Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10— Tamu yang Tidak Diundang
Bab 10— Tamu yang Tidak Diundang
Malam itu, Rania tidak bisa tidur.
Ia duduk bersila di atas ranjang, kain abu-abu kasar itu masih tergeletak di atas meja rias, seolah menantangnya untuk terus memikirkan siapa pemiliknya.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Coba cek lagi. Ada info baru soal kain itu?"
[Tidak ada data tambahan sejak pemeriksaan terakhir.]
Rania mendesah, merebahkan diri ke bantal. Baru saja matanya mulai terpejam, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Terlalu pelan untuk seorang dayang. Terlalu larut untuk tamu resmi.
Rania bangkit waspada, meraih apa pun benda terdekat yang bisa dijadikan senjata kebetulan hanya ada sisir kayu di meja rias.
"Siapa?"
"Ini aku."
Suara itu familiar. Rania mengenali nada datarnya dalam sekejap.
Ia membuka pintu perlahan, dan benar saja Mukti berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian sederhana tanpa atribut kerajaan seperti biasanya, seolah sengaja menyamar agar tidak dikenali penjaga malam.
"Pangeran? Ini udah malem banget."
"Aku tahu." Mukti melirik ke kanan-kiri koridor, memastikan tidak ada orang lain. "Boleh aku masuk sebentar?"
Rania ragu. Di satu sisi, ini benar-benar tidak pantas seorang pangeran masuk ke kamar putri tengah malam. Di sisi lain, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa sungkan.
"Lima menit," katanya akhirnya, membuka pintu lebih lebar.
Mukti masuk dengan langkah hati-hati, matanya sempat melirik kain abu-abu di meja rias sebelum kembali menatap Rania.
"Aku dengar kabar dari salah satu pengawal," katanya pelan. "Katanya kau menemukan sesuatu di dekat gudang kain siang tadi."
Rania membeku. Berita itu bocor secepat ini?
"Dari mana Pangeran tahu?"
"Pengawalku bertugas di sekitar sana. Dia melihatmu dan Sari berdiri lama di dekat pilar." Mukti menatap kain abu-abu itu lebih lekat. "Boleh aku lihat?"
Rania menimbang sejenak, lalu mengangguk pelan, mengambil kain itu dan menyerahkannya.
Mukti memeriksanya dengan teliti, jarinya meraba tekstur kain itu seperti sedang mencari sesuatu yang spesifik.
"Ini bukan kain istana," gumamnya.
"Aku juga udah tahu itu."
"Bukan, maksudku " Mukti mengangkat kain itu ke arah cahaya lilin, memperlihatkan pola tenunan yang samar di bagian tepinya. "Ini kain dari Desa Cilangkap."
Rania mengerutkan kening. "Desa apa?"
"Desa nelayan kecil di perbatasan selatan, antara Wanunggalih dan Arkapura." Mukti menurunkan kain itu, wajahnya serius. "Desa itu... punya sejarah rumit dengan kerajaan."
"Sejarah kayak apa?"
Mukti terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan apakah harus menceritakan ini atau tidak.
"Belasan tahun lalu, ada sekelompok nelayan dari Cilangkap yang dituduh terlibat dalam hilangnya kapal dagang Wanunggalih kejadian yang sama yang aku ceritakan waktu itu, yang bikin hubungan kita dengan Arkapura memburuk."
Rania duduk di tepi ranjang, mendengarkan dengan seksama.
"Waktu itu, ayahanda Raja memutuskan untuk menghukum berat desa itu sebagai peringatan, meskipun buktinya tidak pernah benar-benar kuat. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, beberapa dipaksa mengungsi." Mukti menghela napas berat. "Sejak saat itu, orang-orang dari Cilangkap punya alasan untuk membenci keluarga kerajaan Wanunggalih."
Rania merasakan dadanya sesak. "Jadi... kemungkinan orang yang naruh racun itu bukan dari Arkapura, tapi dari desa yang dendam sama keluarga kerajaan sendiri?"
"Itu salah satu kemungkinan," Mukti mengangguk pelan. "Tapi aku tidak yakin sepenuhnya. Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu. Kenapa baru sekarang mereka bergerak?"
Rania menatap kain di tangan Mukti, pikirannya berputar cepat.
"Kecuali," gumamnya pelan, "ada sesuatu yang baru terjadi belakangan ini yang memicu mereka."
Mukti menatapnya. "Seperti apa?"
Rania menggeleng, belum berani menyuarakan pikiran liarnya sendiri bahwa mungkin, entah bagaimana caranya, kedatangan dirinya ke tubuh ini sendiri yang menjadi pemicu sesuatu yang lebih besar. Sistem, dunia ini, alur cerita yang katanya "berubah" semua itu terasa saling terkait, meski ia belum bisa menjelaskan bagaimana caranya.
"Aku belum tahu," jawabnya akhirnya, setengah jujur. "Tapi makasih udah kasih tahu soal desa itu."
Mukti mengembalikan kain itu ke tangan Rania, tatapannya melembut sedikit. "Wening, aku tahu kau menganggap aku hanya peduli soal pertunangan. Tapi aku juga khawatir soal keselamatanmu. Kita tumbuh bersama sejak kecil."
Rania terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Mukti bukan sebagai "misi menyebalkan" dari sistem, melainkan sebagai seseorang yang mungkin benar-benar tulus, meski caranya menyampaikan sering terasa canggung dan berjarak.
"Makasih, Pangeran," katanya pelan, kali ini tanpa nada sarkastik seperti biasanya.
Mukti tersenyum tipis, lalu beranjak menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
"Satu hal lagi."
"Apa?"
"Kalau kau memang berencana menyelidiki ini sendirian, setidaknya jangan lakukan malam-malam. Dan jangan sendirian." Ia menatap Rania serius. "Cilangkap bukan tempat yang ramah untuk orang kerajaan, apalagi kalau kau berniat ke sana."
Rania mengangkat alis. "Siapa bilang aku mau ke sana?"
Mukti hanya tersenyum tipis, tidak menjawab, lalu menghilang di balik pintu yang tertutup pelan.
Rania duduk sendirian, menatap kain abu-abu di tangannya dengan pikiran yang semakin penuh.
Desa Cilangkap. Nyonya Ratih. Windi yang menghilang. Pengawal Arkapura yang mengawasi atas perintah Aryasatya. Dan sosok misterius yang bahkan berani menyelinap ke dalam istana sendiri.
"Sistem," bisiknya lelah, "aku ngerasa kayak lagi maenin drama detektif yang plot-nya kebanyakan tokoh."
[Jumlah tokoh yang terlibat memang tercatat meningkat.]
"Itu bukan pujian, ya."
[Sistem memahami.]
Rania merebahkan diri, menatap langit-langit berhias lampu kristal yang kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya bukan karena keindahannya, tapi karena beban rahasia yang perlahan menumpuk di baliknya.
Sementara itu, di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir Desa Cilangkap, jauh dari gemerlap istana, seorang pria tua duduk di depan perapian kecil, menatap api yang menari-nari dengan mata yang penuh kepedihan lama.
Di sampingnya, sosok berpakaian abu-abu orang yang sama yang mengintai Rania di pasar dan di dalam istana berlutut memberi laporan.
"Ayah, dia menemukan kain kita."
Pria tua itu tidak langsung menjawab, tatapannya masih terpaku pada api.
"Sudah waktunya," gumamnya akhirnya, suaranya serak dimakan usia dan dendam bertahun-tahun. "Biarkan Putri Wanunggalih itu tahu, bahwa hutang lama keluarga kerajaan... belum lunas."
---