NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

“Ini undangan pernikahanku.” Tira meletakkan sebuah amplop putih di atas meja, tepat di depan Dimas.

Lelaki itu yang sejak tadi sibuk mengaduk kopi langsung berhenti. Sendok kecil di tangannya menggantung beberapa detik sebelum akhirnya diletakkan kembali di atas tatakan. Ia memandangi amplop itu, lalu memandang Tira, seolah-olah sedang menunggu perempuan di hadapannya tertawa dan mengatakan bahwa semua ini hanya lelucon. Namun Tira tidak tertawa.

Wajahnya tenang, meski kedua tangannya yang saling menggenggam di bawah meja terasa dingin. “Sebulan lagi aku menikah,” katanya.

Dimas tidak menjawab.

Delapan tahun mereka bersama, dan Tira hafal hampir semua ekspresi lelaki itu. Ia tahu kapan Dimas sedang marah, bosan, malu, gugup, bahkan ketika lelaki itu pura-pura tidak cemburu. Tetapi kali ini Tira tidak tahu apa yang ada di balik tatapan kosong itu.

“Sama siapa?” akhirnya Dimas bertanya. Suaranya rendah.

Tira menarik napas. “Namanya Fahri.”

“Fahri siapa?”

“Orang yang dikenalkan Ayah.”

Dimas tertawa pendek. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti seseorang yang baru mendengar lelucon yang terlalu buruk untuk ditertawakan. “Jadi selama ini kamu bilang sayang sama aku, lalu sekarang kamu menikah sama orang lain?”

Tira menatapnya. “Aku tidak bilang aku tidak sayang sama kamu.”

“Lalu?”

“Aku capek, Mas.”

Dua kata itu membuat senyum Dimas menghilang. Tira menatap lelaki yang telah menjadi bagian terbesar dari masa mudanya. Delapan tahun. Bukan delapan minggu. Bukan delapan bulan. Delapan tahun yang berisi terlalu banyak kenangan untuk dibuang begitu saja. Mereka mulai mencintai ketika usia mereka masih delapan belas tahun.

Saat itu mereka belum tahu bahwa cinta ternyata membutuhkan lebih dari sekadar perasaan. Mereka tumbuh bersama, melewati masa kuliah, mencari pekerjaan, saling mendukung ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Dimas pernah berjanji akan menikahinya. Berkali-kali. Awalnya sebelum mereka menjalin hubungan. Dimas mendekati Tira dan menjanjikan akhir hubungan ini adalah pernikahan. Tira juga pernah percaya. Berkali-kali. Tetapi setiap kali Tira mulai bertanya kapan mereka akan menikah, jawaban Dimas selalu sama. “Tunggu aku siap.” Dan Tira selalu menunggu.

Sampai usianya dua puluh enam tahun. Sampai orang-orang mulai bertanya kapan ia menikah. Sampai ibunya mulai membicarakan cucu. Sampai ayahnya akhirnya mengatakan bahwa ada seorang lelaki yang datang dengan niat serius. Fahri. Dua puluh tujuh tahun. Pegawai BUMN. Lelaki yang tidak pernah Tira kenal sebelumnya, tetapi datang kepada ayahnya bukan dengan kata “nanti”, melainkan dengan niat yang jelas.

Tira sendiri awalnya menolak. Ia bahkan sempat menangis setelah ayahnya menyampaikan rencana perjodohan itu. Namun untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Tira mencoba melihat hubungannya dengan Dimas dari jarak yang lebih jujur. Apa yang sebenarnya mereka tunggu? Mengapa setelah delapan tahun, ia masih belum memiliki kepastian? Apakah cinta harus selalu menunggu sampai salah satu pihak merasa siap? Atau sebenarnya Dimas memang tidak pernah benar-benar berniat membawanya ke pernikahan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Tira tidak tidur selama beberapa malam. Hingga akhirnya ia bertemu Fahri. Lelaki itu tidak banyak bicara. Tidak berusaha membuat Tira terkesan. Tidak mengatakan bahwa dirinya adalah lelaki paling baik. Ia hanya berkata, “Saya datang karena saya ingin menikah. Kalau Tira tidak bersedia, saya akan menghormati keputusan Tira.”

Sederhana. Tidak romantis. Tetapi justru kalimat itu yang membuat Tira menangis malamnya. Sebab setelah delapan tahun bersama Dimas, baru kali itu ada seorang lelaki yang berbicara kepadanya tentang pernikahan tanpa menggunakan kata “nanti”.

“Kamu serius?” suara Dimas menarik Tira kembali ke kafe kecil tempat mereka duduk.

Tira mengangguk. “Serius.”

“Kamu cinta sama dia?”

Tira diam.

Dimas langsung tersenyum pahit. “Aku sudah tahu.”

“Aku belum mencintai Fahri,” kata Tira jujur.

“Lalu kenapa menikah?”

“Karena aku percaya cinta bisa tumbuh setelah menikah, aku juga punya keyakinan bisa mencintainya setelah bertemu dengannya waktu lamaran.” kata Tira mantap.

Dimas menggeleng. “Kamu berubah.”

“Iya.”

Jawaban Tira begitu cepat hingga Dimas terdiam.

“Aku memang berubah, Mas.” Tira menatapnya lurus. “Dulu aku berpikir selama kita saling mencintai, semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir kalau aku sabar, kamu akhirnya datang. Kalau aku menunggu cukup lama, kamu akan membawa keluargamu ke rumah. Kalau aku terus percaya, suatu hari kamu akan berkata, ‘Tira, kita menikah.’ Tapi delapan tahun sudah berlalu.”

Dimas menunduk. “Aku sedang berusaha.”

“Aku tahu. Tapi saat ini kamu nggak punya suatu hal yang menghalangi kita untuk nikah.”

“Aku serius sama kamu.”

“Aku juga tahu.”

“Terus kenapa kamu menyerah?”

Tira tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca-kaca. “Karena aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu.” Dimas terdiam. “Aku bukan minta kamu menikah besok,” lanjut Tira. “Aku cuma ingin tahu kapan. Tapi setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu nanti. Aku mulai sadar bahwa mungkin masalahnya bukan kamu belum siap. Mungkin memang aku bukan alasan yang cukup untuk membuatmu berani mengambil keputusan.”

“Jangan bilang begitu.”

“Kenapa? Sakit?”

Dimas mengangkat wajah.

Tira mengusap sudut matanya sebelum air mata itu jatuh. “Aku juga sakit selama delapan tahun, Mas.” Kalimat itu membuat keduanya diam.

Di luar jendela, kendaraan berlalu-lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Dunia tetap berjalan meski bagi Tira, delapan tahun cintanya sedang duduk di hadapannya dengan wajah pucat.

Dimas mengambil amplop itu. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Matanya membaca nama yang tercetak di sana. Fahri dan Tira. Di bawahnya tertulis tanggal pernikahan yang tinggal sebulan lagi. “Kapan kamu memutuskan?” tanya Dimas.

“Seminggu lalu, setelah aku minta kepastian darimu.”

“Dan kamu tidak bilang kepadaku?”

“Aku datang sekarang.”

“Untuk apa?”

Tira menatapnya lama. “Untuk berpamitan, sekaligus menegaskan kalau kita sudah nggak ada apa-apa lagi. Sebelumnya sebenarnya aku sudah bilang kan Mas, tapi ini perpisahan terakhir.”

Dimas tertawa kecil, tetapi matanya merah. “Setelah delapan tahun?”

“Justru karena delapan tahun.” Tira menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak mau menikah dengan Fahri sambil terus menyimpan harapan bahwa suatu hari kamu akan datang. Aku tidak mau menjadikan suamiku sebagai cadangan sementara aku menunggu mantan pacarku berubah pikiran. Kalau aku sudah memilih menikah, aku harus belajar mencintai dan menghormati orang yang menjadi suamiku.”

Dimas menggenggam undangan itu lebih erat. “Kalau aku bilang aku siap sekarang?”

Jantung Tira berdegup keras. Inilah kalimat yang selama delapan tahun ingin didengarnya. Inilah kalimat yang seharusnya membuatnya bahagia. Tetapi anehnya, ketika akhirnya Dimas mengucapkannya, Tira justru merasa sangat sedih. “Terlambat,” bisiknya.

Dimas menatapnya tidak percaya. “Tira.”

“Aku sudah memilih, lagipula aku ke sini bukan untuk memohon kamu nikahi seperti sebelumnya, Mas. Aku cuma mau menegaskan kita sudah nggak ada apa-apa lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!