NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Camer

**

​"Masih jauh, gak?"

​Felisa berdecak, menatap Rafa di sampingnya malas. Belum ada lelaki itu lima menit yang lalu menanyakan itu, sekarang sudah bertanya lagi.

​"Satu jam lagi," jawab Felisa masih kesal. Memilih melihat Elvan di belakang yang tertidur, kemudian tersenyum tipis.

​"Ini, kita yakin pakai baju kaya gini? Gak aneh, gitu?"

​Felisa kembali menatap malas Rafa, ini juga pertanyaan yang sering lelaki itu tanyakan selama perjalanan ini.

​"Kaya mau lebaran aja, eh ... bukan deh kaya lagi datang di acara orang yang mau berangkat haji," gerutu Rafa untuk kesekian kalinya.

​Rafa pikir, setelah semalam mereka sudah saling mengajak untuk menikah, hari ini mereka akan masih menghabiskan waktu sisa liburan sampai besok dengan suasana yang lebih baik. Tapi ini apa? Pagi-pagi buta sebelum jam 6, Rafa dipaksa dibangunkan dan diajak pergi.

​Elvan saja masih tidur saat digendong masuk di mobil, anak itu baru bangun di tengah perjalanan dan langsung mengamuk karena tidak mau pulang dan masih mau main perang air dengan Cio. Beruntung, Elvan kembali kalem saat di rumah makan karena anak itu diizinkan makan sambal sesuka hati. Elvan memang penyuka sambal yang esok hari akan sakit perut luar biasa seperti dirinya.

​"Orangtua ... kamu gimana?" Rafa tiba-tiba merasa gugup, padahal dari tadi dia sempat melupakan fakta itu.

​Felisa melirik sekilas, tersenyum tipis. "Intinya mereka gak sampai gigit kamu. Tapi ..."

​"Tapi ...?" Rafa menunggu penasaran.

​"Mungkin, hanya akan membuat kamu terkena tekanan beban mental secara jasmani, rohani dan psikis."

​"Segitunya?" Rafa semakin menelan ludah gugup bercampur takut.

​Siapa yang tidak takut, jika semalam mereka sama-sama sepakat mau nikah, terus paginya tiba-tiba langsung diajak pergi menemui calon mertua? Bukan begini juga konsepnya. Walaupun Rafa berniat menikahi dan pastinya akan menemui orangtua Felisa, tapi tidak secepat ini!

​Mana perginya sekarang memakai baju couple muslim! Iya serius, entah dari mana wanita itu bisa mendapatkan baju couple muslim ini. Mereka sekarang sudah mirip pasangan bahagia yang sering Rafa lihat di iklan beranda Instagram.

​"Kamu tahu, saya belum ketemu aja udah terkenal serangan mental duluan," keluh Rafa yang masih tidak habis pikir tentang situasi dadakan ini.

​"Kamu hafal rukun Islam dan iman, kan?" tanya Felisa tiba-tiba yang langsung membuat Rafa melotot. "Serius, hafal kan?"

​"Saya tidak sebodo itu soal agama. Seharusnya, pertanyaan itu kamu tanyakan ke Elvan," cibir Rafa setelah sadar dari syok.

​Felisa langsung mengelus dada seolah lega, sedang Rafa yang melihatnya seolah tidak terima. "Itu penting kalau kamu memang harus hafal, jika kamu nanti ketemu keluarga saya."

​"Serius, keluarga kamu itu jenis apa, sih?"

​Felisa mendelik. "Masih manusia biasa, gak ada hubungannya sama keluarga Harry Potter."

​Perjalanan itu kembali diisi keheningan, dengan pikiran mereka masing-masing yang berbeda.

​*

​Duarrr Duarrr

​"Akhhhhh!!" teriak Rafa dan Elvan yang berada di gendongan Rafa bersamaan.

​Duarrr Duarrr

​"Di sini lagi tahun baru? Ada suara petasan begitu?" tanya Rafa spontan, sembari menatap langit yang tiba-tiba penuh dengan kembang api, tepat setelah mereka bertiga baru saja turun dari mobil.

​"Ini masih di Indonesia," balas Felisa yang tiba-tiba juga malah merasa takut tapi beda konteks. Bukan karena petasan, tapi karena setelah 5 tahun lebih tidak pulang akhirnya malam ini dia kembali.

​"Ayok, jalan! Rumahku masih di depan!"

​"Terus, kenapa kita turun di sini?" Rafa tidak habis pikir kenapa mereka turun dari mobil jika rumah wanita itu masih di depan.

​"Bikin surprise buat mereka, tapi kayaknya udah ketahuan soalnya udah ada penyambutan."

​"Mau pulang? Di sini serem!" rengek Elvan yang memeluk Rafa erat.

​Anak itu tadi masih tidur saat turun dari mobil, tiba-tiba terbangun mendengar suara petasan. Elvan menatap sekitar dengan takut, mungkin ini pertama kalinya dia juga pergi ke tempat seperti ini.

​"Gak papa yah, kan ada Mama sama Papa." Felisa mengelus sayang kepala Elvan.

​"Mau ke tempat Cio aja, mau main air di sana!" Elvan masih merengek, semakin membenamkan kepalanya di pundak Rafa.

​"Elvan janji tadi bakal jadi anak baik. Nanti, Papa udah janji mau belikan apa, coba?" Rafa berusaha juga untuk membujuk Elvan.

​"Mobil-mobilan yang kaya di rumah Cio." Elvan terlihat merenggut, setelah itu seperti terpaksa mengangguk. "Ok, aku jadi anak baik."

​"Pinter!" ucap Rafa dan Felisa bersamaan sembari sama-sama juga akan mencium puncak kepala Elvan, tapi sayang wajah mereka berdua bertabrakan.

​Mereka berhenti sesaat saling menatap, setelah itu saling menjauhkan diri canggung. Akhirnya, tak ada yang mencium Elvan karena keduanya terlanjur malu.

​Dorrr dorrr dorrr

​Mereka kembali dikejutkan oleh suara senapan yang ditembakkan ke atas. Rafa sempat terjatuh karena Elvan juga ikut terkejut hingga keseimbangannya oleng. Beruntung, Felisa sempat menahan tubuh Rafa.

​"Kakak, di sini ada anak kecil! Jangan kaya gitu!" Felisa berteriak kesal kepada seorang lelaki yang berdiri di depan rumahnya, lengkap memakai baju salah satu aparat negara dengan senapan di tangannya.

​"Turunkan anak kecil itu!" teriak lelaki itu sembari masih mengacungkan pistolnya.

​Walaupun, dia tidak menyebut siapa tapi jelas itu tertuju untuk Rafa. Awalnya, Rafa jelas menolak tapi acungan pistol itu semakin terasa nyata. Akhirnya, Rafa memilih menurut untuk menurunkan Elvan dari gendongannya tapi masih dalam gandengan Rafa.

​"Papa takut!" rengek Elvan memeluk kaki Rafa.

​"It's ok gak papa, ada Papa!" Rafa berusaha menenangkan Elvan.

​"Mama juga ada di sini Sayang, gak usah takut!" ujar Felisa sama berusaha untuk menenangkan Elvan.

​"Kepala Om botak itu kok, bersinar kaya lampu?" Tiba-tiba Elvan malah menanyakan sesuatu yang membuat Felisa dan Rafa berusaha menahan tawa.

​"Tugas dia kan, emang kalau malam cari duit," balas Rafa yang mendapat delikan tajam dari Felisa.

​"Jadi gak gelap yah, kan kepalanya jadi terang," ujar Elvan spontan, yang semakin tak kuasa membuat Rafa ingin tertawa. Sedang Felisa, hanya menggeleng tak habis pikir.

​"Felis, bawa anak kamu ke sini!" teriak lelaki itu lagi. "Dan kamu, tetap tinggal di situ!"

​Rafa melirik Felisa, tapi wanita itu hanya mengangguk kemudian berjalan ke arah lelaki itu sambil menggendong Elvan, meninggalkan Rafa di sini.

​"Bapak dimana?" tanya Felisa yang masih terdengar oleh Rafa, saat sudah sampai di tempat lelaki itu.

​"Masih ngajar. Kamu masuk, ada Ibu, Mama, Bunda, mbak dan adik-adikmu di dalam sudah menunggu."

​"Iya." Felisa sudah berjalan masuk tanpa menoleh ke arah Rafa.

​Rafa bisa melihat bagaimana raut wajah Felisa terlihat semakin kusut, saat masuk ke dalam.

​"Papa!" teriak Elvan sebelum benar-benar hilang dibalik pintu, sehingga Rafa tak sempat balik memanggilnya. Rafa berharap, semoga mereka berdua baik-baik saja di dalam.

​"Kamu duduk tegak, sekarang!" teriak lelaki itu yang kembali membuat fokus Rafa ke arah dia. Rafa hampir lupa, jika dia sudah ditinggalkan sendiri dalam bahaya bersama lelaki yang sepertinya tidak waras. Sempat-sempatnya dia khawatir barusan terhadap wanita itu, padahal posisi dia sedang dalam tidak aman sekarang.

​Entah kenapa, Kali ini Rafa memilih menurut untuk duduk tegak saat melihat pistol itu masih teracung kearahnya.

​"Tiarap!"

​"Hah, apa?" Rafa bertanya antara tidak mengerti dan terkejut.

​"Saya bilang tiarap!"

​Belum Rafa menjawab, suara ledakan pistol kembali terdengar.

​Dorrr

​Otomatis badan Rafa langsung tiarap berniat untuk melindungi dirinya. Rafa masih tidak mengerti dia berada dalam situasi apa saat ini. Berniat bertemu yang katanya calon mertua, malah didandani seperti ke pengajian dan sekarang seperti dalam posisi medan perang.

​Ada satu hal lagi bercokol di kepala Rafa, jika tempat ini terasa tidak asing untuknya? Sebenarnya di mana dia sekarang?

​"Ini benar-benar mau bertemu camer, apa pelatihan militer?"

​

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!