Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gabriel Ngambek
Sore hari yang hangat perlahan berganti petang ketika mobil sport hitam milik Guzelar memasuki halaman luas mansion mewah mereka. Pasangan suami istri itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan ringan, mengira kepulangan mereka akan disambut hangat oleh sang buah hati.
Namun, sambutan yang mereka dapati justru sebaliknya. Gabriel, putra tampan mereka yang biasanya paling heboh menyambut kedatangan sang mama, kini duduk melipat tangan di tepi ranjang kamarnya dengan wajah ditekuk sedalam-dalamnya. Bocah itu sedang mogok bicara total dengan Ayara.
Rupanya, bocah cerdas itu tengah meradang hebat karena merasa sang ayah telah memonopoli mamanya seharian penuh, tega meninggalkannya seorang diri di mansion yang luas ini tanpa teman bermain.
"Gabriel..." panggil Ayara lembut untuk kesekian kalinya, mencoba mendekati sang anak.
Alih-alih menyahut, Gabriel justru membuang muka ke arah jendela, mendengus kesal.
Guzelar yang berdiri di samping istrinya hanya melipat tangan di dada, mencibir pelan. "Sudah, abaikan saja anak manja itu, Sayang. Kelakuannya memang selalu berlebihan kalau sedang cemburu."
Mendengar ucapan sang papa, emosi Gabriel langsung meledak. "Yasudah, abaikan saja aku sekalian!" ketus Gabriel tajam, menatap sengit kedua orang tuanya.
"Orang tua macam apa yang tega meninggalkan anak kandungnya sendirian seharian di rumah sebesar ini? Dasar orang tua egois!" lanjutnya lagi dengan nada sinis yang berhasil membuat Guzelar dan Ayara terdiam di tempat.
Guzelar menarik napas panjang, mencoba menegakkan wibawa sebagai kepala keluarga. "Papa hanya membawa Mama pergi sebentar saja, Gabriel. Jangan bersikap berlebihan begitu!" tegas Guzelar.
"Sebentar kata papa?! Ini bahkan sudah malam! Tadi pagi waktu aku bangun, Mama bahkan pergi begitu saja tanpa pamit padaku! Aku tidak mau mengobrol dengan Mama lagi, titik!" seru Gabriel dengan suara bergetar menahan tangis.
Bocah kecil itu menatap Ayara dengan mata berkaca-kaca penuh luka. "Mama sudah tidak sayang lagi sama Iel! Kemarin, waktu Papa pergi dinas ke luar kota, cuma Iel satu-satunya yang setia menemani dan peduli pada Mama. Tapi sekarang... setelah Papa pulang, Mama langsung melupakan Iel begitu saja!" teriaknya histeris di depan Ayara yang terdiam kaku.
Mendengar teriakan sarat kekecewaan itu, dada Ayara mendadak terasa nyeri luar biasa. Sejujurnya, bagian rasional di otaknya menganggap drama sang anak ini terlalu berlebihan untuk ukuran anak seumurannya. Namun entah mengapa, setiap untaian kalimat dan isakan Gabriel berhasil menusuk relung hatinya paling dalam. Meskipun memorinya dari masa lalu masih berantakan akibat amnesia disosiatif, tubuh dan nalurinya merespons secara otomatis sentuhan hangat, kebiasaan bermanja-manja, dan rasa terikat pada putranya seolah sudah mendarah daging dalam dirinya.
"Jangan pernah pedulikan Iel lagi! Mulai sekarang, Iel adalah anak pungut! Pergi sana!" teriak Gabriel histeris.
Sebelum Ayara sempat merespons, bocah itu melompat turun dari ranjangnya dan berlari kencang keluar kamar, meninggalkan jejak isakan kecil di belakangnya.
Guzelar mengembuskan napas berat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pusing menghadapi tingkah dramatis sang putra.
"Anak pungut dari mananya? Jelas-jelas wajahnya itu tercetak mirip sembilan puluh delapan persen dengan wajahku!" gerutu Guzelar tidak habis pikir.
Ayara langsung berbalik badan, panik. "Mau kemana, Sayang?" cegah Guzelar sigap saat melihat istrinya hendak melangkah mengejar sang anak.
"Aku mau menyusul dan membujuk Gabriel, Guzelar. Kasihan dia..." ucap Ayara sedih.
"Sudah, biarkan saja dulu. Berikan dia sedikit waktu untuk meredakan emosinya di kamarnya, ayo kita ke kamar utama dulu untuk bersih-bersih," ajak Guzelar lembut.
"Tapi, Iel..."
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti aku bisa bicara baik-baik padanya. Kalau kita terlalu menuruti dan memanjakannya terus, sifat dramatisnya ini tidak akan pernah sembuh," bujuk Guzelar sambil merangkul pinggang istrinya, menuntunnya menjauh dari koridor kamar sang anak.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kita tidak boleh lagi terlalu berlebihan memanjakannya, Ayara."
Sementara itu, di sudut halaman belakang mansion yang sepi, tepatnya di area kandang kelinci kesayangannya, Gabriel tampak duduk bersila di atas rumput hijau. Bocah itu sedang merajuk hebat, memeluk lututnya sambil menatap sendu dua ekor kelinci peliharaannya, satu berwarna hitam legam dan satu lagi berwarna abu-abu lembut.
"Kalian berdua saja yang adopsi aku jadi anak kalian ya, Greys, Black..." adu Gabriel dengan suara sengau habis menangis, mengusap hidung mungilnya.
"Mama sama Papa jahat, mereka berdua sudah tidak sayang lagi sama Iel. Aku ini rupanya sudah dibuang dari kartu keluarga."
Kelinci abu-abu berjenis kelamin betina di hadapannya menggerakkan hidungnya lucu, seolah-olah sedang mendengarkan curhatan sang tuan muda.
Gabriel menatap kelinci abu-abu itu lekat-lekat, lalu dengan penuh penghayatan mengusap bulu lembutnya.
"Mulai detik ini, panggil aku anakmu ya... Grey, kamu adalah ibuku sekarang," isak Gabriel dramatis.
"Dan kamu, si Black yang hitam legam... mulai sekarang kamu adalah ayahku."
Bocah itu kembali menangis sesenggukan. "Huaaaa... Nasibku malang sekali! Iel sekarang resmi jadi anak kelinci!" isaknya heboh, menyeka air matanya dengan lengan baju.
Di balik rimbunnya pohon mangga besar yang terletak tidak jauh dari kandang, seorang penjaga keamanan mansion yang bertugas mengawasi tuan muda mati-matian menggigit bibirnya sendiri. Pria berbadan tegap itu berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak keluar melihat tingkah laku absurd sang tuan muda yang tengah berdrama ria mengadopsi hewan berbulu sebagai orang tuanya.
"Duh, Tuan Muda Iel... ada-ada saja kelakuannya, mirip sekali dengan nyonya besar kalau lagi ngambek," gumam sang penjaga pelan, tersenyum geli sambil terus mengawasi keselamatan bocah menggemaskan itu dari kejauhan.
Bersambung...
Ada gasih kalian waktu kecil kalau lagi ngambek berniat mau kabur aja? Kalau author sih jujur saja dulu iya, udah kemas-kemas baju di tas ehh ujung-ujungnya ketiduran di bawa kolong tempat tidur sampe orangtua panik ga pulang-pulang sampe tengah malam karena tidur pulas.😭 Kalau ingat itu malu banget. Kalian ada cerita serupa nggak?.🤧
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama