Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Mas, Kapan Pulang?
Botol obat itu pecah tepat di dekat sepatu Senja.
Vania menjerit, "Kamu tahu harganya berapa? Jutaan!"
Semua perawat di nurse station menoleh. Senja melihat tangan Vania yang masih menggantung di tepi troli.
"Saya tidak menyentuh botolnya. Kita bisa cek CCTV."
Kepala perawat datang dan meminta rekaman keamanan. Lima belas menit kemudian, terlihat jelas Vania sengaja menyenggol botol lalu mundur.
"Ganti kerugiannya," kata kepala perawat. "Dan buat laporan tertulis."
Vania menatap Senja dengan benci. "Besok kamu bakal dipecat."
"Kalau kamu memang sehebat itu, pecat saya. Kalau besok saya masih bekerja, jauhi saya."
Senja mengucapkannya dengan tenang, tetapi menjelang sore keberaniannya menguap. Jika Vania memakai pengaruh keluarga, masa magangnya bisa berakhir. Satu-satunya orang yang dapat menghentikannya adalah Damar.
Kepala perawat meminta mereka masuk ke ruang obat. Di depan dua saksi, ia mencatat nomor batch, jumlah cairan yang tumpah, serta nama petugas yang berada di sekitar troli. Vania terus menyela bahwa pemeriksaan itu tidak perlu karena Senja jelas berdiri paling dekat.
"Dekat bukan berarti menyentuh," kata kepala perawat. "Di rumah sakit, laporan dibuat dari bukti."
Rekaman diputar sekali lagi. Kali ini gerakan siku Vania terlihat dari sudut samping. Ia menoleh memastikan Senja datang, menyenggol botol, lalu menarik tangan sebelum kaca pecah.
Seorang perawat senior yang tadi hampir percaya kepada Vania mengembuskan napas. "Kalau pecahannya kena pasien, ini bukan cuma soal harga."
Vania kehilangan dukungan ruangan. Ia akhirnya menandatangani berita acara dengan tekanan pena begitu kuat sampai kertas hampir robek. Ketika kepala perawat meminta kartu pegawai untuk mencatat pelanggaran, Vania menolak menyerahkannya.
"Om saya pemegang saham terbesar di sini."
"Dan formulir ini berlaku untuk semua pegawai," jawab kepala perawat.
Senja membantu petugas kebersihan memasukkan pecahan ke wadah benda tajam. Tangannya tetap stabil, tetapi bagian dalam perutnya serasa dipelintir. Kalau Vania membawa urusan itu kepada keluarga, formulir yang benar belum tentu cukup menyelamatkan seorang perawat magang.
Di kamar ganti, dua rekan mendekatinya. Salah satu menawarkan menjadi saksi jika rekaman tiba-tiba hilang. Yang lain menyuruh Senja menyimpan salinan nomor laporan.
"Terima kasih," kata Senja.
"Tadi kamu berani banget nantang dia," ujar rekannya. "Aku saja gemetar."
Senja tersenyum hambar. "Saya juga gemetar. Cuma telat."
Ia memotret nomor berita acara dan mengirimkannya ke alamat surel pribadi. Tindakan kecil itu membuat napasnya lebih teratur. Ia tidak memiliki nama keluarga besar, tetapi masih memiliki prosedur dan saksi.
Di Bintang Residence, ia menunggu sampai magrib. Damar tidak pulang. Bintang sudah makan bersama Bik Inah.
Senja membuka WhatsApp dan menulis beberapa kali.
Pak Damar, kapan pulang?
Terlalu formal.
Damar, saya mau bicara.
Terlalu menuntut.
Akhirnya ia mengetik: Mas, kapan pulang?
Pesan itu terkirim sebelum sempat dihapus.
Di Rumah Besar Adiwangsa, Damar sedang duduk bersama keluarga besarnya. Mama Ratna membicarakan pernikahan lagi ketika ponselnya menyala.
Mas.
Satu kata itu membuat ujung jarinya berhenti di atas meja. Ia membacanya dua kali. Panggilan seorang istri kepada suami, hangat dan dekat, terdengar aneh sekaligus pas ketika berasal dari Senja.
"Damar, kamu dengar Mama?" tanya Ratna.
"Dengar."
"Kamu perlu menikah. Bintang butuh ibu."
"Cukup ada Bintang. Aku hanya akan punya satu anak dan tidak akan menikah lagi."
Tidak seorang pun di ruangan itu tahu ia sudah menikah.
Setelah makan, Vania duduk di samping bibinya dan mulai mengadu. Senja disebut mengejar Rayhan, mengganggu Reza, dan memanfaatkan pekerjaannya untuk masuk keluarga Adiwangsa.
"Om harus pecat dia," desaknya. "Besok juga."
Damar mematikan layar ponsel. Pesan Senja masih belum dibalas, tetapi panggilan Mas itu terus terdengar di kepalanya ketika Vania mengulang tuntutannya.
"Kenapa kamu takut pada satu perawat magang?" tanyanya.
Vania tergagap. "Aku cuma menjaga Rayhan."
"Rayhan bisa menjaga dirinya sendiri."
"Tapi perempuan itu licik. Dia sengaja dekat dengan keluarga kita."
Damar menatap keponakannya sampai Vania menunduk. Ia tahu sifat manja Vania, tetapi tuduhan tentang Senja menyentuh prasangka yang sudah ada dalam dirinya.
Mama Ratna mendengar bagian akhir percakapan. "Perempuan siapa?"
"Tidak penting," jawab Damar.
"Kalau sampai membuat Vania segelisah ini, berarti penting."
Vania hendak menjelaskan, tetapi Damar memotong. "Urusan rumah sakit tidak dibawa ke meja keluarga."
Nada suaranya membuat Vania bungkam. Ia tidak menyadari bahwa penolakan Damar untuk membahas Senja juga melindungi identitas pernikahan mereka.
Aditya, kakak sulung Damar, meletakkan gelas. "Siapa Senja?"
Vania menjawab sebelum Damar sempat menghentikan. Ia menggambarkan Senja sebagai perawat magang yang mendekati Rayhan setelah putus dari Reza. Setiap kalimat dibuat lebih buruk: menerima uang, meminta jadwal khusus, lalu menantang keluarga pemilik rumah sakit.
"Kalau memang cuma perawat magang, kenapa urusannya sampai ke meja ini?" tanya Aditya.
Vania kehilangan irama. "Karena dia enggak tahu diri."
Damar mengingat Senja yang menunggu balasannya di rumah. Ia belum tahu apa yang terjadi, tetapi satu hal terasa ganjil. Perempuan yang menolak Rp 30 juta darinya tidak mungkin perlu menjatuhkan botol obat demi beberapa juta.
"Ada bukti dia merusak obat?" tanyanya.
"Semua orang lihat botolnya pecah di dekat dia."
"Itu bukan jawaban."
Vania melirik Mama Ratna, berharap mendapat pembelaan. Sang ibu justru meminta masalah rumah sakit diselesaikan dengan catatan dan rekaman, bukan dengan nama keluarga.
"Kalau Senja salah, beri sanksi sesuai aturan," kata Ratna. "Kalau kamu yang salah, jangan datang kemari minta keluarga menutupinya."
Wajah Vania memerah. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan kepada Reza dan menyebut Senja sengaja memancing mantannya. Damar menatap keponakannya tanpa berkedip.
"Hubungan Reza bukan urusan rumah sakit."
"Tapi Om harus jaga Rayhan."
"Rayhan orang dewasa."
Ponsel Damar kembali menyala. Tidak ada pesan kedua dari Senja. Perempuan itu meminta kepulangannya satu kali, lalu menunggu tanpa mendesak. Diam tersebut justru membuat perhatian Damar terus kembali ke layar.
Aditya menyandarkan punggung. "Kalau besok kamu pecat orang hanya dari cerita Vania, direktur rumah sakitmu buat apa?"
"Aku tidak bilang akan memecat siapa pun."
"Bagus. Berarti periksa dulu."
Vania mendecakkan lidah. "Mas Aditya enggak tahu perempuan itu."
"Aku juga enggak tahu," jawab Aditya. "Makanya aku enggak menuduh."
Ruangan mendadak terlalu sunyi bagi Vania. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak memahami bahwa membawa nama Senja ke meja keluarga tidak otomatis memberinya kemenangan.
Mama Ratna menangkap perubahan kecil itu. "Ada urusan di rumah?"
"Tidak."
"Kalau tidak ada, kenapa dari tadi lihat ponsel?"
Damar membalik perangkatnya di atas meja. "Pesan kerja."
Vania tidak menyadari kebohongan kecil itu. Ia maju setengah langkah dan menekan lagi, kini dengan suara yang sengaja dibuat memelas.
"Om, pecat Senja besok. Kalau perempuan seperti dia dibiarkan, nama keluarga kita yang jelek."
Jari Damar berhenti di tepi meja. Di layar yang tertutup, satu panggilan masih menunggunya: Mas.