NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: KEHENDAK ARTEFAK SURGAWI

​Langkah kaki Mo Xie dan Xue Qingyue bergema teratur di atas lantai batu kristal yang membeku. Uap dingin yang tebal membubung dari celah-celah batu es, menyelimuti aula raksasa itu dalam nuansa putih yang mistis dan mencekam.

​Aula Utama Sekte Es Abadi berdiri megah di bawah kubah gunung es abadi. Pilar-pilar kristal raksasa yang menopang langit-langit berukirkan naga salju kuno, memancarkan pendar biru pucat yang dingin menusuk tulang. Di tengah ruangan yang terisolasi dari kiamat dunia luar itu, dua takhta es purba berdiri kokoh di atas undakan bertingkat.

​Di atas takhta utama, Ketua Agung Han Wuyan duduk membisu. Tubuh tuanya dilapisi jubah putih keemasan bersulamkan aksara segel kuno. Sepasang matanya yang sewarna bintang musim dingin menatap lurus ke arah gerbang, memancarkan aura keagungan ranah Ascendant yang sanggup membekukan ruang dan waktu hanya dengan satu lirikan.

​Namun, di takhta samping yang sedikit lebih rendah, duduk sosok baru yang belum pernah Mo Xie lihat sebelumnya.

​Sosok itu adalah seorang wanita yang memiliki paras teramat sangat cantik, namun dipenuhi oleh hawa dingin yang jauh lebih mematikan daripada Xue Qingyue. Gaun sutra perak yang membalut tubuh rampingnya berkilau bagai lapisan embun beku murni. Rambut hitam kebiruannya terurai panjang hingga menyentuh lantai es, sementara sepasang matanya yang sewarna batu safir kelam menatap Mo Xie bagai seorang penilai yang sedang mengamati sebutir debu di bawah kakinya.

​Tekanan aura spiritual yang memancar dari tubuh wanita itu begitu padat, berat, dan menindas. Atmosfer di sekitar takhtanya bergelombang tipis, membelah pasokan Qi di udara menjadi serpihan kristal es cair. Sebuah indikasi mutlak dari eksistensi di ranah Sovereign tingkat menengah—penguasa sejati yang berada jauh di atas ranah Awakened.

​Xue Qingyue menghentikan langkah kakinya tepat beberapa meter di depan tangga takhta. Dengan gerakan yang anggun dan penuh kehormatan, ia menjatuhkan satu lututnya ke atas lantai es, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

​"Xue Qingyue memberi salam kepada Ketua Agung Han Wuyan... dan Ketua Sekte Mu Bingyun," ucap Xue Qingyue dengan suara jernih yang bergaung rendah di dalam aula.

​Mo Xie yang berdiri di sampingnya tertegun sejenak. Matanya menyipit meneliti sosok wanita bergaun perak tersebut. Mu Bingyun... Ketua Sekte Es Abadi yang sebenarnya.

​Menyadari kesenjangan kekuatan yang teramat jauh serta mengingat batas kemampuannya saat ini di ranah Mortal, Mo Xie tidak lagi bersikap menantang secara mentah seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki di tempat ini. Ia menarik napas pendek, merapatkan jubah hitamnya, lalu melangkah setengah depak ke depan. Mo Xie menyilangkan tangan kirinya menangkup kepalan tangan kanannya yang terbalut kain hitam, lalu membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk penghormatan yang realistis.

​"Mo Xie memberi salam kepada Ketua Agung dan Ketua Sekte," ucap Mo Xie pendek, suaranya datar namun stabil, menolak untuk bergetar di bawah tekanan dua praktisi tingkat tinggi tersebut.

​Han Wuyan mengangguk pelan dari atas takhtanya. Sinar matanya yang bijaksana menyapu perubahan sikap Mo Xie yang kini jauh lebih tenang dan terukur.

​"Bangkitlah," ujar Han Wuyan, suaranya menggelegar lembut bagai benturan es di puncak gunung. Sang Ketua Agung kemudian mengalihkan pandangannya pada wanita di sampingnya.

​"Bingyun, ini adalah pemuda yang telah ceritakan kepadamu melalui pesan spiritual. Pemuda fana yang membawa benih kehampaan di tangan kanannya."

​Mu Bingyun tidak membalas ucapan Han Wuyan dengan kata-kata. Sepasang mata safir miliknya meredup tajam, mengunci pandangannya lurus pada mata kiri Mo Xie yang berwarna biru gletser redup.

​WUUUUUSH!

​Tanpa ada peringatan sedikit pun, aliran udara di dalam Aula Agung meledak secara mendadak!

​Kecepatan pergerakan Mu Bingyun berada di luar nalar persepsi seorang praktisi fana. Dalam sekejap mata—tanpa menyisakan jejak bayangan atau suara bergesernya pakaian—sosok wanita anggun itu telah berpindah tempat, berdiri tepat di hadapan Mo Xie dengan jarak tak sampai satu jengkal!

​Hawa dingin ekstrem yang dibawa oleh Mu Bingyun menyapu wajah Mo Xie dengan kasar, membuat helai-helai rambut hitamnya seketika membeku kaku.

​Mo Xie terkesiap hebat. Insting bertarungnya menjerit histeris, menyuruhnya untuk menarik mundur tubuhnya atau memanggil Pedang Kehampaan di lengan kanannya. Namun, tekanan aura di ranah Sovereign tingkat menengah milik Mu Bingyun secara mutlak mengunci aliran darah dan sirkulasi Qi di dalam raga fana Mo Xie. Tubuhnya mematung di tempat, tak mampu menggerakkan satu otot pun di bawah tekanan keberadaan sang Ketua Sekte.

​"Jadi kau bocah fana yang telah merampas Inti Es Abadi, Harta Surgawi tertinggi milik sekteku?" desis Mu Bingyun.

​Suaranya terdengar begitu merdu di telinga, namun membawa hawa pembunuh yang sanggup meremukkan jiwa praktisi Mortal biasa hingga hancur berkeping-keping.

​Mata Mo Xie melebar sedikit akibat benturan aura yang mendadak, namun di balik pendar mata hitam dan biru gletser miliknya, tidak ada satu pun riak ketakutan, penyesalan, atau kegentaran. Ia tetap berdiri tegak dengan dada busung, membalas tatapan membunuh sang Ketua Sekte secara langsung. Jika wanita di hadapannya ini memutuskan untuk mencabut nyawanya saat ini juga, ia tidak akan membiarkan dirinya mati sebagai penakut.

​"Ketua Sekte! Saya bisa jelaskan situasi di kawah saat itu—!" Xue Qingyue yang panik melihat situasi berbahaya tersebut refleks mencoba bangkit berdiri untuk memotong aksi Mu Bingyun.

​Namun, sebelum Xue Qingyue sempat menyelesaikan kalimatnya, Han Wuyan dari atas takhta perlahan mengangangkat tangan kanannya yang tua.

​Satu lambaian sederhana dari sang Ketua Agung menciptakan gelombang kejut Hukum Es yang halus namun absolut, menahan tubuh Xue Qingyue di atas lantai dan mengisolasi suara praktisi wanita tersebut secara halus. Han Wuyan memilih untuk tetap membisu, membiarkan pertunjukan di depan tangga takhta berlangsung tanpa campur tangan.

​Mu Bingyun mengangkat tangan kanannya yang putih mulus bagai porselen. Jemari lentiknya yang meruncing mengarah presisi tepat ke depan kelopak mata kiri Mo Xie yang berwarna biru es.

​"Biarkan aku melihat sejauh mana wadah fanamu mampu menampung esensi suci sekteku... atau apakah kau hanya pencuri yang harus kuhancurkan matanya," ucap Mu Bingyun dingin.

​WUUUUUZZZH!

​Aliran Qi spiritual murni berwarna biru pucat meledak deras dari ujung jari Mu Bingyun. Energi tingkat Sovereign yang teramat sangat padat itu meluncur ganas, mencoba menerobos masuk menembus lapisan kulit dan pembuluh darah di sekitar mata kiri Mo Xie demi menyelidiki Dantian serta kedalaman jiwanya secara paksa.

​Sensasi dingin yang merusak seketika menusuk tulang tengkorak Mo Xie, mengancam akan membakar seluruh jaringan saraf di kepalanya.

​Namun, tepat sebelum pasokan energi spiritual Mu Bingyun sempat menyentuh dan menembus bagian dalam mata kiri Mo Xie—

​BOOOOOOOOOOM!!!

​Sebuah dentuman kejut yang memekakkan telinga meletup mendadak dari dalam rongga mata kiri Mo Xie!

​Inti Es Abadi yang bersemayam di balik kelopak mata kiri pemuda itu bergetar hebat. Pendar warna biru gletser redup yang tadinya tenang seketika memancar terang bagai ledakan bintang musim dingin. Harta Surgawi kuno yang lahir dari kehendak alam itu menolak secara mutlak usaha penyelidikan dan invasi energi dari luar!

​Gelombang hawa beku kunoyang tak terukur kedalamannya menyembur keluar dari mata kiri Mo Xie, membalikkan secara paksa serangan Qi spiritual milik Mu Bingyun!

​"Ugh!"

​Mu Bingyun membelalakkan matanya yang sewarna safir. Terkejut oleh penolakan dahsyat yang menghantam jalurnya secara mendadak, praktisi di ranah Sovereign tingkat menengah itu terdorong mundur tiga langkah ke belakang! Telapak tangannya yang halus gemetar tipis, menyisakan uap beku berkerak yang melilit jemarinya.

​Lantai es Aula Agung di antara mereka retak menjalar akibat benturan singkat dua kekuatan ekstrem tersebut.

​Kesunyian yang mencekam seketika melingkupi seluruh ruangan. Xue Qingyue menahan napasnya dengan mata terbelalak lebar, tak percaya menyaksikan Ketua Sektenya yang berada di ranah Sovereign terdorong mundur oleh reaksi pasif dari mata seorang pemuda di ranah Mortal.

​Mu Bingyun menatap jemarinya yang gemetar dengan raut wajah yang penuh dengan keterkejutan mendalam. Matanya beralih menatap Mo Xie yang masih berdiri kokoh di tempatnya, meski napas pemuda itu memburu halus akibat dampak kejut gelombang internal.

​"Tidak mungkin..." gumam Mu Bingyun lirih, suaranya yang biasa dingin kini menyiratkan ketidakpercayaan yang nyata. "Artefak itu... menolak sirkulasi Qi Sovereign milikku secara langsung?"

​Mo Xie menghela napas panjang yang menguap putih di udara beku. Tangan kirinya terangkat perlahan, mengusap pelan bagian bawah mata kirinya yang kini kembali memancarkan pendar biru gletser yang tenang namun sunyi.

​Ia menatap lurus ke arah Mu Bingyun tanpa menyembunyikan keterusterangan di dalam suaranya.

​"Aku sudah menyampaikannya kepada Ketua Agung saat pertama kali keluar dari kawah," ucap Mo Xie dengan nada rendah, datar, dan mengikat di dalam keheningan aula.

​"Aku tidak pernah memerah atau mencuri benda ini. Inti Es Abadi itu sendiri yang melesat dan memilih untuk bersemayam di mata kiriku. Ini adalah kehendak dan keputusannya secara langsung."

​Mu Bingyun menatap Mo Xie selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Kejengkelan atas kelancangan pemuda itu berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa Artefak Surgawi tertinggi sektenya telah secara aktif melindungi tubuh fana Mo Xie dari investigasi kekuatannya.

​Dari atas takhta utama, kekeh rendah yang berat dan penuh gema akhirnya terdengar dari mulut Han Wuyan, memecah ketegangan yang nyaris meledak di tengah Aula Agung.

​"Sudah kubilang padamu, bukan, Bingyun?" ucap Han Wuyan pelan, matanya yang bijaksana memancar pendar misterius.

​"Benang takdir anak ini tidak bisa dipotong atau diukur hanya dengan standar hukum sekte kita. Inti Es Abadi telah menemukan inangnya... dan perjalanan pemuda ini di Sekte Es Abadi baru saja dimulai."

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!