NovelToon NovelToon
Ayah Ku Dewa Tersembunyi

Ayah Ku Dewa Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:20.8k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Setelah ditinggalkan oleh istrinya dan kehilangan putri kecilnya Bai Xinxin yang berusia enam tahun, hidup Bai Ruchen berubah sepenuhnya. Di tengah kesepian dan rasa bersalah, sebuah cahaya muncul — Sistem Pria Merana, sistem misterius yang memberinya kekuatan luar biasa setiap kali ia melakukan login harian.Namun, alih-alih menggunakan kekuatan itu untuk dirinya sendiri, Bai Ruchen mengirimkan setiap hasil login kepada Xinxin, yang sedang berkelana di dunia untuk mencari ibunya. Tanpa disadari, setiap hadiah yang diterima sang putri membuatnya tumbuh menjadi sosok kuat yang dikenal seluruh benua.Sementara dunia mulai mengguncang oleh nama “Dewa Tersembunyi”, Bai Ruchen hanya tersenyum — karena bagi dirinya, semua kekuatan itu hanyalah cara untuk melindungi putrinya dari jauh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tujuh Aksara yang Mengguncang Sang Menteri

Bai Xinxin menjulurkan lidah melihat wajah Song Zhiyuan yang begitu percaya diri.

"Kakek, taruhannya jangan setinggi itu. Jungkir balik sambil diare itu... bagaimana kalau Kakek kalah?"

Xinxin ceria, tetapi ia tahu batas. Ia tidak mau orang tua ini kehilangan muka. Di hatinya, tak ada yang tak bisa dilakukan ayahnya, jadi mustahil Ayah kalah dari kakek ini. Karena itu ia ingin memberi sedikit kelonggaran.

Namun Song Zhiyuan menggeleng tegas. "Tidak perlu. Ucapan hamba adalah janji. Kalau hamba bilang akan jungkir balik, hamba lakukan. Kalau tidak seyakin itu, hamba tak pantas menyandang nama keturunan Sang Bijak Konfusianisme!"

Ia cepat menggiling tinta, menahan lengan jubah dengan tangan kiri, lalu membentangkan kertas dengan tangan kanan. Kuas dicelup, napas ditarik dalam-dalam. Begitu kuas terangkat, Xinxin merasakan sesuatu yang aneh: kakek ini mendadak tampak jauh lebih berwibawa, seolah dikelilingi cahaya kebenaran.

Dengan kuas bulu serigala, Song Zhiyuan menulis empat aksara besar. Goresannya gagah dan bertenaga, memancarkan hawa lurus seperti dirinya sendiri. Ia mengangguk puas. "Semangat hamba sedang bagus hari ini, hasilnya melampaui biasanya. Siapa pun yang membawa tulisan ini akan kebal penyakit dan tak tersentuh kejahatan. Orang biasa pun terhindar dari sakit ringan."

Ia meniup tinta, lalu meletakkan tulisan itu di depan Xinxin. Sudut bibirnya terangkat bangga. *Gadis kecil ini mudah ditaklukkan. Begitu Permaisuri melihat kehebatan sastraku, beliau akan sadar jauh bedanya aku dengan ayah anak ini. Aku akan memberinya jalan mundur yang sopan, lalu Putri belajar tekun padaku. Aku ditakdirkan menjadi guru pakar nomor satu masa depan!*

"Putri belum mengenal ajaran sejati ayah Putri, bukan? Bagaimana menurut Putri empat aksara hamba ini?"

Xinxin memandangnya lekat-lekat. Dalam hati ia berpikir: *Tulisan kakek ini berantakan sekali.*

Melihat tatapan menggoda Song Zhiyuan, ia berdeham dan menaruh tangan di belakang punggung, berlagak bijak. "Hmm, 'Harta Karun Wanita' ini lumayan. Kertasnya putih sekali, jauh lebih bagus daripada kertas kuning di rumahku. Tapi tulisannya terlalu berantakan, kalah jauh dari tulisan Ayah!"

Wajah Song Zhiyuan menggelap, nyaris memuntahkan darah. "Putri, ini 'Tamu Merasa Seperti di Rumah Sendiri'! Masa Putri tidak bisa membaca tulisan kursif?"

Senyum Xinxin membeku. Ia memandang coretan itu lagi. Memang, suasananya terasa seperti tamu yang sangat betah di rumah orang. Gawat, hampir saja ia mempermalukan Ayah!

Tetapi Xinxin mewarisi mental tebal ayahnya. Ia melambaikan tangan. "Tentu saja aku bisa membaca! Hanya saja tulisan Kakek masih kurang, jauh di bawah yang diajarkan Ayah!"

Song Zhiyuan adalah menteri senior yang sudah bertemu segala macam orang. Mana mungkin ia tak melihat gadis itu menutupi sesuatu? Ia tersenyum. "Kalau begitu, silakan Putri menulis beberapa aksara untuk membuka wawasan hamba."

Xinxin merebut kuas itu sambil mengerutkan hidung. "Hmph, siapa takut? Ayah tak terkalahkan, jadi kaligrafi yang diajarkannya juga tak terkalahkan. Xinxin tidak akan mempermalukan Ayah!"

Ia bersiap menulis. Tepat saat itu tubuhnya menegang, dan cahaya redup menyelimutinya. Suara samar bergema di benaknya: "Paket Anda, 'Kaligrafi Tingkat Atas', telah dikirim. Silakan periksa."

Xinxin menggeleng, mencoba mengusir suara itu. Anehnya, sejak saat itu semua aksara terasa begitu akrab, dan tangannya seolah ingin terus menulis. Ia melambaikan tangan kecilnya, dan goresan hitam mengalir di atas kertas, satu demi satu.

Song Zhiyuan menahan senyum geli. *Aksara 'Tamu Merasa Seperti di Rumah' saja tak dikenalinya. Apa yang bisa ia tulis?* Ia menggeleng dan melirik santai ke arah kertas.

Begitu pandangannya menyentuh sudut kertas itu, wajahnya berubah drastis. Tubuh tuanya bergetar hebat. Gelombang Jalan Kebenaran yang dahsyat dan luas menghantam dadanya.

"Pfft!" Darah menyembur dari mulutnya.

Ia terhuyung beberapa langkah, nyaris tak sanggup berdiri. *Aku terluka oleh Jalan Kebenaran?* Sambil memegang dada dan menahan takut, ia memaksa diri menatap kertas itu lagi. Begitu menyadari sumbernya, matanya terbelalak ngeri.

"Ini... ini Niat Konfusianisme!"

Hatinya bergolak. Niat Konfusianisme hanya ada dalam legenda. Bahkan mendiang gurunya, Tao Yuchen, pewaris sejati Dao Konfusianisme dan sarjana peringkat Surga, tak pernah menyentuhnya. Hanya ahli yang memahami makna sejati Konfusianisme dan mengembangkan Dao-nya hingga Alam Terpencil di atas Tingkat Surga yang mungkin memiliki sedikit saja. Song Zhiyuan hanya pernah merasakan jejak tipisnya dari gulungan warisan, "Kitab Agung Jalan Kebenaran yang Luas". Dibandingkan dengan yang terpancar dari kertas ini, itu bagaikan kunang-kunang melawan bulan.

Pada saat itu, Xinxin meletakkan kuas dan meniup tinta. "Ayah benar, latihan membuat sempurna. Sekarang tulisan Xinxin terlihat jauh lebih bagus!"

Saat tulisan itu selesai, Niat Konfusianisme semakin membesar. Song Zhiyuan merasa dirinya perahu kecil di tengah samudra yang bisa ditelan kapan saja. *Anak enam tahun bisa menulis seperti ini?* Ia menatap wajah ceria Xinxin dan tak tahu harus berkata apa.

"Yang Mulia, bolehkah hamba melihat tulisan Putri?" tanyanya. Kesombongannya lenyap, dan ia tak lagi berani meremehkan gadis kecil itu. Dalam ilmu, yang paling unggul harus didahulukan. Taruhan sudah tak penting lagi. Kalau tak melihat tulisan itu, ia akan menyesal seumur hidup.

Xinxin tersenyum dan menyerahkan kertasnya. Song Zhiyuan menerimanya dengan kedua tangan yang gemetar, khidmat seperti sedang berziarah. Di sana tertulis tujuh aksara besar:

**"Pagi mendengar Dao, malam mati pun tak menyesal."**

Aksaranya tidak liar atau bersambung seperti tulisan kursif. Setiap goresan tegak, jujur, dan sopan, bagai seorang lelaki sejati. Hanya dengan tujuh aksara itu, Song Zhiyuan merasa isinya lebih selaras dengan ajaran Konfusianisme daripada kitab warisan aliran sendiri.

"Pagi mendengar Dao, malam mati pun tak menyesal..." gumamnya, mengulanginya berkali-kali.

Tiba-tiba terdengar gemuruh di benaknya. Muncul sosok samar seorang lelaki tua bertopi sarjana, memegang gulungan, dengan Niat Konfusianisme dan Jalan Kebenaran yang agung. Song Zhiyuan yakin belum pernah melihatnya, tetapi ia merasa harus berlutut menyembah. Kekuatan itu melampaui leluhur Konfusianisme mana pun yang pernah ia kenal.

Sang lelaki tua membuka mata perlahan dan mengangkat tangan kirinya. Niat Konfusianisme yang luas pun melonjak ke arah Song Zhiyuan. Ia merasa langit dan bumi runtuh, punggungnya langsung basah oleh keringat dingin. Ketakutan, ia buru-buru menyingkirkan kertas itu dan tak berani menatapnya lagi.

Ia terengah-engah sambil menepuk dada. Xinxin penasaran melihatnya. "Kakek, Kakek kenapa?"

Song Zhiyuan memandang gadis kecil itu, hatinya lama tak tenang. *Siapa sebenarnya ayahnya?*

Setelah cukup lama, ia akhirnya pulih. Tepat ketika hendak bicara, ia sadar jejak Niat Konfusianisme kini menyertai setiap gerakannya. Lebih mengejutkan lagi, ia telah menembus batas Tahap Akhir Tingkat Bumi dan memasuki Tingkat Surga!

Ia berdiri terpaku. Tingkat Bumi ke Tingkat Surga adalah titik balik, dan dengan bakatnya, seumur hidup ia mustahil mencapainya. Namun hanya dengan satu tulisan Putri Xinxin, ia menembus batas itu dalam beberapa tarikan napas.

Merasakan Jalan Kebenaran yang kaya dan agung di dalam tubuhnya, Song Zhiyuan dipenuhi rasa hormat. Dengan air mata berlinang, ia membungkuk dalam-dalam kepada Xinxin.

"Hamba tak pernah membayangkan kaligrafi Putri sampai ke tingkat ini. Betapa hebatnya ayah Putri! Hamba, sang kunang-kunang, berani menantang bulan terang. Hamba sungguh terlalu percaya diri! Terima kasih, Putri, atas kesempatan ini. Hamba berutang budi seumur hidup!"

1
Fajar Fathur rizky
aturan klanya wu tianshu di bantai di hadapannya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai wu tianshu dengan cara paling kejam bantai juga tiga negara itu
Fajar Fathur rizky
cepat bikin mcnya bantai pasukan wu tianshu bikin wu tianshu ketakutan memohon jangan libatkan klanya bikin mcnya berbicara asalkan putriku dan istriku memafkan mu kau dan klanmu bisa selamat bikin Wutiasnhu berlutut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!