Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
Ammar menunduk, pikirannya kalut. Apalagi, saat membayangkan Naima harus menanggung rasa sakit lebih lama, dadanya terasa sesak. Dia tak sanggup mengabaikan keadaan putrinya. Tak sanggup jika harus kehilangan buah hatinya.
Davina meraih lengan suaminya. Matanya berkaca-kaca saat menatap pria itu. “Mas, kita setujui saja operasinya,” bujuknya.
Ammar menoleh. “Tapi biayanya puluhan juta, Vina. Kita juga sedang banyak masalah. Kalau uang sebanyak itu kita keluarkan sekarang, bagaimana dengan kebutuhan usaha?”
“Uang bisa dicari, Mas. Kita bisa berusaha mendapatkannya lagi.” Davina menggenggam tangan suaminya erat-erat. “Tapi nyawa Naima harus diselamatkan. Aku nggak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada anak kita.”
Ammar terdiam. Dia tahu Davina benar. Selama ini, mereka sibuk mengurus usaha dan mempertahankan keuntungan yang sudah didapatkan. Namun, ketika putri mereka terbaring tak berdaya, semua itu terasa tidak berarti.
“Baiklah. Kita utamakan Naima,” jawab Ammar akhirnya
Davina mengusap air matanya, lalu mengangguk. Mereka segera menemui dokter untuk menyetujui tindakan operasi. Setelah itu, seorang petugas administrasi menjelaskan perkiraan biaya yang harus dibayarkan serta meminta mereka menyelesaikan persyaratan yang diperlukan.
Ammar mengurus administrasi, sementara Davina menunggu di dekat ruang operasi. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melihat Naima yang terbaring di atas brangkar dengan tangan terpasang penyangga.
“Nai, Bunda tunggu di sini, Sayang. Kamu harus kuat, ya,” bisiknya dengan suara bergetar.
Pintu ruang operasi akhirnya tertutup. Davina berdiri mematung beberapa saat sebelum menjatuhkan diri ke kursi tunggu. Kedua tangannya saling meremas, sementara pikirannya dipenuhi bayangan buruk yang berusaha ia singkirkan.
Ammar duduk di sampingnya. pria itu juga tak tahu harus berbuat apa selain menunggu.
“Mas, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Naima?” tanya Davina pelan.
Ammar meraih bahunya. “Jangan berpikir macam-macam dulu. Kita berdoa semoga operasinya berjalan lancar.”
Davina menyandarkan kepala ke bahu Ammar. Air matanya kembali mengalir. Ia menyesali kejadian yang menimpa putrinya, meski saat itu ia bahkan tak tahu bagaimana Naima bisa terjatuh dari tangga.
Beberapa jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Davina dan Ammar sontak berdiri, lalu menghampirinya dengan perasaan campur aduk.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Ammar tak sabar.
“Operasinya berjalan lancar. Namun, Naima masih harus menjalani pemantauan karena mengalami cedera pada kepala. Untuk sementara, kondisinya akan kami awasi secara ketat.”
Kedua lutut Davian terasa lemas mendengar kabar itu. “Boleh kami melihatnya, Dok?” tanyanya.
“Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Nanti perawat akan mengarahkan Anda,” jawab sang dokter.
“Terima kasih, Dok,” ucap Ammar tulus.
Setelah dokter pergi, Davina kembali duduk. Kali ini, ia bisa bernapas sedikit lega. Setidaknya, operasi Naima telah selesai dan putri mereka masih memiliki kesempatan untuk pulih.
*
*
*
Di rumah Pak Ikhsan.
Pagi itu, Alfa bersiap berangkat ke kantor. Dia tampak necis dengan setelan pakaian yang dikenakannya. Kemeja warna baby blue dipadu celana panjang bahan hitam menambah aura maskulin pada dirinya. Sebelum pergi, terlebih dahulu menyempatkan diri sarapan bersama kedua orang tua serta adik semata wayangnya.
Pak Ikhsan yang sedang menikmati sarapannya menoleh ke arah putra sulungnya.
“Bagaimana perkembangan CV Pradana Karya sekarang, Al?"
Alfa meletakkan sendoknya menatap sang ayah. “Alhamdulillah, Yah. Sekarang sudah ada beberapa proyek yang berjalan. Herman membantu mengawasi pekerjaan di lapangan, jadi aku bisa lebih fokus mengurus kerja sama dengan klien dan mencari proyek baru.”
“Syukurlah kalau begitu.” Pak Ikhsan mengangguk lega.
“Tapi ingat, kamu harus tetap berhati-hati, jangan terlalu percaya pada seseorang. Jadikan kasus Ammar sebagai pengalaman berharga untuk kedepannya agar jangan sampai terulang lagi."
"Dan satu lagi, jangan sampai kamu juga mengorbankan kesehatanmu hanya karena ingin mengembangkan usaha.”
“Iya, Yah. Aku selalu ingat hal itu," sahut Alfa.
"Dan juga aku sudah mulai membenahi sistem kerja di kantor supaya semuanya lebih teratur.”
Ulya yang sejak tadi menyimak percakapan mereka langsung menyela dengan wajah antusias.
“Kak, nanti kalau aku sudah lulus kuliah, boleh kerja di tempat Kakak, kan?”
Alfa menoleh ke arah adiknya, lalu tersenyum. “Memangnya kamu sudah tahu mau melamar sebagai apa?”
“Belum tahu, sih. Tapi setidaknya aku sudah punya rencana mau kerja di kantor Kakak. Lumayan, bisa dekat dengan bosnya sendiri," jawab gadis itu sambil menyengir.
Bu Mala yang sedang meletakkan lauk ke piring langsung menatap putrinya.
“Kamu kuliah dulu yang benar. Selesaikan pendidikanmu dengan baik dan buktikan kalau kamu memang pantas dibanggakan, bukan sekadar bisa bekerja di sana karena koneksi kakakmu.”
Ulya mengerucutkan bibir, tetapi segera mengangguk patuh. “Siap, Bu! Aku akan belajar sungguh-sungguh. Nanti aku juga mau melamar dengan cara yang benar, ikut seleksi seperti orang lain.”
Alfa kembali tertawa mendengar jawaban adiknya. “Bagus. Kalau kamu memang punya kemampuan yang dibutuhkan, tentu akan ada kesempatan. Tapi jangan berharap mendapat perlakuan khusus hanya karena kamu adikku.”
“Iya, Kak. Tenang saja. Aku akan membuktikan kemampuanku.”
Pak Ikhsan tersenyum melihat kedua anaknya. “Nah, begitu. Kalian harus saling mendukung, tapi tetap bertanggungjawab atas jalan masing-masing.”
Percakapan ringan itu berakhir ketika Alfa melihat jam tangannya. Dia segera menghabiskan sarapan, lalu mengambil tas kerja yang ada di atas meja.
“Aku berangkat dulu, Yah, Bu. Ulya, belajar yang rajin,” pamitnya.
“Hati-hati di jalan, Al,” pesan Bu Mala.
“Siap, Bu.”
*
*
*
CV Pradana Karya
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Alfa tiba di kantor CV Pradana Karya menjelang pukul sembilan pagi.
Begitu memasuki ruangan, seorang staf administrasi bernama Desi segera menghampirinya sambil membawa sebuah map.
“Pagi, Pak Alfa. Ada seorang klien yang sudah menunggu di ruang pertemuan,” lapornya.
Alfa menghentikan langkah. “Klien siapa, Des? Sebelumnya sudah membuat janji?”
“Sudah, Pak. Beliau menghubungi kantor kemarin sore dan meminta bertemu langsung dengan Bapak untuk membicarakan rencana pembangunan proyek.”
“Baik. Siapkan minuman untuk tamu kita. Aku akan menemui beliau.”
“Baik, Pak.”
Desi kembali ke meja kerjanya, sedangkan Alfa memasuki ruangannya. Dia meletakkan tas serta memeriksa jadwal pertemuan. Setelahnya Alfa keluar dan berjalan menuju ruang pertemuan.
“Selamat pagi. Saya Alfa, pemilik CV Pradana Karya,” sapanya sambil mengulurkan tangan.
“Pagi, Pak Alfa. Saya Hendrik,” jawab pria itu, menyambut uluran tangan Alfa. “Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya.”
“Sama-sama, Pak Hendrik. Silakan duduk," ucap Alfa.
"Saya mendapat informasi bahwa Bapak ingin membicarakan proyek pembangunan. Bisa dijelaskan lebih terperinci mengenai rencana tersebut?”
Hendrik membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan sebuah map berisi beberapa dokumen.
“Begini, Pak Alfa. Perusahaan kami berencana membangun sebuah gedung komersial di atas lahan yang baru kami beli. Kami sedang mencari kontraktor yang bisa menangani pekerjaan tersebut dari tahap awal hingga selesai.”
Alfa menerima dokumen yang disodorkan kepadanya, lantas mulai memeriksa isinya.
“Kalau boleh tahu, apakah perusahaan Bapak sudah memiliki panduan kerja dan perkiraan anggaran untuk proyek ini?”
“Untuk anggaran awal sudah ada, tapi kami masih membutuhkan masukan dari kontraktor mengenai perhitungan biaya dan tahapan pengerjaannya.”
Alfa mengangguk sambil membalik halaman berikutnya. Tawaran itu cukup menarik, tetapi dia tidak ingin terburu-buru memberikan kesanggupan sebelum mengetahui kebutuhan proyek secara menyeluruh.
“Baik, Pak Hendrik. Saya akan mempelajari dokumen ini terlebih dahulu. Setelah itu, tim kami bisa melakukan peninjauan lokasi dan menyusun penawaran berdasarkan kondisi lapangan serta kebutuhan pembangunan.”
Hendrik tampak puas dengan jawaban tersebut. “Justru itu yang memang kami harapkan. Kami ingin bekerja sama dengan kontraktor yang tidak hanya mengejar penyelesaian proyek, tapi juga memperhatikan kualitas pekerjaan.”
Kemudian, Alfa menutup map itu, lalu menatap calon kliennya.
“Kalau begitu, semoga kita bisa menemukan kesepakatan yang baik untuk kedua belah pihak, Pak.”