Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Seorang pria paruh baya tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan. "Senang akhirnya Anda mau datang juga. Terima kasih."
Astrid menyambutnya dengan sopan. "Sama-sama."
Pria itu mempersilahkannya duduk. Ia tersenyum tipis.
"Saya Andrew. Meskipun saya rasa Anda sudah tahu siapa saya."
Astrid ikut tersenyum kecil. "Tentu saja."
Andrew adalah direktur sekaligus kepala rumah sakit tempat Lucas bekerja. Selama ini mereka hanya beberapa kali bertemu dalam acara resmi. Tidak pernah benar-benar berbincang secara pribadi seperti sekarang.
Andrew mengambil teko teh yang tersedia di meja kecil di samping mereka. Dengan gerakan tenang, ia menuangkan teh ke dalam dua cangkir.
"Saya sebenarnya sudah lama ingin bertemu dengan Anda."
Astrid menerima cangkir yang diberikan kepadanya. "Dengan saya?" tanyanya heran.
Andrew mengangguk. "Saya mendengar banyak hal tentang Anda."
Astrid hampir bertanya lebih lanjut.
Namun Andrew lebih dulu tersenyum. "Dari Mateo."
Nama itu membuat Astrid langsung mengangkat alis. "Mateo?"
Andrew tampak terhibur melihat reaksinya. Ia terkekeh pelan.
"Iya. Dia belum pernah cerita?"
Astrid menggeleng. "Cerita apa?"
Andrew menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kami masih kerabat jauh."
Mata Astrid langsung membesar. "Serius?"
Andrew mengangguk sambil tersenyum. "Nenek kami berasal dari keluarga yang sama."
Astrid benar-benar terkejut. Selama ini ia mengira hubungan mereka hanya sebatas rekan profesional.
"Pantas saja beberapa kali Mateo terlihat begitu mudah menghubungi Andrew ketika mereka membutuhkan bantuan," batin Astrid.
"Saya baru tahu."
Andrew tersenyum. "Banyak orang juga tidak tahu soal itu."
Percakapan mereka berlanjut beberapa menit. Membahas berbagai hal ringan. Namun, perlahan suasana mulai berubah.
Andrew meletakkan cangkir tehnya. Kemudian menyatukan kedua tangannya di atas meja. Sorot matanya menjadi jauh lebih serius.
"Astrid."
Astrid langsung memperhatikan.
"Saya tidak bisa membahas terlalu banyak hal ini. Tapi saya rasa Anda berhak mengetahui sesuatu." Nada suara Andrew terdengar hati-hati.
Jantung Astrid mulai berdetak lebih cepat. Ia bisa merasakan bahwa pembicaraan ini tidak lagi bersifat pribadi. "Apa itu?" tanyanya pelan.
Andrew terdiam beberapa saat. Seolah sedang mempertimbangkan batas yang boleh dan tidak boleh ia sampaikan. Kemudian ia menatap Astrid dengan serius.
"Lucas sedang dalam perhatian khusus beberapa pihak."
Astrid membeku. Meski wajahnya tetap tenang, jemarinya tanpa sadar mengencang di sekitar cangkir yang sedang dipegangnya.
Andrew melanjutkan dengan suara rendah. "Dan saya sarankan Anda berhati-hati."
Keheningan langsung memenuhi ruangan. Astrid tidak segera menjawab. Pikirannya berputar cepat.
Beberapa jam lalu, Julio menemukan jejak aliran dana yang mencurigakan. Di rumah, surat gugatan cerainya sudah hampir siap diajukan oleh William. Dan sekarang, direktur rumah sakit tempat Lucas bekerja memberikan peringatan yang sama.
Seolah semua jalan perlahan mengarah ke satu nama, Lucas. Pria itu mungkin masih merasa dirinya aman. Merasa semua kebohongannya tersimpan rapi. Merasa mampu mengendalikan semua orang di sekitarnya. Padahal tanpa ia sadari, lingkaran yang selama ini melindunginya mulai menyempit sedikit demi sedikit.
Saat Astrid meninggalkan ruang kerja Andrew sore itu, satu hal menjadi semakin jelas di dalam pikirannya.
Waktu Lucas semakin sedikit. Karena dua bom waktu sudah berjalan bersamaan. Surat gugatan yang siap menghancurkan rumah tangganya dan penyelidikan keuangan yang perlahan membuka seluruh kejahatannya. Tinggal menunggu waktu sampai keduanya meledak bersamaan.
Sore hari setelah bertemu Andrew, Astrid pulang ke rumah. Ia duduk sendirian di kamar Ariana yang sudah tertidur. Di tangannya ada salinan surat gugatan yang baru dikirim William.
Astrid merasa sedikit lega. Keputusan itu sudah bulat dibuat, tidak ada jalan kembali.
***
Dua hari setelah pertemuan dengan Andrew, Astrid mengambil langkah selanjutnya. Hari itu ia duduk berhadapan dengan William di ruang kerja pria tersebut. Map berisi dokumen gugatan terbuka di atas meja.
Suasana ruangan terasa tenang. Berbeda dengan hati Astrid yang sedang dilanda badai emosional.
William mendorong satu lembar dokumen ke arahnya. "Setelah ini prosesnya akan berjalan secara resmi," jelasnya.
Astrid menunduk menatap berkas tersebut. Namanya tertulis jelas di sana, begitu juga dengan nama Lucas.
Untuk sesaat, kenangan bertahun-tahun pernikahan mereka melintas di kepalanya. Hari pernikahan. Mimpi-mimpi yang dulu mereka bangun bersama. Kelahiran Ariana.
Lalu, satu per satu kenangan itu digantikan oleh kebohongan, perselingkuhan, manipulasi, pengkhianatan.
Astrid mengangkat pena. Tangannya sempat berhenti beberapa detik. Kemudian, ia membubuhkan tanda tangannya. Setelah itu dia merasa perasaannya jauh lebih ringan. Tidak ada lagi air mata dan keraguan. Hanya rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya.
William menutup map tersebut. "Saya akan menangani sisanya."
Astrid mengangguk. "Terima kasih."
***
Waktu berlalu dengan cepat, pagi itu rumah masih terasa tenang. Aroma roti panggang dan telur yang baru matang memenuhi dapur. Dari ruang keluarga terdengar suara televisi yang menyala pelan, menemani Ariana yang sedang duduk di karpet sambil memainkan boneka kesayangannya.
Astrid berdiri di depan meja dapur, menuangkan susu hangat ke dalam gelas kecil milik putrinya. Pagi itu berjalan seperti biasanya, begitu tenang. Setidaknya sampai suara bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Ting tong.
Ting tong.
Ting tong.
Bel itu berbunyi berulang kali tanpa jeda, begitu keras, dan tergesa-gesa penuh ketidaksabaran.
Astrid mengernyit sambil menoleh ke arah pintu depan yang terkunci. "Siapa, ya, tamu datang pagi-pagi begini?" gumamnya pelan.
Astrid meletakkan teko susu di atas meja lalu berjalan menuju ruang tamu. Semakin dekat ke pintu, bunyi bel itu kembali terdengar.
Ting tong!
Ting tong!
Kali ini lebih keras. Seolah orang di luar sana tidak mau menunggu satu detik pun.
Astrid menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, tubuhnya langsung menegang. Marta berdiri di hadapannya. Wajah wanita paruh baya itu memerah, rahangnya mengeras, dan tatapannya penuh amarah yang bahkan tidak berusaha disembunyikan.
Belum sempat Astrid membuka mulutnya, Marta sudah melangkah masuk sambil mendorong pintu lebih lebar.
"Kurang ajar sekali kamu!" Suara bentakan Marta menggema di dalam rumah.