, tidak merespon ucapanku.

Merasa penasaran, aku berjalan mendekati Hendra. Di situ aku melihat kalau Hendra seperti berbicara sendiri, bisik-bisik, ucapannya tidak begitu jelas.

Aku menyenggol lengannya, “Bang?”

Ia tidak merespons, tapi seketika itu juga, ia menghentikan ucapannya. Diam sambil mata yang perlahan menoleh, matanya melirik tajam ke arahku.

Tanpa peringatan, Hendra mengambil pisau yang terletak di dekat kompor lalu hendak menusukku.

“Bang..?!” teriakku kaget.

Bersamaan dengan pisau yang menusuk dada, aku pun terbangun dari tidur. Rupanya itu hanya mimpi buruk. Dengan cepat aku mengambil handphone, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Waktu yang sama.

Sesaat setelah terbangun, aku langsung teringat Hendra yang sepertinya masih tidur di sofa.

Aku membuka pintu, perlahan, bukan karena takut tapi tidak ingin membangunkan Hendra. Benar saja, Hendra masih tidur.

Pintu kembali kututup, memutuskan untuk tidur kembali. Tapi perasaan masih belum bisa tenang karena terbayang mimpi buruk barusan.

Rasa takut menghadapi kematian.

Hari berikutnya, aku bangun dengan perasaan yang ganjil. Bukan sekadar takut. Rasa seperti ada sesuatu akan terus mengikuti kami, rentetan ketegangan tidak berujung.

Pagi itu seperti biasa aku langsung mengambil handuk untuk mandi, bersiap pergi ke restoran Waroeng Kayoe.

Namun tiba-tiba Jefry yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi menghentikanku.

“Gas, jangan mandi dulu, kita obrolin tulisan.”

Aku merasa heran karena bukankah harusnya kami pergi ke restoran. “Nggak berangkat, Bang?” tanyaku.

“Nanti aja itu, gampang, bapak sama ibu nggak ada, santai aja kita,” katanya.

Dari sini aku mulai memikirkan kembali tentang apa yang sering diucapkan oleh Delia. “Jefry bukan orang baik.”

Setelah aku mengembalikan handuk ke gantungan, aku duduk di sofa sambil mengeluarkan laptop.

“Ini serius kita mulai nulisnya sekarang, Bang? Di sini?”.

Tentu saja aku mempertimbangkan karena akan menulis cerita horor di tempat yang sedang aku tulis.

“Kenapa? Lo takut?” sindir Jefry sambil tertawa kecil.

“Bukannya gitu bang, cuma kan ya jaga-jaga aja. Ya udah, kita mau mulai darimana?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Shinta keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar.

Aku, Jefry dan Hendra sedang duduk di ruang tengah, berdiskusi tentang penulisan cerita horor di apartemen ini.

“Udah mendingan, Dek?” tanya Jefry.

Shinta hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Kami pun melanjutkan diskusi penulisan cerita.

“Eh tapi udah jam segini, kita nggak ke resto?” ujarku.

Dengan nada meremehkan, Jefry menyindir restoran Waroeng Kayoe.

“Nanti aja lah, santai dulu. Restoran nggak jelas juga, lama-lama kesel gua. Kita kayak orang bego di sana.”

Aku menjadi sangat heran dengan ucapan Jefry karena selama ini siapa yang paling semangat untuk mengurusi restoran?

“Maksud gua tuh, Si Damar bisa mikir nggak sih, ngapain buka restoran tradisional gitu. Udah ketinggalan jaman banget. Bukannya bikin kafe kek, yang elit kekinian,” lanjut Jefry dengan lebih menggebu.

Dalam hatiku seraya berkata, sepertinya beginilah sifat asli Jefry yang bermuka dua. Lagi-lagi apa yang diucapkan Delia mulai masuk akal.

Siang harinya, tepat jam makan siang, kami bersiap untuk berangkat.

Di lorong apartemen, langkah kami bergema.

“Tak, tak, tak”

Dan setiap bunyi berhenti, ada satu langkah lain terdengar sedikit terlambat. Seakan ada yang menirukan.

Aku menoleh.

Kosong.

Hendra yang berjalan di depanku menoleh setengah malas. “Kenapa lo, Gas?”

“Kayak ada orang jalan di belakang gua,” kataku, mencoba tertawa padahal was-was.

“Ya udah jangan dipikirin.” Tapi suaranya sendiri terdengar tidak yakin.

Kami berdiri menunggu lift. Layar kecil di atas pintu menunjukkan angka naik perlahan.

“5, 6, 7, 8, ding”

Aku berbisik ke Shinta, “Mudah-mudahan kali ini nggak ada apa-apa ya.”

Shinta melirik, “Iya.”

Namun bukan seperti biasanya, lift berhenti di lantai dua. Kami sudah saling lirik, menunggu, siapa yang akan muncul dari balik pintu lift.

“Hahaha, iya teh, parah eui, aku juga nggak nyangka pisan,” kata seorang wanita muda, bertato, rambut dicatok dengan pakaian yang serba minim.

Ia berbicara dengan temannya yang berpenampilan serupa. Mereka melihat kami sebentar, tapi kemudian acuh, fokus pada topik mereka sendiri.

Di dalam lift, aku melirik ke arah mereka sesekali. Melihat dari atas sampai bawah. Bukan ingin berburuk sangka, tapi sepertinya mereka wanita open BO.

“Sikat, Gas,” canda Jefry berbisik karena melihat aku terus memperhatikan kedua wanita itu.

Aku hanya menanggapinya dengan santai, “Apaan sih, Bang?”

Tak butuh waktu lama, lift terbuka di lantai satu. Mereka keluar dengan cepat, berjalan mendahului kami.

Begitu kami keluar, suasana yang belum pernah kami temui sebelumnya. Ada beberapa penghuni berada di lobi. Begitu juga dengan satpam yang pernah aku temui ketika pertama kali datang ke apartemen ini.

Ia sedang berdiri di meja resepsionis. Menatap kami dengan sinis.

Aku berusaha ramah, menyapanya, tapi juga tidak mendapat respon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!