NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Matahari siang merambat tepat ke puncaknya, memancarkan pendar terik yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit kota. Di dalam dapur mansion Deluca, Zela tampak sibuk mengemas kotak bekal empat tingkat berbahan stainless steel. Ia telah memasakkan deretan menu makan siang spesial: sup iga sapi berkuah bening yang gurih, ayam goreng rempah dengan krispi sempurna, tumis buncis muda, serta sambal terasi terpisah.

Meski tadi pagi aksinya memasak sarapan mendapat sambutan dingin dan penolakan mentah-mentah dari Bashkar, Zela sama sekali tidak berniat mundur. Semangatnya justru semakin membara.

"Gagak tidak akan menyerah hanya karena bentengnya dikunci," gumam Zela mantap seraya menutup kotak bekalnya dan memasukkannya ke dalam tas kain yang rapi.

Mengenakan gaun kasual berwarna krem yang anggun namun tidak mencolok, Zela melangkah keluar dari mansion dan memesan taksi menuju pusat kota. Tujuannya satu: Deluca Corp, markas besar imperium bisnis sah yang dikelola oleh Bashkar untuk menutupi jaringan underworld-nya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gedung megah berlantai lima puluh dengan arsitektur kaca hitam yang angkuh dan megah. Zela melangkah turun, membawa tas bekalnya dengan senyum mengembang.

Namun, baru saja kakinya menginjakkan langkah di depan pintu kaca otomatis lobby utama, dua pria berbadan tinggi tegap berseragam satpam lengkap dengan setelan jas hitam langsung melangkah maju, menghadang jalan Zela dengan posisi tubuh membenteng.

"Mohon maaf, Nyonya Zelara. Anda tidak diperkenankan memasuki area gedung," ucap salah seorang satpam dengan suara tegas dan wajah kaku tanpa ekspresi.

Zela terhenti, mengernyitkan alisnya tipis. "Loh? Kenapa? Aku cuma mau ke ruangan suamiku di atas. Mau ngantarin makan siang."

"Perintah langsung dari Tuan Bashkar, Nyonya," timpal satpam kedua tanpa ragu. "Tuan Besar sudah menegaskan bahwa Anda dilarang keras melintasi lobby atau menginjakkan kaki di lantai atas gedung ini tanpa izin tertulis dari beliau."

Zela menelan ludah. Anjir... tega amat si Bashkar sampai ngeluarin perintah blacklisting buat istrinya sendiri! batin Zela mengelus dada.

"Pak, tolonglah. Aku cuma sebentar kok, cuma mau kasih bekal ini terus langsung pulang. Nggak bakal bikin ricuh kayak biasanya, sumpah!" Zela mencoba merayu, memasang raut wajah memelas yang menggemaskan.

"Mohon maaf sekali, Nyonya. Jika kami melanggar perintah Tuan Bashkar, taruhannya adalah pekerjaan dan nyawa kami," tegas satpam itu dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.

Drama penolakan di depan pintu lobby yang megah itu perlahan menyita perhatian beberapa karyawan yang berlalu-lalang di lantai dasar. Mereka berbisik-bisik, menatap Zela dengan tatapan iba bercampur geli. Semua orang tahu betapa buruknya hubungan Tuan Besar mereka dengan sang istri yang terkenal arogan.

Di saat Zela sedang menimbang-nimbang apakah ia harus nekat menerobos atau melakukan aksi teriak-teriak

Ting.

Pintu lift khusus eksekutif di balik area resepsionis terbuka. Dari dalamnya melangkah keluar seorang pria berusia akhir belasan atau awal dua puluhan berpenampilan sangat rapi. Ia mengenakan kemeja abu-abu dengan kacamata berbingkai tipis, memegang sebuah map dokumen tebal.

Dialah Rian, asisten pribadi kepercayaan Bashkar yang telah mengabdi dan berdiri di sisi Bashkar sejak masa-masa paling kelam dalam hidup pria itu. Rian bukan sekadar asisten biasa; ia adalah tangan kanan yang teramat setia, tahu persis seluruh rahasia, penderitaan, hingga luka masa lalu Bashkar.

Melihat kekacauan kecil di depan pintu masuk, Rian membetulkan letak kacamatanya lalu melangkah mendekat.

"Ada apa ini?" tanya Rian dengan suara tenang namun berwibawa.

Dua satpam itu refleks menunduk hormat. "Pak Rian. Nyonya Zelara memaksa masuk untuk menemui Tuan Bashkar, padahal instruksi Tuan sudah jelas."

Rian mengalihkan pandangannya pada Zela. Manik matanya di balik lensa kacamata menatap Zela dengan kecurigaan yang tebal. Selama bertahun-tahun, Rian menyaksikan sendiri bagaimana wanita bernama Zelara ini terus-menerus menyiksa mental Tuan-nya, melontarkan caci maki, dan membuat hidup Bashkar semakin menderita. Bagi Rian, Zelara adalah racun dalam hidup atasannya.

"Nyonya Zelara," sapa Rian dengan sopan santun yang sangat dingin dan berjarak. "Tuan Bashkar sedang memimpin rapat penting dengan jajaran direksi. Beliau juga sudah menyampaikan pesan khusus kepada saya jika Anda datang ke sini."

Zela menatap Rian, teringat pada karakter Rian di dalam novel yang memang sangat protektif terhadap Bashkar. Zela tidak marah; ia justru sangat menghormati kesetiaan pria di depannya ini.

"Pesan apa, Rian?" tanya Zela lembut.

Rian menatap Zela tanpa riak emosi. "Tuan meminta Anda untuk tidak membuang-buang waktu dengan melakukan drama atau kepura-puraan baru. Beliau tidak memiliki waktu untuk permainan Anda, Nyonya."

Kalimat itu terucap secara telak, lugas, dan menusuk. Jika itu adalah Zelara yang asli, gedung ini dipastikan sudah hancur akibat kemarahan dan teriakan histerisnya saat ini.

Namun, Zela justru mengembuskan napas pelan, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tulus. Tak ada aura dendam, tak ada amarah di matanya. Kejernihan tatapan Zela membuat Rian sempat tertahan sejenak, sedikit tersentak oleh respon yang sama sekali di luar prediksinya.

Zela tidak patah semangat sedikit pun. Ia tahu menembus tembok pertahanan yang dibangun Bashkar dan Rian membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.

"Aku paham kok," ucap Zela tenang, lalu merogoh tas kainnya dan mengeluarkan kotak bekal empat tingkat berserta botol termos berisi teh hangat. Zela menyodorkannya ke hadapan Rian. "Kalau gitu, aku nggak akan memaksa masuk dan mengganggu rapatnya."

Rian memandangi kotak bekal itu dengan kening berkerut. "Nyonya, Tuan tidak akan—"

"Tolong titip ini ya, Rian," potong Zela cepat, menatap mata Rian dengan binar permohonan yang amat hangat. "Ini makanan sehat. Sup iga hangat sama ayam goreng. Aku yang masak sendiri dari subuh sampai siang ini, dijamin bersih dan nggak ada racunnya sedikit pun."

Rian membeku, ragu untuk menerima kotak bekal tersebut.

Zela mengambil tangan Rian dan melingkarkan jemari sang asisten pada gagang tas bekal itu secara lembut. "Tolong pastikan dia makan ya, Rian? Aku tahu dia kalau udah rapat suka lupa makan siang. Kasihan lambungnya nanti sakit. Kalau dia tetap nggak mau makan... kamu aja yang makan ya, jangan dibuang."

Setelah meletakkan bekal itu, Zela mundur beberapa langkah, lalu menyunggingkan senyum lebarnnya yang paling manis.

"Makasih ya, Rian! Bilangin ke bos kamu, istrinya yang cantik ini bakal nunggu di rumah!" seru Zela ceria seraya melambaikan tangannya santai, lalu berbalik dan berjalan keluar dari gedung dengan langkah ringan menuju taksi yang menunggunya.

Rian berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung Zela yang perlahan menghilang di balik pintu kaca, lalu beralih menatap tas bekal hangat di tangannya. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun mengenali sosok Zelara Sabiru, Rian merasa kebingungan setengah mati. Rasa hangat dan ketulusan dari senyuman wanita itu terasa sangat nyata sama sekali tidak seperti pura-pura.

1
Icon Diamon
bagus thor buatlah penyesalan terdalam atas kematian zelara karna sikapnya kepada clarissa membuat kemtian bagi zelara ,,aku setuju baget thor lw zelara tiada,,,
Candi Ci
ceritan bagus thor ,,semangat thor ,,lebih semangat lagi buat zelara meningal atau dia hidup kembali tapi dengan ilang ngatan dan pergi jauh dari si baskhar itu ,,💪💪👍
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!