NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Viral, Naik karena Badan

Unggahan itu mendapat seribu tanda suka dalam sembilan menit.

Lima belas menit kemudian, sebuah akun gosip besar mengunggah ulang dengan judul yang lebih kotor. Potongan layar menyebar ke X, Threads, dan grup WhatsApp pegawai. Nama Tan Group mulai masuk daftar topik yang paling banyak dibicarakan di Jakarta.

Foto pertama memperlihatkan Liana turun dari mobil Renard di depan apartemen.

Foto kedua diambil dari sudut jauh saat pintu lift hampir terbuka. Tubuh Renard menutup sebagian Liana, membuat adegan pertolongan ketika lift tersentak terlihat seperti pelukan rahasia.

Foto ketiga menunjukkan Liana memasuki divisi parfum dengan kartu akses.

Narasinya sudah disusun rapi.

`Asisten muda tanpa pengalaman mendapat akses khusus karena hubungan pribadi dengan bos. Setelah itu, formula perusahaan hilang memakai akunnya.`

Di bawahnya, kalimat `naik karena badan` diulang seperti putusan.

Aldi muncul melalui akun anonim, mengaku sebagai orang yang pernah dekat dengan Liana. Ia menulis bahwa Liana selalu mengejar pria kaya dan mampu memanipulasi siapa pun. Tangkapan layar percakapan palsu ditambahkan sebagai bukti.

Komentar datang terlalu cepat untuk dibaca.

Satu akun membuat rangkaian sebelas unggahan dan menandai regulator pasar. Akun lain menambahkan hasil pencarian alamat lama Liana, lalu menebak tempat tinggalnya sekarang. Potongan video reaksi dari kreator gosip mulai bermunculan, masing-masing mengulang sumber yang sama seolah pengulangan bisa mengubah rumor menjadi fakta.

Di grup pegawai Tan Group, admin menutup sementara kolom percakapan setelah ratusan pesan masuk. Namun tangkapan layar sudah pindah ke grup keluarga, alumni, dan komunitas industri parfum.

Tim komunikasi menghitung peningkatan penyebutan merek hampir dua ribu persen dalam satu jam.

Krisis itu tidak lagi hanya menyerang Liana. Setiap pemasok, calon klien, dan peserta kompetisi bisa melihat namanya berdampingan dengan kata pencuri.

`Pantas bosnya bela.`

`Cantik doang ternyata maling.`

`Tan Group harus pecat dia.`

Liana berdiri di koridor HRD sambil memegang ponsel. Jari-jarinya sedingin kaca.

Suara di sekelilingnya menghilang.

Untuk sesaat, ia kembali ke kehidupan pertama. Kamar sewaan gelap. Tirai tertutup berhari-hari. Ribuan komentar yang mengatakan ia pantas dihukum, sementara Nadia datang membawa makanan dan berpura-pura menjadi satu-satunya teman yang masih peduli.

Sedikit demi sedikit, Liana dulu menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada orang yang sedang menghancurkannya.

Dadanya sesak.

Ia menekan telapak kaki ke lantai.

Karpet abu-abu. Lampu putih. Bau kopi dari pantry. Suara Bayu memanggil namanya.

Ini bukan masa lalu.

Liana menyebutkan tanggal dalam hati. Menyebut gedung tempat ia berdiri. Menyebut tiga orang di depannya yang tidak sedang meninggalkannya.

Di kehidupan pertama, Nadia selalu berhasil membuat Liana merasa sendirian sebelum menawarkan diri sebagai tempat bersandar. Sekarang pola itu terlihat jelas. Serangan publik, pesan pribadi, lalu bantuan palsu yang datang dengan syarat.

Benar saja, sebuah pesan baru masuk dari akun Nadia yang memakai nama asli.

`Aku dengar berita buruk. Kalau kamu mau cerita, aku masih peduli.`

Liana menyimpan pesan itu tanpa membalas. Kepedulian palsu tersebut akan berdiri di samping unggahan anonim yang memakai perangkat sama.

Liana mengunci layar dan berdiri lebih tegak.

"Mbak, jangan baca komentar," kata Rizal.

"Saya nggak akan balas."

"Kami bisa laporkan akun-akunnya."

"Laporkan yang mengandung ancaman. Untuk sisanya, simpan tautan dan waktu. Jangan berdebat."

Dimas sudah membuka spreadsheet. "Saya catat akun besar yang menyebarkan."

"Terima kasih."

Mereka bergerak tanpa banyak bicara. Untuk pertama kalinya hari itu, tangan Liana terasa sedikit lebih hangat.

***

Di kantor Renard, sebuah cangkir kopi pecah.

Pria itu membaca kalimat yang sama untuk ketiga kalinya. Foto Liana memenuhi layar. Di bawahnya, orang-orang yang tidak mengenalnya membahas tubuhnya seperti barang publik.

Rahang Renard mengeras.

Jarinya menekan cangkir porselen terlalu kuat. Retakan tipis menjalar dari gagang, lalu badan cangkir patah. Kopi tumpah ke meja dan lantai. Satu pecahan menggores sisi telapak tangannya.

Titik merah jatuh di antara cairan hitam.

Bayu yang baru masuk membawa laporan berhenti di pintu.

"Pak... tangan Bapak."

Renard seolah tidak mendengar. Ia berdiri dan mengambil jas.

"Panggil komunikasi korporat. Siapkan pernyataan bahwa semua tuduhan palsu. Minta legal mengirim somasi kepada setiap akun yang menyebarkan."

"Pak, auditnya belum selesai."

"Aku tahu Liana nggak melakukannya."

"Tapi kalau kita bilang begitu sekarang..."

"Bayu."

Suara Renard membuat ruangan turun beberapa derajat.

Pintu terbuka lagi. Liana berdiri di sana.

Pandangan pertamanya jatuh pada darah di tangan Renard. "Apa yang terjadi?"

"Cangkirnya pecah."

"Cangkir nggak pecah sendiri."

"Bukan hal penting."

Liana mengambil kotak P3K dari lemari. "Duduk."

Renard tidak bergerak. "Aku akan mengeluarkan pernyataan."

"Jangan."

"Mereka menyerangmu."

"Kalau Pak Renard membela saya sebelum audit selesai, mereka akan bilang saya memang dilindungi karena hubungan pribadi. Cerita Nadia menang."

"Aku nggak peduli apa kata mereka."

"Saya peduli pada bukti."

Liana berdiri di depannya dengan kapas antiseptik. Tangan sendiri masih dingin, tetapi suaranya stabil.

"Duduk dulu. Kita bersihkan lukanya, lalu bicara."

Renard akhirnya duduk.

Liana membersihkan goresan. Tidak dalam, tetapi dua pecahan kecil harus diangkat dengan pinset. Renard mengawasi wajahnya, bukan tangannya.

"Kamu gemetar," katanya.

"Sedikit."

"Tapi kamu menyuruhku tenang."

"Salah satu dari kita harus rasional."

"Kenapa harus kamu?"

Liana memasang plester, lalu menatapnya. Air menggenang tipis di matanya tetapi tidak jatuh.

"Karena saya sudah pernah kalah oleh cara seperti ini."

Renard tidak bertanya kapan.

"Kali ini, tolong percaya pada saya," lanjut Liana. "Saya tahu bagaimana membuat mereka jatuh dengan bukti mereka sendiri."

Keinginan Renard untuk menghancurkan semua akun itu masih membakar dadanya. Ia bisa menelepon pemilik platform, menekan vendor, dan membuat Nadia tidak pernah bekerja lagi di industri ini.

Namun Liana tidak meminta penyelamat.

Ia meminta kepercayaan.

"Apa yang kamu butuhkan?" tanya Renard.

"Tim IT audit. Bu Ratna. Komunikasi korporat untuk memantau, bukan membalas. Dan akses resmi ke metadata foto yang dipakai unggahan."

"Kamu dapat semuanya."

"Tanpa pernyataan emosional."

"Baik."

"Tanpa menelepon media untuk menghapus berita."

Renard menghela napas. "Baik."

"Tanpa mengancam siapa pun."

"Bagian itu sulit."

Liana menatapnya.

"Baik," ulang Renard.

Bayu yang masih berdiri di pintu diam-diam mundur. Ia belum pernah melihat siapa pun memberi tiga larangan kepada Renard dan keluar dengan jawaban setuju.

***

Sore itu, ruang rapat kecil berubah menjadi pusat penanganan krisis.

Bu Ratna menetapkan aturan sebelum satu berkas pun dibuka. Setiap file asli disalin hanya untuk analisis, nilai hash dicatat, dan siapa pun yang memegangnya harus masuk daftar rantai penguasaan. Konten mengandung data pribadi dipisahkan dari bahan yang kelak boleh dipublikasikan.

"Kita bukan sedang memenangkan perang komentar," katanya. "Kita sedang memastikan bukti tetap sah kalau perkara masuk proses hukum."

Liana mengangguk. Itulah jenis kemenangan yang ia inginkan.

Dimas mencatat jalur penyebaran. Rizal mengumpulkan unggahan asli agar tim tidak hanya menyimpan tangkapan layar. Bayu menyerahkan pesan anonim Aldi kepada legal. Tim komunikasi menandai akun yang mengubah opini menjadi ancaman nyata.

Liana memeriksa file foto asli yang berhasil diperoleh dari unggahan awal.

Foto di depan apartemen memiliki waktu 22.51, tetapi tulisan Nadia menyatakan Liana baru keluar dari hotel bersama Renard pada pukul dua dini hari. Papan nama minimarket dalam gambar juga menunjukkan lokasi Kuningan, bukan hotel Menteng yang disebut postingan.

Foto lift lebih menarik.

Sudut pengambilan berasal dari area lobi yang hanya bisa dicapai pengunjung terdaftar. Metadata perangkat menunjukkan foto dibuat pada hari ketika Nadia berada di gedung dengan kartu vendor K-17.

"Belum membuktikan dia yang memotret," kata Bu Ratna melalui telepon.

"Tapi membuktikan narasinya salah dan memberi arah permintaan CCTV," jawab Liana.

"Setuju. Jangan publikasikan metadata mentah. Simpan rantai penguasaannya."

Kepala IT membawa temuan berikutnya. Token palsu Liana dibuat dari perangkat yang masuk melalui gateway vendor. Nomor perangkat sama dengan satu perangkat yang memakai ID K-17 pada Jumat.

Renard menatap Liana. "Kamu sudah menduga."

"Saya melihat Nadia dengan kartu itu. Tapi kita masih perlu tahu untuk siapa dia menjual formula."

"Aldi?"

"Dia perantara. Pembelinya lebih besar."

Liana membuka folder berisi daftar lalu lintas surel vendor yang sudah disaring tim legal. Satu domain asing muncul berulang kali dalam metadata tujuan, meski isi surat masih memerlukan surat pemeriksaan resmi.

`cheron-parfums.fr`

"Cheron Parfums," kata Liana.

Wajah Renard berubah. Perusahaan Prancis itu pernah mencoba membeli formula Tan Group melalui jalur resmi dan ditolak enam bulan lalu.

"Bagaimana kamu tahu nama itu?"

"Pola pasarnya. Dan sekarang domain ini."

Jawaban tersebut hanya setengah lengkap, tetapi cukup untuk langkah berikutnya.

Malam turun di luar jendela. Tagar yang menyerang Liana masih naik. Beberapa akun sudah menambahkan foto baru dan kebohongan baru.

Liana masuk ke toilet, menatap dirinya di cermin, lalu menyeka air mata yang belum sempat jatuh.

Di luar, Renard menunggu tanpa mengetuk. Ia memberi Liana ruang, tetapi tidak pergi. Bayangan sepatunya terlihat dari celah bawah pintu, diam seperti janji yang tidak memerlukan kata-kata.

Liana menarik napas sekali lagi, lalu memilih berdiri di depan pintu itu dengan kepalanya tetap tegak.

"Dulu, unggahan seperti ini membunuhku pelan-pelan," bisiknya. "Kali ini, semuanya akan jadi bukti di pengadilan."

Ia membuka aplikasi perekam suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!