Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 5
Semburat kuning hangat menyusup dari rimbunan dedaunan, kicau burung gereja sahut menyahut menambah ramai suara perut telah keroncongan sedari semalam. Setelah menambahkan segenggam jerami pada wadah pakan kuda kesayangannya Anne berjalan menuju teras belakang, kebun tembakau yang membentang luas di belakang rumah Petter, sebagian telah diubah menjadi padang luas dan kandang kuda demi menyalurkan hobi Anne kala belia.
Gadis masih memakai baju kimono satin lembut warna merah darah itu mencuci tangan pada kran di pojok teras, kopi hitam, pahit dan beberapa potong rebusan pala pendhem tersaji di meja, kali ini isi nya suwek dan mantang alias ubi jalar. Ada juga biskuit kayu manis khas negeri Kincir Angin, tersaji di toples bening. (pala pendhem\= hasil bumi yang tumbuh dalam tanah atau umbi-umbian. Suwek\= sejenis talas, ini salah satunya)
Koran pagi lebih dulu di sambar gadis membiarkan rambut sepinggang terurai lurus, warna hitam nya mengilat terkena tamparan sang surya. Alis mengerut membaca berita tercetak pada kertas kusam bertinta hitam.
“Dunia semakin kacau rupanya,” gumamnya seraya meraih cangkir kopi mulai kabur uap panasnya.
“Padi-padi yang ada di sawah paling ujung sudah mulai njenggelek, Nduk. Mungkin hanya butuh penambahan dua atau tiga karung pupuk untuk membuatnya kembali segar.” Broto membawa kabar, sebagai jagabaya ia memang sering berkeliling pagi buta, atau saat langit hanya berpenerangan rembulan. (Njenggelek\= bangun, dalam konteks sempat hampir mati, lemas)
Sudah seminggu berlalu sejak nyaris gagal panennya pertanian desa, padi-padi itu kembali menghijau setelah di ganti airnya, cara sederhana bila ada indikasi salah bahan kimia dengan kondisi tak terlalu parah tentunya.
“Suruh kang Dasim cepat menyelesaikan. Aku tak ingin para petani itu kembali ribut, merengek layaknya bayi kehilangan empengnya.” Ia lipat koran di tangan, kopi di cangkir sudah diletakkan. “Pakde, opo pakde mengenal pemuda memakai caping lebar, muka di tutupi kain hitam yang beberapa waktu terakhir ini sering muncul tiap ada perkumpulan?”
Broto turut duduk di kursi berseberangan dengan Anne, kopi hitam juga sudah tersedia di depannya, baru saja di antarkan pembantu. Ia mengambil satu potong suwek, mengupas kulit ari nya seraya menjawab pertanyaan gadis yang tak lagi mau dipanggil dengan sebutan Ndoro Cilik.
“Yang aku dengar dia pendatang, tinggal di rumah kecil, mentok bates dengan Joglo Punjer. Rumah yang dekat aliran sungai dengan atap daun rumbia.”
“Tinggal dengan siapa dia, apakah ada keluarganya atau sebatang kara?” Anne kembali melempar tanya.
“Sepertinya ada keluarga, Nduk, aku pernah melihat laki-laki tua memberi pakan kuda, ada juga perempuan paruh baya, sepertinya ibunya, kapan hari mencuci baju di sungai, tapi aku tak melihat jelas mukanya. Apa perlu aku cari tau asal-usul mereka?” Broto balik bertanya.
“Tak perlu. Awasi saja gerak-geriknya, firasatku mengatakan dia ada maksud tersembunyi datang ke desa ini.” Anne beranjak dari duduknya, kopi masih setengah di teguk habis setelah mengunyah sepotong mantang dan dua keping biskuit kayu manis. “Aku akan berkeliling dengan temon, tolong antarkan pupuk ke sawah paling ujung, bawa juga satu karung ke petani tua yang tinggal di dekat kuburan.”
Broto mengangguk patuh, menatap Anne yang mulai melangkah meninggalkan sarapan pagi.
***
Gemeretak tapal kuda menginjak kasar rumput liar yang menutupi jalan setapak di hutan-hutan masih jarang terjamah manusia. Anne memang suka berkuda di jalanan sepi, ketimbang melewati kumpulan rumah penduduk yang menyapa ramah, tapi aslinya mencibir di belakang, tak jarang mengumpatinya.
Hentakan kaki gadis dengan jarik lurik dan kebaya salur coklat tua itu terhenti saat melihat pemuda bercaping lebar duduk bersantai pada gubuk reyot, menghadap hamparan sawah. Sebelah bibirnya terangkat tipis, diam-diam ia turun menghampiri pemuda terlihat bersandar di tiang keropos.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini?” serbunya langsung, aslinya memang tak suka basa-basi.
Argono terhenyak, buru-buru meraih caping tergeletak di samping badan, menutupi wajah rupawan. Dalam hati mengumpat. ‘Sialan. Dia benar-benar ayu bila dilihat lebih dekat.’
Anne melirik sekilas, menangkap gelagat salah tingkah pemuda sedari pagi berada di pikirannya. Bokong sintal bersandar pada pinggir lantai gubuk, tatapan tajam ke hamparan sawah miliknya, berada di daerah Joglo Punjer, tinggalan sang bapak kandung, kurang dari lima puluh hektar luasnya.
“Aku sering kali melihatmu berbincang dengan penduduk desa, memberi suara saat ada perkumpulan, bahkan terakhir kau begitu lantang menyampaikan kritikan. Sepertinya kau cukup cerdas untuk bisa membantu mengembangkan desa masih tertinggal dari lainnya ini?” Pertanyaan Anne lebih pada sindiran halus.
Argono tertawa kecil, kepalanya menunduk sekilas, lalu kembali mendongak, menatap hamparan sawah tersapu angin sepoi-sepoi.
“Saya ini hanya pemuda desa biasa, Ndoro. Sekolah rakyat saja tak tamat,” katanya merendah, dan memang begitu kenyataannya.
“Panggil Anne saja, tak perlu terlalu hormat, kita ini sebaya.” Bibir merah alaminya mengulas senyum, pandangan beralih pada wajah masih terus bersembunyi di balik caping, namun ia tau pasti ujung mata si lelaki diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
“Kau dan orang tuamu pendatang bukan?” tanya nya kemudian.
Argono mengangguk, tangan memelintir daun baru dipetik, menjalar liar di pinggiran gubuk. “Betul, Ndo … eh Mbak Anne. Kami baru pindah tiga bulan lalu.”
“Apa perangkat desa dan jajarannya sudah ada yang mendatangi rumahmu, untuk mendata agar kau dan keluargamu mendapat garapan sawah atau ladang? Atau mungkin kau berkenan memelihara hewan ternak?” Tatapan Anne masih tak putus dari wajah hitam rupawan, khas lelaki Jawa.
Luasnya lahan pertanian keluarga Van Beek yang mencakup ladang, sawah, dan kebun, di manfaatkan Anne untuk membantu penduduk yang kurang mampu, tak punya lahan pertanian. Selain lahan pertanian, ia juga membantu penduduk lewat hewan ternak. Sapi, kerbau, domba dan kambing. Dibantu aparat desa, Anne membagi lahan garapan dan hewan ternak sesuai kemampuan penduduk melalui sistem bagi hasil.
“Untuk sementara waktu kami tak ingin menerimanya, apa yang tersedia di halaman rumah sudah lebih dari cukup untuk kehidupan sehari-hari. Lagi pula, belum genap setahun kami pindah, tak pantas rasanya menikmati hasil bumi mereka yang lebih dulu menjejakkan kaki di sini,” jawaban Argono terdengar begitu lugas, tanpa ekspresi berarti.
Anne yang telah lebih dulu menjajaki puluhan, atau bahkan ratusan pikiran manusia dari berbagai versi tersenyum samar. Paham lelaki di hadapannya bukan pemuda desa biasa, atau paling tidak pengalamannya sudah setara dengannya.
Sambil menepuk pundak tegap, namun terus di paksa menunduk, Anne beranjak dari duduknya. Kepala yang mendongak sebab terkejut dengan sentuhan tiba-tiba darinya, ia manfaatkan untuk menatap lekat manik elang, sedari kemarin membuatnya penasaran.
“Datanglah ke tempatku jika kau membutuhkan sesuatu. Aku akan membantumu sebisaku,” ucapnya, lalu bersiul memanggil temon yang dibiarkan berjalan-jalan sendirian.
Argono turut beranjak dari gubuk, berdiri terpaku, netranya mengikuti langkah Anne. Bibir dengan senyum miring bergumam pelan.
“Sebentar lagi kowe yang harus datang ke tempatku wong ayu, membantuku menenangkan bocah nakal iki.” Jari tangan menyentil sesuatu sedari tadi berkedut di balik celana.
Di punggung temon yang berlari kencang, alis Anne mengerut dalam, pikirannya menerawang, mengingat kembali netra tajam sempat terkunci di penglihatannya.
“Aku seperti pernah melihat sorot mata itu, tapi di mana?”
Bersambung
(Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penggambaran masalah pupuk dan pestisida. Author hanya mengandalkan riset google dan beberapa bacaan. 🙏)
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria