NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 17 - Gerbang Terakhir — Di Mana Semua Dunia Bertemu

Cahaya yang menyelimuti tempat itu perlahan meredup, namun bukan berarti segalanya selesai. Penguasa Tanpa Nama lenyap menyatu dengan cahaya, dan Gerbang Terakhir berdiri terbuka lebar — namun di baliknya, tidak ada jalan pulang yang sederhana. Justru sebaliknya: terbentang pemandangan yang membuat napas semua orang tertahan.

Melalui gerbang itu, terlihat bukan satu dunia, bukan tujuh dunia — melainkan ribuan dunia, berkilauan seperti permata di lautan luas, masing-masing dengan langitnya sendiri, bintangnya sendiri, sejarahnya sendiri. Dan di antara mereka, bergerak bayangan-bayangan yang tak bisa dijelaskan — makhluk yang menunggu, kekuatan yang bangkit, rahasia yang selama ini tersembunyi di balik tirai kenyataan.

"Aku bilang perjalanan belum berakhir," suara bergema dari arah gerbang — bukan suara Penguasa itu, melainkan suara yang lebih tua, lebih dalam. "Kalian baru saja melangkah keluar dari tempat yang terlindungi. Yang sesungguhnya baru dimulai."

Kai melangkah maju, melindungi Aurelia di belakangnya sedikit. "Siapa yang berbicara?"

Dari cahaya gerbang itu muncul sosok yang tak menyerang — ia tampak seperti pelindung kuno, jubahnya terbuat dari benang-benang takdir yang berkilauan. Matanya tenang namun berat, seakan menanggung beban ribuan kisah sekaligus.

"Aku adalah Penjaga Batas Dunia," ucapnya rendah. "Penguasa Tanpa Nama hanyalah bayangan dari luka lama. Namun di luar sana, ada kekuatan yang jauh lebih besar — yang mengamati, yang menilai, yang menunggu saat yang tepat untuk menguji kalian sampai ke batas tertinggi."

Ia menunjuk ke arah ribuan dunia yang berkilauan. "Keseimbangan yang kalian bangun ini rapuh. Ada kekuatan yang tidak menginginkan perubahan — mereka yang berkuasa selama ribuan tahun, mereka yang takut kehilangan kendali. Dan mereka tidak akan membiarkan kalian menyebarkan cahaya ini tanpa perlawanan."

Aurelia mengintip dari samping ayahnya, matanya bersinar. "Mereka takut pada kami?"

"Mereka takut pada apa yang kalian wakili," jawab Penjaga itu menatap gadis kecil itu. "Kalian membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukan untuk menguasai, melainkan untuk menyatukan. Bagi mereka yang berkuasa, hal itu adalah ancaman terbesar."

Kai menggenggam tangan putrinya erat. "Biarkan mereka datang. Kami tidak berniat melawan dengan kekerasan. Tapi kami tidak akan mundur."

Penjaga itu mengangguk pelan, seakan menghormati ketegasan itu. "Itulah sebabnya kalian harus berkelana. Bukan sekadar melindungi dunia ini — melainkan menyatukan semua dunia yang terpisah. Ada sekutu yang belum kalian temui, rahasia yang belum terungkap, bahkan garis keturunan yang sama dengan kalian yang tersebar di ribuan tempat."

Ia melambaikan tangan, dan di udara terbentuk peta bercahaya yang tak berujung. "Tujuh dunia pertama hanyalah gerbang depan. Di luar sana, ada Dunia Naga yang Hilang — tempat asal leluhurmu yang sebenarnya, tempat di mana rahasia sepenuh kekuatan darahmu tersimpan. Namun tempat itu telah tertutup selama ribuan tahun, dijaga oleh ujian yang tak ada yang berhasil lalui."

"Dunia Naga yang Hilang…" bisik Kai, merasakan getaran di dalam dirinya sendiri. Liontin di dadanya berdenyut kencang, seakan mengenali nama itu.

"Dan bukan hanya itu," lanjut Penjaga itu. "Ada dunia tempat bela diri kuno mencapai tingkat yang tak terbayangkan, tempat waktu berjalan berbeda, tempat para pendahulu kalian masih hidup dalam bentuk yang tak diketahui siapa pun. Di sana, kalian akan menemukan jawaban — mengapa keturunan naga terpecah, siapa yang sebenarnya memulai perang kuno itu, dan mengapa Aurelia lahir dengan kekuatan yang mampu menyatukan cahaya dan bayangan."

Aurelia menarik pelan jubah ayahnya. "Ayah… aku merasakannya. Tempat itu… memanggilku. Seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di sana."

Kai berlutut di hadapannya, menatap mata putrinya. "Kau tidak takut?"

Aurelia menggeleng mantap. "Selama Ayah dan teman-teman bersamaku, tidak."

Kai berdiri tegak, menatap Penjaga itu. "Kami pergi. Tapi kami tidak pergi untuk menaklukkan. Kami pergi untuk memulihkan."

Penjaga itu tersenyum tipis, cahaya di sekelilingnya semakin lembut seakan merasa lega. "Maka ambillah ini — Kompas Antar Dunia. Ia akan menuntun kalian ke tempat yang benar-benar membutuhkan kehadiran kalian. Ia tidak menunjuk jalan terpendek, melainkan jalan yang paling bermakna."

Benda berbentuk seperti bintang berujung tujuh melayang turun ke tangan Kai. Saat disentuh, ia berdenyut hangat, menunjuk ke arah salah satu dari ribuan cahaya di kejauhan — sebuah dunia yang berwarna keemasan tua, dikelilingi kabut yang perlahan menipis.

"Dunia pertama setelah Gerbang Terakhir," ucap Penjaga itu. "Dunia Tempat Para Pendekar Abadi. Di sana, kekuatan darahmu akan diuji dalam pertarungan yang tak hanya mengandalkan tenaga — melainkan jiwa. Di sana pula, kalian akan menemukan sekutu pertama dari masa lalu yang terpendam."

Elara melangkah maju, tangannya mencengkeram gagang pedang. "Kapan kita berangkat?"

"Sekarang," jawab Kai tegas, menyimpan kompas itu di dekat dadanya. "Karena kami sudah terlambat terlalu lama."

Saat mereka melangkah melewati Gerbang Terakhir, udara di sekeliling berubah — terasa lebih tajam, lebih hidup, penuh kemungkinan sekaligus bahaya. Di belakang mereka, gerbang itu tidak tertutup — ia tetap terbuka, menjadi jembatan bagi siapa pun yang kelak ingin melintas. Namun di depan mereka, jalan yang tak diketahui terbentang luas.

Ren melirik ke arah cakrawala yang tak biasa. "Kau merasa itu?"

Dagan mengangguk pelan. "Ada yang mengawasi. Bukan dengan niat baik."

Lirael membentangkan sayapnya lebar. "Biarkan mereka. Kami tidak sendirian."

Aurelia tersenyum, menggenggam tangan ayahnya semakin erat. "Lihat, Ayah… bintang-bintang di sini berbeda."

Kai tersenyum, menatap cakrawala yang tak ada ujungnya. "Iya, Sayang. Dan kita akan melihatnya satu per satu."

Di kejauhan, di tempat yang tak bisa dicapai pandangan siapa pun, sosok-sosok tinggi berdiri mengamati perjalanan mereka — tidak bersatu, tidak sependapat, namun semua menatap ke arah yang sama.

"Mereka melangkah lebih jauh dari yang diperkirakan," bisik salah satu.

"Maka ujian berikutnya harus lebih berat," jawab yang lain dingin. "Kekuatan sebesar itu tidak boleh jatuh ke tangan yang salah."

"Dan bagaimana kita tahu mereka tidak salah?" tanya yang ketiga pelan.

Diam menyelimuti mereka. Tidak ada jawaban. Hanya perjalanan yang terus berlanjut — menembus ribuan dunia, menembus ribuan rahasia, menuju kebenaran yang semakin mendekat namun semakin tak terbayangkan.

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!