NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Tap tap tap.

Maya berdiri menjulang di depan Rahman dengan tangan berkacak pinggang.

"Pak Rahman, saya mau bicara serius dengan bapak," ucap Maya tegas.

Rahman pura-pura menguap dan menatap mahasiswi itu dengan sebelah mata terbuka.

"Bicara apa lagi anak kuliahan?"

"Kalau kamu mau minta ganti kipas anginmu yang rusak minggu lalu, jawabannya tetap tidak."

"Ini bukan soal kipas angin, Pak."

"Ini soal keanehan bapak sejak kemarin malam," tuding Maya tanpa basa-basi.

"Memangnya aku ini kenapa?"

"Aku memperbaiki atap Budi dan mengecat tembok, apa itu salah di matamu?" Rahman membalas dengan nada santai.

"Justru karena itu terlalu baik untuk ukuran bapak, makanya kami semua curiga."

"Bapak jujur saja, bapak sedang tidak merencanakan hal buruk pada kami kan?"

Rahman mengerutkan keningnya, pura-pura tidak mengerti.

"Hal buruk apa maksudmu?"

"Bapak tidak sedang mencari tumbal pesugihan dan menjadikan kami targetnya kan?"

Pertanyaan Maya meluncur begitu saja, membuat suasana mendadak sunyi.

Bahkan Mang Ujang yang baru saja datang membawa kaleng cat ikut mematung mendengarnya.

Rahman melongo menatap Maya.

Ia benar-benar tidak habis pikir dengan imajinasi anak muda zaman sekarang.

Hanya karena ia berbuat sedikit baik, ia malah dituduh mencari tumbal pesugihan.

"Hahahaha!"

Rahman tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat kering dan sarkas.

Maya sedikit terkejut melihat reaksi tersebut.

"Kenapa bapak tertawa? Apa tebakan saya benar?"

Rahman menghentikan tawanya dan menatap tajam langsung ke mata Maya.

Ia harus memutar otak mencari alasan yang masuk akal agar sistemnya tidak ketahuan.

Sekaligus menjaga gengsinya sebagai tuan tanah yang perhitungan.

"Tumbal pesugihan katamu?"

"Kamu terlalu banyak menonton film horor murahan, anak muda."

Rahman berdiri dari kursinya, membuat postur tubuhnya terlihat lebih mengintimidasi.

"Kamu pikir aku sudi mengeluarkan uang ratusan ribu hanya untuk mencari tumbal kere seperti kalian?"

Wajah Maya sedikit memerah mendengar hinaan itu.

"Lalu apa alasan bapak tiba-tiba memperbaiki semua fasilitas ini?"

"Tentu saja untuk bisnis, apalagi memangnya!"

Rahman melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi sombong.

"Asal kalian tahu, bulan depan harga tanah di daerah ini akan naik karena ada pembangunan jalan baru."

"Aku mengecat tembok dan memperbaiki atap supaya kontrakan ini terlihat lebih mewah."

Rahman menunjuk ke arah tembok yang masih berlumut.

"Dengan begitu, tahun depan aku punya alasan yang sangat kuat untuk menaikkan harga sewa kalian semua!"

Mata Maya terbelalak lebar mendengar pengakuan bapak kosnya.

Begitu juga dengan Rina dan beberapa penyewa lain yang menguping dari seberang jalan.

"Menaikkan harga sewa?" tanya Maya dengan suara sedikit bergetar.

"Tentu saja!"

"Kamu pikir aku ini lembaga amal yang mau membagikan uang secara cuma-cuma?"

"Setiap fasilitas baru yang kalian nikmati sekarang, akan kalian bayar mahal tahun depan!" ancam Rahman dengan senyum licik buatan.

Mendengar ancaman itu, Maya justru menghela napas lega yang sangat panjang.

Kecurigaannya tentang pesugihan langsung menguap tak bersisa.

Ini barulah Rahman Affandi yang ia kenal selama ini.

Tuan tanah lintah darat yang segala gerak-geriknya selalu bermuara pada uang dan keuntungan sepihak.

"Ternyata bapak memang bapak kos paling pelit dan perhitungan sedunia."

"Saya sampai kaget setengah mati mengira bapak kesurupan setan dermawan," ucap Maya sambil menggelengkan kepalanya.

"Sekarang kamu sudah tahu alasannya kan?"

"Jadi berhentilah menyebarkan rumor konyol dan kembalilah kuliah yang benar supaya bisa bayar sewa tahun depan," usir Rahman sambil mengibaskan tangannya.

Maya hanya mencibir pelan dan berbalik pergi menuju kamarnya.

Meskipun ia kesal karena terancam kenaikan harga sewa, setidaknya perasaannya jauh lebih tenang sekarang.

Mang Ujang yang sedari tadi menonton hanya bisa tersenyum canggung.

"Jadi ini untuk investasi ya, Pak?"

"Pantas saja bapak berani keluar modal besar hari ini."

"Sudah, jangan ikut-ikutan berkomentar."

"Cepat kerjakan tugasmu, pastikan warna biru mudanya menutupi semua lumut menjijikkan itu," perintah Rahman galak.

Mang Ujang segera mengangguk dan mulai membuka kaleng catnya.

Srek srek srek.

Suara kuas cat yang bergesekan dengan tembok mulai terdengar mendominasi suasana.

Rahman duduk kembali di kursinya sambil mengusap dadanya yang berdebar.

"Hampir saja ketahuan."

"Untung aku cukup pintar mengarang alasan tentang kenaikan sewa," batin Rahman merasa lega.

Ia menatap tembok kusam yang perlahan berubah menjadi biru cerah yang menyegarkan mata.

Jujur saja, melihat lingkungannya menjadi lebih bersih membuat hatinya terasa lebih nyaman.

Ting!

Layar biru transparan kembali muncul di depan pandangannya.

[Progres Misi Utama: 50 persen.]

[Penyewa Maya merasa lega dan tidak lagi mencurigai niat pengguna.]

[Sistem memuji kemampuan berbohong pengguna yang sangat natural.]

"Sistem kurang ajar, kau mengejekku ya?" gumam Rahman dengan suara pelan agar tidak didengar Mang Ujang.

Meski begitu, sudut bibir pria tua itu melengkung membentuk senyuman kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.

Pekerjaan mengecat itu berlangsung hingga menjelang sore hari.

Rahman bahkan sempat membelikan es teh manis untuk Mang Ujang, tentu saja dengan sisa kembalian uang cat tadi.

Ketika sapuan kuas terakhir selesai, wajah kontrakan itu benar-benar berubah drastis.

Kesan angker dan kumuh menghilang, digantikan dengan suasana yang bersih dan rapi.

Ting!

[Misi Utama Harian Selesai.]

[Seluruh tembok depan berhasil dicat dengan warna cerah.]

[Hadiah: Tambahan umur 4 hari telah didistribusikan.]

[Hadiah: Uang tunai Rp 500.000 telah ditransfer ke dalam saku celana pengguna.]

Rahman segera merogoh saku celananya dengan antusias.

Benar saja, tangannya merasakan ketebalan lima lembar uang seratus ribuan yang masih kaku.

Ia menarik uang itu dan menghitungnya diam-diam di balik telapak tangannya.

Senyumnya mengembang sempurna melihat uang segar itu.

"Ini baru yang namanya simbiosis mutualisme."

"Kalau misinya selalu menguntungkan begini, aku tidak keberatan menjadi tuan tanah yang sedikit lebih baik," batin Rahman dengan riang gembira.

Tanpa ia sadari, sikap kikir yang selama puluhan tahun mendarah daging dalam dirinya mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Dan para penyewanya pun perlahan mulai menikmati kenyamanan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!