NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Pemakaman

Langit siang itu mendung, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti keluarga besar Pak Santoso. Awan kelabu menggantung rendah, angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah. Sejak pagi, rumah duka tak pernah sepi dari pelayat yang datang silih berganti.

Tangis lirih terdengar dari dalam rumah. Beberapa kerabat mencoba menenangkan Bu Santoso yang terus menangis tanpa henti. Kehilangan suami tercinta dalam waktu yang begitu mendadak membuat hatinya seakan ikut runtuh.

Di sudut ruangan, Raya duduk terpaku.

Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia bahkan tidak tahu harus menangis atau tidak. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang datang bertubi-tubi. Dalam waktu kurang dari satu jam, hidupnya berubah drastis—menjadi istri, lalu janda, dan kini… kehilangan ayahnya.

Raya menatap ke arah jasad ayahnya yang sudah terbujur kaku, dibalut kain kafan. Dadanya sesak.

"Ayah…” lirihnya hampir tak terdengar.

Tangannya gemetar saat ia mencoba menyentuh ujung kain kafan itu. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang biasanya selalu hangat memeluknya.

"Maafin Raya, Yah!” suaranya pecah. “Raya belum sempat bikin Ayah bangga…”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Satu per satu, hingga berubah menjadi isak yang tak bisa dibendung lagi.

Beberapa orang mendekat, mencoba menenangkan. Namun rasa kehilangan itu terlalu besar untuk sekadar dihapus dengan kata-kata.

Tak lama kemudian, proses pemberangkatan jenazah dimulai.

Suara doa menggema pelan, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Para pelayat ikut mengiringi, langkah mereka berat, suasana hening hanya diisi oleh tangis yang tertahan.

Raya berjalan di antara kerumunan, langkahnya lemah. Beberapa kali ia hampir terjatuh jika tidak ditopang oleh kerabat di sampingnya.

Saat keranda diangkat, Raya menatapnya dengan pandangan kosong.

Itu benar-benar ayahnya.

Ayah yang tadi pagi masih sempat berbicara dengannya… kini pergi untuk selamanya.

"Ya Allah…!” bisiknya pelan, suaranya nyaris hilang terbawa angin.

Di pemakaman, tanah sudah digali. Lubang itu terlihat begitu dalam—seakan menjadi batas antara dunia yang fana dan keabadian.

Hujan rintik mulai turun, menambah suasana sendu.

Satu per satu, orang-orang mengelilingi liang lahat. Doa kembali dipanjatkan. Raya berdiri tak jauh dari sana, tubuhnya kaku, matanya tak lepas dari setiap proses yang terjadi.

Saat jasad Pak Santoso mulai diturunkan ke dalam liang lahat, Raya tak mampu lagi menahan dirinya.

"Ayah…!” teriaknya, suaranya pecah penuh keputusasaan.

Ia melangkah maju, namun segera ditahan.

"Raya, Nak… ikhlasin…” ujar seseorang dengan suara bergetar.

Namun bagaimana mungkin ia mengikhlaskan secepat itu?

Baru saja ia kehilangan segalanya.

Ayahnya adalah tempat terakhirnya bersandar. Satu-satunya orang yang selalu mempercayainya tanpa syarat.

Dan sekarang… semuanya hilang.

Raya jatuh berlutut di tanah yang mulai basah oleh hujan. Tangannya mencengkeram tanah, seolah ingin menghentikan waktu agar tak berjalan lebih jauh.

"Ayah… jangan tinggalin Raya!” tangisnya pilu.

Orang-orang di sekitarnya ikut menunduk, beberapa tak kuasa menahan air mata. Pemandangan itu begitu menyayat hati.

Tanah mulai ditimbun perlahan.

Setiap sekop tanah yang jatuh terasa seperti menghantam hati Raya. Ia hanya bisa menatap, tak berdaya, saat sosok yang paling ia cintai benar-benar menghilang dari pandangannya.

Hingga akhirnya… hanya tersisa gundukan tanah.

Dan keheningan.

Setelah semua selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hujan pun perlahan reda, menyisakan udara dingin yang menusuk.

Namun Raya masih di sana.

Duduk diam di depan pusara ayahnya.

Matanya kosong, air matanya sudah hampir habis. Ia bahkan tak tahu harus merasa apa lagi.

"Raya janji, Yah…” bisiknya lirih, suaranya serak.

"Ayah tenang aja… Raya bakal jadi orang yang kuat. Raya bakal wujudin semua cita-cita Ayah…”

Tangannya menyentuh tanah makam itu dengan lembut.

"Raya bakal buktiin… kalau Raya bisa… bikin Ayah bangga…”

Angin berhembus pelan, seolah membawa pergi kesedihan yang terlalu berat.

Namun jauh di dalam hati Raya, luka itu baru saja dimulai.

Dan tanpa ia sadari, hidupnya ke depan… akan jauh lebih keras dari yang pernah ia bayangkan.

***

Sementara itu, di tempat yang berbeda…

Mobil hitam milik Kamil melaju membelah jalanan kota tanpa ragu. Wajahnya terlihat tegang, namun ada sorot kepuasan yang tak bisa ia sembunyikan. Tangannya menggenggam setir erat, seolah masih mengingat jelas apa yang baru saja ia lakukan.

Ia baru saja menjatuhkan talak tiga… tepat setelah akad.

Bukan karena emosi. Bukan pula karena terpaksa. Melainkan… pilihan.

Pilihan yang menurutnya adalah bukti cinta.

Beberapa menit kemudian, mobilnya memasuki area parkiran sebuah apartemen mewah. Ia turun dengan langkah cepat, nyaris tergesa. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju lift, menekan tombol lantai tujuan dengan jari yang sedikit bergetar.

Ding.

Pintu lift terbuka.

Kamil melangkah keluar, berjalan menyusuri lorong panjang yang sunyi. Ia berhenti di depan sebuah pintu, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menekan bel.

Tak butuh waktu lama.

Pintu itu terbuka.

Seorang wanita berdiri di sana—Amanda.

Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan riasan tipis. Namun saat melihat Kamil, keningnya sedikit berkerut.

"Kamil?” suaranya terdengar heran. “Bukannya hari ini lo nikah?”

Kamil tersenyum.

Senyum yang sulit diartikan.

"Boleh gue masuk dulu?” tanyanya pelan.

Amanda mengangguk, meski masih diliputi rasa bingung. Ia memberi jalan, membiarkan Kamil masuk ke dalam apartemennya.

Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening.

Kamil berdiri di tengah ruangan, menatap Amanda lekat-lekat. Seolah memastikan bahwa wanita di hadapannya ini nyata—bukan sekadar angan yang selama ini ia perjuangkan.

"Ada apa, Mil? Lo bikin gue deg-degan,” ujar Amanda sambil menyilangkan tangan di dada.

Kamil menghembuskan napas panjang.

Lalu…

"Aku udah lakuin,” ucapnya pelan, namun tegas.

Amanda mengernyit. “Lakuin apa?”

Kamil mendekat selangkah.

"Aku nikahin dia… dan langsung aku talak.”

Hening.

Wajah Amanda langsung berubah. Matanya membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Lo… apa?” suaranya nyaris berbisik.

"Aku talak dia. Talak tiga,” ulang Kamil tanpa ragu. “Selesai saat itu juga.”

Amanda mundur satu langkah.

"Lo serius?” tanyanya, suaranya mulai bergetar. "Lo gila, Kamil?!”

Namun Kamil justru tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan.

"Enggak. Justru ini… bukti kalau aku serius sama kamu.”

Amanda terdiam.

"Semua ini aku lakuin demi kamu, Man,” lanjut Kamil, suaranya melembut. “Aku mau buktiin kalau gak ada siapa pun yang bisa gantikan kamu di hidup aku. Bahkan… pernikahan itu pun gak berarti apa-apa buat aku.”

Setiap kata yang keluar dari mulut Kamil terdengar mantap.

Yakin.

Seolah ia benar-benar percaya dengan apa yang ia katakan.

Namun Amanda justru menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Ada keterkejutan.

Ada ketakutan.

Dan… entah kenapa, ada sedikit keraguan yang mulai menyelinap di hatinya.

"Mil…” ucapnya pelan. “Lo sadar gak sih… apa yang barusan lo lakuin itu?”

Ia tak melanjutkan kalimatnya.

Karena bahkan ia sendiri tak tahu harus menyebutnya sebagai apa.

Cinta?

Atau… kehancuran?

Kamil melangkah lebih dekat, menatapnya penuh harap.

"Gue cuma mau lu tahu,” katanya lirih, “gue rela ngelakuin apa aja buat lo.”

Ruangan itu kembali hening.

Namun kali ini… bukan karena damai.

Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit mulai tumbuh di antara mereka.

1
Bang Gono
setiap brrbiatan ada balasan adik laka Podo ae
Siti Saodah
gak apa-apa wajar si Amanda dapat karma jga karna dia jga udah nyakitin orang lain
Siti Saodah
ini lebih parah keluarga gak punya 🫣,klo dulu masih mending keluarga Kamil sampe ngamuk ke si Kamil lah ini malah di dukung bilangnya kebahagiaan putri nya aneh
Siti Saodah
kalo di pikir pikir keluarga Si Amanda jga gak punya malu, harusnya dia minta maaf minimal ke keluarga nya si Kamil
Siti Saodah
si Amanda egois kali dia milih Aldi biar bagai manapun Jamil yng telah lebih dulu mau menikahinya terlepas dari semua kesalahan nya terhadap raya ini kan beda cerita
Siti Saodah
pergilah ke bandung Aldo dan batalkan pernikahan nya, biar si Kamil ngerasain di permalukan,tapi di Nanda jga jangan di bikin bahagia karena ada andil dia menghancurkan Raya meskipun secara gak sengaja
Siti Saodah
kaya nya ini bakan terulang lagi deh sekarang si Manda yang kabur sama Aldo,
Siti Saodah
harus nya si Andra nembak dulu ke raya,jangan main klaim aja calon istri,raya kan jdi Gimanaa gitu
Siti Saodah
ih gak tau malu bangett
Siti Saodah
dasar gak punya malu, mungkin udah putus urat malunya,gak adik nya gak kakak nya sama saja
bunda DF 💞
bagus bangeet lho ceritanya,, awal baca ga expect sebagus inii. otw baca karya othor yg lainnya
Siti Saodah
si Kamil nyangka nya dia di jebak lalu si Manda langsung hamil anak nya, tapi apa dia gak ngerasain klo si Manda udah bolong
Siti Saodah
bandara lagi Thor
Siti Saodah
karma sudah mulai satu persatu
Siti Saodah
cepat lah Thor beri si Kamil pelajaran,dengan mengetahui si Manda hamil bukan anak nya
Siti Saodah
kalo tau si Amanda hamil ana orang lain, pasti si Kamil nyesel udah ninggalin Raya demi seorang jalang
Siti Saodah
si Kamil bukan cuma buta mata tapi buta hati masa gak bisa bedain mana gadis mna yng udah dol
Siti Saodah
nah kan emang si Kamil bodoh ngelepasin berlian demi batu kerikil,bekas lagi
Siti Saodah
emang bener yng di ucapkan mamii nya, soalnya si Amanda ke si Kamil jga welcome ,gak tegas kaya PHP gitu
Arie
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!