Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarung Kusam dan Menyan Warung
Langkah Mamat setengah berlari menyusuri gang-gang sempit Kampung Kalisari. Matahari pagi makin meninggi, memancarkan hawa panas yang mulai membakar kulit pundaknya yang kusam. Di pikiran Mamat saat ini hanya ada satu hal: bagaimana caranya mengamankan Si Jalak—ayam jago aduan milik Pak RT Sugino—sebelum burung malang itu berakhir di dalam kuali bersantan di pos ronda.
Mamat menyelinap ke area pekarangan belakang pos ronda. Di sana, di bawah pohon mangga yang rindang, tampak Darto sedang duduk bersandar pada dipan kayu. Di sampingnya tergeletak sebuah kurungan bambu kusam yang ditutupi karung goni. Dari dalam karung, terdengar suara kluk-kluk dan kepakan sayap gelisah.
"Darto!" panggil Mamat setengah berbisik sambil celingukan kanan-kiri.
Darto meloncat kaget, hampir saja menjatuhkan gelas plastik berisi es teh di tangannya. Matanya membelalak menatap Mamat yang datang dengan penampilan compang-camping: wajah berlepotan tanah kering, sarung hitam terikat melilit dada, dan keris besi bengkok terselip di pinggang.
"Astaga, Mat! Kamu ini kesurupan hantu mana lagi pagi-pagi begini?!" umpat Darto sambil mengelus dadanya. "Semalam baru saja disemprot Pak Harjo di pos ronda, sekarang malah makin mirip setan kebun!"
Mamat tak peduli dengan ledekan kawan karibnya itu. Dia melangkah cepat, mendekati kurungan bambu lalu menyibak sedikit karung goni. Benar saja, di dalamnya ada Si Jalak, ayam jago aduan Pak RT yang bertubuh kekar dengan bulu hitam berkilat.
"To, ayam ini belum kamu potong, kan?" tanya Mamat panik.
"Belum. Si Bowo baru mau beli bumbu gulai dan arang ke pasar. Kenapa toh? Kamu mau ikut makan?" Darto menyipitkan mata curiga.
Mamat menarik napas lega. Dia menepuk bahu Darto dengan gaya sok misterius. "Jangan dipotong, To! Ini ayam bukan sembarang ayam. Ini ayam membawa rezeki!"
Darto menaikkan sebelah alisnya. "Rezeki mata gundulmu! Ini ayam kalau Pak RT tahu kita yang mengambil, kita bisa disuruh bersihkan selokan se-RT selama sebulan!"
"Dengar dulu, goblok!" bisik Mamat merapatkan wajahnya. "Pak RT tadi pagi ketemu aku di pinggir kali. Dia pusing setengah mati cari Si Jalak. Terus, dengan kecerdasan otakku yang tiada tanding, aku berhasil membodohi Pak RT. Aku bilang Si Jalak ditarik kekuatan ghaib ke alam sebelah!"
Darto melongo. "Hah? Pak RT percaya?!"
"Percaya seratus persen! Nanti sore dia mau datang ke rumahku membawa uang sajen dua ratus ribu rupiah buat nebus ini ayam lewat ritual ghaib," lanjut Mamat penuh kemenangan. "Sekarang, tak kasih kamu lima puluh ribu rupiah dari uang itu. Tapi syaratnya, kamu harus bawa Si Jalak ini ke belakang rumahku sekarang juga lewat jalan setapak bawah! Jangan sampai ada warga yang melihat!"
Darto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ditatapnya Mamat dengan kombinasi rasa heran dan takjub. "Gila kamu, Mat... Kamu betul-betul mau jadi dukun gadungan?"
"Bukan gadungan, To! Ini namanya usaha kreatif!" Mamat memutar batu akik merah besarnya di jari. "Dua puluh ribu lagi tak kasihkan Bowo biar dia diam. Jadi kamu sama Bowo dapat bagian, aku dapat sisanya, dan Pak RT dapat ayamnya lagi. Semua senang, tidak ada yang dirugikan!"
Darto diam sejenak, menimbang-nimbang antara resiko digebuki warga dan godaan uang lima puluh ribu tanpa perlu repot menyembelih ayam. Akhirnya, cengir konyol terkembang di wajah Darto.
"Jancuk kamu, Mat. Otak penipumu memang encer kalau terdesak," gelak Darto sambil mengangkat kurungan bambu itu. "Oke, tak antar ayam ini lewat kebun pisang belakang. Tapi ingat, kalau ketahuan, aku ngaku cuma disuruh kamu!"
"Aman! Percayakan sama Ki Mamat Sastrogati!" Mamat menepuk dadanya bangga.
Setelah memastikan Darto bergerak membawa Si Jalak lewat jalan belakang, Mamat melangkah mantap menuju warung Klontong Bu Siami di ujung gang. Dia butuh memperkuat impresi dan atribut paranormalnya sebelum sore tiba.
Warung Bu Siami pagi itu sepi. Hanya ada Bu Siami yang sedang memotong sayur buncis di balik meja kayu.
"Bu Siami, beli menyan ada?" tanya Mamat dengan nada suara yang diperberat.
Bu Siami mendongak, matanya membelalak melihat penampilan Mamat. "Lho, Mamat? Menyan? Mau buat apa kamu? Mau melet janda lagi?"
"Hus! Jangan sembarangan kalau bicara, Bu," potong Mamat cepat sambil mengetukkan keris bengkoknya ke meja kayu. Klak! "Saya ini sedang mendapat amanah ghaib. Panggil saya Ki Mamat mulai sekarang."
Bu Siami menatap keris bengkok Mamat dengan dahi berkerut. "Ki Mamat? Keris kok patah begitu diselipkan di pinggang? Kamu ndak edan toh, Mat?"
"Ini bukan patah, Bu Siami. Ini Keris Pusaka Brajamukti Bengkok Jiwa," sahut Mamat dingin. "Ada menyan tidak? Sama kapur barus dua bungkus dan minyak wangi melati yang paling murah."
"Menyan ndak ada, Mat. Adanya obat nyamuk bakar sama dupa cina sisa Imlek kemarin," jawab Bu Siami polos.
Mamat memutar otak. Dupa cina bercampur obat nyamuk bakar? Boleh juga. Asalnya berasap tebal dan bikin pusing, itu sudah lebih dari cukup untuk menciptakan atmosfer "dunia lain" di kamar belakangnya.
"Ya sudah, dupa cina itu dua bungkus, obat nyamuk bakar satu kotak, sama minyak melati botol kecil satu," kata Mamat merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sisa uang lima ribuan lusuh—uang terakhir di dompetnya. "Ini sisanya tak utang dulu ya, Bu. Nanti sore tak pelunasi pas pasien pertama saya datang."
Bu Siami menggeleng-gelengkan kepala heran sambil membungkus barang-barang pesanan Mamat ke dalam kantong plastik hitam. "Iya, iya... Awas kamu kalau bohong ya, Mat. Tak adukan ke pamanmu nanti!"
Dengan memegang kantong plastik hitam berisi "alat ritual" barunya, Mamat bergegas kembali ke rumahnya.
Rumah tua peninggalan orang tuanya itu berarsitektur limasan kayu dengan dinding papan yang di beberapa bagian sudah melengkung. Mamat langsung menuju kamar belakang—sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang minim ventilasi dan berbau apak.
"Saatnya renovasi sanggar spiritual Ki Mamat Sastrogati," bisik Mamat pada dirinya sendiri.
Mamat mulai bekerja secepat kilat. Baju-baju kotor dan majalah dewasa yang berserakan di kasur digusurnya dan disembunyikan di bawah kolong tempat tidur. Kasur kapuk tua ditariknya ke sudut ruangan, digantikan dengan sebuah tikar pandan kusam yang tergelar di tengah lantai semen yang retak-retak.
Di salah satu sudut tikar, Mamat menata piring seng tua tempat menaruh barang-barang absurdnya:
Wadah kuningan milik kakeknya yang diisi pecahan dupa cina dan potongan obat nyamuk bakar.
Botol kaca berisi air mentah dari sumur belakang yang dicampur beberapa tetes minyak melati murah.
Keris Bengkok Brajamukti yang diletakkan melintang di atas kain sarung hitam kusam.
Tidak lupa, Mamat mengambil sebaskom air dari dapur, lalu meraciknya dengan segenggam garam dapur dan sisa kembang mawar layu yang dipetiknya dari pekarangan tetangga. Ini akan menjadi "Air Doa Penyucian Jiwa" untuk Pak RT nanti sore.
Mamat merapikan ikatan sarung hitam di dadanya, lalu melilitkan sisa kain perca hitam di kepalanya menyerupai sorban. Dia duduk bersila di atas tikar pandan, menyalakan korek api, dan membakar tumpukan dupa cina bercampur obat nyamuk bakar di dalam wadah kuningan.
Czzz...
Asap putih pekat langsung mengepul deras memenuhi ruangan kamar yang sempit itu. Bau wangi dupa yang sangat tajam beradu dengan aroma zat kimia pembunuh nyamuk, menciptakan kombinasi bau yang luar biasa aneh: sangit, pedas di mata, tapi sekaligus memberikan kesan mistis yang mencekat dada.
Mamat terbatuk-batuk kecil, matanya berair karena pedasnya asap. "Aduh... perih juga ini racun! Tapi ndak apa-apa, demi dua ratus ribu rupiah!"
Tiba-tiba, dari arah luar rumah, terdengar suara ketukan pintu depan yang sangat kencang.
TOK! TOK! TOK!
"Mamat! Eh... Ki Mamat! Ini saya, Sugino!" suara Pak RT terdengar panik dari luar.
Mamat tersenyum lebar di balik kepulan asap tebal. Mangsa pertamanya sudah tiba tepat waktu. Mamat mengambil napas dalam-dalam, mengatur raut wajahnya menjadi sengit, dingin, dan penuh rahasia ghaib.
"Masuk... Pintu tidak dikunci..." sahut Mamat dengan suara dibikin berat dan bergema dari dalam kamar belakang.
Pintu depan berderit terbuka. Langkah kaki Pak RT terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong rumah yang remang-remang, menuju ke arah asap putih yang keluar dari celah bawah pintu kamar belakang.
Ketika Pak RT membuka pintu kamar belakang, pandangannya langsung disambut oleh tembok asap putih yang pekat. Pak RT terbatuk-batuk hebat sambil mengibaskan tangannya di udara.
"UHUK! UHUK! Aduh... ini bau apa toh, Mat?! Pedes banget di mata!" seru Pak RT sambil memegangi dadanya.
Melalui remang-remang asap putih, Pak RT melihat Mamat sedang duduk bersila tegak di atas tikar pandan. Mata Mamat terpejam rapat, bibirnya komat-kamit merapalkan mantra tanpa suara, sementara tangan kanannya memegang Keris Bengkok yang diacungkan ke atas tempat pembakaran dupa.
"Duduklah, Pak RT Sugino..." kata Mamat tanpa membuka mata, suaranya terdengar begitu berwibawa di tengah kepulan asap toksik tersebut. "Jangan banyak mengeluh. Asap ini adalah sarana untuk membersihkan racun-racun syak wasangka dari dalam tubuhmu..."
Pak RT yang ketakutan dan terintimidasi oleh suasana mistis buatan itu akhirnya nurut. Dia melipat kakinya, duduk perlahan di ujung tikar pandan sambil terus mengusap air matanya yang keluar akibat perihan asap obat nyamuk bakar.
"Ki... Ki Mamat... Ini uang sajen dua ratus ribu rupiahnya," kata Pak RT gemetar, menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan yang agak lecek ke atas tikar.
Mamat perlahan membuka matanya. Tatapan matanya yang sedikit juling mengunci wajah Pak RT yang penuh dengan peluh dan rasa cemas. Hari ini, sejarah baru bagi Mamat sang pemuda pengangguran resmi diukir—di atas tikar pandan kusam dan di bawah naungan asap racun nyamuk Kampung Kalisari.