NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Belain Sekar

Radhika kembali duduk tanpa menanyakan apa yang dibicarakan tiga gadis itu.

Sepanjang sisa makan malam, wajahnya dingin dan perhatiannya lebih banyak tertuju pada ponsel. Naila diam-diam mengamati garis rahangnya sambil menyendok sup. Dengan wajah seperti itu, tidak heran Vania langsung menyukainya.

Cahaya lampu di atas meja menajamkan garis hidung dan bulu matanya. Naila terpaksa mengakui satu hal: Radhika memang sangat tampan ketika sedang diam. Begitu membuka mulut, nilainya turun setengah.

"Supnya diminum, bukan dipakai lihat wajahku," kata Radhika tanpa mengangkat kepala.

Naila hampir tersedak. "Siapa yang lihat kamu?"

"Sendokmu berhenti dua menit."

"Aku lagi mikir."

"Mikir aku ganteng?"

"Mikir kenapa orang sombong bisa hidup selama dua puluh empat tahun."

Sayang sifatnya buruk.

Seusai makan, ketiga gadis itu pergi ke toilet. Baru beberapa langkah dari pintu ruang privat, suara pertengkaran terdengar dari tikungan lorong.

"Jangan pura-pura polos!" bentak seorang perempuan.

Naila mengenali suara lain yang menjawab pelan. "Aku cuma menjalankan pembagian dari supervisor."

Mereka berbelok dan menemukan Sekar mengenakan seragam pelayan. Dua rekan kerja berdiri di depannya. Salah satunya, Lina, menyilangkan tangan. Yuli menendang baki yang baru diangkat Sekar hingga kain lap bersih jatuh ke lantai.

"Kamu baru masuk sudah dapat ruang privat. Pasti lewat orang dalam," kata Lina. "Besok Pak Damar makan di ruang itu. Jangan-jangan kamu juga sengaja cari perhatian beliau."

Sekar membungkuk hendak mengambil kain.

"Jangan diambil," kata Naila.

Semua orang menoleh.

Naila berdiri di samping Sekar. "Yang menjatuhkan harus memungut."

Lina menatap pakaian sederhana Naila dan mendengus. "Ini urusan staf."

"Aku tamu yang dengar kalian menghina pegawai lain. Panggil supervisor."

"Mau komplain? Harus jadi member dulu."

"Pelayanan buruk tetap buruk meski yang melihat bukan member."

Yuli tertawa kecil. "Mbak bahkan mungkin nggak sanggup bayar makan di sini. Jangan ikut campur."

Gita maju satu langkah. "Kami baru keluar dari ruang privat."

"Bisa saja ikut orang," balas Lina. "Cewek seperti kalian suka foto-foto di tempat mahal, lalu sok kenal pemilik."

Sekar menyentuh siku Naila. "Sudah, Nai. Aku nggak apa-apa."

Naila melihat ujung sepatu Sekar yang basah karena air dari baki. Temannya sudah bekerja sejak siang, tetap menghadiri kelas pagi, dan tidak pernah sekali pun meminta uang kepada mereka. Membiarkan hinaan itu berlalu hanya akan membuat Lina dan Yuli mengulanginya besok.

"Kamu mungkin nggak apa-apa," kata Naila. "Tapi mereka tetap salah."

"Kalau aku bawa member ke sini?"

"Silakan."

Naila berbalik. Gita memegang bahu Sekar, sementara Vania berdiri gugup di ujung lorong. Begitu sampai lobi, Naila melihat Radhika keluar dari ruang privat sambil mencari mereka.

"Kamu member di sini, kan?" tanyanya.

"Kenapa?"

"Ikut aku."

Ia menarik lengan Radhika ke lorong. Lina dan Yuli yang tadi masih tersenyum langsung pucat.

"Mas Radhika," sapa seorang supervisor yang baru datang. "Ada masalah?"

"Tanya Naila."

Naila menunjuk kain di lantai. "Mereka menjatuhkan barang Sekar, menuduh dia masuk lewat orang dalam, dan bilang aku nggak boleh komplain karena bukan member."

Supervisor itu memandang Lina serta Yuli dengan marah. Namun ketakutan terbesar keduanya muncul ketika Radhika bertanya datar, "Kalian tahu tempat ini milik siapa?"

"Pak Damar," jawab Lina lirih.

"Aku adik kandungnya. Keluhan Naila cukup?"

Kedua perempuan itu langsung membungkuk. Yuli memungut kain yang dijatuhkannya. Lina meminta maaf kepada Naila, lalu kepada Sekar.

Beberapa pelayan di ujung lorong berhenti bekerja dan melihat. Lina yang tadi paling keras kini bahkan tidak berani mengangkat wajah.

"Kami nggak tahu Non Naila tamu Mas Radhika," katanya.

"Jadi kalau aku bukan tamunya, kalian boleh menghina Sekar?" tanya Naila.

Lina terdiam.

"Minta maaf bukan karena takut kehilangan pekerjaan. Minta maaf karena kalian memperlakukan orang lain seperti sampah."

"Maaf, Sekar. Kami salah."

Naila tidak mundur. "Bukan cuma malam ini. Mulai sekarang jangan ganggu Sekar lagi."

"Iya."

Radhika memberi isyarat kepada supervisor. "Catat kejadiannya. Periksa CCTV. Besok laporkan ke manajemen."

Ia tidak langsung memecat siapa pun hanya berdasarkan satu aduan. Namun wajah Lina dan Yuli menunjukkan bahwa bukti kamera tidak akan menyelamatkan mereka.

Sekar menarik Naila ke samping. "Terima kasih, Nai. Tapi aku harus lanjut kerja. Aku butuh pekerjaan ini."

"Kalau mereka ganggu lagi, bilang."

"Aku bisa jaga diri. Kamu nikmati makan malam saja."

"Kalau manajemen memanggilmu, bilang yang sebenarnya. Jangan lindungi mereka."

Sekar mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tetapi punggungnya tetap tegak. "Aku masuk lewat tes dan pelatihan. Nggak ada orang dalam."

"Aku tahu. Kamu belajar mati-matian buat semua hal."

Sekar menggenggam tangan kiri Naila sebentar. "Makanya aku nggak akan pergi cuma karena mereka."

Naila tahu Sekar tidak suka dikasihani. Ia tidak memaksanya pulang. Di lobi, Naila membeli sepotong kue lemon dan menitipkannya kepada petugas depan.

"Tolong kasih ke Sekar setelah sifnya selesai. Bilang dia harus makan."

"Baik, Non."

Saat mereka hendak keluar, seorang pria berkacamata hitam dan jaket berkilau masuk bersama artis muda. Ia menghentikan langkah begitu melihat Naila.

"Lemon!"

Naila mengerutkan kening. Pria itu membuka kacamata. Barulah ia mengenali Gilang dari foto-foto keluarga Adiwangsa.

"Mas Gilang?"

"Masih ingat! Terakhir lihat kamu masih kecil." Gilang membuka kode kontak. "Tambah WhatsApp. Nanti kalau Dhika ganggu, lapor ke aku."

Naila tertawa dan memindai kode itu. "Boleh."

"Tanganmu kenapa?"

"Jatuh."

Gilang melirik Radhika. "Dibikin jatuh dia?"

"Kurang lebih."

"Wah, laporkan sekarang. Aku siap jadi saksi."

Naila tertawa lebih keras. Artis muda di samping Gilang ikut tersenyum, meski tidak memahami lelucon lama di antara mereka.

Di belakang mereka, tangan Radhika mengepal di saku. Kemarin seorang mahasiswa. Sekarang Gilang. Semua orang mendapatkan kontak Naila lebih cepat darinya.

"Selesai reuninya?" tanyanya dingin.

Gilang meliriknya, lalu menyeringai. "Cemburu?"

"Minggir."

Vania menangkap ketegangan itu. Tatapan Radhika selalu berubah ketika ada laki-laki mendekati Naila.

Di depan restoran, Rolls-Royce sudah menunggu. Naila membuka pintu belakang, tetapi Radhika menahannya.

"Ada syarat."

"Syarat apa lagi?"

"Panggil Mas. Baru kuantar."

"Aku bisa pesan ojol."

Radhika melihat jalan gelap di luar kompleks. "Daerah pinggir begini susah cari ojol. Mau ulang kejadian pagi tadi?"

Naila mengatupkan mulut.

"Kalian juga," kata Radhika kepada Gita dan Vania.

Gita tertawa. "Terima kasih, Mas Radhika."

Vania menyusul dengan senang, "Terima kasih, Mas."

Naila menjadi satu-satunya yang masih berdiri di luar.

Radhika menyandarkan lengan di atas pintu mobil. "Aku tunggu."

Naila menatapnya tajam. Malam di Sentul sunyi. Mobil lain sudah pergi satu per satu.

Ia menarik napas untuk menelan harga diri.

Di balik pintu terbuka, Radhika menunggunya dengan ketenangan seseorang yang sudah tahu akan menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!