Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
BAB 33
KARTU SUPLEMEN
"Ini kartu siapa?"
Dimas mengangkat struk losion di depan wajah Wulan.
Dika masih mengerjakan matematika di meja. Wulan memintanya menyelesaikan soal di kamar, lalu menunggu pintu tertutup sebelum menjawab.
"Kartu teman arisan. Kartu rumah tangga sempat aku tinggal, jadi aku pinjam dan sudah ganti tunai."
Kebohongan itu keluar terlalu lancar.
Dimas membandingkan empat digit di struk sekali lagi. "Temanmu kasih pinjam kartu begitu saja?"
"Nilainya cuma losion."
"Jangan bikin aku malu karena nggak punya uang di depan teman-temanmu."
Bukan pertanyaan apakah Wulan kekurangan uang. Yang terluka tetap harga diri Dimas.
"Kalau Mas Dimas nggak mau aku meminjam, uang rumah tangga harus cukup sampai akhir bulan," kata Wulan. "Mulai sekarang aku juga akan menyimpan catatan semua kebutuhan."
"Terserah."
"Dan hari Jumat aku punya kegiatan. Makan malam bisa kamu ambil sendiri kalau aku belum pulang."
Dimas menatapnya, seolah baru menyadari istrinya dapat memiliki jadwal. "Kegiatan apa?"
"Aku sedang lihat kelas pemasaran digital."
Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi bukan kebohongan. Wulan sudah mendaftar kelas gratis yang dikirim Bram.
Dimas mendengus. "Jangan sampai rumah terbengkalai."
Wulan mengambil struk dari tangannya dan merobeknya kecil-kecil.
Rahasia itu selamat, tetapi ketakutannya tidak.
***
Pada akhir Januari, Wulan menggunakan kartu tambahan untuk jumlah terbesar sejauh ini.
Ia membeli satu set alat pengukur tekanan darah untuk Bapak dan sehelai blus batik berkualitas untuk Ibu. Orang tuanya selalu berkata tidak perlu hadiah. Justru karena itu Wulan ingin memberi sesuatu tanpa menunggu hari raya.
Sebelum membayar, ia mengirim pesan kepada Bram.
`Saya mau pakai kartu untuk hadiah orang tua. Jumlahnya segini. Kalau terlalu besar, saya nggak jadi.`
Jawaban datang dari Surabaya, tempat Bram menghadiri pertemuan bisnis.
`Kartu itu memang untuk Ibu gunakan sesuai keputusan Ibu. Tidak perlu minta izin kepada saya. Kalau Ibu mau membatasi nominal, kita bisa atur limit bersama.`
Wulan meminta batas bulanan yang tidak lebih besar daripada belanja rumah tangganya. Bram menyetujuinya tanpa bertanya mengapa. Pengaturan itu membuat kartu terasa sedikit kurang seperti uang tak bertepi dan sedikit lebih seperti alat yang dapat ia kendalikan.
Toko menawarkan pengiriman langsung ke rumah orang tuanya di Bekasi. Wulan memakai alamat tersebut dan membayar ongkos kirim dengan kartu yang sama.
Ibu menelepon sore itu sambil menangis bahagia.
"Buat apa beli mahal-mahal? Simpan uangmu."
"Sekali-sekali aku mau kasih hadiah. Dipakai, ya."
"Dimas dapat bonus?"
Wulan terdiam sepersekian detik. "Aku punya simpanan sendiri."
Wulan datang ke rumah orang tuanya keesokan siang. Blus batik itu sudah dipakai Ibu meski label harganya disimpan di laci agar bisa dikembalikan jika Wulan berubah pikiran. Bapak duduk di kursi rotan sambil mempelajari alat pengukur tekanan darah dari buku petunjuk.
"Bapak jangan cuma ukur waktu pusing," kata Wulan. "Catat pagi dan malam beberapa hari. Kalau terus tinggi, periksa ke puskesmas atau dokter."
"Iya, Bu Dokter," gurau Bapak.
Ibu menyajikan teh dan pisang rebus, lalu menyentuh tangan Wulan. "Kamu sendiri baik-baik saja di rumah Dimas?"
Pertanyaan lembut itu hampir merobohkan semua kebohongan.
"Baik," jawab Wulan.
Ia melihat retakan lama di langit-langit dan ember yang disimpan untuk hujan. Orang tuanya tidak pernah meminta uang, bahkan ketika membutuhkan perbaikan. Wulan ingin mampu membantu dengan penghasilan sendiri, bukan kartu milik laki-laki yang harus disembunyikan.
Sebelum pulang, ia memasukkan tautan kelas pemasaran digital ke kalender dan menetapkan tanggal mulai. Hadiah Bram membuka pintu, tetapi Wulan mulai mengerti bahwa suatu hari ia harus berdiri dengan uang atas namanya sendiri.
Di perjalanan pulang, ia menutup wajah. Hadiah yang seharusnya manis kini memiliki lapisan rahasia yang tidak bisa diceritakan kepada penerimanya.
***
Bram pulang dari Surabaya satu hari lebih cepat.
Pesannya tiba hampir pukul sepuluh malam.
`Saya sudah di Jakarta. Boleh bertemu sebentar? Cuma ingin lihat Ibu baik-baik saja.`
Dimas sedang dinas luar dua malam bersama tim. Bu Suminah sudah tidur. Dika berada di kamarnya setelah Wulan membacakan cerita.
Wulan berdiri di depan pintu anaknya cukup lama. Ia memastikan pengasuh keluarga di kamar belakang masih terjaga, lalu memberi tahu bahwa ia akan membeli obat ke apotek dua puluh empat jam. Jika Dika bangun, ia harus ditelepon segera.
Ia tahu membuat alasan tetaplah berbohong.
`Setengah jam,` balasnya.
Pak Anto menunggu dua gang dari rumah. Bram berada di kursi belakang, masih mengenakan kemeja perjalanan dengan bayangan lelah di bawah mata.
"Terima kasih sudah datang, Bu Wulan."
"Saya nggak bisa lama."
"Saya tahu. Pak Anto tetap di depan. Mobil nggak akan dibawa ke tempat lain."
Wulan masuk. Pintu tertutup, menyisakan mereka di bawah lampu jalan.
"Orang tua Ibu suka hadiahnya?" tanya Bram.
"Suka. Tapi mereka pikir uangnya milik saya."
"Ibu yang memilih dan memakai kartu."
"Rekeningnya tetap milik Pak Bram."
"Kalau itu membuat Ibu nggak nyaman, kembalikan kartunya. Saya tidak mau uang menjadi tali."
Wulan menyentuh dompet. "Saya belum mau mengembalikan."
Kejujuran itu membuat udara berubah.
Bram mengulurkan tangan, berhenti sebelum menyentuh. "Boleh?"
Wulan meletakkan tangannya di sana.
"Boleh saya peluk?"
"Boleh."
Bram menariknya perlahan. Wulan mencium aroma perjalanan, kopi, dan parfum yang sudah memudar. Ia menyandarkan wajah ke leher laki-laki itu, merasa bersalah karena kenyamanan datang begitu cepat.
"Boleh saya cium?" bisik Bram.
Wulan menjawab dengan mendekat.
Ciuman mereka lebih lapar daripada Jumat sebelumnya. Wulan menarik tubuh Bram, dan tangan laki-laki itu berhenti di pinggangnya.
"Di sini boleh?"
"Boleh."
Jemari Bram bergerak di atas kain, tidak lebih jauh. Ketika Wulan mulai kehilangan napas, ia bertanya lagi apakah harus berhenti.
Wulan hampir berkata jangan.
Wajah Dika yang tidur muncul di kepalanya, disusul nama Dimas pada buku nikah.
"Berhenti," katanya.
Bram langsung melepaskan. Ia merapikan kerudung Wulan tanpa menyentuh sampai mendapat anggukan.
Tak ada keluhan dan tak ada usaha meminta satu ciuman terakhir.
"Maaf," ujar Wulan.
"Jangan minta maaf karena memakai hak untuk berhenti."
Kalimat itu membuat rasa malu dan rindu tumbuh bersamaan.
***
Di rumah, Wulan memeriksa Dika lebih dulu. Anaknya masih tidur. Ia masuk kamar mandi, menatap wajah sendiri, dan melihat perempuan yang sama sekaligus asing.
Ia masih istri Dimas. Ia masih ibu Dika. Ia juga perempuan yang beberapa menit lalu menikmati tangan laki-laki lain di pinggangnya.
Tidak ada cara menyebut itu benar.
Ponselnya bergetar.
Bram hanya mengirim satu tanda.
`.`
Wulan memahami maksudnya: ia sudah sampai, jalur komunikasi masih terbuka, tetapi tak ada pertanyaan yang harus dijawab.
Jarinya menyentuh layar tanpa mengetik apa pun.
Malam itu mereka berhenti tepat ketika diminta, tetapi keduanya tahu hubungan mereka sudah bergerak terlalu jauh untuk disebut sekadar menunggu setiap Jumat.