Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Berkaca
Mata Mo Fang yang semula membelalak karena terkejut perlahan menyipit, berubah dingin dan penuh perhitungan.
Ia menatap Mo Yuuran tajam sebelum akhirnya tersenyum tipis yang sarat makna. “Jadi kau sudah tahu semuanya?” ujarnya rendah, lalu mengangkat dagu dengan angkuh. “Lalu apa? Itu tidak mengubah apa pun. Kau tetap tidak berhak mengambil semua itu.”
Ia melangkah maju satu langkah, suaranya kini terdengar lebih menekan. “Seharusnya kau berterima kasih pada ayahmu dan ibu tirimu, Lihua,” lanjutnya tanpa rasa bersalah. “Kami yang membesarkanmu sejak bayi. Semua yang kami ambil adalah kompensasi yang pantas.”
Kata-kata itu membuat udara di sekitar mereka terasa semakin dingin, bukan karena musim, melainkan karena kebekuan hati yang terpancar dari ucapan itu.
Mo Yuuran menatapnya lama, matanya tak lagi hanya dingin, tetapi juga dipenuhi keheranan yang sulit disembunyikan. Bahkan para pelayan yang ada di sana saling tatap mendengar ucapan jenderal Mo.
“Kompensasi?” ulangnya pelan, hampir seperti gumaman. “Sejak kapan seorang anak harus memberikan kompensasi kepada orang tuanya hanya karena dibesarkan?”
Ia menghela napas ringan, seolah mencoba menahan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar amarah. Pandangannya kembali terangkat, kali ini lebih tajam dan tegas dari sebelumnya.
“Baiklah,” katanya akhirnya dengan nada datar. “Kalau begitu, kau memang berhak atas kompensasi itu.”
Senyum langsung mengembang di wajah Mo Fang dan Bo Wen, kelegaan dan keserakahan terlihat jelas tanpa disembunyikan. Namun, senyum itu belum sempat bertahan lama ketika Mo Yuuran kembali membuka suara.
“Tapi, kompensasi itu sudah habis sejak kalian berfoya-foya menggunakan semua milik ibuku selama 22 tahun ini.”
Wajah keduanya langsung membeku, senyum itu lenyap seketika seolah tidak pernah ada. Tatapan Mo Yuuran tetap lurus, tak bergeming sedikit pun.
“Aku bahkan tidak berniat mengungkit semua yang telah kalian ambil dan habiskan selama ini,” katanya lagi. “Bukankah itu sudah cukup adil dan setara a?”
Ucapan itu seperti menyulut api di dalam dada Mo Fang, membuat emosinya meledak tanpa kendali. “Mo Yuuran!” bentaknya keras. “Kau benar-benar tidak punya hati!”
Mo Yuuran tidak bergerak, bahkan tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun. Ia hanya menatap pria paruh baya di depannya dengan tenang, lalu menjawab dengan suara yang dingin dan menusuk.
“Aku hanya belajar dari kalian,” ujarnya singkat. “Dari orang-orang yang bahkan tidak pernah memiliki hati.”
Mo Fang menggertakkan giginya, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. “Kau .…” katanya terputus, napasnya berat. “Jangan lupa siapa yang membesarkanmu! Tanpa keluarga Mo, kau bukan apa-apa!”
Wajah Mo Yuuran yang semula tenang kini benar-benar berubah dingin, seolah seluruh kehangatan telah lenyap tanpa jejak.
Ia menatap lurus ke arah Mo Fang, sorot matanya tajam dan penuh penilaian. “Kau bilang aku bukan apa-apa tanpa keluarga Mo?” ucapnya menusuk.
Ia melangkah mendekat, setiap kata yang keluar terasa seperti pisau yang mengiris. “Sepertinyaa kau harus berkaca Jenderal Mo. Justru sebaliknya, kau yang tidak akan berada di posisi ini jika bukan karena ibuku.”
Mo Fang tertegun, namun sebelum ia sempat membalas, Mo Yuuran kembali berbicara tanpa memberi celah. “Kalau bukan karena ibuku, kau hanya akan tetap menjadi prajurit miskin tanpa nama,” katanya. “Dan kalau bukan karena ibuku, mana mungkin Lihua mau bersama pria yang tidak memiliki apa-apa.”
Amarah di wajah Mo Fang semakin jelas, napasnya memburu saat ia menahan diri agar tidak langsung meledak. Namun Mo Yuuran tiba-tiba seperti mengingat sesuatu, ekspresinya berubah menjadi samar penuh arti.
“Ah, ya .…” katanya pelan, seolah baru menemukan potongan teka-teki. “Bukankah Mo Weiwei adalah putrimu, dan dia lebih tua dariku dua tahun?”
Mo Fang langsung menegang, tubuhnya kaku seketika. Sementara itu, Mo Yuuran menatapnya dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata.
“Sedangkan kau menikah dengan ibuku selama lima tahun sebelum aku lahir,” lanjutnya tanpa ragu. “Artinya kau sudah berselingkuh dari ibuku, bukan?”
Deg!
Suasana seketika membeku, bahkan Bo Wen pun tidak berani menyela. Mo Fang membuka mulut, mencoba mencari kata-kata, tetapi lidahnya terasa kelu.
“Itu—itu tidak seperti yang kau pikirkan .…” katanya terbata, berusaha mengendalikan situasi yang mulai lepas dari kendali.
Mo Yuuran tidak memberinya kesempatan. Tatapannya semakin dingin saat ia melanjutkan dengan suara yang lebih rendah. “Kalau begitu, bagaimana dengan kematian ibuku?”
Pertanyaan itu membuat wajah Mo Fang memucat, napasnya tercekat. Ia segera menjawab dengan tergesa, “Ibumu meninggal karena sakit. Semua orang tahu itu!”
Mo Yuuran tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Benarkah?” katanya pelan. “Kalau begitu, aku akan mencari tahu sendiri.”
Ia menatap lurus ke dalam mata Mo Fang, suaranya kini berubah menjadi dingin dan penuh ancaman. “Dan jika aku menemukan sesuatu sekecil apa pun yang tidak beres,” lanjutnya, “aku akan memastikan semua orang yang terlibat akan hancur sampai ke akarnya.”
Tangan Mo Fang mulai gemetar hebat, sesuatu yang jarang terlihat dari seorang jenderal yang biasanya tegar. Ia ingin membantah, tetapi ketakutan yang tiba-tiba muncul membuatnya kehilangan kata.
Melihat situasi yang semakin memanas, Bo Wen akhirnya melangkah maju mencoba menjadi penengah. Ia menampilkan senyum lembut seperti biasanya, mencoba meredakan ketegangan yang menggantung di udara.
“Yu'er,” ujarnya halus, “jangan karena emosi sesaat, kau berbicara seperti ini kepada Jenderal Mo. Kau pasti akan menyesal nantinya.”
Mo Yuuran mengangkat alisnya sedikit, menatap pria itu dengan tatapan penuh keheranan.
Bo Wen melanjutkan dengan nada yang tetap lembut namun terselip maksud tertentu.
“Daripada memperpanjang masalah,” katanya, “bukankah lebih baik kau mengembalikan semua harta itu? Dan meminta maaf kepada Wei'er atas kejadian waktu itu.”
Hening sesaat menyelimuti mereka sebelum terdengar suara tawa pelan dari bibir Mo Yuuran. Ia terkekeh ringan, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat menggelikan.
“Atas dasar apa?” tanyanya sambil memiringkan kepala. “Atas dasar apa aku harus mengembalikan sesuatu yang memang bukan miliknya?”
Ia menatap Bo Wen dengan senyum tipis yang tajam. “Dan atas dasar apa aku harus meminta maaf pada seseorang yang sudah bersikap kurang ajar padaku?”
Tatapannya lalu beralih kembali kepada Mo Fang, dingin dan penuh tekanan. “Jika ada yang harus meminta maaf,” lanjutnya perlahan, “itu bukan aku.”