NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 17

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 17 — Orang yang Selama Ini Melindungi Clara

Suara Elena kembali terdengar dari balik pintu.

“Clara! Mami sudah mengajarimu banyak hal, bukan? Jangan membuat semuanya menjadi lebih sulit.”

Clara mengepalkan tangannya.

Selama bertahun-tahun, ia menganggap Elena sebagai seseorang yang bisa dipercaya.

Namun kini semuanya berbeda.

Wanita yang dulu selalu memeluknya ternyata menjadi orang yang mengatur banyak kejadian dalam hidupnya.

Clara menatap ibunya.

“Mami, kita harus pergi.”

Amara mengangguk.

“Lewat belakang.”

Fedro segera berdiri di depan mereka.

“Raka, periksa jalan belakang.”

Raka mengangguk lalu berlari menuju pintu belakang.

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah.

Prang!

Beberapa orang mencoba masuk dari jendela.

Fedro langsung menarik Clara menjauh.

“Jangan mendekat ke jendela.”

Clara mengangguk.

Amara mengambil sebuah kunci dari saku bajunya.

“Cepat. Ikuti Mami.”

Mereka bergerak menuju sebuah pintu kecil di balik lemari.

Clara mengerutkan kening.

“Ini apa?”

“Jalan menuju ruang bawah tanah.”

Amara memasukkan kunci berbentuk burung yang tadi diberikan kepada Clara ke sebuah lubang kecil.

Klik.

Lemari bergeser perlahan.

Di baliknya terdapat tangga sempit menuju bawah.

Clara membelalakkan mata.

“Papi membuat ini?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh ditemukan siapa pun.”

Fedro menyalakan senter ponselnya.

“Kita turun.”

Mereka menuruni tangga.

Raka menjadi orang terakhir yang masuk.

Sebelum menutup pintu, ia melihat beberapa pria sudah memasuki rumah.

“Cepat!”

Raka menutup pintu dan menguncinya.

Dari atas terdengar suara langkah kaki.

Mereka terus berjalan ke bawah.

---

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan luas.

Clara terdiam.

Dinding ruangan dipenuhi lemari tua.

Ada banyak dokumen.

Foto.

Kotak-kotak kecil.

Dan sebuah meja besar di tengah ruangan.

Amara berjalan menuju meja.

“Di sinilah ayahmu menyimpan semua bukti.”

Clara menatap sekeliling.

“Kenapa aku tidak pernah tahu tempat ini?”

“Karena ketika kamu masih kecil, ayahmu takut seseorang akan menggunakanmu untuk menemukan tempat ini.”

Fedro mengambil salah satu dokumen.

“Ini laporan perusahaan.”

Raka membuka lemari lain.

“Ada banyak nama.”

Clara mendekat.

Kemudian matanya tertuju pada sebuah foto.

Foto seorang gadis kecil.

Dirinya.

Di sampingnya berdiri seorang pria.

Clara mengambil foto tersebut.

“Siapa ini?”

Amara menatap foto itu.

“Dia.”

“Siapa?”

Amara menarik napas panjang.

“Orang yang selama ini melindungimu.”

Clara menatap foto itu lebih dekat.

Wajah pria tersebut terlihat samar.

Namun ada sesuatu yang membuat Clara merasa familiar.

“Kenapa aku tidak mengingatnya?”

“Karena ayahmu sengaja menghapus semua jejak tentang dirinya dari kehidupanmu.”

Clara mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena jika musuh mengetahui siapa dia, mereka akan membunuhnya.”

Fedro bertanya,

“Di mana orang itu sekarang?”

Amara tidak menjawab.

Ia justru mengambil sebuah map hitam dari laci.

“Buka.”

Clara menerima map tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.

Foto pertama memperlihatkan dirinya ketika berusia delapan tahun.

Foto kedua memperlihatkan dirinya sedang berada di sekolah.

Foto ketiga membuat Clara terkejut.

Ia sedang mengendarai motor bersama kelompok geng motornya ketika masih remaja.

Namun dari kejauhan, ada seseorang yang mengawasinya.

Clara menunjuk pria itu.

“Dia.”

Amara mengangguk.

“Dia selalu berada tidak jauh darimu.”

Clara mulai mengingat.

Ada beberapa kejadian ketika ia hampir mengalami kecelakaan.

Selalu ada seseorang yang datang membantunya.

Ketika motornya rusak.

Ketika ia pernah dikejar orang asing.

Bahkan ketika ia pernah jatuh di jalan.

Selalu ada seseorang yang menyelamatkannya sebelum menghilang.

“Jadi selama ini…”

Amara tersenyum sedih.

“Ya.”

Clara menatap Fedro.

“Aku pikir semua itu kebetulan.”

“Tidak ada yang kebetulan,” jawab Amara.

Tiba-tiba Raka menemukan sebuah rekaman lama.

“Amara, lihat ini.”

Ia memasukkan kaset kecil ke alat pemutar.

Layar tua di dinding menyala.

Sosok pria muncul.

Clara langsung menahan napas.

Pria itu menatap kamera.

“Jika Clara melihat rekaman ini, berarti waktunya sudah tiba.”

Clara mendekati layar.

“Siapa dia?”

Pria itu melanjutkan.

“Clara, kamu mungkin tidak mengingatku.”

Suara itu terasa familiar.

“Aku sudah menjagamu sejak kamu kecil.”

Clara mulai menangis.

“Kenapa?”

“Karena aku berjanji kepada ayahmu.”

Pria itu menatap kamera.

“Aku berjanji akan melindungimu bahkan jika suatu hari kamu membenciku.”

Clara terdiam.

Kemudian pria itu mengatakan sesuatu yang membuat semua orang membeku.

“Namaku…”

Rekaman tiba-tiba berhenti.

Layar menjadi hitam.

Clara menatap alat tersebut.

“Kenapa berhenti?”

Raka memeriksa kabelnya.

“Sepertinya rekamannya rusak.”

Fedro mengepalkan tangan.

“Bisa diperbaiki?”

“Bisa, tapi membutuhkan waktu.”

Clara mengusap air matanya.

“Kenapa semua orang selalu memberikan jawaban setengah-setengah?”

Amara memeluk Clara.

“Maaf.”

Clara tidak menolak pelukan itu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia bisa merasakan pelukan ibunya.

“Mami…”

“Ya?”

“Apakah Papi benar-benar mempercayainya?”

“Lebih dari siapa pun.”

“Kalau begitu aku juga ingin bertemu dengannya.”

Amara tersenyum.

“Kamu akan bertemu.”

Tiba-tiba terdengar suara keras dari atas.

Brak!

Raka langsung berdiri.

“Mereka menemukan jalan masuk.”

Fedro menatap tangga.

“Berapa banyak?”

“Tidak tahu.”

Amara segera mengambil sebuah kotak kecil.

“Clara, bawa ini.”

“Apa?”

“Bukti terakhir.”

Clara menerima kotak itu.

“Isinya?”

“Identitas orang yang selama ini melindungimu.”

Clara terdiam.

“Kenapa Mami tidak memberitahuku sekarang?”

“Karena ada satu hal yang harus kamu lakukan terlebih dahulu.”

“Apa?”

“Percaya kepada dirimu sendiri.”

Clara mengerutkan kening.

Amara memegang wajah putrinya.

“Selama ini semua orang membuat keputusan untukmu. Sekarang waktunya kamu memilih sendiri.”

Clara mengangguk.

“Aku mengerti.”

Tiba-tiba terdengar suara langkah dari tangga.

Fedro berdiri di depan Clara.

“Jangan takut.”

Clara menggenggam tangannya.

“Aku tidak takut.”

Raka mengambil posisi di dekat pintu.

Kemudian suara Elena terdengar.

“Clara!”

Clara menatap pintu.

Elena tertawa kecil.

“Kamu tidak akan bisa bersembunyi selamanya.”

Clara melangkah maju.

“Bibi!”

Suasana langsung hening.

Clara berdiri di depan pintu ruang bawah tanah.

“Selama ini Bibi menganggap aku gadis lemah.”

Elena menjawab dari luar.

“Kamu memang lemah.”

Clara tersenyum tipis.

“Bibi salah.”

Fedro menatap istrinya.

Clara melanjutkan,

“Aku memang pernah menjadi gadis yang mudah percaya.”

Ia menggenggam kotak pemberian ibunya.

“Tapi sekarang aku tahu siapa diriku.”

Elena terdiam.

“Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupku lagi.”

Tiba-tiba pintu terbuka.

Beberapa pria muncul.

Fedro langsung berdiri di depan Clara.

Namun sebelum terjadi apa pun, terdengar suara dari belakang mereka.

“Berhenti.”

Semua orang membeku.

Clara perlahan menoleh.

Seorang pria berdiri di ujung ruangan.

Pria yang selama ini hanya ia lihat dalam foto.

Pria yang selalu muncul dalam kenangan samar masa kecilnya.

Clara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu…”

Pria itu berjalan mendekat.

“Maaf aku terlambat.”

Clara tidak mampu berkata-kata.

Amara tersenyum.

“Clara, kenalkan.”

Ia menatap pria tersebut.

“Ini orang yang selama ini melindungimu.”

Clara menahan napas.

Pria itu berdiri tepat di hadapannya.

“Aku adalah…”

Ia berhenti sejenak.

“Rafael.”

Clara membeku.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Rafael menatap Fedro.

“Kita harus pergi sekarang.”

Fedro mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Rafael menatap Clara.

“Karena Elena bukan satu-satunya orang yang datang.”

Dari atas terdengar suara lain.

Suara seorang pria.

“Rafael.”

Rafael langsung menegang.

Clara menatapnya.

“Siapa?”

Rafael menjawab dengan suara rendah.

“Orang yang paling kami takuti.”

Langkah kaki terdengar semakin dekat.

Dan kali ini, seseorang yang baru datang membawa rahasia tentang kematian palsu ayah Clara.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!