Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
“Doktel tampan!”
Sahir berlari kecil dengan wajah penuh semangat menuju Saga.
Sebelum Sahira sempat menghentikannya, Saga sudah lebih dulu berjongkok dan menangkap tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
“Hati-hati,” ujar Saga pelan.
Sahir tertawa kecil saat tubuhnya diangkat.
“Doktel datang lagi!”
Sejak turun dari mobil, sudut bibir Saga benar-benar terangkat tulus.
“Iya.”
Sementara beberapa langkah dari sana, Sahira berdiri kaku. Jantungnya terasa tidak tenang melihat kedekatan keduanya. Terlebih lagi Sahir terlihat begitu nyaman bersama Saga.
“Sahir,” panggil Sahira pelan sambil mendekat. “Turun dulu. Kamu belum minum obat.”
Wajah Sahir langsung berubah lesu.
“Ndak mau…”
“Sahir.”
Namun anak kecil itu malah memeluk leher Saga erat-erat.
“Doktel aja yang kasih obat.”
Sahira langsung menghela napas panjang.
“Nggak boleh manja,” tegurnya lembut.
“Tapi pait…”
Saga yang sejak tadi diam akhirnya berkata tenang,
“Nggak apa biar saya saja.”
Tatapan Sahira langsung beralih padanya.
“Saya bisa kasih dia obat.”
Untuk beberapa detik Sahira ragu. Namun, akhirnya ia menyerahkan sendok kecil dan botol obat yang tadi dibawanya.
“Kalau begitu … tolong.”
Saga mengangguk kecil, dia menurunkan Sahir perlahan ke lantai. Namun, baru saja kakinya menyentuh tanah, anak kecil itu langsung menggenggam jemari Saga.
“Ayo, Doktel.”
Saga sedikit mengernyit.
“Mau ke mana?”
“Ke markas Sahel!” Ucapan polos itu membuat Clara yang berdiri tak jauh dari sana terkekeh kecil.
Sementara Sahira tampak pasrah.
“Sahir…” panggilnya pelan.
Tapi anak kecil itu sudah lebih dulu menarik tangan Saga masuk ke dalam toko. Dan anehnya Saga membiarkannya. Mereka melewati deretan bunga segar yang memenuhi toko kecil itu. Aroma mawar dan lily samar memenuhi udara. Saga diam-diam memperhatikan sekeliling tempat itu.
Sangat mirip seperti yang dulu sering dibayangkan Sahira saat SMA.
“Ini!” seru Sahir semangat sambil membuka pintu ruangan kecil di belakang toko. Ruangan itu ternyata tempat bermain sederhana. Ada karpet kecil, rak buku anak-anak, beberapa mainan, dan meja mungil di sudut ruangan.
“Kalau ibu kelja, Sahel main di sini,” jelas Sahir bangga. Saga mengangguk pelan sambil memperhatikan ruangan itu. Namun, beberapa detik kemudian tatapannya berhenti pada sebuah foto yang terpajang di rak kecil.
Foto ulang tahun Sahir. Di sana ada Sahira yang tersenyum sambil memeluk Sahir kecil. Dan di samping mereka Revano. Rahang Saga perlahan mengeras, tatapannya berubah sedikit gelap. Namun, sebelum pikirannya semakin jauh, perhatian Saga teralihkan oleh sesuatu di atas meja kecil.
Beberapa potong wortel dan tomat kukus tersusun rapi di dalam wadah kecil warna biru.
Saga sedikit mengernyit.
“Kamu suka makan ini?”
Sahir mengangguk semangat.
“Suka!”
“Tomat sama wortel?”
“Iya…” jawabnya polos. “Enak.”
Saga terdiam sesaat. Sejak kecil, ia juga sangat menyukai tomat kukus dan wortel rebus. Bahkan, itu salah satu makanan favoritnya yang dulu sering dibuatkan ibunya.
“Kata ibu…” lanjut Sahir sambil mengambil satu potong wortel kecil, “kalau makan ini Sahel jadi kuat.”
Saga memperhatikan anak kecil itu lebih lama. Cara bicaranya, cara tersenyumnya. Bahkan, kebiasaan makannya entah kenapa semuanya terasa familiar. Perlahan Saga berjongkok di depan Sahir. Tatapannya menelusuri wajah kecil itu lebih dalam. Dan di situlah dadanya tiba-tiba terasa tidak tenang. Wajah Sahir sangat mirip dengan foto masa kecilnya sendiri.
Semakin diperhatikan semakin membuat jantung Saga berdetak keras. Sementara Sahir yang tidak mengerti apa-apa hanya tersenyum polos sambil memegang sendok obat di tangannya.
“Doktel kenapa lihatin Sahel telus?”
Saga tidak langsung menjawab. Kecurigaan yang sejak kemarin terus mengganggunya mulai terasa semakin nyata.
Sementara itu, di luar ruangan kecil tempat Sahir bermain, suasana toko bunga kembali terasa tenang.
Aroma bunga segar memenuhi udara. Clara berjalan perlahan di antara deretan bunga sambil sesekali memperhatikan setiap rangkaian yang tersusun rapi.
Sementara Sahira berdiri tak jauh darinya dengan sikap profesional, meski hatinya masih terasa tidak tenang karena Saga berada di dalam bersama Sahir.
“Bunganya cantik-cantik,” puji Clara sambil menyentuh lembut kelopak lily putih.
“Terima kasih,” jawab Sahira pelan.
Clara kembali melihat-lihat beberapa rangkaian bunga lain sebelum akhirnya bertanya,
“Kalau pesanan bunga dalam jumlah besar, bisa?”
Sahira sedikit terdiam.
“Untuk acara?” tanyanya hati-hati.
Clara tersenyum kecil.
“Pertunangan.”
Jantung Sahira langsung berdetak lebih keras. Namun, Clara melanjutkan dengan wajah santai tanpa menyadari perubahan ekspresi wanita di depannya.
“Aku suka bunga asli,” katanya pelan. “Apalagi aroma bunga segar. Rasanya lebih hidup.”
Sahira berusaha mempertahankan wajah tenangnya. Meski dadanya perlahan terasa sesak. Kini semuanya terasa semakin nyata. Clara tersenyum kecil sambil memainkan ujung tangkai bunga di tangannya.
“Jadi aku pikir lebih baik pesan langsung dari toko bunga.”
Sahira menggenggam jemarinya pelan di balik meja kasir, lalu mengangguk kecil.
“Saya bisa.”
Clara terlihat senang mendengarnya.
“Baguslah.”
“Saya juga punya dua karyawan yang bisa bantu kalau pesanannya banyak,” lanjut Sahira profesional.
Clara mengangguk puas.
“Kalau begitu nanti aku hubungi lagi soal konsep dan jumlah bunganya.”
“Baik.”
Hening sesaat menyelimuti mereka. Tetapi, beberapa detik kemudian, pandangan Clara tertarik pada sebuah vas bunga yang berada di atas meja kasir. Rangkaian itu terlihat berbeda dari bunga lainnya. Mawar putih dipadukan dengan beberapa tangkai tulip putih lembut.
Mata Clara langsung berbinar.
“Wah … ini cantik banget.”
Refleks Sahira menoleh ke arah bunga itu, dan seketika tatapannya sedikit berubah.
“Itu…” Clara mendekat sambil tersenyum kecil. “Aku suka yang ini.”
Sahira langsung menggeleng pelan.
“Maaf,” ucapnya lembut. “Yang itu nggak dijual.”
Clara tampak sedikit terkejut.
“Oh?”
“Itu cuma contoh rangkaian saja.” Padahal kenyataannya bunga itu bukan sekadar contoh. Melainkan rangkaian favorit Saga sejak dulu. Mawar putih dan tulip, dulu, Saga pernah berkata kalau kombinasi itu mengingatkannya pada Sahira. Dan sejak saat itu, tanpa sadar Sahira selalu membuat rangkaian bunga yang sama.
Sebagai sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia lepaskan. Clara tampak masih memperhatikan vas bunga tersebut.
“Sayang sekali,” gumamnya pelan. “Padahal cantik banget.”
Sahira tersenyum tipis samar.
Pintu ruangan kecil itu terbuka perlahan. Saga keluar sambil menggandeng tangan kecil Sahir yang sejak tadi terus bercerita tentang mainannya. Wajah bocah itu terlihat sangat ceria.
Sementara Saga tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu, meski pikirannya sebenarnya sedang kacau. Begitu melihat mereka keluar, Clara langsung menoleh. Tatapannya sempat berhenti pada tangan Sahir yang menggenggam jemari Saga begitu akrab.
“Aku heran,” ujar Clara sambil tersenyum kecil. “Kenapa kalian cepat banget dekat?”
Sahir langsung menjawab lebih dulu dengan semangat.
“Karena Doktel tampan baik!” Ucapan polos itu membuat Clara tertawa kecil.
Sementara Saga hanya menatap Sahir sekilas sebelum berkata tenang,
“Sahir pasienku tempo hari.”
Jantung Clara berdetak sedikit tak nyaman. Tatapannya perlahan beralih pada Sahira. Entah kenapa, melihat Saga bersama anak kecil itu terasa aneh baginya. Tetapi, beberapa detik kemudian Clara mengingat kembali kenyataan bahwa Sahira sudah memiliki anak dengan pria lain dan itu sedikit membuatnya lega. Tidak mungkin Saga kembali pada masa lalunya. Terlebih lagi setelah pengkhianatan yang dulu terjadi.
“Udah pilih bunga?” tanya Saga akhirnya sambil berjalan mendekat ke arah meja kasir.
Clara mengangguk kecil.
“Aku sebenarnya suka bunga yang itu,” ujarnya sambil menunjuk vas bunga di atas meja kasir. “Tapi katanya nggak dijual.”
Tatapan Saga otomatis mengikuti arah yang ditunjuk Clara. Saat melihat rangkaian bunga itu langkahnya sedikit terhenti, mawar putih dan tulip, tatapan Saga perlahan berubah.
Saga baru sadar satu hal, di seluruh toko itu tidak ada mawar putih dan tulip lain selain rangkaian yang ada di atas meja kasir. Seolah bunga itu memang sengaja dibuat khusus. Pikiran Saga langsung melayang ke masa lalu. Pada seorang gadis SMA yang pernah berkata,
"Kalau nanti aku punya toko bunga, aku bakal pajang mawar putih sama tulip di tempat paling depan."
Tangannya perlahan mengepal kecil. Sementara Sahira langsung mengalihkan pandangan, seolah tidak ingin tatapan mereka bertemu.
“Jual saja,” ucap Saga tiba-tiba.
Sahira langsung menoleh.
“Aku bisa beli berapapun harganya.”
Tatapan mereka bertemu sesaat dan seperti biasa tatapan Saga selalu mampu membuat jantung Sahira berantakan. Namun, wanita itu tetap memaksa dirinya tenang.
“Saya tidak menjualnya,” jawab Sahira lembut namun tegas.
Saga tidak mengalihkan pandangan.
“Kenapa?”
“Kalau Anda mau,” lanjut Sahira profesional, “Anda bisa cari di toko lain. Mungkin tersedia.”
Suasana mendadak terasa sedikit canggung. Clara yang menyadarinya buru-buru tersenyum dan mencoba mengalihkan keadaan.
“Kalau begitu nggak apa-apa,” ujarnya ringan. “Aku ambil mawar merah sama lavender aja.” Lalu Clara menoleh pada Saga sambil tersenyum kecil.
“Kata Aunty Tatih, kamu suka lavender, ya?”
Saga terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya mengangguk tipis.
“Iya.”
Namun, tanpa sadar, tatapannya kembali jatuh pada vas mawar putih dan tulip di atas meja kasir. Karena hanya dia yang tahu dulu, bunga lavender memang favoritnya. Tapi mawar putih dan tulip adalah favorit mereka berdua.
“Rani,” panggil Sahira pelan sambil memaksakan senyum profesional. “Tolong rangkai mawar merah dan lavender untuk Nona Clara.”
“Baik, Mbak.”
Rani segera bergerak mengambil bunga pesanan.
Sementara suasana di antara Saga dan Sahira kembali dipenuhi keheningan yang aneh, dan di tengah keheningan itu tak satu pun dari mereka menyadari bahwa Sahir sedang memperhatikan keduanya dengan mata kecil penuh rasa penasaran.
'Ibu menyukai doktel tampan?' batin Sahir yang terus memperhatikan pandangan Sahira dan Saga.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.