Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Pendeteksi tingkat surgawi!
Cahaya bulan sabit memantul pucat di atas permukaan Kolam Teratai, menciptakan bayangan keperakan yang menari-nari di wajah Shen Yuan. Pemuda itu duduk mematung di tepi jembatan kayu, matanya tak berkedip menatap langit malam yang kelam.
Beberapa hari lagi, bulan purnama akan mencapai puncaknya. Festival Pasang Laut di Selat Pantai Naga akan segera dimulai, sebuah perayaan besar yang selalu dinanti-nantikan oleh para kultivator muda. Namun, bayangan kemeriahan itu sama sekali tidak mampir di kepala Yuan. Hatinya kosong. Setengah jiwanya seakan ikut direnggut oleh Iblis Serigala malam itu.
"Rui..." bisik Yuan pelan, suaranya nyaris tertiup angin. "Jika kau ada di sini, kau pasti sudah merengek bertanya kenapa bulan sabit itu bentuknya mirip potongan melon sisa. Kau pasti akan mengoceh tentang bintang... dan aku akan menyuruhmu tutup mulut."
Yuan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Dasar anak bodoh. Kenapa kau harus sok pahlawan? Aku merindukan ocehanmu yang menyebalkan itu, Rui..."
"Kalau kau merindukannya, kenapa kau hanya duduk di sini meratapi nasib seperti kakek-kakek yang kehilangan gigi palsunya?"
Yuan tersentak. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Lin Yue sudah berdiri di ujung jembatan, diapit oleh Mei Lin, Su Yin, Jia Li, dan gadis-gadis Asrama Selatan lainnya. Mereka tidak memakai jubah tidur, melainkan jubah ringkas untuk bepergian.
"Lin Yue? Sedang apa kalian di sini selarut ini?" tanya Yuan, buru-buru mengusap matanya.
Lin Yue berkacak pinggang, menatap Yuan dengan raut wajah sangat serius. "Kak Yuan, kita tidak bisa berdiam diri terus di sekte ini! Jenderal Lei dan Pasukan Emasnya terlalu kaku, mereka menyisir hutan seperti siput karena terikat prosedur militer. Kalau kita menunggu mereka, Yui mungkin sudah berubah menjadi tulang belulang pembersih gigi siluman!"
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" Yuan membalas, nada suaranya dipenuhi rasa frustrasi. "Tetua Pertama dan Guru Wu telah melarang keras siapa pun keluar dari gerbang sekte! Formasi Pelindung sudah diaktifkan!"
"Sejak kapan seorang Shen Yuan menjadi sangat penakut dan patuh pada aturan?!" potong Su Yin tajam, melangkah maju. "Yui adalah adik kembaranmu, Kak Yuan! Kalian berbagi rahim yang sama! Jika dia terluka, kau pasti merasakannya. Apakah kau rela kehilangan dia selamanya hanya karena takut dihukum Tetua?!"
"Bukan begitu!" Yuan berdiri, matanya memancarkan rasa putus asa. "Kalian tidak mengerti seberapa kuat Iblis Serigala itu! Aku hanya tidak ingin kalian ikut mati konyol jika kita mencarinya!"
"Kami tidak takut!" seru Jia Li mantap, menggenggam gagang pedang kayunya. "Yui mungkin usil, sombong, dan suka mencuri makanan kami. Tapi dia selalu membuat kami tertawa. Kami akan membawanya pulang, bersamamu!"
Lin Yue melangkah mendekati Yuan, menatap lurus ke dalam mata pemuda itu. "Kak Yuan, seorang kakak tidak akan bisa hidup dengan tenang tanpa adiknya. Apalagi kalian kembar. Kita cari dia sekarang. Aku tahu jalan pintas untuk melacak jejak kabut iblis itu. Kita bergerak besok malam."
Yuan menatap wajah-wajah penuh tekad dari gadis-gadis di depannya. Tembok es di hatinya akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia mengangguk pelan, rahangnya mengeras penuh determinasi. "Baik. Besok malam, saat ayam belum berkokok, kita tembus gerbang utama."
Di balik semak-semak tak jauh dari jembatan, tiga pasang mata mengintip dengan senyum yang luar biasa licik. Wang Jian menahan tawanya dengan menutupi mulutnya, sementara Li Mo dan Zhao Qi saling menyikut.
"Kalian dengar itu?" bisik Wang Jian girang. "Si idiot kaku itu berencana kabur dari sekte besok malam bersama para gadis! Ini pelanggaran berat!"
"Apa kita lapor Tetua Pertama sekarang, Kak Wang?" bisik Zhao Qi tak sabar.
"Jangan bodoh!" seringai Wang Jian melebar. "Kalau kita lapor sekarang, mereka hanya akan dikunci di kamar. Kita cegat mereka besok malam di gerbang. Kita permalukan mereka, lalu kita biarkan mereka mencoba menembus formasi pelindung sekte yang mustahil itu. Setelah mereka terkena segel pantulan, baru kita panggil Tetua! Mereka pasti akan langsung ditendang dari perguruan ini!"
Malam berikutnya, kabut tebal menyelimuti lereng Gunung Cang Yue. Shen Yuan, Lin Yue, dan ketujuh gadis Asrama Selatan mengendap-endap menyusuri jalan setapak menuju Gerbang Utama. Masing-masing membawa buntalan bekal dan senjata spiritual mereka.
Namun, langkah mereka terhenti tiba-tiba. Di tengah gerbang batu raksasa yang tertutup pendar cahaya biru transparan, tiga bayangan sudah berdiri menunggu dengan tangan terlipat di dada.
"Berhenti di sana, para pengkhianat!" seru Wang Jian dengan suara angkuh, melangkah maju di bawah cahaya obor. "Mau ke mana kalian malam-malam begini? Membawa buntalan pakaian? Wah, wah, apakah Tuan Muda Yuan yang agung dan suci ini berencana melarikan diri dari perguruan?!"
Yuan menghentikan langkahnya. Matanya menyorot dingin setajam pedang. "Menyingkir dari jalanku, Wang Jian. Aku tidak punya waktu untuk meladeni badut sepertimu malam ini."
"Oh, kau mengancamku?" Wang Jian tertawa meremehkan, melirik ke arah kubah biru di belakangnya. "Majulah kalau kau berani! Kau pikir kau bisa keluar dari sini, Shen Yuan?! Asal kau tahu, sejak Jenderal Lei datang, Formasi Pelindung Kubah Kura-kura Besi ini sudah dikunci dengan darah kekaisaran!"
Li Mo ikut tertawa mengejek, menunjuk-nunjuk wajah Yuan. "Benar! Kau tidak tahu, kan? Formasi ini menggunakan sihir pendeteksi tingkat surgawi! Hanya mereka yang mengalirkan darah murni bangsawan tingkat tinggi atau anggota keluarga kekaisaran yang bisa menembusnya tanpa terluka! Jika anak desa kumuh sepertimu menyentuhnya, tubuhmu akan hangus terbakar menjadi abu!"
"Jadi, silakan saja coba, Kakak si Pangeran Es Palsu!" tantang Zhao Qi sambil tersenyum licik. "Tembuslah! Kami bertiga akan dengan senang hati mengumpulkan abumu untuk dijadikan pupuk ginseng besok pagi!"
Lin Yue mengerutkan kening, menatap penghalang biru itu dengan ragu. "Kak Yuan... apakah ucapan mereka benar? Formasi itu terlihat sangat berbahaya."
Yuan tidak menjawab. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Tentu saja ia tahu formasi itu hanya bisa dilewati oleh darah kekaisaran. Karena formasi itu sebenarnya diciptakan oleh ayahnya sendiri, Raja Shen Tianyi.
Dengan langkah tenang dan sangat berwibawa, Shen Yuan berjalan mengabaikan ketiga pemuda arogan itu. Ia melangkah lurus menuju dinding cahaya biru tersebut.
"Hahaha! Lihat! Dia benar-benar mencari mati!" sorak Wang Jian kegirangan.
Namun, alih-alih meledak dan terbakar menjadi abu, saat tubuh Yuan bersentuhan dengan kubah cahaya itu... dinding energi biru itu justru beriak lembut seperti air kolam yang disentuh angsa.
WUSSS!
Tubuh Yuan menembus formasi itu dengan sangat mulus, seolah dinding pertahanan tingkat surgawi itu hanyalah tirai sutra tipis. Ia berdiri dengan utuh di sisi luar gerbang, jubahnya berkibar ditiup angin malam.
Mulut Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi terbuka sangat lebar hingga rahang mereka nyaris lepas (😲😲😲). Mata mereka melotot seolah baru saja melihat hantu.
"B-b-bagaimana mungkin?!" jerit Wang Jian, suaranya pecah saking terkejutnya. "Dia tidak terbakar?! Apa formasi ini rusak?!"
Di sisi dalam gerbang, Lin Yue dan gadis-gadis lainnya bersorak gembira.
"Wah! Ternyata mereka cuma membual! Ayo teman-teman, kita susul Kak Yuan!" seru Lin Yue riang.
Tanpa banyak berpikir, Lin Yue melangkah maju, diikuti oleh Mei Lin, Su Yin, dan kelima gadis lainnya. Mereka berjalan beriringan menerobos kubah cahaya biru itu sambil mengobrol santai.
WUSSS! WUSSS! WUSSS!
Ketujuh gadis itu lewat dengan sangat mudah, sama sekali tidak ada ledakan, tidak ada kilatan api, dan tidak ada yang menjadi abu. Mereka semua kini berdiri dengan selamat di samping Shen Yuan di luar gerbang sekte.
Yuan sendiri sebenarnya tertegun sejenak, matanya melirik ke arah Lin Yue dan gadis-gadis itu dengan penuh kebingungan. 'Tunggu dulu... aku bisa lewat karena aku anak Raja. Tapi... kenapa mereka semua juga bisa tembus? Apakah pesona darah kekaisaranku beresonansi dan membuka celah perlindungan untuk mereka? Atau...' Yuan menelan ludah, menatap Lin Yue curiga. 'Jangan-jangan formasi perlindungan ayah memang sedang rusak karena ulah iblis kemarin?'
Namun, Yuan tak punya waktu untuk mencari tahu. Ia menatap tajam ke arah tiga pemuda yang masih mematung layaknya patung batu di dalam gerbang.
"Formasinya rusak! Pasti rusak!" teriak Li Mo histeris. Ia berlari maju bermaksud menyusul keluar untuk membuktikan ucapannya. "Aku juga pasti bisa—"
BZZZTTT! DHUARRR!
Begitu jari telunjuk Li Mo menyentuh cahaya biru itu, ledakan listrik yang luar biasa kuat langsung menyengatnya. Tubuh pemuda itu terpental ke belakang, menabrak pilar batu hingga jubahnya hangus dan rambutnya berdiri kaku seperti sapu ijuk gosong.
Wang Jian dan Zhao Qi langsung jatuh terduduk saking takutnya, wajah mereka memucat melihat Li Mo yang kini mengeluarkan asap dari mulutnya.
"S-sihirnya masih aktif!" gumam Zhao Qi gemetar. "L-lalu kenapa mereka semua bisa lewat?!"
Yuan menyeringai tipis, memberikan satu tatapan merendahkan sebelum berbalik. "Tinggallah di dalam sangkar kalian, anak-anak manis. Biar kami yang mengurus urusan di dunia luar. Ayo, Lin Yue, kita berangkat ke Hutan Kematian."
Meninggalkan Wang Jian yang menggertakkan giginya karena rasa malu dan amarah yang tak tertahankan.
"Kak Wang... apa yang harus kita lakukan?" erang Li Mo sambil merangkak kesakitan.
Wang Jian mengepalkan tangannya hingga berdarah. "Sialan! Pasti ada trik kotor yang mereka pakai! Kita tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja! Cari jalan keluar dari jalur pembuangan air di belakang dapur! Kita ikuti mereka diam-diam! Jika Shen Rui benar-benar belum mati, aku sendiri yang akan memastikan iblis itu menelan mereka berdua bulat-bulat!"
**
Like