NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Langkah di Atas Papan Catur Darah

Aroma lilin lebah dan wangi teh kamomil yang menenangkan memenuhi ruang kerja pribadi Duke Killian. Namun bagi Elena, kehangatan ruangan itu sama sekali tidak mampu mencairkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di seberang meja mahogani yang kokoh, pria yang dijuluki sebagai tirani berdarah dingin kekaisaran duduk dengan posisi tegak namun santai. Sepasang mata elang milik Killian menatap Elena seolah-olah ia sedang membedah isi pikiran wanita di hadapannya.

"Kau tampak lebih tegang dari biasanya, Lady Elena," suara berat Killian memecah keheningan, mengalun rendah namun sarat akan tekanan intimidasi. Ia menyesap tehnya perlahan, gerakan tangannya begitu presisi, mencerminkan keanggunan seorang bangsawan tertinggi sekaligus efisiensi seorang pembunuh berdarah dingin.

Elena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun beludru hijaunya. Kilasan masa lalu—saat tubuhnya dirantai di sel bawah tanah yang gelap, bau dagingnya sendiri yang terbakar, dan tawa kemenangan Gavin bersama adik tirinya—mendadak melintas di benak. Napasnya sempat tertahan sedetik sebelum ia berhasil menguasai diri. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Killian. Aliansi ini adalah satu-satunya tiket emasnya untuk menyeret Gavin ke neraka terdalam.

"Saya hanya sedang menghitung sisa waktu yang kita miliki, Yang Mulia," jawab Elena, suaranya terdengar jernih dan tenang tanpa riak ketakutan. Ia menatap balik mata tajam Killian dengan keberanian yang tidak biasa dimiliki oleh nona muda bangsawan mana pun. "Gavin telah mulai menggerakkan pion-pionnya di wilayah barat. Jika kita tidak memotong jalur logistik rahasianya minggu ini, dia akan mendapatkan dukungan penuh dari Marquis Albert."

Killian meletakkan cangkir tehnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang alih-alih ramah, justru terlihat mengerikan. "Kau selalu tahu apa yang direncanakan calon suamimu itu bahkan sebelum dia memikirkannya sendiri. Kadang aku penasaran, Elena... apakah kau memiliki mata-mata di dalam kamar tidurnya, atau kau sebenarnya seorang penyihir yang bisa meramal masa depan?"

Jantung Elena berdegup kencang. Pertanyaan Killian terlalu dekat dengan kenyataan. Tentu saja ia tahu, karena ia telah menjalani hidup itu sekali. Ia telah melihat bagaimana Gavin menipu semua orang dengan topeng kebaikannya, sementara di balik layar mengumpulkan kekuatan untuk merebut takhta.

"Saya hanya seorang wanita yang memperhatikan detail, Yang Mulia," sahut Elena dengan senyum formal. "Seorang pria yang terlalu ambisius seperti Gavin selalu meninggalkan jejak yang dapat ditebak jika Anda tahu di mana harus mencari."

"Jawaban yang diplomatis," Killian bersandar pada kursi kerjanya, menyilangkan kaki panjangnya. "Baiklah. Informasi yang kau berikan tentang tambang besi ilegal di perbatasan barat ternyata akurat. Ksatria bayanganku telah mengamankan lokasi tersebut tadi malam. Gavin baru saja kehilangan seperempat dari sumber pendanaan militernya."

Mendengar hal itu, ada kepuasan membara yang meletup di dada Elena. Ini baru permulaan, Gavin, batinnya kejam. Satu per satu, ia akan menelanjangi pengaruh Gavin hingga pria itu tidak memiliki apa-apa lagi untuk berpijak.

"Terima kasih atas efisiensi Anda, Duke. Namun, kita tidak bisa bersenang-senang dulu. Kehilangan tambang itu pasti akan membuat Gavin panik. Pria yang terdesak cenderung bertindak impulsif, dan dia akan mencari pelarian lain. Saya yakin dia akan segera mendekati keluarga saya untuk meminta suntikan dana darurat melalui... adik tiri saya." Elena menyebut kata 'adik tiri' dengan nada yang dilapisi racun.

Killian memperhatikan perubahan emosi yang kilat itu pada wajah Elena. Pria itu menyadari adanya kebencian mendalam yang tidak wajar dari seorang tunangan terhadap calon suaminya. Kebencian Elena bukan sekadar cemburu atau persaingan keluarga biasa; itu adalah dendam kesumat yang lahir dari luka yang teramat dalam. Namun, Killian tidak peduli pada alasan di baliknya. Selama Elena berguna dan bisa menjadi pedang yang tajam untuk memotong ambisi faksi kaisar saat ini, Killian akan terus memanfaatkannya.

"Lalu, apa rencana sekat matumu selanjutnya?" tanya Killian, tertarik.

"Biarkan dia mendekati adik saya," Elena maju selangkah, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja Killian, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum mawar berbaur dengan aroma mint maskulin milik Killian. "Saya akan membiarkan mereka merasa menang untuk sesaat. Saya akan mengatur agar dokumen perpindahan aset keluarga saya jatuh ke tangan mereka—tentu saja, dokumen yang sudah saya manipulasi. Begitu Gavin menggunakan dana tersebut untuk menyuap dewan bangsawan, kita akan mengeksposnya atas tuduhan penggelapan pajak kekaisaran dan penggunaan dana palsu."

Killian menatap wajah Elena yang begitu dekat. Kecantikan wanita itu saat ini tampak begitu berbahaya, seperti sekuntum mawar hitam yang dipenuhi duri beracun. Ada binar kejam di matanya yang entah mengapa membuat darah Killian berdesir.

"Kau benar-benar kejam, Lady Elena. Kau menjebak tunanganmu sendiri dan keluargamu menuju kehancuran total," bisik Killian, suaranya rendah dan serak.

"Mereka bukan keluarga saya, Yang Mulia. Mereka hanyalah sekelompok lintah yang hidup dari darah ibu saya," jawab Elena dingin tanpa ragu sedikit pun. "Dalam aliansi ini, saya berjanji akan menyerahkan takhta kekaisaran yang bersih kepada Anda, dan sebagai gantinya, Anda hanya perlu memastikan bahwa ketika Gavin jatuh, tidak ada seorang pun yang bisa mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya."

Killian berdiri dari kursinya, membuat tubuhnya yang tinggi tegap mendominasi Elena. Ia mengulurkan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. "Kesepakatan yang adil. Aku akan menjadi algojo bagi mangsamu."

Elena menyambut tangan itu, merasakan genggaman kuat yang menyimbolkan ikatan darah dan ambisi mereka. Aliansi ini semakin mengikat mereka berdua dalam takdir yang kelam.

Setelah pertemuan yang melelahkan itu, Elena melangkah keluar dari kediaman Duke Killian. Kereta kudanya telah menunggu di halaman depan yang luas. Udara sore musim gugur bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut pirang madunya. Ia masuk ke dalam kereta dan bersandar pada dinding kursi empuk, memejamkan matanya yang terasa berat.

Kereta mulai berjalan membelah jalanan ibu kota menuju kediaman Count, rumah yang kini terasa seperti sarang musuh baginya. Sepanjang perjalanan, Elena menyusun kembali kepingan ingatannya. Tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu... Ini adalah masa di mana Gavin masih berpura-pura menjadi pria paling lembut sedunia. Pria itu sering mengiriminya surat cinta, bunga-bunga segar, dan puisi romantis yang dulu selalu berhasil membuat jantung Elena muda berdebar. Betapa bodohnya dia di kehidupan pertama.

Ketika kereta berhenti di depan gerbang mansion keluarga Count, hari sudah beranjak malam. Pelayan membukakan pintu kereta untuknya. Begitu Elena melangkah kaki ke dalam aula utama mansion, ia langsung disuguhi pemandangan yang memuakkan.

Di ruang tengah, Gavin sedang duduk di sofa bersama ayahnya, Count, dan ibu tirinya. Di samping Gavin, duduk adik tirinya, Mya. Wanita muda itu mengenakan gaun merah muda yang berpotongan agak rendah, tertawa kecil sambil menyentuh lengan Gavin dengan akrab. Pemandangan itu adalah replika sempurna dari perselingkuhan yang dulu menghancurkannya.

"Ah, Elena! Kau baru kembali?" Suara Gavin yang terdengar sangat lembut bergaung di aula. Pria itu langsung berdiri, memasang senyum paling menawan miliknya dan melangkah mendekati Elena dengan tangan terbuka seolah ingin memeluknya. "Aku sudah menunggumu sejak sore. Dari mana saja kau, Sayang?"

Melihat wajah Gavin yang tampan namun palsu itu, Elena merasakan gelombang mual yang hebat di perutnya. Hasrat untuk menusuk leher pria itu dengan belati saat ini juga sangat kuat. Namun, ia menahan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memasang topeng terbaiknya—topeng seorang Nona Muda yang naif dan penurut.

"Maafkan saya, Lord Gavin," kata Elena dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit manja dan malu-malu, menundukkan kepalanya agar Gavin tidak melihat kilatan kebencian di matanya. "Saya menghabiskan waktu di butik pakaian untuk mencari bahan gaun terbaik untuk jamuan makan malam kekaisaran nanti. Saya tidak tahu Anda akan datang berkunjung hari ini."

Gavin tersenyum lega, merasa bahwa Elena masih berada di bawah kendalinya. Ia meraih tangan Elena dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Tidak apa-apa, asalkan kau kembali dengan selamat. Aku hanya merindukanmu."

Di sudut ruangan, Elena bisa melihat Mya yang meremas sapu tangannya dengan wajah cemburu. Elena tersenyum sinis di dalam hati. Di kehidupan lalu, ia akan merasa bersalah atau tidak enak jika Mya terlihat sedih. Namun sekarang? Ia akan menggunakan kecemburuan Mya sebagai bahan bakar untuk mempercepat kehancuran mereka berdua.

"Gavin, kudengar kau sedang sibuk mengurus proyek baru di wilayah barat?" Count, ayah Elena, menyela pembicaraan dari sofanya dengan suara berat. Pria tua itu selalu memikirkan keuntungan materi.

Gavin menoleh, ekspresi wajahnya berubah sedikit tegang namun segera ia tutupi dengan senyuman santai. "Benar, Count. Ada sedikit kendala logistik yang tidak terduga di sana, namun semuanya masih bisa diatasi. Hanya saja... proyek ini membutuhkan sedikit tambahan modal perputaran agar berjalan lebih cepat."

Elena yang berdiri di samping Gavin hampir saja tertawa terbahak-bahak. Tentu saja kendala logistik, batinnya geli, karena Duke Killian baru saja menyita seluruh besi ilegalmu.

Mya langsung menyahut dengan suara lembut yang dibuat-buat, "Kak Elena, bukankah warisan dari mendiang Ibu Kakak memiliki beberapa aset tanah di wilayah barat yang tidak terpakai? Mungkin Kak Elena bisa membantu Lord Gavin untuk mengelolanya sementara waktu? Lagipula, kalian berdua kan akan segera menikah. Bukankah saling membantu adalah hal yang wajar?"

Elena menatap Mya dengan pandangan yang tampak polos. Umpan telah dilemparkan tepat seperti yang ia diskusikan dengan Killian beberapa jam lalu. Mereka begitu tidak sabar untuk merampas harta peninggalan ibunya.

"Benarkah begitu, Lord Gavin? Apakah proyek itu begitu penting untuk masa depan kita?" tanya Elena, menatap Gavin dengan mata yang berbinar-binar penuh harap palsu.

Gavin memegang kedua tangan Elena, matanya memancarkan keserakahan yang disamarkan sebagai cinta. "Ya, Elena. Jika proyek ini berhasil, posisiku di kekaisaran akan semakin kuat, dan aku bisa memberikan kehidupan yang paling mewah dan terhormat untukmu sebagai istriku nanti. Apakah kau bersedia membantuku dengan dokumen aset tersebut?"

Elena tersenyum sangat manis, kebahagiaan palsu terpancar dari wajahnya. "Tentu saja, Gavin. Apapun untukmu. Besok pagi, aku akan meminta pengacara keluarga untuk menyiapkan dokumen penyerahan hak kelola aset tanah tersebut."

"Terima kasih, Elena! Kau memang wanita terbaik yang pernah ada," Gavin memeluk Elena dengan erat, merasa bahwa kemenangan sudah berada di genggamannya. Di atas bahu Gavin, Elena membuka matanya, menatap tajam ke arah Mya yang tersenyum licik padanya, dan ke arah dinding kosong ruangan seolah-olah ia sedang menatap masa depan.

Nikmatilah pelukan ini, Gavin. Karena besok, tali gantung yang kusiapkan untukmu akan mulai melilit lehermu perlahan-lahan, bisik Elena dalam hati dengan kejam saat ia membalas pelukan pria yang paling ia benci di dunia itu. Permainan catur berdarah ini baru saja dimulai, dan kali ini, Elena bersumpah tidak akan menyisakan satu pion pun bagi musuh-musuhnya.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!