Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Panggilan Dokter Jiang kini telah berubah menjadi Guru Jiang dalam sekejap mata.
Seluruh pengawal keluarga Shen mematung melihat pemimpin mereka memanggil pemuda gembel dengan sebutan guru.
Bahkan Shen Muxue yang duduk di kursi roda ikut menutup mulutnya karena sangat terkejut.
Kakeknya adalah dewa medis yang dihormati oleh presiden dan menteri negara ini.
Tapi hari ini, kakeknya dengan rela mengangkat seorang pemuda miskin sebagai panutan mutlaknya.
Su Yuhan yang melihat semua kejadian itu dari atas ranjang hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
Pemuda bernama Jiang Chen ini benar-benar tidak bisa diukur dengan standar akal sehat manusia normal.
Dia memancarkan aura kemiskinan dan kelicikan, tapi otaknya menyimpan perpustakaan dewa yang tidak ternilai harganya.
"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan aneh-aneh Kek, panggil saja namaku," protes Jiang Chen malas.
"Dan tolong angkat kepalamu, aku tidak punya uang untuk memberimu angpao murid baru."
Shen Changyuan kembali menegakkan tubuhnya dan tertawa sangat kencang.
Tawa itu memecah ketegangan dan menunjukkan betapa bahagianya pria tua itu malam ini.
"Hahaha, Guru Jiang benar-benar orang yang sangat unik dan penuh humor."
"Baiklah, saya tidak akan membuang waktu Anda lebih lama lagi karena Anda sedang kelaparan."
Shen Changyuan melangkah maju dan meraih kedua tangan Jiang Chen dengan erat.
"Tolong rawat Muxue selama sebulan ke depan sampai akar penyakitnya benar-benar hilang tanpa sisa."
"Katakan saja apa yang Anda inginkan sebagai imbalannya, Guru Jiang."
"Apakah Anda ingin rumah sakit mewah, mobil sport keluaran terbaru, atau posisi direktur di perusahaan farmasi kami?"
Tawaran fantastis itu membuat seluruh perawat dan asisten dokter di ruangan menelan ludah dengan iri.
Dengan satu anggukan saja, pemuda gembel itu akan langsung berubah menjadi miliarder baru di kota ini.
Su Yuhan juga menatap Jiang Chen dengan saksama, menunggu apa yang akan diminta oleh pria gila harta itu.
Pasti dia akan meminta saham perusahaan atau uang tunai puluhan miliar sebagai jaminan masa depannya.
Jiang Chen terdiam sejenak mendengar berbagai tawaran mewah yang disebutkan oleh pria tua itu.
Otaknya langsung bekerja keras menghitung kebutuhannya saat ini.
'Rumah sakit? Aku tidak punya ijazah kedokteran, pasti akan repot mengurus izinnya ke pemerintah.'
'Mobil sport? Uang bensinnya pasti sangat mahal dan pajaknya bisa mencekik leherku setiap tahun.'
'Posisi direktur? Aku benci bangun pagi dan duduk rapat mendengarkan orang tua mengoceh.'
Jiang Chen akhirnya menggelengkan kepalanya pelan menolak semua tawaran fantastis tersebut.
"Aku tidak butuh semua hal merepotkan itu, Kek," tolak Jiang Chen dengan wajah polos.
"Berikan saja aku uang tunai sekarang juga agar aku bisa tidur nyenyak malam ini."
Shen Changyuan mengangguk cepat sambil tersenyum maklum.
"Tentu saja Guru Jiang, uang tunai adalah hal yang paling mudah untuk keluarga Shen keluarkan kapan saja."
"Sebutkan saja angkanya, berapa miliar yang Anda inginkan untuk biaya pengobatan cucu saya?"
Jiang Chen langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar kata miliar keluar dari mulut pria tua itu.
Angka miliaran terasa terlalu menakutkan bagi orang miskin yang seumur hidupnya hanya makan mie instan.
Dia takut uang sebanyak itu malah akan mendatangkan masalah atau membuatnya dirampok di pinggir jalan.
"Tunggu dulu, siapa yang minta miliaran?" potong Jiang Chen cepat.
"Penyakit cucumu ini memang sulit diobati, tapi aku tidak suka memeras orang tua."
Jiang Chen mengangkat tangan kanannya dan membuka kelima jarinya lebar-lebar.
"Berikan saja aku lima puluh ribu secara tunai malam ini juga," ucap Jiang Chen dengan sangat mantap.
Hening.
Ruangan ICU yang luas itu mendadak menjadi sangat sunyi tanpa ada suara embusan napas sama sekali.
Bahkan suara mesin monitor jantung seolah kalah keras dengan keheningan yang tiba-tiba tercipta.
Shen Changyuan mengerjapkan matanya beberapa kali, mengira alat pendengarannya sudah mulai rusak dimakan usia.
"Maaf Guru Jiang, telinga tua saya sepertinya salah mendengar ucapan Anda barusan."
"Apakah maksud Anda lima puluh juta sebagai uang muka untuk malam ini?" tanya Shen Changyuan memastikan.
Jiang Chen mendecakkan lidahnya dengan kesal karena merasa orang kaya memang selalu bodoh soal uang receh.
"Bukan lima puluh juta Kek, tapi lima puluh ribu saja," tegas Jiang Chen mengulangi perkataannya.
"Sewa kosku menunggak dan ibu kosku akan membakar barang-barangku besok pagi kalau aku tidak bayar malam ini."
"Sisa uangnya akan kugunakan untuk membeli dua porsi nasi goreng daging sapi di perempatan jalan depan rumah sakit."
Gubrak.
Pengawal Zhao yang berdiri tegap di belakang langsung terpeleset dan hampir jatuh ke lantai mendengar alasan itu.
Seluruh orang di ruangan itu menatap Jiang Chen seolah sedang melihat spesies alien langka yang baru mendarat ke bumi.
Menyelamatkan nyawa pewaris keluarga konglomerat, mengalahkan dewa medis, dan berhak meminta imbalan apa pun.
Dan bayaran yang diminta hanya lima puluh ribu demi membayar kos dan membeli nasi goreng.
Su Yuhan yang bersandar di ranjang tidak bisa menahan dirinya lagi.
Wanita anggun dan dingin itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.
"Ya Tuhan, Jiang Chen. Kau benar-benar pria paling bodoh dan paling tidak masuk akal yang pernah kutemui."
Suara tawa Su Yuhan menggema di ruangan itu, membuat Jiang Chen menatapnya dengan tatapan sangat jengkel.
"Apa yang lucu, Nona kaya? Hutangmu padaku yang seratus ribu tadi juga belum lunas, jangan pura-pura lupa," ancam Jiang Chen.
Mendengar itu, tawa Su Yuhan justru semakin keras hingga air mata kebahagiaan keluar dari sudut matanya.