Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 33
Pintu ruang kerja utama di lantai eksekutif terbuka tanpa ketukan keras, menandakan hanya satu orang yang diizinkan masuk dalam situasi tersebut, Rian, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Angkasa. Pria itu melangkah cepat menuju meja kerja besar berbalut kayu mahoni tempat Angkasa baru saja duduk setelah menyelesaikan rapat panjangnya.
Angkasa menyesap kopi hitamnya yang mulai dingin, mata tajamnya masih tertuju pada dokumen keuangan di layar monitor. Tanpa mengalihkan pandangan, ia berucap datar,
"Ada kekacauan apa di bawah?"
Rian menahan senyum tipis, meletakkan sebuah tablet di atas meja Angkasa.
"Nona Lyra baru saja membuat keributan di kubikel Senja, Pak. Seperti biasa, membawa tas mahal, gaun mewah, dan ego sebesar gedung ini."
Gerakan tangan Angkasa yang hendak mengetik terhenti seketika. Pandangannya perlahan terangkat, memancarkan aura dingin yang membekukan suasana ruangan.
"Apa yang dia lakukan pada Senja?"
"Melempar tasnya ke atas berkas kerja Senja, memaki dengan sebutan 'bekas Adam', dan mengancam akan meminta Ibu Fransiska memecat Senja secara tidak hormat hari ini juga," terang Rian runtut.
Rahang Angkasa mengeras. Urat-urat halus di pelipisnya menegang menahan amarah yang mendadak membakar dadanya.
"Lalu? Kenapa kamu tidak langsung mengusirnya saat itu juga, Rian?"
"Karena Senja tidak membutuhkan bantuan saya, Pak," jawab Rian tenang, matanya menatap sang atasan dengan keyakinan penuh.
"Bahkan jika saya turun tangan, saya rasa saya justru akan mengganggu pertunjukan luar biasa dari Senja."
Angkasa mengerutkan dahi, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya.
"Jelaskan."
Rian memajukan langkah, gestur tubuhnya tampak bersemangat membagikan laporan tersebut.
"Senja sama sekali tidak gentar, Pak. Saat Nona Lyra memaki dan menyuruhnya keluar, Senja memindahkan tas mahal itu kembali ke pangkuan Nona Lyra dengan sangat sopan... tapi penuh tekanan. Dan jawaban Senja..." Rian menggantung kalimatnya sejenak untuk memberi efek dramatis.
"Apa yang dia katakan?" tuntut Angkasa, suaranya terdengar makin menuntut.
"Senja menatap tepat di matanya dan berbisik," ujar Rian menirukan gaya Senja.
"'Simpan tenaga Nona untuk acara besar nanti. Karena saat layar dibuka, bukan cuma topeng kesucian Nona yang akan terlepas, tapi seluruh kebohongan dan korupsi keluarga Nona akan terseret ke dasar neraka.'"
Ruangan Hening sejenak. Angkasa membeku di tempatnya. Senyum tipis yang sangat jarang terlihat perlahan terukir di sudut bibirnya, sebuah ulasan senyum yang sarat akan rasa bangga dan kekaguman yang mendalam.
"Dia benar-benar mengatakan itu di depan Lyra?" gumam Angkasa, suara beratnya kini menyiratkan kepuasan mutlak.
"Bukan hanya itu, Pak," lanjut Rian seraya terkekeh pelan.
"Senja menutupnya dengan menyuruh Nona Lyra pergi karena Senja 'memiliki pekerjaan nyata', tidak seperti Nona Lyra yang hanya 'punya waktu untuk bersandiwara'. Nona Lyra kabur dengan wajah merah padam dan ketakutan. Semua staf di lantai dasar menyaksikan betapa telaknya kekalahan Lyra hari ini."
Angkasa tertawa terkeh pelan, sebuah tawa renyah yang sangat langka keluar dari mulut sang Presdir dingin itu. Ia mengusap dagunya, memikirkan bagaimana keberanian dan kecerdasan Senja membungkam wanita arogan seperti Lyra tanpa perlu menurunkan derajatnya sendiri dengan emosi murahan.
"Gadis itu..." gumam Angkasa pelan, tatapannya menerawang penuh kehangatan.
"Dia memang bukan wanita lemah yang butuh dilindungi setiap detik."
"Saya rasa pilihan Hati Anda sama sekali tidak salah, Pak," puji Rian jujur.
"Senja memiliki mental baja dan ketenangan yang luar biasa. Dia paham betul kapan harus diam dan kapan harus meremukkan musuhnya hanya dengan kata-kata."
Angkasa mengangguk pelan. Dadanya berdesir hangat. Rasa kagumnya pada Senja kian membumbung tinggi. Meski ia tahu Senja saat ini masih membentengi diri dan belum sepenuhnya percaya pada niat tulusnya, melihat bagaimana Senja berdiri tegap menghadapi gempuran Lyra membuat Angkasa semakin yakin, hanya Senja wanita yang layak bersanding dengannya di puncak.
"Bagaimana dengan tanggapan karyawan lain? Bukankah Lyra menyebar gosip miring tentang Senja?" tanya Angkasa, nada suaranya kembali serius.
"Benar, Pak. Lyra membayar beberapa orang untuk menyebar rumor pelakor. Tapi respon Senja yang begitu berkelas justru membuat sebagian besar karyawan mulai mempertanyakan kebenaran gosip tersebut. Mereka melihat sendiri siapa yang bertindak seperti ketakutan dan siapa yang memegang kendali," jelas Rian.
"Bagus," puji Angkasa dingin. Namun, sorot matanya mendadak berubah tajam dan penuh pembalasan.
"Tapi aku tidak akan membiarkan ada penyusup berbayar di perusahaanku. Rian, cari tahu siapa saja karyawan yang menerima uang dari Lyra untuk menyebar rumor tentang Senja."
"Baik, Pak. Langkah apa yang harus saya ambil setelah menemukan mereka?"
Angkasa berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan kota. Kedua tangannya terbenam rapi di saku celana bahan mewahnya.
"Pecat mereka hari ini juga tanpa pesangon atas tuduhan pencemaran nama baik dan perundungan di tempat kerja. Pastikan nama mereka masuk ke dalam daftar hitam industri ini agar tidak ada perusahaan lain yang menerima mereka," perintah Angkasa tanpa ampun.
"Dilaksanakan, Pak." Rian mencatat instruksi tersebut dengan sigap.
"Satu hal lagi," tambah Angkasa seraya membalikkan badan, menatap Rian dengan aura dominan.
"Kirimkan setangkai bunga peony putih dan secangkir teh chamomile hangat ke meja Senja anonim. Sertakan catatan kecil."
Rian menaikkan sebelah alisnya, tersenyum jahat.
"Apa isi catatannya, Pak?"
Angkasa tersenyum tipis, matanya berkilat penuh tekad. "'Untuk pertunjukan yang luar biasa siang ini. Tetaplah menjadi pedangku yang paling tajam.'"
Rian membungkuk hormat. "Segera saya siapkan, Pak."
Setelah Rian keluar dari ruangan, Angkasa berjalan pelan menuju kaca jendela kembali. Ia menatap ke arah luar, membayangkan wajah tenang Senja yang bersinar di tengah badai.
"Kamu boleh belum percaya padaku sekarang, Senja," bisik Angkasa pada keheningan ruangan.
"Tapi aku akan memastikan, panggung kemenangan yang sedang kamu siapkan ini akan menjadi milik kita berdua. Dan saat hari itu tiba, aku sendiri yang akan bertekuk lutut di hadapanmu."
angkasa raya tugas km untuk menghancurkan kedua ortu senja, balaskan semua rasa sakit senja pd kedua ortu gila harta itu