NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:501
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KEPULANGAN SANG PENGUASA

Suara derak roda mobil mewah yang berhenti di pelataran berkerikil terdengar bagai dentang lonceng kematian di aula utama mansion Baskara. Para pelayan yang berbaris di sepanjang koridor menundukkan kepala begitu dalam, tak ada satu pun yang berani mengangkat pandangan atau sekadar menghela napas panjang.

Pintu ganda berukir megah itu terbuka lebar.

Hawa dingin yang menusuk seolah ikut menerobos masuk bersama langkah kaki seorang pria paruh baya bertubuh tegap. Pria itu mengenakan jas hitam mahal yang disetrika sempurna, dengan tongkat berukir kepala naga bertatahkan batu mulia di tangan kanannya. Rambut peraknya disisir rapi ke belakang, dan matanya—mata yang sama persis dengan milik Arsen—memancarkan kekejaman dingin yang sanggup meremukkan mental siapa pun yang menatapnya.

Baskara. Penguasa sejati klan Baskara telah kembali.

Genggaman jemari Arsen di tangan Clara mendadak makin mengetat, begitu kuat hingga pergelangan tangan Clara terasa sedikit ngilu. Clara menyadari bahu Arsen menegang kaku di sisinya, memancarkan naluri perlawanan yang pekat.

Baskara menghentikan langkahnya di tengah aula. Pandangannya yang tajam dan tak bersahabat menyapu jajaran pelayan, sebelum akhirnya terkunci tepat pada sosok Arsen.

"Arsen," sapa Baskara dengan suara berat dan bergema, sarat akan dominasi mutlak. "Lama tidak bertemu. Kau makin mirip dengan pria yang mengendalikan rumah ini."

"Aku memang pemilik tempat ini saat Ayah tidak ada," balas Arsen dingin tanpa sedikit pun rasa takut, melangkah satu senti ke depan untuk menutupi sebagian tubuh Clara.

Sudut bibir Baskara terangkat tipis—sebuah senyuman tanpa kehangatan yang justru membuat bulu kuduk Clara berdiri merinding. Namun, pandangan Baskara tidak bertahan lama pada Arsen. Mata tuanya yang jeli langsung menangkap pergelangan tangan Arsen yang sedang mencengkeram erat jemari seorang gadis pucat di sebelahnya.

Tatapan Baskara berpindah penuh. Manik matanya meneliti Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Seketika itu juga, raut wajah Baskara berubah ganjil. Pupil matanya melebar tipis, dan garis-garis di wajah tegasnya mengeras seketika saat matanya tertuju pada bentuk rahang, mata cokelat yang jernih, serta proporsi wajah Clara. Suasana di aula mendadak makin mencekam. Ada kilatan keterkejutan dan amarah yang merayap cepat di balik mata pria tua itu—sebuah kilatan pencerahan yang amat berbahaya.

"Siapa gadis ini?" tanya Baskara pelan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti ancaman mematikan.

Clara menahan napasnya, tubuhnya gemetar hebat di balik seragam sekolahnya. Aura penindas yang dipancarkan Baskara ratusan kali lebih berat daripada tekanan yang biasa ia rasakan dari Arsen.

"Dia asisten pribadiku," jawab Arsen cepat, suaranya tajam melintasi udara dingin aula. "Urusanku. Bukan urusan Ayah."

Baskara tertawa terkekeh—sebuah tawa dingin yang terdengar menusuk telinga. Ia melangkah mendekat, tongkat kayunya mengetuk lantai marmer dengan suara tak... tak... tak... yang teratur. Baskara berhenti tepat dua langkah di hadapan mereka, menatap Clara dengan pandangan menelisik yang seolah sanggup menguliti rahasia ter dalam hidup gadis itu.

"Asisten pribadi?" bisik Baskara sinis. "Sejak kapan seorang anak laki-laki Baskara membiarkan seorang pelayan rendahan memegang tangannya di aula utama? Wajahnya... mengingatkanku pada sampah masa lalu yang seharusnya sudah membusuk di tanah."

Dada Clara berdegup kencang, firasat buruk langsung menghujat pikirannya. Sampah masa lalu? Apa maksud pria ini?

"Jaga mulut Ayah," potong Arsen murka. Langkah Arsen makin maju, menutupi Clara sepenuhnya dari jarak pandang Baskara. "Jangan berani-berani menyentuh atau mencampuri apa pun yang ada di bawah kendaliku di mansion ini."

Baskara menatap putra tunggalnya dengan tatapan meremehkan. Pandangannya berganti antara Arsen dan Clara, sebelum akhirnya ia tersenyum penuh arti—sebuah senyuman yang menyembunyikan rencana kelam untuk menghancurkan apa pun yang dicintai atau dilindungi oleh Arsen.

"Kita lihat saja berapa lama kamu bisa melindunginya, Arsen," gumam Baskara rendah. Pria tua itu membalikkan badan, melangkah menuju tangga utama. "Bawa berkas keuangan rumah tangga ke ruang kerjaku malam ini. Dan kamu, Gadis Anemia..."

Langkah Baskara terhenti sejenak di anak tangga pertama tanpa berbalik.

"...pastikan kamu tidak berkeliaran di lantai dua jika masih ingin bernapas esok hari."

Baskara melanjutkan langkahnya menghilang di belokan lantai atas. Setelah sosok pria tua itu benar-benar menghilang, barulah ketegangan berat di aula utama perlahan mengendur. Para pelayan menghela napas lega secara diam-diam.

Clara hampir saja ambruk karena lututnya yang mendadak lemas, namun lengan tegap Arsen dengan cepat menangkap tubuh rapuhnya.

Clara menengadah, melihat rahang Arsen yang bertaut rapat dengan urat-urat leher yang menegang menahan amarah yang membakar.

"Arsen... ayahmu—"

"Jangan dengarkan dia," sela Arsen cepat, menatap Clara dengan pendar posesif dan ketakutan yang berpadu menjadi satu. Arsen merengkuh wajah pucat Clara dengan kedua tangannya, memaksa mata gadis itu menatapnya. "Aku sudah bilang, jangan pernah berada di dekatnya. Dia sudah mulai curiga, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Di balik ketegangan malam kepulangan Baskara, sebuah takdir terlarang dan rahasia darah yang terpendam belasan tahun kini resmi mengetuk pintu sangkar emas mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!