Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Hal yang sama.
Suasana seketika hening. Cherry masih memasang wajah berusaha terlihat sedih dan tertindas, sementara Shanli di sampingnya ikut menunduk dalam diam, persis seperti gaya Cherry. Di hadapan Pak Riegan yang berdiri tegak dengan tatapan tajam itu, ketiga perwira muda itu serentak menahan napas.
"Astaga, aktingnya luar biasa." Gumam Bang Dante.
Saat itu Pak Riegan melirik ke arah Cherry dan Shanli, tapi keningnya berkerut. Tak lama ia kembali menatap ketiga perwira.
"Cherry, Shanli.. Nanti kalian boleh tinggal di rumah saya. Hidup cari uang di jalan sangat bahaya."
"Tapi, Pak. Saya harus bayar kuliah."
"Saya tau, biar kuliah kalian saya yang bayar." Kata Pak Riegan.
"Nggak, Pak. Jangan..!! Kami sudah nyaman dengan pekerjaan kami yang sekarang. Konten kami ramai kok." Tolak Cherry.
"Benar, Pak. Kalau hanya buat konten saja nggak susah. Konten kami sudah ramai dalam waktu beberapa jam saja." Imbuh Shanli.
Mendengar itu, Bang Sabrang segera membuka medsosnya. Tapi beberapa saat kemudian matanya terbuka lebar, nafasnya tercekat.
"Ijin, Komandan. Videonya benar viral, tapi......"
"Tapi apa????" Tanya Pak Riegan langsung cemas. Ia menghampiri Letnan Sabrang dan merebut ponselnya. "Astaghfirullah.... Take down..!!!!!"
...
Pak Riegan menunduk dengan gelisah. Mama Phia berusaha menenangkan suaminya yang sedang gelisah.
"Minum dulu, yah. Jangan sampai migrain ayah kambuh." Kata Mama Phia mengingatkan.
"Ayah harus bagaimana, Ma. Sebenarnya Ayah lihat Kinan itu perempuan yang baik. Ayah tau sebenarnya Elang juga langsung suka. Tapi insiden toilet itu viral, bahkan sudah di edit. Kita sulit untuk menaikan lagi video aslinya karena semakin kita melakukan pembenaran, makan netizen akan semakin keras." Jawab Pak Riegan. "Dan lagi.. Dante......... Arrrggghhh.. Sakitnya kepalaku, Maaa..!!!!!"
Mama Phia mengusap punggung suaminya. "Besok kita bicara sama anak-anak. Sekarang Ayah istirahat dulu."
Pak Riegan merasa sangat bersalah jika tidak bisa memberikan hal yang terbaik bagi putranya. Di saat ini, bukan Pak Riegan tidak mau menjodohkan Bang Dante, tapi video itu sudah menunjukan suatu 'kebenaran' yang seharusnya di tutup rapat.
VIRAL....
Kata itu yang kini menghantam hati Pak Riegan berkali lipat. Di layar ponsel itu, video yang beliau terima sudah diedit total. Kebenaran pun sulit di tutupi.
Rekaman sebelum Cherry masuk dalam toilet rusak, ada detik dimana Letnan Dante sedang dalam functional addict. Dan saat Bang Dante menyergap Cherry, saat mereka jatuh berguling, saat tangan Dante tak sengaja mendarat di tempat yang salah. Semua dipotong, disusun ulang, dan diberi judul yang jelas menggiring opini publik.
'PEDAGANG ASONGAN, PENGGUNA NARKOTIKA, KASAR, GILA, DAN TAK BISA MENGENDALIKAN DIRI DAN EMOSI DI HADAPAN WANITA.'
Ratusan bahkan ribuan komentar datang memenuhi kolom dalam hitungan menit. Ada yang menyebut mabuk, ada yang menuduhnya konsumsi obat-obatan, ada yang meminta hukuman peradilan sipil.
Kata demi kata menghantam dada Pak Riegan lebih keras daripada teguran apapun. Hernando. Sekelebat bayangan wajah sahabatnya, pria yang ia cintai seperti saudara sendiri, yang perlahan menghilang, tubuhnya menyusut, matanya sayu, kosong, sebelum akhirnya ia berpulang tanpa pernah benar-benar pulih. Dan kini, Dante... wajah, perawakan, bahkan tatapan matanya, persis seperti almarhum Hernando. Dan rumor itu... rumor itu tidak sepenuhnya salah.
//
Bang Elang mengerjab membuka matanya. Di kost kecil itu, ia menggeliat merasakan lengannya yang pegal. Namun sesaat kemudian ia terperanjat kaget melihat seorang gadis tidur bersandar pada lengannya. Lebih kaget lagi, keadaan mereka pun tak semestinya.
"Astagfirullah.. Shanliiiiii..!!!!" Pekik Bang Elang membuat Shanli terbangun.
"Oom??? Kenapa om ada disini????" Suara Shanli tak kalah nyaring sampai akhirnya, Bang Elang harus menutup mulut gadis itu.
"Jangan teriak..!!!" Bang Elang memastikan keadaan sekitar, ia membuka selimutnya untuk menyadarkan diri. Sesaat kemudian, Bang Elang menepuk keningnya. "Bo*ohnya kau, Lang..!!!"
"Ini bagaimana????" Lanjut Shanli dengan wajah takut.
"Iyaa.. Iyaaa........"
***
Hari nyaris pagi. Di ruang kerja rumah dinas yang Pati, Pak Riegan menunduk sejenak sembari memejamkan mata. Ponselnya tergeletak di meja, video itu terus berputar ulang seakan membuatnya seakan kembali terlempar pada titik terendah.
Masalah besar seperti ini, tak mungkin ia katakan pada sang istri. Tak ada kata yang tepat untuk menjabarkan situasi tersebut. Setelah matahari meninggi, Pak Riegan berniat menemui putra sahabatnya secara pribadi.
...
"Sejak kapan kamu berurusan dengan obat itu?? Kenapa tidak bilang ayah??" Tegur Pak Riegan langsung pada Bang Dante. Suaranya memang rendah namun jelas menahan amarah dan ketakutan yang meluap.
"Obat apa yah??"
"Nggak usah ngelak. Kau nge-slang. Itu efek obat. Ayah kenal tanda-tandanya. Ayah sudah melihatnya dulu..." Suaranya terhenti sejenak, tertahan di kerongkongan. "Saat bersama ayahmu dulu."
Bang Dante terdiam. Kata terakhir itu membuat seluruh tubuhnya tegang. Ia menunduk, napasnya terasa berat. Perlahan ia mengangguk pelan, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
"Bukan karena mau, Yah..." suaranya lirih, penuh kepahitan. "Saat penyamaran di wilayah perbatasan, saya tertangkap, bandar narkoba yang saya bereskan dua tahun lalu. Mereka menyuntikkan sesuatu ke tubuh saya, tanpa saya tau. Saat saya sadar, saya sudah kecanduan. Saya berjuang diam-diam untuk berhenti. Sudah dua tahun itu juga saya berusaha mengurangi dosisnya sedikit demi sedikit. Hari itu, saat insiden di toilet... tubuh saya sudah kesakitan, gemetar, dingin, panas, semua datang bersamaan. Saya tidak sedang mabuk. Saya.... Sakau."
Pak Riegan memejamkan mata rapat-rapat, beliau berusaha menahan isak tangis yang nyaris meledak. Bayang mendiang sahabatnya kembali berkelebat di depan mata. Tubuh gagah yang semakin lama semakin kurus, mata yang kosong, hari-hari terakhir yang penuh penderitaan.
"Kenapa tidak bilang sama ayah? Ini ayahmu sendiri, apa kau memang tidak mau memanggilku ayah???" tanyanya lemah, tangan pria paruh baya itu gemetar menyentuh bahu putra sahabatnya. "Kau pikir Ayah akan membiarkanmu berjuang sendirian? Seperti Hernando yang pergi tiba-tiba tanpa kata?"
"Saya malu, Yah." Bang Dante menatap lurus ke mata ayah angkatnya, air mata mulai menetes di pipinya. "Saya ini tentara, saya Intel. Saya dilatih untuk kuat, untuk tidak lemah. Lalu saya jatuh karena hal seperti ini? Saya takut Ayah kecewa. Saya gagal karena tidak bisa menjadi prajurit yang membanggakan."
"Kenapa kau bisa punya pikiran seperti itu, Dante." Pak Riegan menariknya ke dalam pelukan erat, memeluk putra sahabatnya itu sekuat tenaga. "Kamu tidak akan sendirian melewatinya. Hernando menanggungnya sendirian sampai akhir. Tapi kau... kau punya Ayah, punya Elang, punya kami semua, keluargamu. Cepat sembuh, Dante.. Menikahlah agar hidupmu lebih terarah."
Bang Dante tertegun. Hatinya memang patah, tapi tidak pernah sekalipun 'ayahnya' jauh darinya.
"Kita rehab ya..!!" Ajak Pak Riegan tak ubahnya Pak Reigar dulu, saat berusaha menyelamatkan nyawa sahabatnya.
.
.
.
.
maaf ya mba Naraa/Pray/...tetep tak baca koq meskipun nyesek banget🥹
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara